NovelToon NovelToon
SISTEM PANGERAN AUTO PILOT

SISTEM PANGERAN AUTO PILOT

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Sistem
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

"Saat pedang musuh hampir mencabut nyawaku, sebuah suara mekanis mengambil alih kendali tubuhku dan mengubahku menjadi mesin pembunuh yang sempurna."

​​Jacob adalah pangeran kedua kerajaan Helios yang selalu berlindung di balik punggung kakaknya, George. Namun, sebuah pengkhianatan di medan perang membuat George lumpuh dan pasukan mereka terbantai. Di tengah keputusasaan, sebuah Sistem Auto Pilot aktif di dalam kesadaran Jacob. Sistem ini tidak memberikan misi atau hadiah cuma-cuma, melainkan mengambil alih kendali saraf otot Jacob untuk melakukan gerakan bertarung yang mustahil dilakukan manusia biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Percikan di Titik Buta

​Kuda hitam itu mendengus kasar saat Jacob menarik tali kekangnya dengan paksa di halaman pos pantau perbatasan selatan Helios. Pijakan kaki hewan tersebut membongkar tanah kering, mengakhiri pelarian panjang tanpa henti dari perbatasan Evlenian. Putri Diana menyusul tepat di belakangnya, wajahnya memucat karena menahan guncangan perjalanan ekstrem yang menguras seluruh staminanya.

​"Siapkan kuda pengganti dan kumpulkan seluruh prajurit yang tersisa di pos ini sekarang juga!" perintah Jacob dengan suara menggelegar ke arah puluhan ksatria Nightmare yang berjaga di tempat itu.

​Para prajurit berzirah hitam itu segera berlarian mematuhi instruksi tanpa banyak bertanya. Mereka berlomba menarik beberapa kuda segar dari kandang darurat.

​"Berhenti bersikap egois dan gegabah, Jacob!" bentak Diana sambil melompat turun dari sadel kudanya.

​Wanita itu melangkah cepat dan langsung menarik lengan jubah Jacob dengan sangat keras, memaksa sang raja penakluk memutar tubuhnya seketika.

​"Beraninya kau menarik pakaianku di depan pasukanku sendiri, Tuan Putri," desis Jacob dengan tatapan biru yang menghunus tajam, menahan amarah yang sewaktu-waktu bisa meledak.

​"Kau pikir aku peduli dengan martabatmu saat kau berniat membuang nyawamu secara konyol?" balas Diana tanpa berkedip, mencengkeram kain jubah itu semakin kuat.

​"Jangan mengaturku! Tiga ribu pembunuh elit Airis menguasai istanaku. Jika aku berhenti untuk menyusun taktik di atas kertas, ayahku akan kehilangan kepalanya!" bantah Jacob menunjuk ke arah utara dengan urat leher yang menegang.

​"Kau pikir aku ingin kau diam dan menyerah? Aku memintamu menggunakan otakmu, bukan hanya amarahmu!" balas Diana tidak mau kalah, melangkah maju hingga jarak mereka hanya tersisa satu jengkal.

​"Minggir, Diana. Aku akan memacu kudaku ke gerbang utama dan memenggal siapa pun yang menghalangi," geram Jacob menatap tajam langsung ke sepasang mata wanita itu.

​"Itu rencana paling bodoh yang pernah kudengar dari seorang raja! Mereka sudah menguasai pabrik dan menara timur. Gerbang utama pasti sudah dipenuhi jebakan panah beracun yang menunggumu masuk!" cecar Diana menekan telunjuknya kuat-kuat ke dada Jacob.

​Jacob menepis jari Diana dengan gerakan kasar.

​"Terus apa yang harus kulakukan? Duduk diam di sini sambil menunggu utusan mereka membawa kepala ayahku?!" teriak Jacob menggelegar, membuat beberapa kuda meringkik panik.

​"Gunakan kelemahan mereka! Kau adalah penguasa tempat ini, Jacob. Kau yang tahu setiap lekuk bangunan dan titik buta di istanamu sendiri!" teriak Diana dengan frekuensi suara yang tak kalah keras.

​{Wanita ini benar-benar membuat kesabaranku berada di ujung tanduk. Tapi logikanya menampar kepanikanku dengan sangat keras.}

​"Mereka menyusup melalui jalur limbah pabrik. Rute itu kotor, sempit, dan dihalangi oleh jeruji baja tebal," ucap Jacob mulai merangkai kepingan informasi dengan nada yang sedikit menurun.

​"Jika mereka bisa membongkarnya dan masuk dari sana, kau juga bisa menggunakannya untuk menyerang balik. Memotong jalur evakuasi mereka sekaligus memberikan kejutan pembantaian," usul Diana menyilangkan kedua tangannya.

​"Menyusup melalui saluran limbah akan memakan waktu terlalu lama jika membawa pasukan penuh dalam satu barisan," sanggah Jacob menguji kelayakan rencana tersebut.

​"Kau tidak perlu membawa pasukan penuh masuk ke sana. Bawa kelompok elitmu memotong jalur pembuangan, sementara sisa prajuritmu menyerang dari luar sebagai pengalih perhatian mematikan," jelas Diana dengan senyum tipis yang penuh percaya diri.

​"Itu berarti aku harus membagi pasukanku menjadi dua pilar serangan. Risiko kegagalannya cukup fatal jika Natali tidak berhasil bertahan di aula utama," gumam Jacob mulai berhitung probabilitas kemenangannya.

​"Percayalah pada komandanmu sendiri. Kau yang memungutnya dari maut, kau pasti tahu dia tidak akan mati semudah itu," tantang Diana mengembalikan keyakinan Jacob.

​Jacob menatap lekat-lekat mata Diana. Wanita itu sama sekali tidak menundukkan pandangannya. Keberaniannya ternyata setara dengan ketajaman pikirannya di medan perang.

​"Kau memiliki mulut yang sangat berbisa untuk ukuran seorang putri dari kerajaan penyendiri," sindir Jacob dengan seringai tipis yang kembali menghiasi wajahnya.

​"Dan kau memiliki otak yang terlalu sering dikendalikan oleh ototmu, Raja Penakluk," balas Diana membalas seringai tersebut.

​Puluhan prajurit Nightmare di sekitar mereka kembali berbisik-bisik, tidak percaya melihat penguasa tiran yang biasanya memenggal orang yang berani membantah, kini justru berdebat layaknya sepasang kekasih yang sedang meributkan masalah rumah tangga.

​"Aku berani bertaruh sepuluh koin emas, mereka akan segera mengumumkan pernikahan setelah perang ini selesai," bisik prajurit berzirah tebal kepada rekannya sambil mengencangkan tali pelana.

​"Pegang uangmu baik-baik. Ratu baru kita sepertinya akan menjadi satu-satunya entitas yang bisa menjinakkan monster di dalam diri sang raja," jawab rekannya dengan volume suara sepelan mungkin.

​Jacob berdeham dengan sangat keras, menyadari arah pandangan dan bisikan pasukannya yang mulai menyimpang dari tujuan utama.

​"Kalian semua, berhenti berbisik dan siapkan pedang kalian! Kita akan membelah serangan ini menjadi dua poros utama!" teriak Jacob mengalihkan fokus prajuritnya seketika.

​"Bagaimana dengan sistem komunikasi antar dua poros seranganmu itu?" tanya Diana memastikan seluruh detail rencana terkunci rapat.

​"Aku akan mengirimkan sinyal tembakan suar dari bukit perbatasan ini. Natali pasti melihatnya dan tahu bahwa bala bantuan sedang bergerak masuk," jawab Jacob dengan keyakinan absolut.

​"Sistem, pindai struktur bawah tanah pabrik peleburan dari memori konstruksi terakhir. Cari rute paling tersembunyi yang terhubung langsung dengan menara timur," perintah Jacob di dalam benaknya.

​[Pemindaian Selesai. Ditemukan celah ventilasi limbah selebar setengah meter yang mengarah tepat ke dasar pilar menara timur. Risiko terdeteksi oleh musuh: Tiga persen.]

​{Hanya aku yang bisa melewati lorong sesempit itu dengan bantuan manipulasi persendian dari sistem.}

​"Dengar baik-baik, Diana. Kau akan tetap bersembunyi di pos pantau ini di bawah penjagaan ketat. Aku tidak sudi direpotkan dengan sandera tambahan saat menyelinap ke dalam istanaku sendiri," tegas Jacob menatap mata sang putri.

​"Pastikan kau kembali dalam keadaan hidup. Aku menolak menjadi janda secara politik sebelum perjanjian teratai kita memberikan hasil yang nyata," balas Diana sambil memalingkan wajahnya yang sedikit memerah.

​"Kata-katamu selalu memiliki makna ganda yang menjijikkan, Tuan Putri," kekeh Jacob dengan tawa yang sangat singkat.

​Jacob segera melompat ke atas punggung kuda pengganti yang sudah disiapkan, menarik tali kekang dengan satu tangan, sementara tangannya yang lain memastikan pedang pendeknya berada di posisi yang mudah dicabut.

​"Sepuluh dari kalian, lindungi wanita ini dengan nyawa kalian! Sisanya, ikuti aku menuju jalur tebing selatan untuk mengalihkan pandangan mereka!" perintah Jacob memecah formasi pasukannya.

​"Hidup Raja Jacob! Kematian mutlak bagi musuh Helios!" teriak para prajurit serentak dengan semangat yang membakar darah mereka.

​Kuda-kuda perang itu melesat membelah jalan berbatu, meninggalkan pos pantau dengan derap langkah yang menggetarkan bumi.

​||||||||||||||

​{Bertahanlah sedikit lebih lama, Natali, Ayah. Aku datang untuk memastikan kerajaan Airis menangis darah hari ini.}

​Dari kejauhan, menara timur istana Helios mulai terlihat jelas. Puing-puing bangunan pabrik peleburan berserakan hingga ke batas tembok luar, dan sebuah panji hitam milik Airis kini berkibar mengejek dari atas balkon utama istana.

1
Fajar Fathur rizky
cepat bantai dan hancurkan kerjaan airis dengan kejam thor
Dania
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!