NovelToon NovelToon
Darah Di Bukit Manoreh

Darah Di Bukit Manoreh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Anak Genius
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENCARI

Pagi hari, hujan membasahi bumi. Tak ada yang berani keluar karena begitu derasnya air yang turun dari langit.

Di lereng bukit, Srikandi membiarkan air hujan membasahi ruang tamunya. Ia membuka lebar-lebar jendela dan duduk di kursi panjang satu-satunya harta paling bagus di antara semuanya.

Dagunya bertumpu pada lipatan tangan. Air hujan menetes di helaian rambutnya., wajahnya dan bajunya basah. Kesunyian rumah ia tinggal kini makin sunyi.

"Ayah ... kenapa Ayah pergi ... Hiks ... kenapa Ayah meninggalkan aku sendiri?" tanyanya lirih.

Entah berapa lama, Srikandi menadah hujan dengan wajahnya. Perlahan air yang menetes dari langit berhenti, walau masih menyisakan titik-titik air dari curahan atap sisa air hujan.

"Bagaimana aku memulai pencarian. Aku tidak melihat bagaimana ayahku terluka, jika aku bertanya. Siapa yang mau mengaku?" otak Srikandi berpikir keras.

"Ayah ... Bisakah kau beri petunjuk dalam mimpi. Aku akan balaskan dendamu. Aku yakin kau dikhianati, entah oleh kawanmu sendiri atau musuh yang menyerang mu secara pengecut," lanjutnya yakin.

Srikandi berdiri, ia lalu menatap ruang tamunya yang basah akibat air hujan. Dengan nafas berat, ia harus membersihkan semuanya.

Selesai membersihkan seluruhnya, ia pun berganti pakaiannya. Srikandi menatap pedang Ki Bodas Sekti. Lalu ia mencoba sebuah ilmu bernama bilik raga. Ilmu yang ia ciptakan sendiri, menyembunyikan pedang di sisi lain di lengannya. Pedang panjang itu langsung hilang.

Srikandi menatap busur panah yang dibuat sendiri oleh ayahnya. Busur itu sebenarnya terbuat dari tulang sapi, tapi di jagat persilatan banyak yang percaya jika busur yang bernama Walungan itu dari tulang manusia.

"Satu-satunya cara untuk memperoleh bukti adalah mendekati pasukan kerajaan dan mencuri dengar bagaimana Ayah bisa terbunuh!" angguknya pasti.

Setelah menyampirkan busur dan anak panah di bahunya, ia pun keluar rumah. Kakinya terhenti sesaat ketika melihat Rukmi dan putranya Doko.

"Bi, Kangmas?" ia mengernyitkan dahinya.

"Kandi, aku akan tinggal di sini. Untuk menjagamu ...."

"Aku tak perlu dijaga siapapun, Bi!" potong Srikandi lalu menutup pintu.

"Jangan kurang ajar. Ini adalah adik ayahmu. Kau harus menghormatinya!" sentak Doko marah.

Srikandi menatapnya tajam, ia menggertak sedikit pria berkulit halus itu.

"Hah!" Doko menarik tubuh ibunya ke depan menghadap Srikandi.

Rukmi menatap kesal gadis yang keras itu. Srikandi balas menatapnya.

"Aku banyak urusan. Tapi jika kalian berani masuk rumah tanpa izinku. Aku pastikan kau dipenjara istana!" seru Srikandi lalu melesat meninggalkan keduanya dengan ilmu meringankan tubuhnya.

Melihat tubuh Srikandi yang sudah menjauh, Doko yang tadi takut langsung berubah jumawa.

"Jangan jadi jagoan kamu. Aku bisa mematahkan tulangmu ...," Doko tiba-tiba menghentikan ucapannya ketika melihat tubuh Srikandi yang berhenti jauh di pucuk pohon waru.

Doko menelan ludah, ia tak berani lagi melanjutkan kata-katanya. Tubuh Srikandi kembali melesat. Sementara Rukmi menghentak kakinya kesal di tanah.

Ia tak peduli, lalu mendekati pintu.

"Nak dobrak pintu itu!" suruhnya.

"Bu ...?" Doko tentu menggeleng pelan. Tadi ia masih melihat ancaman besar dari mata Srikandi.

"Ah ...!" Rukmi lalu menendang pintu itu tapi ...

Dug!

"Adoooowww!" pekik Rukmi tiba-tiba ia terguling di tanah.

"Ibu!" teriak Doko ketakutan.

Kaki Rukmi langsung bengkak seketika, matanya memerah, mukanya pucat pasi. Ia tadi seperti menendang pintu baja yang kuat.

"Aduh Nak!" pekiknya kesakitan.

"Itu salah ibu sendiri! Aku tak mau tau!" Doko pun melesat meninggalkan ibunya yang kesakitan.

"Doko!" teriak Rukmi sambil mengelus tungkai keringnya yang bengkak.

"Anak durhaka!" umpatnya kesal melihat putranya yang sungguh tak berguna.

Sementara itu, di atas pucuk-pucuk pohon jati yang basah, Srikandi melesat bak sekelebat bayangan biru yang membelah sisa kabut pagi.

Angin dingin menerpa wajahnya, namun fokusnya tidak lagi terpecah. Keputusan telah diambil. Menunggu mimpi atau petunjuk gaib dari ayahnya tidak akan menghasilkan apa-apa jika ia tidak bergerak.

Di bahunya, busur Walungan melingkar dengan gagah.

Tekstur tulang putihnya yang mengilat terkena sisa air hujan sering kali disalahpahami oleh para pendekar dunia persilatan sebagai tulang manusia—sebuah rumor yang sengaja dibiarkan oleh Ki Abda dulu agar tidak ada penyamun yang berani menyentuh senjata itu.

Namun bagi Srikandi, setiap lekuk busur itu adalah saksi bisu jemari kasar ayahnya yang meraut tulang sapi dan merangkai tali busur dengan penuh kasih sayang.

Langit mulai memerah, perjalanan baru setengahnya. Santer terdengar jika peperangan masih berlangsung hingga lima hari ke depan. Kali ini lawan dari kerajaan Kali Ireng adalah kerajaan dari barat Bukit Manoreh. Bukan kerajaan Jalapati yang biasa berseteru dengan mereka.

"Jika aku mendekati para prajurit. Aku pasti bisa tau bagaimana ayahku terbunuh!" gumamnya yakin.

Sementara jauh dari bukit Manoreh. Pertempuran berlangsung sengit. Banyak pasukan lawan gugur di medan perang. Berbanding jauh dengan pasukan Kerajaan Kali Ireng. Mereka merangsek musuh lebih dalam.

"Kami menyerah!" seru panglima musuh mengibarkan bendera putih.

Seluruh serangan dihentikan, Punggawa Buksa dan Adipati Sengko duduk gagah di atas kudanya yang meringkik.

"Hiiiiik!"

"Pasukan mundur dua langkah. Biarkan mereka mengambil jenazah-jenazah prajurit yang gugur!" seru Sengko penuh wibawa.

Padang rumput yang tadinya hijau kini sudah memerah karena darah para prajurit. Ada seratus prajurit gugur dan langsung dibawa pulang oleh beberapa pasukan yang masih tersisa. Panglima perang musuh menyerahkan diri sebagai tawanan perang.

"Bawalah saya sebagai tawanan perang," ujarnya menyerahkan kedua lengannya ke atas.

"Ikat dia!" titah Sengko.

Panglima itu langsung diikat di bilah bambu. Ia seperti buruan yang tertangkap dan akan diarak keliling desa Kerajaan Kali Ireng.

"Adipati, malam sebentar lagi datang. Kita tak bisa melanjutkan perjalanan!" ujar Punggawa Buksa.

"Baiklah, kita dirikan tenda, obati yang terluka dan menghibur para prajurit dengan pesta kemenangan!" ujar Sengko sambil memberi titah..

Masuk hutan bukit, beberapa pria mendirikan tenda. Menyalakan api unggun dan membakar hasil buruan untuk disantap. Panglima musuh yang disandera pun dapat jatah makan yang sama. Walau ia sandera perang, tetap diperlakukan seperti manusia.

Malam telah larut, empat tenda berdiri, sebagian tenda untuk merawat prajurit yang terluka, sebagian lagi untuk menghibur para prajurit dan merayakan kemenangan.

Srikandi duduk di atas pohon karet yang berbahan rendah. Empat prajurit tampak berjaga-jaga, sementara tawanan perang sudah tidur di pojokan dekat anyaman bambu dan berselimut bulu biri-biri.

Gadis itu menatap empat pria yang sedang memainkan api. Ia mengerahkan tenaga dalam, pembalik rasa dengan mantera yang ia ciptakan sendiri.

"Wahai jiwa-jiwa murni. Katakan kebenaran dan kebahagiaan kalian dengan kejujuran. Semua alam menyaksikan dan memberi hormat padamu. Wahai jiwa-jiwa murni!"

Shhhh! Angin bertiup pelan, membawa aroma kayu Cendana, Jati dan daun waru jadi satu.

Empat orang saling tatap, hati mereka bergetar, mantera Srikandi menyerap pada indera murni mereka.

"Kau tau Kisanak ...," ujar salah seorang prajurit yang mengenakan ikat kepala dari lempengan besi.

"Apa yang hendak kau katakan wahai Ki Tentra?" tanya prajurit bertubuh sedikit tambun.

"Semua perang yang kita lalui. Begitu berkesan dan penuh makna bukan?" ketiganya menganggukkan kepala.

"Tapi yang paling aku ingat adalah ....," Tentra menghentikan ucapannya. Srikandi menajamkan pendengarannya.

"Adalah bayangan Punggawa Ki Abda tewas di depan mataku ...."

bersambung.

Wah ...

Next?

1
Deyuni12
hiiii
nyi padan serem akh
lanjut
Anita Barus
windu...windu. berharalmemanasi Ki abda Ter nyata kiabda malah senang dan memberi selamat PD mempelai 🤣🤣🤣🤣🤣
Anita Barus
raja pasti akan menuruti.apa yg di mau Ki abda .
Anita Barus
maka nya dia selalu saja mengganggu Srikandi weleh. weleh
Anita Barus
oh ternyata windu sejak dulu SDH jatuh cinta PD Ki abda namun di tolak .cinta bertepuk sebelah tgn to .
Anita Barus
ada2saja si windu ini masak sama keponakan suami nya sendiri cemburu kenapa pula sambil nangis nyebut ayahanda Srikandi dsr w😄Ong edan
Anita Barus
berarti ki abda sengaja menumbal kan diri nya utk melindungi kerajaan
vania larasati
lanjut
Deyuni12
lanjutkan
Deyuni12
seruuuuu
Deyuni12
lanjutkan
vania larasati
lanjut
Eni Istiarsi
Bibi Rukmi antara kesambet atau dapet hidayah😄
vania larasati
lanjut
Deyuni12
lanjut kan
vania larasati
lanjut
Anita Barus
sesuai dgn namanya srikandi.dia pasti menemukan penghianat pengecut trsbut
Anita Barus
akan kah Srikandi menuntut balas .lanjut Thor
Anita Barus
hati Srikandi pasti hancur saat mengetahui ayah nya gugur .dan tau pasti ada penghianat didlm pasukan tersbt .apakah penghianat itu Sasongko .
Deyuni12
lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!