Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Manifestasi Asura dan Gema Neraka
Hembusan angin di lembah tersembunyi itu terasa berbeda dari angin di tempat lain—lebih tajam, lebih dingin, dan mengandung sesuatu yang tidak bisa diidentifikasi hanya dengan panca indera. Seperti seseorang yang sudah lama mati namun masih bernapas. Pohon-pohon di kedua sisi jalan setapak yang mereka ikuti berwarna hitam dari akar hingga ujung dahan—bukan hitam yang dibakar atau membusuk, melainkan hitam yang diserap dari dalam, seolah sesuatu mengambil semua pigmen kehidupan dari serat-serat kayunya dan menyisakan cangkang yang masih berdiri hanya karena belum ada angin cukup kuat untuk merobohkannya. Dahan-dahannya melengkung ke bawah dengan cara yang tidak wajar untuk pohon mati—lebih mirip jari-jari yang sedang mencengkeram sesuatu yang tidak terlihat.
Lin Xueru berjalan di sisi kanan formasi, jemarinya menggenggam gagang Pedang Teratai Putihnya dengan tekanan yang tidak ia sadari semakin bertambah seiring langkah. Wajahnya dipertahankan dalam ekspresi yang terlatih—tenang, fokus, tidak menunjukkan apa yang ia rasakan di dalam. Namun matanya bergerak lebih cepat dari biasanya, memindai setiap bayangan di antara pohon-pohon hitam itu. "Hutan ini tidak hanya mati karena kekurangan cahaya," ucapnya pelan, suaranya turun ke tingkat yang hanya bisa didengar oleh dua orang di sampingnya. "Ada energi yang aktif menghisap kehidupan dari akar setiap pohon di sini. Ini bukan efek sampingan dari keberadaan sekte mereka—ini disengaja. Mereka mengelola kematian tempat ini seperti orang lain mengelola ladang."
Senior Han bergerak di paling depan dengan cara yang membuat konsep "bergerak" terasa seperti kata yang terlalu keras untuk menggambarkannya—ia lebih berpindah dari satu posisi ke posisi berikutnya, seperti bayangan yang memutuskan sendiri ke mana jatuhnya. Jubah biru gelapnya tidak membuat suara apa pun. Bahkan langkah kakinya di atas daun-daun kering yang menutupi tanah tidak menghasilkan bunyi gemerisik yang seharusnya ada. "Jangan andalkan indra kalian terlalu penuh di sini," ucapnya tanpa menoleh. "Sekte-sekte yang membangun markas di atas titik nadi naga yang rusak selalu mengolah energi kematian di tempat itu menjadi lapisan persepsi palsu. Suara bisa datang dari arah yang salah. Jarak terasa lebih dekat atau lebih jauh dari yang sebenarnya. Bayangan bisa bergerak saat benda aslinya diam." Jeda singkat. "Saring semua yang masuk melalui Qi kalian dulu sebelum bereaksi."
Yu Fan berjalan di posisi paling belakang—bukan karena paling lemah dalam formasi ini, melainkan karena ancaman paling berbahaya di medan seperti ini hampir selalu datang dari belakang saat perhatian kelompok terfokus ke depan. Matanya tidak memindai secara aktif seperti Xueru. Sebaliknya, ia membiarkan energi Yin di dalam tubuhnya meresap sangat tipis ke tanah melalui telapak kakinya dengan setiap langkah—energi yang sensitif terhadap ketidakseimbangan energi kematian yang terorganisasi. Seperti menggunakan resonansi untuk mendengar sesuatu yang tidak bisa didengar dengan telinga.
"Ada formasi pengawasan," ucapnya tiba-tiba, suaranya sangat pelan. "Bola kristal yang ditanam di batang pohon-pohon tertentu. Pola penempatannya setiap dua puluh langkah di sisi kiri, empat puluh langkah di sisi kanan. Kita sudah diamati sejak tiga ratus langkah yang lalu."
Hening singkat di antara ketiganya.
"Aku tahu," ucap Senior Han. Nada suaranya tidak berubah. "Biarkan mereka mengamati. Lebih baik mereka tahu kita datang dari depan daripada curiga kita datang dari arah lain."
Mulut gua itu tidak terlihat seperti mulut gua. Ia terlihat seperti luka.
Celah di dinding tebing yang lebarnya cukup untuk dua orang berjalan berdampingan, dengan tepi-tepinya yang tidak rata membentuk pola yang—jika dilihat dari sudut yang tepat, dari jarak yang tepat—sangat menyerupai mulut yang terbuka lebar dengan gigi-gigi batu yang tidak simetris. Di kanan dan kirinya, dua penjaga berdiri dengan tombak energi di tangan—aura mereka suram dan berat dengan cara yang menunjukkan seseorang yang sudah lama mengkultivasi energi negatif hingga energi itu meresap ke dalam cara tubuh mereka berdiri.
Senior Han tidak berhenti berjalan.
Dari jarak dua puluh langkah, dua kilatan cahaya perak yang begitu cepat hingga terlihat seperti gangguan visual daripada gerakan nyata meninggalkan tangannya. Dua suara thuuk yang sangat singkat. Dua tubuh yang meluncur ke tanah dengan sangat pelan—bukan jatuh, melainkan turun perlahan seperti seseorang yang memilih untuk duduk dan kemudian berbaring—tanpa satu pun teriakan, tanpa satu pun suara senjata beradu.
Ia tidak menoleh. "Masuk."
Di dalam gua itu, waktu terasa berjalan dengan cara yang berbeda.
Bukan lebih lambat atau lebih cepat—melainkan kurang relevan. Tidak ada sumber cahaya alami namun semuanya terlihat dengan jelas karena dinding-dinding batu memancarkan bioluminesensi ungu yang samar, cukup untuk melihat namun tidak cukup untuk membuat sesuatu terlihat sebagaimana aslinya. Semua yang ada di dalam sini—batu, udara, suara—mengandung lapisan energi kematian yang mengubah persepsi penerima sedikit demi sedikit.
Mereka melewati lorong pertama dengan teka-teki mekanisme batu yang tersembunyi di dalam ubin lantai—pola tekanan yang jika dipijak dalam urutan yang salah akan mengaktifkan duri-duri besi dari dinding atau melepaskan kabut beracun dari lubang-lubang tersembunyi di langit-langit. Senior Han yang memimpin navigasi ini, jarinya sesekali menunjuk ke ubin tertentu yang harus dihindari dengan cara seseorang yang sudah pernah berada di tempat ini atau memiliki informasi sangat spesifik tentangnya.
Di ruangan ketiga yang mereka temukan, Lin Xueru berhenti.
Di dalam tabung-tabung kaca setinggi dua meter yang berisi cairan ungu pekat, tubuh-tubuh praktisi tersusun dalam posisi berdiri—mata tertutup, ekspresi yang entah kenapa terlihat tenang, dan dari setiap tubuh itu mengalir saluran-saluran tipis cairan ungu yang terhubung ke sebuah wadah besar di tengah ruangan. Pada beberapa tabung, terdapat pelat kecil dengan tulisan—nama, tingkat kultivasi, tanggal.
Bukan koleksi. Ini adalah inventaris.
"Mereka mencoba membangkitkan praktisi kuno," ucap Xueru, suaranya mengandung kualitas yang jarang muncul di wajahnya yang biasanya sangat terkontrol—kemarahan yang murni tanpa campuran. Tangannya yang memegang gagang pedang memutih di buku-buku jarinya. "Untuk dijadikan tentara tanpa jiwa. Jiwa-jiwa ini seharusnya sudah bisa beristirahat dalam siklus reinkarnasi. Ini adalah kejahatan terhadap hukum alam semesta itu sendiri."
Yu Fan tidak mengatakan apa-apa. Ia menatap tabung-tabung itu dengan tatapan yang tidak bisa sepenuhnya ia kendalikan—sesuatu di dalam dirinya bereaksi terhadap pemandangan ini dengan cara yang lebih dari sekadar kemarahan seseorang yang menyaksikan kejahatan. Lebih seperti seseorang yang mengenali sesuatu yang seharusnya tidak ia kenali.
"Terus bergerak," ucap Senior Han singkat. "Dokumentasi bisa dilakukan setelah misi selesai."
Perpustakaan bawah tanah itu berukuran tidak masuk akal untuk ruangan yang berada di dalam gua—seluas aula besar, dengan rak-rak batu yang menjulang hampir ke langit-langit, semuanya berisi gulungan naskah dan buku-buku yang dilapisi bahan yang bukan kertas biasa. Beberapa terbuat dari sesuatu yang lebih lembut dan lebih tidak menyenangkan untuk dipikirkan asal usulnya.
Yu Fan mengambil salah satu buku dari rak terdekat—sampulnya dari bahan hitam yang terasa hangat di sentuhan, suhunya berbeda dari suhu udara sekitar. Ia membuka halaman pertama.
"Menarik sekali."
Suara itu datang dari mana-mana sekaligus—dari langit-langit, dari lantai, dari dinding, dari dalam kepala. Bukan karena ada efek akustik di ruangan itu, melainkan karena suara itu masuk bukan melalui telinga melainkan langsung ke dalam kesadaran. Tekanan mental yang menyertai suara itu mencoba menembus pertahanan mental masing-masing dari mereka—Yu Fan merasakan sesuatu seperti jari yang mencoba mendorong pintu di dalam kepalanya, dan pintu itu tidak terbuka namun juga tidak sepenuhnya diabaikan.
"Ada tikus yang berani menyentuh pengetahuan suci kami. Apakah kalian tidak sabar untuk menjadi bagian dari koleksiku?"
Sumber suara itu ada di bawah mereka—di bawah lantai batu perpustakaan ini, di kedalaman yang belum mereka capai.
Senior Han sudah bergerak ke tangga melingkar di sudut ruangan sebelum suara itu selesai.
Gerbang besi raksasa di dasar tangga melingkar itu terbuka bukan karena ada yang membukanya dari dalam, melainkan karena ia memang diprogram untuk terbuka—untuk menyambut, bukan untuk menghalangi. Undangan dari seseorang yang sangat yakin bahwa tamu yang masuk tidak akan bisa keluar lagi.
Di balik gerbang itu, sebuah stadion bawah tanah membentang dalam ukuran yang tidak mungkin ada di dalam gua yang mereka masuki dari luar—entah melalui teknik perluasan ruang atau dimensi yang digantung di dalam dimensi, ruangan ini jauh lebih besar dari cangkang luarnya. Tribun-tribun batu bertingkat mengelilingi arena oval di tengah, dan di atasnya, ribuan sosok berdiri dalam barisan yang terlalu rapi untuk disebut kerumunan. Jubah hitam, topeng tengkorak, obor merah di setiap sudut tribun yang membuat bayangan ribuan orang itu menari di dinding dengan cara yang tidak nyaman.
Saat ketiga pengunjung mereka melangkah masuk, suara ribuan suara menyatu dalam satu dengungan yang bukan teriakan namun lebih dalam dari teriakan—seperti resonansi yang sengaja diciptakan untuk menekan jiwa.
"PUJA KETUA SEKTE! MATILAH PENYUSUP!"
Di atas bangunan batu di ujung arena, di atas singgasana yang terbuat dari tulang-tulang yang disusun dengan sangat artistik dalam cara yang sangat sakit, duduk seorang pria.
Sang Ketua Sekte Tengkorak Hitam—pemimpin yang mengendalikan seluruh jaringan sekte ini dari titik ini—adalah seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun yang tidak terlihat seperti pria berusia enam puluh tahun dalam cara yang jauh berbeda dari Jin Taixu. Jin Taixu terlihat lebih muda dari usianya karena vitalitas kultivasi yang bersih. Pria ini terlihat lebih muda karena sesuatu yang lain—sesuatu yang lebih menyenangkan untuk tidak dipikirkan. Kulitnya terlalu halus, matanya terlalu cerah, dan gerakannya terlalu ringan untuk seseorang seusianya dengan cara yang mengingatkan pada buah yang terlihat segar namun berbau tidak biasa jika didekati.
Jubahnya berwarna ungu gelap dengan lambang tengkorak bertatahkan batu hitam di setiap lapisnya. Di pinggangnya, sebuah kipas yang sama dengan yang dibawa orang yang menyerang Xueru tiga hari lalu—namun lebih besar, lebih tua, dan memancarkan tekanan yang membuat tekanan pria sebelumnya terasa seperti versi yang sudah diencerkan.
Di sisi kanan dan kirinya, berdiri dua sosok dengan jubah merah gelap dan pedang raksasa yang bilahnya selebar lengan orang dewasa di pundak masing-masing. Aura dari keduanya memancar dalam gelombang yang terasa seperti dua oven yang dinyalakan bersamaan—Master Tingkat 4 Tahap Akhir. Dua langkah lagi dari batas Tingkat 5, dengan pengalaman pertempuran yang jelas ditulis di setiap bekas luka yang terlihat di tangan dan leher mereka.
Dan dari singgasana itu, sang Ketua Sekte berdiri.
Aura Master Tingkat 5 Tahap Awal meledak keluar tanpa penahanan—bukan karena ia tidak bisa menahannya, melainkan karena ia memilih untuk tidak melakukannya. Tekanan itu turun seperti langit-langit yang diturunkan tiga meter, tiba-tiba dan total. Lin Xueru merapatkan giginya, kakinya mengambil posisi yang lebih lebar untuk mempertahankan keseimbangan. Yu Fan membiarkan energi Yin di dalam tubuhnya membentuk lapisan tipis tanpa memerintahnya—respons otomatis dari sesuatu yang sudah sangat terlatih.
"Selamat datang di kuburan kalian sendiri," ucap sang Ketua Sekte. Suaranya memiliki kualitas yang sama dengan suara dari perpustakaan tadi—masuk langsung ke dalam kesadaran, melewati telinga. "Akademi Langit Biru mencampuri urusan yang jauh melampaui pemahaman murid-murid kecilnya. Hari ini, darah kalian bertiga akan menjadi bahan bakar paling berkualitas untuk ritual kebangkitanku."
Senior Han tidak menjawab. Ia sudah bergerak.
Teknik Duplikat Bayangan — teknik khusus Senior Han yang tidak ada dalam katalog resmi sekte mana pun, dikembangkan sendiri selama bertahun-tahun sebagai spesialis penyembunyian dan eliminasi. Dua belas bayangan dirinya muncul sekaligus di dua belas posisi berbeda dalam arena, masing-masing bergerak dengan cara yang berbeda namun semua mengandung Qi yang cukup untuk terasa nyata bagi indra lawan. Dari keduabelas bayangan itu, tiga belas titik serangan diluncurkan secara bersamaan ke arah dua algojo di sisi singgasana—bukan untuk membunuh, melainkan untuk menciptakan tekanan dari terlalu banyak arah sekaligus yang memaksa lawan memilih mana yang harus ditangkis.
Algojo kanan bereaksi pertama—pedang raksasanya berputar dalam lingkaran penuh, memotong tiga bayangan sekaligus. Bayangan-bayangan itu lenyap saat disentuh, namun di setiap posisi tempat bayangan lenyap, Senior Han yang asli sudah tidak ada lagi—ia berpindah ke tiga posisi berbeda secara berurutan dalam waktu yang tidak cukup untuk dibaca bahkan oleh mata Tingkat 4.
Namun perbedaan satu tingkat penuh sangat nyata.
Algojo kiri tidak mengejar bayangan. Ia menutup matanya, menarik napas satu kali, dan dari telapak tangannya yang diangkat setinggi dada, melepaskan gelombang energi berwarna merah gelap yang tidak berbentuk serangan melainkan berbentuk lapisan—lapisan yang merata di seluruh area serangan Han dan menetralkan teknik duplikat bayangan dari akarnya dengan cara yang menunjukkan ia sudah sangat familiar dengan teknik jenis ini. Belasan bayangan Senior Han lenyap sekaligus. Yang tersisa hanya Han yang asli, berdiri di atas udara kosong tiga meter dari lantai arena.
Algojo kiri itu tidak menunggu. Dengan kecepatan yang membuat tubuhnya hampir terlihat sebagai jalur visual daripada sosok yang bergerak, ia melesat ke atas.
KLANGG!
Pedang Han—yang ia cabut untuk pertama kali malam ini, bilahnya tipis dan sangat panjang berwarna biru gelap—beradu dengan pedang raksasa algojo itu. Benturan antara dua tingkatan yang berbeda itu menghasilkan gelombang tekanan yang menyapu lantai arena, mengirim debu dan serpihan batu ke segala arah.
Han terdorong mundur dua puluh meter, melayang ke belakang dengan cara yang terkontrol. Kakinya mendarat di lantai arena, namun ada sesuatu yang berbeda di cara ia berdiri—satu bahunya lebih rendah dari yang lain, dengan cara yang tidak terlihat seperti kebiasaan.
Di bawah, arena itu sudah dipenuhi oleh anggota sekte yang melompat turun dari tribun.
Yu Fan dan Lin Xueru bertempur di lantai arena.
Mereka bertempur bukan sisi-ke-sisi melainkan saling melengkapi—Xueru dengan kecepatan dan presisi teknik Teratai Putihnya yang menargetkan meridian spesifik, Yu Fan dengan cara bertarungnya yang sudah semakin sulit dikategorikan ke dalam satu aliran teknik. Ratusan anggota sekte datang dalam gelombang, dan setiap gelombang lebih terorganisasi dari sebelumnya karena seseorang di atas sana sedang memimpin serangan dengan cara yang efisien.
Xueru bergerak seperti air yang mengalir di permukaan yang tidak rata—Teknik Teratai Putih : Langkah Bulan di Atas Riak, teknik pergerakan yang menggunakan perubahan arah mendadak dalam sudut yang sangat kecil sebagai basis kecepatannya, bukan kecepatan lurus. Setiap langkahnya menghasilkan setengah langkah lebih lagi karena cara berat badannya berpindah antar kaki menciptakan momen inersia yang dimanfaatkan secara maksimal. Dari setiap langkah itu, serangan keluar—Teknik Teratai Putih : Jari Sembilan Meridian, tiap jari tangan kanannya menargetkan satu dari sembilan meridian utama lawan secara berurutan, dan dari setiap sentuhan itu mengalir Qi Yang murni yang cukup untuk menutup meridian yang disentuh selama beberapa menit, melumpuhkan kemampuan kultivasi lawan tanpa membunuhnya.
Dalam tiga menit, dua puluh tiga anggota sekte tidak bisa lagi mengalirkan Qi mereka.
Namun dua puluh tiga adalah angka yang sangat kecil di dalam stadion yang berisi ribuan orang.
Yu Fan menggunakan pedangnya lebih jarang dari yang orang harapkan—sebagian besar pertarungannya tangan kosong, dengan cara yang semakin lama semakin jelas bukan berasal dari teknik apa pun yang diajarkan di Akademi Langit Biru. Setiap benturan dengan lawan menghasilkan transfer energi Yin yang mematikan konsentrasi Qi di titik kontak—bukan cukup untuk membunuh dengan satu sentuhan, namun cukup untuk membuat setiap lawan yang pernah ia sentuh menjadi semakin tidak efektif seiring berjalannya waktu karena distribusi energi dalam tubuh mereka terganggu secara kumulatif.
Darah mulai muncul—di lengan Xueru dari sabetan yang ia tidak sempat sepenuhnya menghindari, di pipi Yu Fan dari serpihan batu yang terlempar dari ledakan energi, di sisi Senior Han yang pertarungannya di atas sana terdengar dalam dentingan-dentingan keras yang tidak menentu.
Algojo kanan akhirnya meninggalkan Senior Han—membiarkan kawannya menangani pria berbaju biru itu sendiri—dan melompat turun ke arena, mendarat di antara Yu Fan dan Xueru dengan benturan yang membuat lantai batu retak dalam pola menjari.
Dari dekat, algojo kanan ini bahkan lebih tidak menyenangkan dari yang terlihat dari jauh. Wajahnya tertutup topeng tengkorak setengah muka, dan dari matanya yang terlihat di atas topeng itu memancar energi yang sudah sangat lama tidak bisa disebut normal—warna irisnya terlalu terang, terlalu merata, tidak memiliki variasi yang seharusnya ada pada mata makhluk hidup. Pedang raksasanya diangkat ke atas bahunya dengan cara yang tidak terlihat seperti ancaman melainkan seperti seseorang yang mengambil posisi kerja.
"Teknik Tengkorak Hitam : Tebasan Suratan Kematian."
Ia mengayunkan pedangnya ke bawah.
Tidak ada ciri khas khusus dalam gerakan itu—tidak ada cahaya, tidak ada suara memperingatkan. Hanya pedang yang sangat besar diayunkan oleh seseorang di Tingkat 4 Tahap Akhir yang mengandung semua kekuatan dan pengalaman yang tersimpan di level itu. Tebasan yang tidak perlu cantik karena beratnya sudah lebih dari cukup.
Xueru melompat ke kanan. Yu Fan melompat ke kiri. Pedang itu mendarat di lantai di antara mereka dan lantai batu pecah dalam garis lurus yang membentang sepuluh meter dari titik pendaratan, retak dalam kedalaman yang menunjukkan ada sesuatu di bawah arena ini yang tidak padat.
Xueru tidak mendarat dengan mulus—kaki kirinya menyentuh tepi retakan itu dan keseimbangannya terganggu, memaksanya satu lutut ke tanah. Algojo itu sudah berputar ke arahnya dengan kecepatan yang tidak memberinya waktu untuk bangkit sepenuhnya.
"Xueru!" Yu Fan berteriak—bukan karena ia tidak tahu apa yang harus dilakukan, melainkan karena jarak antara posisinya dan posisi Xueru terlalu jauh untuk ditempuh dalam waktu yang tersedia dengan kecepatan Tingkat 3 biasa.
Xueru merapatkan jemari tangan kirinya. Di atas telapak tangannya, Qi Yang mengumpul dengan sangat cepat—lebih cepat dari yang ia biasanya izinkan karena memaksa laju pengumpulan Qi selalu ada harganya. Cahaya putih yang sangat pekat memenuhi telapak tangannya hingga terlihat seperti ia memegang sekerat matahari.
"Teknik Teratai Putih : Teratai Putih Penghancur Jiwa!"
Ia tidak melepaskannya sebagai serangan. Ia melepaskannya sebagai ledakan omnidireksional—cahaya putih meledak ke semua arah dari titik tangannya, tidak terarah, tidak efisien secara teknis, namun di dalam ketidakefisienan itulah kekuatannya karena lawan tidak bisa menghindari sesuatu yang datang dari semua arah sekaligus.
Algojo kanan terhantam penuh di sisi kirinya. Cahaya putih membakar lapisan luar jubahnya dan—lebih penting—menembus lapisan pertahanan Qi-nya di titik yang tidak sempat ia perkuat karena ia sedang bergerak ke depan. Ia terdorong dua langkah ke samping, keseimbangannya terganggu untuk pertama kalinya.
Darah mengucur dari sudut bibir Xueru. Memaksa pengumpulan dan pelepasan Qi di tingkat itu dalam waktu singkat selalu meninggalkan luka internal—pembuluh meridian yang terlalu dipaksakan bisa retak, dan satu atau dua sudah retak di dalam dadanya sekarang.
"Sekarang, Yu Fan!" suaranya parau dengan tawa darah di dalamnya.
Yu Fan sudah bergerak bahkan sebelum nama itu selesai diucapkan.
Ia tidak berlari ke algojo itu. Ia meluncur ke bawah—telapak tangannya menyentuh lantai arena, dan energi Yin mengalir dari telapak tangannya ke dalam batu, menyusur di bawah permukaan ke arah algojo yang masih setengah terganggu keseimbangannya. Di bawah kedua kaki algojo itu, batu mendadak menjadi sangat dingin—cukup dingin untuk membuat lapisan energi yang biasanya memproteksi telapak kaki kultivator dari kondisi ekstrem membutuhkan fraksi detik ekstra untuk beradaptasi.
Fraksi detik itu cukup.
Yu Fan muncul dari bawah—bukan melompat dari tanah melainkan bergerak di sepanjang permukaan batu dengan cara yang terlihat seperti ia adalah bagian dari batu itu—dan pedang hitam-peraknya menembus dari bawah ke atas melalui titik di antara dua lapisan pertahanan Qi algojo itu yang terbuka karena keseimbangannya yang masih tidak sempurna.
Tebasan itu bersih dan sangat presisi. Algojo kanan itu tidak terpotong dari gerakan dramatis—ia ditebas di titik yang sangat spesifik di leher bagian belakang yang memutus aliran Qi antara inti dan kepala, melumpuhkan seluruh sistem kultivasi sebelum tubuh itu sempat merespons.
Tubuhnya jatuh dalam satu gerakan ke bawah yang sangat pelan.
Namun kemenangan itu terasa seperti cahaya lilin di dalam ruangan yang sangat besar.
Sang Ketua Sekte, yang selama ini berdiri di atas singgasananya hanya menonton, mengangguk satu kali ke arah barisan terdepan anggota sekte di tribun.
Mantra dimulai.
Bukan mantra biasa—ini adalah resonansi yang diciptakan oleh ratusan suara yang semuanya sudah lama mengkultivasi energi kematian, disatukan dalam satu frekuensi yang bergetar di frekuensi yang sama dengan segel di lantai arena. Di lantai, pola bercahaya ungu mulai muncul—lingkaran-lingkaran konsentris yang saling terhubung dengan garis-garis yang membentuk formasi yang sangat rumit dan sangat tua.
Tubuh algojo yang baru saja jatuh bergetar.
Lalu bangkit.
Mata yang tadinya sudah tidak ada cahayanya kini memancarkan cahaya ungu yang merata—cahaya yang tidak berasal dari dalam melainkan diproyeksikan ke dalam dari luar, seperti boneka yang dinyalakan bukan dari baterai miliknya sendiri. Dari tubuh algojo yang kini berdiri kembali itu memancar aura yang berbeda dari sebelumnya—lebih tidak manusiawi, lebih langsung, seperti kekuatan yang tidak dipunyai oleh satu titik penghambat yang bernama kesadaran.
Makhluk Roh Jahat Tingkat 3 yang merasuki tubuh itu bukan entitas yang memiliki keinginan atau kepribadian. Ia hanya sebuah kekuatan yang sangat fokus yang mendapatkan kendaraan fisik.
Senior Han, yang sudah sangat terluka dari pertarungannya di atas dengan algojo kiri, mendarat di lantai arena. Posturnya tidak sempurna—satu tangannya memegang sisi dadanya. Namun matanya tidak panik. Mereka bertiga bergerak ke formasi yang lebih rapat, punggung menghadap ke punggung.
Ribuan anggota sekte masih bersorak di tribun.
Sang Ketua Sekte duduk kembali di singgasananya dengan cara seseorang yang menonton sesuatu yang sudah ia tahu hasilnya.
Dan di dalam arena, tiga orang yang saling menopang punggung satu sama lain menghadapi sesuatu yang jumlah dan kualitasnya tidak seimbang dengan apa yang mereka punya.
Harapan tidak sirna. Namun ia menjadi sangat kecil dan sangat jauh.
Lin Xueru, dengan darah di bibirnya dan meridian yang sudah setengah retak, merasakan lututnya sedikit bergetar bukan karena takut melainkan karena tubuhnya sudah memberikan lebih dari yang seharusnya diminta dalam satu malam. Di sampingnya, Senior Han bernafas dengan cara yang mengindikasikan seseorang yang menahan rasa sakit dengan sangat terlatih. Dan di sisinya yang lain—
Yu Fan berdiri diam.
Sangat diam.
Diam seperti udara sebelum petir.
Bukan diam yang tenang. Bukan diam yang menyerah. Diam yang hadir sesaat sebelum sesuatu yang sangat besar memutuskan untuk berhenti menunggu dan mulai bergerak.
Matanya menatap Xueru yang berlutut dengan darah di bibirnya. Menatap Senior Han yang tangannya menekan luka di dadanya. Menatap ribuan anggota sekte yang terus bersorak. Menatap boneka algojo yang matanya memancarkan ungu kosong.
Dan di dalam diri Yu Fan, di lapisan paling dalam yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya mengerti peta geografinya—sesuatu yang sudah lima puluh ribu tahun tertidur membuka matanya.
Bukan membuka perlahan, bukan membuka karena dipanggil.
Membuka karena sudah cukup.
Udara di arena itu berubah.
Tidak ada peringatan sebelum itu terjadi. Tidak ada cahaya yang mendahului, tidak ada suara yang memberi tanda. Hanya sebuah perubahan yang terjadi pada kualitas udara di radius lima meter dari tempat Yu Fan berdiri—udara yang tadinya biasa mendadak terasa seperti udara di tempat yang sangat berbeda dari arena ini, udara yang mengandung tekanan dari sangat jauh di atas, dari ketinggian yang tidak ada dalam peta dunia fana.
Anggota sekte di tribun yang paling dekat dengan arena mulai berhenti bersorak. Satu per satu, seperti lilin yang ditiup dalam urutan, mereka terdiam—bukan karena memerintahkan diri sendiri untuk diam, melainkan karena sesuatu dalam tubuh mereka, pada tingkat yang lebih dalam dari keputusan sadar, memilih untuk berhenti membuat suara.
Rambut Yu Fan bergerak—ditiup angin yang tidak ada sumbernya di dalam ruangan tertutup ini. Helai demi helai, dari hitam yang biasa, mulai berubah. Bukan putih biasa—perak. Perak yang bercahaya dari dalam, seperti cahaya bulan yang padat yang dipaksa menjadi rambut, dan bergerak seperti api yang tidak perlu panas untuk terlihat seperti api.
Matanya berubah.
Bukan memerah perlahan seperti sebelumnya. Kali ini transformasi itu terjadi dalam satu kedipan—hitam gelap yang biasa digantikan merah tua yang lebih tua dari warna itu sendiri, dan di dalam merah itu, bagian yang seharusnya putih menjadi hitam legam, membuat matanya terlihat seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada di dalam tengkorak makhluk yang berdiri di atas lantai batu yang biasa.
Dari pori-pori kulitnya, energi merah pekat mulai merembes keluar—bukan mengalir, bukan mengembun, melainkan merembes, seperti cairan yang menemukan jalan keluar dari dinding yang sudah sangat lama menahan tekanan terlalu besar. Di setiap titik energi itu merembes, udara sekitarnya mengembun dan membeku dalam lapisan tipis yang langsung menguap—kontradiksi antara panas yang terlalu besar dan dingin yang terlalu dalam yang bersamaan menghasilkan efek yang secara fisika seharusnya tidak mungkin ada secara bersamaan.
Lantai batu di bawah kakinya retak dalam pola menjari—bukan karena tekanan fisik, melainkan karena energi yang merembes ke bawah melalui telapak kakinya terlalu besar bagi batu biasa untuk mengandungnya.
Di tribun, anggota sekte yang paling dekat dengan arena mulai jatuh.
Bukan karena diserang. Bukan karena ada serangan yang diarahkan ke mereka. Mereka jatuh karena tekanan spiritual yang memancar dari tubuh Yu Fan melebihi kapasitas jiwa-jiwa mereka yang sudah dipenuhi energi negatif untuk menahan. Satu per satu, kemudian dua per dua, kemudian dalam kelompok-kelompok kecil yang semakin besar—anggota sekte itu kehilangan kesadaran dan jatuh ke bangku-bangku batu tribun.
Di atas singgasana, sang Ketua Sekte berdiri tegak. Untuk pertama kalinya malam ini, ekspresi santainya pergi. Yang menggantikannya bukan ketakutan—lebih tepatnya kebingungan yang sangat mendalam dari seseorang yang sangat yakin ia mengerti semua variabel situasinya dan baru saja menemukan bahwa ia salah.
"Aura apa ini?!" suaranya kehilangan kualitas yang tadinya masuk langsung ke kesadaran. Sekarang ia hanya suara yang terdengar keras di udara biasa. "Siapa kau sebenarnya?!"
Yu Fan tidak menjawab.
Ia mengangkat kepalanya, dan untuk pertama kalinya malam ini, matanya bertemu langsung dengan mata sang Ketua Sekte dari jarak yang sangat jauh.
Sang Ketua Sekte mundur satu langkah. Bukan karena memutuskan untuk mundur. Karena kakinya melakukannya sebelum kepalanya sempat melarang.
"Mati kalian semua," ucap Yu Fan.
Suaranya bukan suara yang biasanya. Bukan suara pemuda Tingkat 3 yang berbicara dengan ekonomis dan efisien. Ini adalah suara yang lebih rendah, lebih dalam, mengandung resonansi yang tidak ada dalam pita suara manusia biasa—seperti suara yang terbiasa mengisi ruang yang jauh lebih besar dari arena bawah tanah ini. "Sampah."
Satu kata. Diucapkan bukan dengan amarah melainkan dengan cara seseorang yang menginventarisasi sesuatu.
Lalu ia bergerak.
Boneka algojo yang bermata ungu melesat pertama—kecepatan Roh Jahat Tingkat 3 di dalam tubuh Tingkat 4 menghasilkan gerakan yang lebih dari jumlah keduanya, pedang raksasanya diayunkan dalam serangan yang tidak memiliki sudut kosong dalam radius gerakannya.
Yu Fan mengangkat tangan kanannya.
Teknik Tangan Asura : Telapak Penekan Langit.
Dari telapak tangannya yang menghadap ke pedang yang datang, energi merah tua keluar bukan sebagai ledakan melainkan sebagai kepadatan—udara di depan telapak tangannya mempadat secara tiba-tiba hingga memiliki densitas yang jauh melampaui batu atau besi. Pedang raksasa itu menghantam bidang kepadatan itu dan berhenti—bukan dipangkas, bukan dibelokkan, hanya berhenti sepenuhnya seperti menghantam dinding yang tidak terlihat namun sangat ada.
Getaran balik dari benturan itu mengalir melalui pedang ke tangan boneka algojo, merembes ke atas lengan, menggoyang seluruh struktur simetri gerakan yang ditanamkan Roh Jahat ke dalam tubuh itu. Boneka itu terhuyung satu langkah ke belakang.
Dalam satu langkah maju yang sangat pendek namun sangat cepat, Yu Fan menutup jarak itu. Tangan kanannya mencengkeram tenggorokan boneka itu—bukan dengan kekuatan fisik, melainkan dengan energi merah tua yang mengalir dari telapak tangannya langsung ke dalam struktur Roh Jahat yang merasuki tubuh itu. Energi itu tidak menyerang tubuh. Ia menyerang ikatan antara Roh Jahat dan tubuh yang dirasukianya—memutus koneksi itu dengan cara yang sangat langsung.
Mata ungu boneka itu berkedip. Berkedip lagi. Kemudian cahaya ungu itu padam seperti lampu yang kabelnya dicabut, dan tubuh algojo itu—kosong sepenuhnya sekarang, tidak lagi ditempati oleh roh aslinya yang sudah pergi maupun oleh Roh Jahat yang sudah diusir—jatuh ke lantai dalam satu gerakan dan tidak bergerak lagi.
Kali ini, untuk selamanya.
Suara yang tersisa di arena itu hanya napas—napas Xueru dan Senior Han di belakang, dan di tribun, suara ribuan orang yang sudah tidak bisa lagi menemukan suaranya.
Sang Ketua Sekte tidak menunggu lebih lama. Dengan kecepatan Tingkat 5 yang akhirnya ia keluarkan sepenuhnya—kecepatan yang menciptakan afterimage di setiap titik yang ia tinggalkan—ia menerjang ke bawah dari singgasana.
Teknik Tengkorak Hitam : Naga Kematian Sembilan Wujud.
Dari kedua tangannya, sembilan aliran energi kematian mengalir keluar—masing-masing membentuk naga transparan yang lebih besar dari yang sebelumnya, dengan kepala yang tersusun dari tengkorak yang tidak semuanya milik manusia, dan dari mulut masing-masing naga itu mengalir kabut kematian yang mematikan kehidupan organik apa pun yang dilewatinya. Sembilan naga itu mengorbit tubuh sang Ketua Sekte sambil bergerak maju—senjata dan pertahanan sekaligus, sistem yang menutup semua sudut serangan dari luar sambil menghasilkan tekanan ke depan yang tidak bisa dilewati dengan kecepatan yang lebih rendah dari Tingkat 5.
Yu Fan berdiri menghadapinya.
Dari dalam dadanya—dari titik yang sama di mana Pedang Teratai Putih pernah tertancap lima puluh ribu tahun yang lalu—sesuatu mengalir ke atas. Bukan hanya energi merah. Sesuatu yang lebih dalam dari itu. Sesuatu yang mengingat.
Pedang hitam-peraknya berubah.
Bukan secara fisik—bilahnya tidak memanjang atau mengubah bentuk. Namun energi yang melapisinya berubah dari energi Yin biasa menjadi sesuatu yang jauh lebih terkonsentrasi, lebih tua, lebih dalam—energi merah tua yang bercampur dengan sisa-sisa keagungan yang tidak pernah sepenuhnya padam meski tubuhnya sudah sangat jauh dari tempat asalnya. Pedang itu berdenyut dengan cahaya yang bukan cahaya, memancarkan tekanan yang bukan dari Tingkat 3 mana pun di dunia fana ini.
Teknik Tangan Asura : Tebasan Mengakhiri Ranah.
Ia mengayunkan pedangnya satu kali.
Bukan horizontal, bukan vertikal—diagonal dari kanan atas ke kiri bawah, gerakan yang sangat sederhana dan sangat tidak dramatis untuk sesuatu yang menghasilkan apa yang kemudian terjadi. Dari gerakan itu, seperti jejak yang ditinggalkan oleh sesuatu yang membelah ruang bukan hanya udara, sebuah garis merah tua memanjang di udara di sepanjang jalur tebasan itu—bertahan selama dua detik sebelum perlahan menghilang.
Sembilan naga kematian itu menyentuh garis tersebut dan hancur—tidak dipotong, tidak dibelokkan, melainkan hancur dari dalam, energi yang membentuk mereka terdisosiasi dalam cara yang membuat mereka tidak bisa dikumpulkan kembali.
Sang Ketua Sekte menerobos keluar dari bubarnya sembilan naganya—masih bergerak, masih dengan kecepatan penuh, tangan-tangannya membentuk formasi baru.
Teknik Tengkorak Hitam : Segel Pemanen Jiwa.
Sebuah formasi segel muncul di udara antara kedua tangannya—bukan berbentuk serangan melainkan berbentuk jebakan. Jika segel ini diaktifkan pada target, ia akan mengunci jiwa di dalam tubuh target dan secara perlahan menariknya keluar dalam hitungan menit. Segel yang membutuhkan konsentrasi penuh untuk dibentuk namun hanya satu sentuhan untuk diaktifkan.
Ia melompat ke arah Yu Fan dari atas dengan segel itu di depannya.
Yu Fan tidak bergerak ke samping. Tidak ke belakang. Ia melangkah maju—satu langkah ke depan yang membawa keduanya semakin dekat dari yang sang Ketua Sekte rencanakan—dan dari tangannya yang bebas ia melepaskan sesuatu yang sangat kecil. Satu denyutan energi merah yang sangat terkonsentrasi, tidak lebih besar dari ujung jari, tepat ke titik tengah formasi segel yang sedang dibentuk.
Segel itu tidak hancur. Ia menjadi tidak stabil—satu titik ketidakseimbangan di tengahnya yang membuat energi yang membentuknya tidak lagi bisa mempertahankan pola. Sang Ketua Sekte merasakannya sepersekian detik sebelum segel itu meledak balik ke arahnya—bukan ledakan fisik, melainkan umpan balik energi yang menembus pertahanan Qi-nya karena asalnya dari dalam formasinya sendiri.
Ia terlempar ke atas—lima meter, sepuluh meter, berbalik di udara dan mendarat di tepi singgasananya dengan empat titik kontak, seperti binatang, bukan manusia. Darah mengalir dari sudut bibirnya untuk pertama kalinya malam ini.
"Tidak mungkin," suaranya berubah—bukan lagi suara yang masuk ke kesadaran, hanya suara yang keluar dari tenggorokan. "Tingkat 3 tidak bisa melakukan ini. Ini tidak mungkin!"
Yu Fan melangkah ke depan.
Sang Ketua Sekte membuat keputusan yang tidak pernah ia buat dalam seluruh hidupnya sebagai pemimpin sekte ini. Ia berbalik ke arah belakang singgasananya, di mana sebuah gerbang teleportasi berwarna hijau gelap berdenyut—gerbang darurat yang sudah ia persiapkan sejak lama sebagai jalur keluar dari situasi yang tidak pernah ia sungguh-sungguh bayangkan akan ia gunakan.
"Kembalilah kesini."
Suara Yu Fan—datar, tidak mengandung urgensi, lebih terdengar seperti pernyataan fakta daripada perintah.
Dari telapak tangannya yang diulurkan ke depan, sebuah portal terbuka—lubang di ruang yang tidak berbentuk gerbang melainkan berbentuk tangan, tangan raksasa yang berwarna merah-hitam yang muncul dari sisi lain portal itu dengan lima jari yang masing-masing lebih besar dari tubuh manusia.
Teknik Tangan Asura : Tangan Kehancuran dari Jurang.
Tangan raksasa itu menembus gerbang teleportasi hijau dari dalam—menutup jalur keluar itu sepenuhnya—dan kemudian berbalik ke arah sang Ketua Sekte yang berdiri tepat di depan gerbang yang kini sudah tidak bisa ia gunakan.
Apa yang kemudian terjadi, terjadi sangat cepat dan sangat total.
Sang Ketua Sekte Tengkorak Hitam—Master Tingkat 5 Tahap Awal, pemimpin yang telah beroperasi di bayang-bayang selama puluhan tahun—merenggang nyawa di dalam arena yang ia bangun sendiri.
Aura merah itu padam.
Tidak perlahan—ia padam seperti api yang sumber bahannya habis secara tiba-tiba, ditarik kembali ke dalam dengan cara yang tidak sepenuhnya dikontrol melainkan terjadi begitu saja saat kekuatan yang mendorongnya keluar tidak lagi menemukan alasannya untuk ada di luar.
Rambut perak kembali menjadi hitam dalam urutan yang terbalik dari cara ia berubah tadi—dari ujung ke akar, helai demi helai, dalam tiga atau empat detik. Mata merah-hitam kembali ke abu-abu gelap dalam satu kedipan yang Yu Fan tidak sadar dilakukannya.
Dan kemudian, sangat sederhana, tubuh Tingkat 3 Menengah yang menampung semua itu selama beberapa menit itu menagih harganya.
Lutut Yu Fan menyentuh lantai arena.
Bukan karena ia memilih berlutut. Melainkan karena sesuatu di dalam dirinya—di jauh di bawah lapisan kekuatan yang baru saja ia gunakan, di lapisan tubuh manusia biasa yang memiliki kapasitas yang sangat spesifik dan sangat terbatas—memutuskan bahwa berdiri bukan lagi sesuatu yang bisa dipertahankan saat ini.
Pandangannya mengabur di tepi. Suara di sekelilingnya—suara ribuan orang yang sudah tidak lagi bersorak, suara batu yang masih berderak dari efek-efek energi yang belum sepenuhnya tenang, suara napas Xueru dan Han di belakangnya—semua suara itu menjadi lebih jauh dari yang seharusnya.
"Yu Fan!"
Suara itu tidak jauh. Suara itu sangat dekat, dari kiri, dari arah yang ia merasakan seseorang berlutut di sampingnya sebelum ia melihatnya.
Lin Xueru muncul dalam bidang penglihatannya yang menyempit—wajahnya pucat dengan darah yang belum sepenuhnya kering di bibirnya, rambutnya yang selalu sangat rapi sekarang memiliki beberapa helai yang jatuh ke dahi, dan matanya—matanya yang biru pucat yang biasanya sangat terkontrol—malam ini tidak mengandung satu lapisan pun dari ekspresi yang biasanya ia pilih untuk diperlihatkan ke dunia.
Yang ada hanya rasa khawatir yang sangat murni dan sangat langsung.
Tangannya memegang bahunya, memastikan ia tidak jatuh ke depan. Tangannya terasa hangat bahkan melalui jubahnya—kehangatan Qi Yang yang masih ada di dalam tubuhnya meski sudah sangat terkuras.
"Aku baik-baik saja," ucap Yu Fan. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri—terlalu pelan, terlalu tidak yakin, tidak ada kemiripan dengan suara yang baru saja mengisi seluruh arena dengan dua kata.
"Tidak, kau tidak," ucap Xueru. Bukan penghakiman—hanya fakta yang diucapkan oleh seseorang yang tidak punya energi tersisa untuk basa-basi.
Senior Han mendekati dari arah lain, tangannya masih menekan sisi dadanya. Ia menatap arena yang sunyi—ribuan tubuh yang pingsan di tribun, retakan dan bekas-bekas pertarungan di lantai, singgasana yang kosong. Ekspresi matanya tidak berubah, namun ada sesuatu di dalamnya yang berbeda dari ekspresinya di awal malam ini—sesuatu yang mengindikasikan bahwa peta dunia di dalam kepalanya baru saja perlu direvisi secara signifikan. "Dokumen-dokumen di perpustakaan." Suaranya masih datar dan sangat ekonomis. "Kita ambil dan pergi."
Perjalanan kembali ke Akademi Langit Biru di bawah langit yang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda fajar di timur berlangsung dalam keheningan yang berbeda dari keheningan perjalanan pergi.
Perjalanan pergi adalah keheningan antisipasi—semua orang menyimpan energi untuk apa yang menunggu.
Perjalanan pulang adalah keheningan setelah sesuatu yang besar—ketika semua orang masing-masing sedang memproses dengan cara mereka sendiri apa yang baru saja terjadi, dan tidak ada satu pun dari mereka yang yakin bahwa kata-kata mereka saat ini akan cukup untuk menampung apa yang perlu dikatakan.
Senior Han berjalan di depan, beban gulungan-gulungan dokumen dari perpustakaan sekte di dalam tas khusus di punggungnya. Langkahnya masih hampir tanpa suara meski satu tangannya sesekali masih menekan dadanya.
Yu Fan berjalan dengan cara yang tidak persis tertatih namun tidak persis stabil—seperti seseorang yang memaksakan "normal" dengan sangat terlatih. Di sampingnya, dengan jarak yang tidak terasa seperti jarak formal maupun jarak keintiman—tepat di tengah antara keduanya—Lin Xueru berjalan.
Tidak ada yang berbicara selama beberapa waktu.
Kemudian, dengan suara yang sangat pelan—cukup pelan untuk tidak sampai ke telinga Senior Han di depan—Xueru berbicara.
"Aura itu." Bukan pertanyaan. Tidak pernah pertanyaan. "Di lembah tiga hari lalu, aku melihatnya. Di sini malam ini, aku merasakannya langsung." Jeda. "Aku tidak menyebutkannya kepada siapa pun."
Yu Fan tidak langsung menjawab. Di atas mereka, satu bintang terakhir—yang paling terang, yang paling keras kepala untuk tetap terlihat bahkan saat fajar mulai mengambil alih—memancarkan cahayanya dengan cara yang tidak berubah sama sekali meski dunia di bawahnya sudah sangat berbeda dari satu jam yang lalu.
"Aku tahu," ucapnya akhirnya.
"Kenapa kau tidak bertanya mengapa aku tidak menyebutkannya?"
"Karena alasannya tidak penting untuk saat ini." Ia berhenti sebentar. Bukan untuk memikirkan kata-katanya, melainkan karena ada sesuatu yang perlu ia putuskan tentang seberapa jujur ia ingin dan seberapa jujur ia bisa di titik ini. "Yang penting adalah aku tidak tahu siapa aku. Dan kekuatan itu—" Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Lin Xueru tidak mendesak. Ia berjalan di sampingnya dalam diam selama beberapa langkah, wajahnya menghadap ke depan.
"Aku juga tidak tahu siapa kamu," ucapnya akhirnya, dan dalam kalimat yang sangat sederhana itu ada banyak hal yang tidak dikatakan. "Tapi aku tahu bahwa orang yang berdiri di depanku di lembah itu, dan di arena tadi—orang yang memilih untuk tidak menghindar saat aku yang perlu dilindungi—itu lebih dari cukup untuk saat ini."
Yu Fan tidak menjawab.
Namun langkahnya—yang tadinya sedikit tidak stabil—menjadi sedikit lebih teratur. Sangat sedikit. Namun cukup untuk terasa.
Di kejauhan, menara-menara Akademi Langit Biru mulai terlihat di antara pohon-pohon yang sudah tidak hitam lagi—pohon-pohon hijau biasa yang akarnya tidak diresapi energi kematian siapa pun.
Senior Han berhenti sebentar, menoleh ke belakang ke arah mereka berdua. Matanya yang selalu menilai beristirahat di wajah Yu Fan selama dua detik. Lalu ia berbalik lagi dan terus berjalan.
Namun di dalam kepala pria yang sudah puluhan tahun bergerak di dalam bayangan itu, satu kalimat diulangi dengan sangat hati-hati, seperti seseorang yang memastikan ia mengingat dengan tepat sesuatu yang sangat penting.
Tingkat 3 tidak membantai Tingkat 5. Tingkat 3 tidak menghancurkan ribuan jiwa dengan tekanan spiritual semata. Tingkat 3 tidak memiliki kekuatan yang membuat tangan-tangan raksasa dari portal yang tidak ada dalam satu pun kitab kultivasi yang pernah ia baca.
Anak itu bukan Tingkat 3.
Anak itu bukan dari dunia ini.
Dan laporan yang akan ia tulis untuk Wakil Dekan—laporan yang selalu ia tulis dengan sangat presisi dan sangat lengkap—malam ini akan membutuhkan satu bagian yang tidak pernah ia tulis sebelumnya dalam seluruh karirnya sebagai spesialis akademi.
Bagian yang judulnya, saat ia mencoba merumuskannya, hanya bisa berbunyi satu hal:
Variabel yang tidak ada dalam kalkulasi mana pun.