Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?
Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Setelah dokter keluar dari kamar inap, tidak lama kemudian kedua orang tua Nathan datang. Vivian dan Marcell terlihat begitu cemas. Wajah mereka tegang sejak mendapat kabar bahwa cucu satu-satunya harus dilarikan ke rumah sakit.
Langkah Vivian bahkan nyaris berlari menghampiri Nathan yang berdiri di depan kamar rawat.
“Nak… gimana keadaan cucu kami?” tanya Vivian dengan suara bergetar.
Nathan menarik napas panjang sebelum menjawab. Ia tampak lelah, matanya sembab karena sejak tadi terus menjaga Darrel.
“Ya… begitulah, Mi,” ucap Nathan pelan. “Panasnya masih tinggi. Bahkan sejak tadi dia terus mengigau menyebut nama Mbak Kantin.”
“Mbak Kantin?” ulang Vivian dengan kening berkerut. “Siapa dia?”
Nathan langsung terdiam.
Rahangnya mengeras. Ia sebenarnya tidak ingin melibatkan kedua orang tuanya dalam masalah ini. Terlebih lagi… sejak dulu mereka tidak pernah menyukai Andin.
Namun pertanyaan Vivian membuatnya tidak punya pilihan.
“Sebenarnya…” Nathan menggantung kalimatnya, suaranya terdengar ragu.
Vivian langsung mendesak.
“Sebenarnya apa, Nak?”
Nathan menunduk sejenak sebelum akhirnya berkata lirih,
“Sebenarnya… Mbak Kantin yang sering Darrel sebut itu… Andin, Mi.”
Deg!
Seolah ada sesuatu yang menghantam dada Vivian. Wajah wanita paruh baya itu langsung berubah pucat. Matanya membesar, seakan tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
“Andin?” gumamnya pelan.
Namun detik berikutnya wajahnya mengeras.
“Apa? Perempuan itu lagi?” serunya tajam. “Perempuan yang sudah menghancurkan hidupmu dulu?”
Nathan hanya terdiam. Ia memejamkan matanya sebentar, seolah terlalu lelah untuk kembali mengulang cerita lama yang menyakitkan itu.
Vivian menggeleng keras.
“Kenapa harus perempuan itu lagi!” desisnya geram. “Apa kamu masih berhubungan dengannya?”
“Enggak, Mi!” jawab Nathan cepat. “Mana mungkin aku menjalin hubungan lagi dengan dia.”
Vivian menatap anaknya dalam-dalam, seolah mencoba memastikan ucapan itu benar.
“Baguslah,” katanya akhirnya dengan nada dingin.
“Dan ingat satu hal, Nathan… sampai kapan pun kamu jangan pernah jatuh lagi ke pelukan perempuan itu.”
Ancaman itu terdengar jelas, namun Nathan tidak menjawab apa-apa. Ia hanya menatap ke arah pintu kamar rawat Darrel. Tatapannya kosong, seolah pikirannya sedang berada di tempat lain.
Sejujurnya… sejak dulu hatinya memang sudah tertutup untuk siapa pun.
“Mami bisa tidak berhenti membicarakan masa lalu?” ucap Nathan akhirnya dengan suara rendah. “Sekarang yang penting adalah Darrel. Kita harus fokus pada kesembuhannya.”
Ruangan itu seketika menjadi hening. Namun di balik keheningan itu, ada sesuatu yang tidak terucap. Sesuatu yang hanya diketahui oleh Vivian.
Bahwa perempuan yang ia benci itu, sebenarnya adalah korban dari rencana yang pernah ia buat sendiri.
'Pokoknya aku harus bisa menjauhkan anak dan cucuku dari perempuan itu,' batin Vivian.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Vivian mulai gelisah. Sejak mendengar nama itu disebut kembali, pikirannya tidak bisa tenang. Wanita itu kini berusaha memikirkan berbagai cara agar cucunya tidak lagi berhubungan dengan perempuan tersebut.
“Pi… ini gimana ya?” tanya Vivian dengan suara cemas. “Kok bisa cucu kita bertemu lagi dengan gadis itu?”
Marcell menghela napas panjang. Wajahnya terlihat tegang, sama seperti istrinya.
“Pokoknya secepat mungkin kita harus menjauhkan Darrel dari wanita itu,” sahutnya tegas.
“Tapi gimana caranya?” tanya Vivian lagi. Nada suaranya terdengar semakin panik.
Marcell belum sempat menjawab.
Tiba-tiba saja pintu kamar rawat terbuka sedikit. Nathan berdiri di sana dengan wajah tegang.
“Mi… Pi… Darrel mulai sadar,” ucap Nathan cepat.
Keduanya langsung berdiri dan masuk ke dalam kamar.
Namun belum sempat mereka merasa lega…
Suara Darrel yang masih lemah justru terdengar lirih dari atas ranjang.
“Mbak… Mbak Kantin…”
Nathan menegang.
“Darrel, ini Daddy. Kamu dengar Daddy, kan?” ucapnya sambil menggenggam tangan anaknya.
Namun Darrel seolah tidak mendengar. Anak itu justru mengerang pelan, matanya masih setengah terpejam.
“Mbak Kantin… datang kesini ya," pintanya penuh harap.
Nathan terdiam begitu juga Vivian. Bahkan dalam keadaan lemah seperti ini yang dicari anak itu tetap perempuan yang paling mereka ingin jauhkan.
Di sudut ruangan, Vivian mengepalkan tangannya pelan. Tatapannya berubah dingin.
“Perempuan itu…” gumamnya lirih.
Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, rasa takut mulai muncul di hatinya. Takut jika suatu saat nanti… kebenaran masa lalu benar-benar terbongkar.
Suasana di dalam kamar rawat mendadak hening setelah racauan Darrel perlahan mereda. Entah kenapa hari ini benar-benar terasa panjang dan menguras hati.
Nathan hanya berdiri di samping ranjang, menatap wajah anaknya yang pucat dengan dada yang terasa sesak. Sementara Vivian dan Marcel ikut terdiam di sudut ruangan, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Tidak lama kemudian pintu kamar kembali terbuka. Dokter masuk bersama seorang perawat untuk mengecek kondisi Darrel sekali lagi.
Tangannya bergerak memeriksa suhu tubuh anak itu, memastikan infus tetap berjalan dengan baik.
Namun belum sempat pemeriksaan selesai, Darrel kembali meracau dengan suara yang sangat lemah.
“Mbak… Mbak…”
Suara itu lirih, hampir seperti bisikan.
Dokter sempat menghentikan gerakannya sejenak, lalu melirik Nathan yang berdiri di samping tempat tidur.
Setelah memastikan kondisi Darrel, dokter itu menarik napas pelan sebelum akhirnya berkata.
“Demam anak Bapak masih cukup tinggi. Dalam kondisi seperti ini biasanya anak akan mencari sosok yang membuatnya merasa aman.”
Nathan tidak menjawab. Dokter itu kembali menatap Darrel yang masih sesekali menyebut nama yang sama.
“Menurut saya… tidak ada salahnya jika Bapak memanggil perempuan yang terus disebut oleh anak Bapak itu,” lanjutnya dengan tenang.
“Setidaknya biarkan anak ini merasa tenang terlebih dahulu.”
Kalimat dokter itu seolah membuat udara di ruangan mendadak terasa lebih berat, Nathan terdiam. Sementara di belakangnya, wajah Vivian langsung menegang mendengar saran tersebut.
Membawa perempuan itu ke sini?
Entah, kenapa untuk kali ini Nathan benar-benar memperhatikan ucapan dokter itu, karena tidak tega melihat sang anak yang terus menerus merancau.
Di atas ranjang, Darrel kembali merintih pelan.
“Mbak… jangan pergi…”
Dan kali ini suara itu terasa seperti menekan hati semua orang yang berada di ruangan tersebut.
"Mi, aku mau pergi dulu, jaga Darrel ya!" pinta anaknya itu dengan terburu-buru.
"Mau kemana kamu Nath?" tanya Vivian tegang.
"Mau membawa Andin," jawabnya pelan.
"Apa! Mana ada, kamu membawa perempuan itu kemari, sama saja kamu menjerumuskan dirimu ke dasar jurang," tekan Vivian.
"Sudah Mi, stop!" potong Nathan. "Untuk kali ini aku mohon jangan egois, kasihan Darrel," berontak Nathan.
"Kasihan sih kasihan, tapi bukan seperti ini juga caranya!" cetus Vivian.
Nathan pun menatap ibunya itu dengan tatapan tajam. "Mi, ini darurat, bukannya dokter tadi bilang, dan aku gak mau sampai terjadi apa-apa dengan anakku!" desis Nathan lalu melangkah keluar tanpa peduli dengan sang ibu yang mencoba untuk menghalangi.
Bersambung ....