"Di Perusahaan ini, saya adalah hukum. Hukum tidak mengenal kata MAAF" Adrian Bramantyo.
Adrian adalah CEO dingin yang hidup seperti robot. Kesalahan sekecil apapun adalah tiket menuju pemecatan dan berakhir menjadi pengangguran di black list semua perusahaan. Namun saat sistem logistik bernilai miliaran rupiah lumpuh, seorang admin gudang yang berantakan justru muncul sebagai penyelamat dengan buku catatan kumal yang dimilikinya.
Gisel Amara, gadis pemberani yang hobi mendumel, mendadak ditarik paksa menuju lantai 40 menjadi sekertaris pribadi Adrian yang merupakan "Beruang Kutub".
Akankah Gisel bertahan di ruangan bersuhu minus tanpa beku?
Atau Gisel yang akan mencairkan hati sang CEO yang sudah lama membeku di titik Minus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Makan Malam Bersama Gisel
Adrian duduk di kursi kebesarannya. Di layar monitor lengkungnya yang super canggih, bukan grafik saham gabungan yang menyala, melainkan dasbor blog berlatar pink norak milik Gisel.
Di sampingnya berdiri Hadi yang memegang map dengan kaku, dan Budi yang sibuk mematut diri di pantulan kaca lemari berkas sambil sesekali membetulkan poni badainya.
**Adrian:** (Menatap layar dengan sangat serius, jemarinya mengetuk meja dengan ritme teratur) "Hadi, catat. Di postingan bulan November dua tahun lalu, Gisel menulis bahwa kencan impiannya adalah di restoran bertema fine dining yang memiliki pencahayaan temaram, bukan lampu neon gudang yang bikin silau."
**Hadi:** (Mencatat dengan tangan gemetar) "S-siap, Pak. Restoran bintang lima di SCBD sudah di-booking atas nama Bapak. Menu Wagyu A5 juga sudah dipesan sesuai draf blog Gisel nomor 42."
Budi: (Tiba-tiba menyela dengan gaya kemayunya, mengibaskan saputangan sutra) "Aduuuh, Pak Bos Bramantyo kesayangan Budi... dengerin deh masukan dari ahlinya asmara logistik ini. Gisel itu tipenya gengsian tingkat dewa! Jangan langsung ditembak pake mawar merah sekilo, ntar dia malah kabur ngumpet di tumpukan ban truk!"
Adrian menoleh lambat ke arah Budi, tatapannya dingin tapi penuh rasa ingin tahu.
Adrian: "Lalu apa saranmu, Budi? Saya sudah membaca poin tentang 'Sentuhan Fisik Tanpa Sengaja' di draf bab 12."
Budi: (Mata berbinar, menepuk tangannya dengan heboh) "Nah! Itu dia kuncinya, Pak! Nanti di restoran, Bapak harus cari momen buat pegang tangannya. Tapi jangan langsung digenggam barbar kayak mau tarik tambang! Pelan-pelan aja pas mau ambil sendok atau pas ngasih tisu. Bikin dia ngerasa disengat listrik tegangan tinggi! Biar dia 'meleyot' sekalian!"
Hadi: (Menelan ludah dengan susah payah) "Bud... lo beneran ngajarin Pak CEO cara modusin sekertaris kita sendiri? Kalau strategi lo gagal dan Gisel malah ngamuk ngebakar gudang, nasib bonus kita gimana?!"
Adrian tidak memedulikan ketakutan Hadi. Ia justru tersenyum tipis senyum yang sangat langka yang hanya muncul jika ia berhasil memecahkan teka-teki bisnis yang rumit.
Adrian: "Strategi Budi cukup masuk akal. Hadi, pastikan kamu duduk diam dan tidak merusak suasana. Budi, kamu boleh heboh sepuasmu di sana untuk memancing reaksi aslinya Gisel. Saya butuh dia mengeluarkan sisi 'Singa'-nya agar pertahanannya runtuh."
Budi: (Berpose centil sambil hormat) "Siap laksanakan, Komandan Kulkas! Mami Budi siap jadi wingman paling berisik sedunia! Pokoknya malam ini Gisel harus resmi jadi Ibu Bos kita!"
Hadi: (Berdoa dalam hati sambil memeluk map) "Ya Tuhan... selamatkanlah hamba dari pusaran cinta terlarang antara bos kulkas dan bawahan singa ini. Hamba cuma mau pulang tepat waktu dan dapet THR full tahun ini..."
Adrian bangkit dari kursinya, merapikan jasnya yang bernilai puluhan juta rupiah, lalu melangkah keluar ruangan diikuti oleh Budi yang berjalan dengan gaya model catwalk dan Hadi yang berjalan seperti narapidana menuju ruang eksekusi.
Adrian tersenyum penuh arti sambil menggenggam ponselnya yang masih menampilkan komentar dari akun IceCube_Bram.
**Adrian:** (Membatin) Kita lihat seberapa kuat kamu bertahan malam ini, Gisel. Kitab panduanmu... sudah saya hafal di luar kepala.
**
Suasana sore itu sebenarnya tidak seindah dan semulus drama Korea yang dibayangkan Budi. Terjadi sebuah "perang dingin" yang cukup sengit lewat pesan singkat antara sang CEO dan sang asisten logistik yang keras kepala.
Gisel, yang masih syok dengan kehebohan artikel blog "Sutra" miliknya di kantor, awalnya menolak mentah-mentah ajakan makan malam tersebut. Ia tahu itu adalah jebakan maut bagi jantungnya yang tidak stabil.
Gisel menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut dalam. Sebuah pesan dari nomor Adrian masuk dengan sangat singkat, padat, dan mengintimidasi.
**Adrian**: Gisel, taksi online premium sudah saya pesankan ke kosmu untuk jam 18.00. Kita makan malam di restoran SCBD.
**Gisel:** Maaf, Pak. Malam ini saya ada acara keluarga. Sangat mendesak. Saya tidak bisa ikut.
**Adrian**: Acara keluarga? Bukankah keluargamu di luar kota? Jangan mengarang bebas, Gisel. Kamu bukan sedang menulis cerpen di blogmu.
**Gisel:** Pak, tolong bisa tidak mengerti saya kali ini saja. Kalau saya ikut, gosip di kantor bakal makin parah. Tolong batalkan saja.
Melihat balasan Gisel yang terus menolak, Adrian yang sedang duduk di ruangannya tersenyum tipis. Ia tahu kelemahan terbesar "Singa Gudang"-nya ini: Loyalitas tanpa batas pada teman-temannya.
Adrian pun mengetikkan senjata pamungkasnya.
**Adrian:** Baiklah kalau kamu menolak. Tapi sebagai gantinya, besok pagi saya akan menandatangani surat pemindahan Budi kembali ke ruang pengawasan CCTV secara permanen karena sudah membuat keributan di lobi utama hari ini. Dan untuk Hadi... bonusnya yang tertahan sepertinya perlu ditinjau ulang selama 6 bulan ke depan.
**Gisel:**BAPAK!!! Itu namanya pemerasan emosional! Nggak adil banget bawa-bawa nasib mereka berdua!
**Adrian:** Saya tidak sedang bernegosiasi, Gisel. Saya hanya memberikan pilihan rasional. Ikut makan malam bersamaku, atau biarkan Budi lumutan di depan monitor CCTV sendirian. Keputusan ada di tanganmu. Sampai jumpa jam 18.25 di lobi restoran.
Gisel menatap layar ponselnya dengan emosi yang tertahan. Ia ingin sekali membanting tumpukan dokumen di depannya, tapi ia tahu ia tidak berdaya melawan kekuasaan mutlak sang CEO Kulkas.
**Gisel:** (Membatin dengan kesal) Tiran! Diktator! Kulkas nggak punya hati! Tega-teganya dia ngancem pake nasib Budi sama Hadi! Awaaas ya, kalau nanti di restoran dia macem-macem, bakal gue racunin piringnya pake sambel ulek ekstra pedas!
Gisel akhirnya terpaksa pulang ke kosnya dengan terburu-buru untuk bersiap-siap. Ia tidak punya pilihan selain menyerahkan diri pada "jebakan maut" Adrian demi menyelamatkan masa depan karier kedua sahabat karibnya itu.
**
Jalanan di depan restoran bergaya classic European yang terletak di kawasan SCBD itu tampak berkilau sehabis diguyur hujan rintik-rintik. Lampu-lampu kristal dari dalam restoran memancarkan cahaya hangat yang temaram, persis seperti kriteria kencan impian yang pernah ditulis Gisel di blog pribadinya.
Mobil kantor yang dikendarai Hadi berhenti tepat di depan lobi restoran. Adrian, yang duduk di kursi belakang, melirik jam tangannya yang melingkar elegan.
Adrian: (Menatap Hadi dan Budi dari kaca spion tengah) "Kalian berdua, turun sekarang. Masuk dan langsung menuju meja nomor 7 yang sudah saya pesan atas nama Bramantyo."
Budi: (Sambil merapikan poni badainya dan membetulkan letak syal sutranya) "Loh, Pak Bos kesayangan eke... kok kita berdua doang yang turun?! Bapak nggak mau gandeng eke masuk ke dalem biar dikira pasangan sosialita hits?!"
Hadi: (Menyikut rusuk Budi dengan keras) "Bud! Sadar diri dong! Lo mau bikin Pak Adrian jantungan?! Tapi... beneran nih Pak, kami berdua aja yang masuk duluan? Bapak nggak ikut?"
Adrian: (Wajahnya kembali ke mode 'Kulkas', datar tapi matanya memancarkan ketegangan yang tertahan) "Saya sengaja memesankan taksi online premium untuk Gisel dari kantor tadi. Posisinya sudah dekat, sisa dua menit lagi sampai. Saya akan menunggu dia di sini."
Budi langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan, matanya berbinar liar penuh kehebohan yang tertahan.
Budi: "Aduuuh! So sweet banget si Bapak! Mau main jemput-jemputan ala pangeran nungguin Cinderella ya?! Oke deh, eke sama Hadidit masuk duluan. Eke bakal pastiin lilin di meja kita udah nyala biar suasana makin unyu-unyu manja! Ayo Dit, buruan!"
Hadi hanya bisa menghela napas pasrah sambil ditarik paksa oleh Budi yang berjalan dengan gaya catwalk memasuki pintu kaca restoran yang mewah.
Tepat pada pukul 18.25, sebuah mobil sedan hitam metalik berhenti mulus di area drop-off lobi. Itu adalah taksi online premium yang dipesankan Adrian khusus untuk Gisel.
Dengan gerakan yang sangat ksatria, Adrian membukakan pintu mobil itu dari luar. Begitu pintu terbuka, sosok Gisel terlihat duduk di dalam dengan ekspresi yang campur aduk antara bingung, gugup, dan terpesona oleh kemewahan tempat tersebut.
Malam itu, Gisel mengenakan gaun simpel berwarna hijau emerald warna yang pernah ia sebutkan di blog sebagai warna keberuntungannya dipadukan dengan riasan tipis yang membuat kecantikan alaminya terpancar sempurna.
Adrian: (Tertegun sejenak, tatapan matanya melembut tanpa ia sadari) "Selamat malam, Gisel. Perjalananmu lancar?"
Gisel: (Turun dari mobil dengan agak canggung, memegang tas kecilnya erat-erat) "S-selamat malam, Pak Adrian... Lancar kok, Pak. Tapi... kok Bapak nungguin saya di sini? Budi sama Hadi mana? Mereka nggak ikut?"
Adrian: (Menutup pintu mobil di belakang Gisel, lalu berdiri sangat dekat di hadapan gadis itu) "Mereka sudah masuk duluan. Sengaja saya suruh begitu."
Gisel: "Kenapa?!"
Adrian: (Menunduk sedikit agar tatapan mereka sejajar, menyunggingkan senyum tipis yang mematikan) "Karena saya ingin menjadi orang pertama yang melihat betapa cantiknya kamu malam ini, Gisel. Dan saya tidak ingin kehebohan Budi merusak momen sepuluh detik pertama saya mengagumi tulisan hidup yang keluar dari blogmu."
Gisel mendadak merasa pasokan oksigen di sekitarnya menipis. Pipinya merona merah padam, mengalahkan warna karpet merah di lobi restoran tersebut!
Gisel menarik napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya yang berdentum kencang. Ia mengabaikan debaran aneh di dadanya dan memilih untuk memasang wajah "Singa Gudang" yang sedang siap menerkam mangsanya.
Gisel: "Bapak beneran licik, ya! Pakai bawa-bawa nasib Budi sama Hadi segala biar saya terpaksa ke sini!"
Adrian tidak marah. Ia justru menatap Gisel dengan tatapan teduh yang sangat jarang diperlihatkan di kantor tatapan yang langsung membuat pertahanan Gisel sedikit terkikis.
Adrian: "Sebagai atasan kamu, saya harus menggunakan strategi paling efektif untuk mencapai tujuan saya, Gisel. Dan tujuan saya malam ini... adalah memastikan kamu duduk di hadapan saya. Mari masuk, mereka sudah menunggu."
Adrian meletakkan telapak tangannya di punggung bawah Gisel tidak menyentuh langsung, hanya memberikan jarak beberapa milimeter sebagai gestur membimbing yang sangat sopan namun protektif. Sentuhan tanpa sentuhan itu sukses membuat bulu kuduk Gisel meremang.
Begitu mereka melangkah memasuki area makan utama yang mewah dengan alunan musik jazz yang mendayu, keheningan elegan restoran itu seketika pecah.
Budi: (Berdiri dari kursinya, melambaikan serbet kain putih tinggi-tinggi ke udara seperti bendera perang) "YUHUUU! GISEEEEL SAYANGKUH! SINI, SAYAAANG! DI SEBELAH SINI MEJA KITA! YA AMPUUUN, ITU GAUN APA DAUN SINGKONG?! CAKEP BANGET, COCOK SAMA PANGERAN ES BATU LO!"
Hadi yang duduk di sebelah Budi langsung menarik ujung jas Budi dengan panik, mencoba menenggelamkan wajahnya di balik buku menu yang tebal.
Hadi: "Bud! Duduk, Bud! Ini restoran bintang lima, bukan pasar malam! Malu dilihatin bule-bule sebelah, astaga..."
Gisel berjalan dengan kepala tertunduk, menahan malu yang luar biasa akibat histeria Budi. Begitu sampai di meja nomor 7 yang berbentuk bundar dengan lilin menyala di tengahnya, Gisel langsung bersiap mengambil kursi di sebelah Hadi untuk mencari aman.
Namun, Budi dengan gerakan secepat kilat langsung menggeser kursinya sendiri dan menduduki kursi di sebelah Hadi.
Budi: (Tersenyum lebar dengan gaya centil yang dibuat-buat) "Aduuuh Gisel sayangkuh... maaf banget ya, eke sama Hadidit lagi mau bahas laporan stok lipstik terbaru nih! Jadi lo duduknya di sebelah Pak Bos aja ya. Kursinya empuk kok, sebanding sama pundaknya Pak Bos yang siap jadi sandaran hidup lo!"
Gisel melotot ke arah Budi, memberikan kode mata yang berarti "Gue bunuh lo besok di gudang!". Namun Budi hanya membalasnya dengan kedipan mata genit.
Adrian tersenyum tipis melihat kerja sama Budi yang sangat apik. Dengan sangat jantan, ia menarikkan kursi kosong di sebelahnya untuk Gisel.
Adrian: "Silakan duduk, Gisel. Jangan didengarkan Budi, dia hanya terlalu bersemangat."
Gisel akhirnya pasrah dan duduk di sebelah Adrian. Jarak mereka sangat dekat, hingga Gisel bisa mencium aroma parfum sandalwood bercampur kopi arabika yang menguar dari tubuh Adrian.
Pelayan restoran mulai berdatangan membawakan hidangan pembuka. Suasana menjadi agak canggung sampai akhirnya Budi kembali membuka suara untuk mencairkan suasana.
Budi: "Wah, Pak Bos... pinter banget deh milih restorannya! Temaram-temaram gimanaaa gitu ya. Persis kayak artikel blog 'Singa Gudang' draf nomor 15 yang bilang kalau kencan impian itu harus di tempat remang-remang biar kalau pipi merah nggak keliatan! Iya kan, Gisel?"
UHUK!
Gisel langsung tersedak air putih yang baru saja ia minum. Wajahnya yang tadi sudah merah, kini makin merah padam semerah kepiting rebus.
Gisel: "Pak, beneran... kalau besok saya nggak masuk kerja, itu artinya saya lagi daftar jadi pertapa di gunung. Saya nggak sanggup liat muka orang-orang di divisi lain setelah baca tulisan 'Hati Selembut Sutra' itu."
Adrian: "Jangan berlebihan, Gisel. Tulisan itu bagus. Deskripsinya... akurat."
Gisel: "Akurat dari Hongkong! Bapak itu aslinya setajam silet, bukan selembut sutra!, tapi Pak... soal blog itu... Bapak beneran nggak marah saya panggil Bapak Kulkas?"
Adrian: "Kenapa harus marah? Selama kamu yang jadi 'pencairnya', saya rasa sebutan itu cukup keren. Tapi Gisel..." (Adrian menoleh, menatap Gisel dengan tataran yang bikin Budi hampir pingsan kegirangan) "...artikel yang kamu tulis tadi, soal 'Adrian Bramantyo si Hati Lembut', itu harus ada lanjutannya."
Gisel: "Lanjutan apalagi, Pak?! Itu aja udah bikin saya mau ganti identitas!"
Adrian: "Lanjutannya adalah... bagaimana si Kulkas ini mengajak penulisnya makan malam hari ini untuk merayakan 'kebebasan' Budi dan Hadi."
Budi: (Berteriak histeris) "IKUUUUT! MAMI MAU MAKAN STEAK YANG HARGANYA SEHARGA CICILAN MOBIL HADIDIT!"
Adrian: "Budi, bisa keluar jika kamu ribut. Kamu harus menemani Hadi merayakan kembalinya bonusnya dengan makan batagor di kantin. Makan malam ini... hanya untuk saya dan Gisel."
Budi: (Wajahnya langsung berubah memelas) "Yah... diskriminasi kasta ini mah! Masa Mami disuruh makan batagor lagi? Tapi ya sudahlah... demi kelangsungan ship favorit gue, gue rela deh makan bumbu kacang bareng si Hadi yang lagi nangis bahagia itu."
Gisel hanya bisa melongo. Ia merasa dunianya benar-benar terbalik dalam satu hari. Dari Singa Gudang, jadi penulis blog narsis, sekarang jadi teman kencan sang CEO yang ternyata adalah fanboy nomor satunya.
***
Gisel: "Nggak! Nggak bisa, Pak! Pokoknya kalau Budi keluar, saya juga keluar! Saya nggak mau makan berdua sama Bapak!"
Adrian: (Mengernyitkan alis, suaranya tetap tenang) "Kenapa? Kamu takut steaknya kurang matang atau takut saya tanya soal bab selanjutnya di blog kamu?"
Gisel: "Saya takut kesehatan mental saya keganggu, Pak! Berduaan sama Bapak itu rasanya kayak lagi diaudit pajak 24 jam. Minimal harus ada Budi buat jadi penengah, atau Hadi buat jadi tumbal kalau suasana mendadak kaku kayak es batu!"
Budi: (Sontak bertepuk tangan) "HIDUP GISEL! Mami setuju! Lagian Pak Bos, kalau Bapak cuma berduaan sama Gisel, nanti siapa yang mau fotoin momen aesthetic kalian buat bahan konten blog? Saya kan fotografer profesional kelas gudang!"
Adrian menghela napas panjang sebuah helaan napas yang terdengar seperti "Kulkas" yang sedang mengalami pencairan paksa. Ia melirik Gisel yang wajahnya sudah menunjukkan ekspresi "Pecat saya sekarang atau tetap bersama teman-teman saya".
Adrian: "Gisel... ini makan malam perayaan. Kenapa harus seramai pasar kaget?"
Gisel: (Membela diri dengan berapi-api) "Karena kalau cuma berdua, saya nggak akan bisa makan tenang! Saya bakal sibuk mikirin apa Bapak lagi merhatiin cara saya pegang garpu atau apa Bapak lagi ngerencanain buat beli blog saya dan dijadiin SOP perusahaan! Pokoknya, no Budi, no Hadi, no Gisel!"
Adrian akhirnya menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, memejamkan mata sejenak, lalu menoleh ke arah Gisel dengan tatapan pasrah yang sangat langka.
Adrian: "Oke. Kita makan berempat. Tapi dengan satu syarat, Gisel..."
Gisel: "Apa lagi, Pak?"
Adrian: "Jangan biarkan Budi memesan menu paling mahal hanya karena dia ingin balas dendam soal Gudang Timur. Dan kamu... duduk di sebelah saya, bukan di sebelah Budi."
Gisel: (Jantungnya berdegup kencang lagi, tapi ia mencoba sok galak) "Ya... ya liat nanti kondisinya ya, Pak! Yang penting ada saksinya kalau Bapak mendadak kumat kaku!"
Hadi: "Ini... kita beneran mau makan bareng Pak Adrian? Gue nggak bakal disuruh bayar pake cicilan mobil gue kan, Bud?"
Budi: "Tenang Hadidit! Hari ini kita adalah tamu kehormatan dari 'Tiran Berhati Sutra'! Gisel udah dapet restu buat kita ada di sini!"
Hadi melirik ke depan, melihat Gisel yang duduk dengan wajah serius dan Adrian yang sesekali mencuri pandang ke arah Gisel. Hadi langsung tahu malam ini akan jadi malam paling panjang dalam sejarah kariernya sebagai asisten.
to be continue