NovelToon NovelToon
Married By Accident

Married By Accident

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lisdaa Rustandy

"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Galau

Motor matic Raline berhenti di halaman rumahnya yang tidak terlalu luas. Tetapi halaman itu bersih dan rapi. Ada deretan pot bunga di dekat pagar rumah, dengan jenis-jenis bunga yang bermekaran indah.

Raline turun dari motornya. Melepas helm dan merapikan rambut yang sedikit berantakan.

Matanya sembab dan merah. Ia mengusap air mata yang masih tersisa sebelum masuk ke dalam rumah.

Perlahan Raline mendekati pintu dan mengetuknya pelan.

'Tok. Tok. Tok.'

"Assalamu'alaikum," ucapnya, sembari berusaha membingkai senyum di wajah.

"Wa'alaikumsalam..." sahut dari dalam.

Pintu terbuka setelahnya. Seorang wanita berjilbab lebar keluar, langsung menyambutnya dengan senyum.

"Kamu kok baru pulang, Neng?" tanyanya.

Raline meraih tangan ibunya itu dan menciumnya. "Iya, Bu. Tadi ada latihan voli sebentar," jawabnya, bohong.

Bu Dinar menatap putrinya seksama. Keningnya mengkerut ketika menyadari wajah putrinya tak secerah biasa, bahkan matanya tampak habis menangis.

"Neng kenapa?" tanyanya lembut. "Nangis ya?"

Raline segera menggeleng sambil tersenyum. "Nggak kok. Tapi cuma kelilipan aja. Maklum, kalau latihan kan kadang bolanya agak kotor, jadi ada debunya."

"Oh..."

Bu Dinar tampaknya percaya pada kebohongan putrinya.

Ia pun mengajak Raline masuk dan memintanya segera mandi dan shalat Ashar.

Raline menurut.

Ia masuk ke kamarnya. Melepas tas hingga sepatu dan mengambil handuk. Kemudian, ia pergi ke kamar mandi di dekat dapur.

Sementara itu, senja mulai merambat pelan di langit. Warna jingga keemasan menyelinap di sela-sela atap rumah warga, memantul lembut pada jendela-jendela kecil di sekitar rumah Raline.

Di dalam kamar mandi, Raline menyalakan keran. Air mengalir deras, meredam suara-suara kecil yang muncul di dalam kamar mandi. Ia menunduk, kedua tangannya bertumpu di wastafel sederhana itu.

Raline mengambil air dengan kedua tangannya, lalu membasahi wajah.

Begitu air menyentuh kulitnya, tangis yang sedari tadi ia tahan kembali menyeruak.

Air mata bercampur dengan air keran.

Dadanya terasa sesak.

Bayangan percakapan tadi terus terputar di kepalanya.

"Tapi gue gak bisa kalo harus nikahin lo, Lin." "Kita masih sekolah. Lo sama gue juga nggak pernah pacaran."

"Dan satu lagi... gue punya pacar. Gue gak bisa nikahin lo dan ninggalin dia."

Suara Kai masih terngiang jelas. Kata-kata yang ia ucapkan sungguh menyakitkan, seperti belati yang tertancap di hatinya begitu dalam.

Raline memejamkan mata kuat-kuat.

"Kaisar brengsek... Kaisar bajingan..." bisiknya lirih pada dirinya sendiri. "Gue nyesel waktu itu nurutin apa kata lo. Gue bodoh..."

Ia terisak-isak pelan, mengusap wajahnya berkali-kali, seolah ingin menghapus bukan hanya jejak tangis, tapi juga kenyataan yang kini harus ia hadapi sendirian.

Kaisar jelas tak akan bertanggung jawab atas janin yang ia kandung. Pemuda itu mencampakkan dirinya setelah apa yang terjadi antara mereka malam itu.

_____

Beberapa menit kemudian, Raline menyelesaikan mandinya. Ia keluar dari kamar mandi dan kembali ke kamarnya.

Segera ia mengenakan mukena putih polos miliknya dan menunaikan shalat Ashar yang sudah sedikit terlewat dari seharusnya. Gerakannya pelan, lebih lama dari biasanya. Ia mencoba untuk khusyuk dalam shalat, mengingat dosanya mungkin tidak akan terampuni.

Setiap sujud terasa seperti tempat ia menumpahkan beban.

Setelah salam terakhir, ia duduk bersimpuh. Tangannya menengadah. Bibirnya bergetar.

Ia menatap ke langit-langit seolah tengah melihat siapa yang akan jadi tempatnya bercerita.

"Ya Allah... Hamba tahu Hamba berbuat salah. Hamba tahu Hamba berbuat dosa. Tapi... Hamba tidak ingin seperti ini, ya Allah..." tuturnya lirih disertai isakan.

"Berikan Hamba jalan keluar untuk masalah ini. Hamba tidak sanggup jika harus melewati ini sendirian... Jangan buat Hamba putus asa..."

Raline menangis dalam do'anya.

Meminta dengan bersungguh-sungguh dan menyesali perbuatannya.

Air matanya terus mengalir tanpa bisa ia tahan. Kegundahan hatinya belum juga menemukan penawar. Berbicara dengan Kaisar bahkan hanya membuat emosinya meledak-ledak. Ia merasa dipermainkan, merasa dibuang setelah 'kemurniannya' direnggut.

Raline mengusap wajahnya setelah berdoa cukup lama.

Ia bangkit, melipat mukena, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya yang masih datar.

Datar… tapi kini terasa berbeda.

Ada rasa takut.

Ada rasa bingung.

Rasanya ia ingin menghilang saja dari dunia ini, untuk menghindari orang tuanya dan orang-orang yang akan segera melihat perubahan pada perutnya.

Raline membaringkan tubuhnya dalam posisi miring. Matanya menatap kosong ke meja belajar, lalu perlahan matanya tertutup rapat. Ia tertidur.

Raline terlihat lelah.

Bukan hanya fisiknya yang lelah, tapi lelah batin juga.

Ia tak tahu akan seperti apa nantinya. Entah apa yang akan dilakukan ayah dan kakak laki-lakinya jika tahu ia hamil diluar nikah.

Raline takut. Sangat takut.

Tetapi tetap saja rasa takut itu bisa menyelamatkan dirinya dari hari-hari esok yang mungkin akan lebih buruk.

*****

Malamnya…

Kaisar duduk di kasur sembari bersandar pada sandaran ranjang. Lampu kamar hanya satu yang menyala, temaram. Poster band-band luar negeri menempel di dinding, sisa masa remajanya yang masih ingin ia pamerkan.

Di pangkuannya ada gitar kesayangan. Yang didapat saat ia masuk ke SMA, hadiah dari almarhum kakeknya.

Jarinya memetik senar perlahan. Nada-nada lembut mengalun memenuhi kamar.

Ia menyanyikan lagu berbahasa Inggris yang sedang digandrungi anak-anak seusianya. Lagu tentang cinta, tentang kehilangan, tentang perasaan yang tak bisa dimiliki sepenuhnya.

Suaranya cukup bagus, dan penuh emosi saat menyanyi.

"I can’t save us, my Atlantis, we fall…"

"We built this town on shaky ground…"

Kaisar terdiam di tengah lagu.

Petikannya terhenti.

Bayangan wajah Raline tiba-tiba muncul di benaknya. Mata berkaca-kaca itu. Suara bergetar itu. Cara Raline menatapnya sore tadi, bukan dengan marah, tapi dengan kecewa yang jauh lebih menyakitkan.

"Semuanya jadi ribet gini..." gumam Kaisar. "Ide bodoh gue malam itu malah bikin keadaan jadi buruk."

Ia menghela napas panjang, lalu meletakkan gitar di samping bantal.

Tangannya meraih ponsel di nakas. Layarnya menyala.

Nama Raline masih ada di daftar chat utama di ponselnya. Belum ia hapus.

Ia membuka ruang obrolan itu.

Terakhir kali… Raline yang mengiriminya pesan lebih dulu. Tadi siang saat masih jam pelajaran.

[Kai, gue minta ketemu di lapangan basket sore ini. Ada yang mau gue omongin, penting.]

Isi chat itu masih ada, Kaisar membacanya berulang-ulang kali.

Dan yang 'penting' itu ternyata tentang kabar kehamilan Raline, akibat cinta satu malam mereka sebulan lalu.

Kaisar menutup mata sejenak.

"Apa yang harus gue lakuin sekarang..." bisiknya lirih. "Gue juga masih bocah... Terlalu banyak resiko yang harus gue tanggung kalo gue nikahi dia. Tapi..."

Kaisar terdiam sesaat, tampak tengah berpikir.

"Janin yang dia kandung bakal terus tumbuh, kan?" tanyanya pada diri sendiri. "Terus kalo nanti perutnya Raline gede, orang-orang bakal bertanya-tanya ke dia siapa bapaknya. Kalo Raline ngaku siapa bapak anak itu, gue yang lebih repot."

Kaisar mulai dilanda gundah dan kecemasan dalam hatinya akan masa depan yang ia prediksi sendiri. Ancaman untuk kehidupannya nanti sudah bisa ia lihat dengan jelas, meski belum sepenuhnya pasti.

"Gue harus ngobrol lagi sama dia," ucapnya menatap ponselnya kembali.

Ia gegas mengetik sesuatu di kolom balasan pada ruang chat dengan Raline.

Niatnya meminta bertemu besok, agar mereka bisa bicara empat mata di tempat yang lebih sepi. Tak ada niat jahat. Kaisar hanya ingin berbicara lebih leluasa dengan Raline mengenai masalah yang tengah mereka hadapi.

Tapi setelah mengetik pesan berisi ajakan bertemu itu, ia menghapusnya seolah ragu.

Mengetik lagi.

Menghapus lagi.

Kaisar benar-benar dilema. Pikirannya kacau.

Akhirnya, ponsel itu ia letakkan kembali tanpa mengirim apa pun.

Ia batal mengirim pesan pada Raline.

Kaisar bangkit dari kasur dan berjalan mondar-mandir di dalam kamar.

Pikirannya benar-benar kacau. Beban pikiran yang ia pikul sangat berat dirasa.

Di satu sisi, ia tahu Raline tidak salah sepenuhnya. Malam itu jelas-jelas dirinya yang membujuk Raline untuk melakukan hal tersebut dengan alasan agar sama-sama mendapatkan kehangatan.

Raline sempat menolak. Namun bisikan setan ternyata jauh lebih kuat daripada keinginan hati masing-masing untuk tidak melakukannya.

Di sisi lain, ia terlalu pengecut untuk menghadapi akibat dari perbuatannya sendiri.

Ia terlalu takut. Apalagi ibunya sangat menyayangi dirinya, bahkan berharap sangat banyak darinya sebagai anak tunggal dan penerus keluarganya.

Ding!

Ponselnya berbunyi.

Pesan masuk.

Bukan dari Raline. Tapi dari Nana.

[Sayang, besok kamu jadi ajak aku nonton kan? Jangan sampai gak jadi loh. Aku bakal sedih. Hehehe.]

Kaisar menatap layar itu lama.

Jemarinya gemetar.

Antara Raline… dan Nana…

Entah siapa yang harus ia utamakan kali ini.

Ia ingin sekali mengutamakan Nana seperti biasa. Tapi pembicaraan dengan Raline belum selesai, bahkan menggantung. Ia harus segera menyelesaikan masalahnya dengan Raline agar bisa hidup tenang kembali.

Tapi jika mengabaikan Nana... gadis itu pasti akan sedih, lalu meminta putus darinya.

Itu sesuatu yang tak pernah ia inginkan dalam hidupnya. Nana terlalu berarti baginya.

Ia akhirnya membalas.

[Kita nontonnya sore aja ya. Pagi aku harus ke rumah tanteku buat ketemu sepupu yang baru balik dari New York.]

Kaisar berbohong.

Sebenarnya ia tak ingin berbohong lagi pada Nana. Tapi sudah terlanjur sejak awal bohong, maka berbohong lagi adalah satu-satunya cara agar bisa terhindar dari kecurigaan.

Tak lama, ia mendapatkan balasan.

[Oh, gitu. Yaudah gapapa, Sayang. Salam buat sodara kamu ya.]

[Iya, Sayang.] Balas Kaisar.

Setelah itu, ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur.

Menatap langit-langit.

"Gue jahat banget ya ke Raline..." gumamnya sendiri.

"Kayak gue buang ampas gitu aja setelah gue ambil sari patinya..."

Meski ia berpikir seperti itu, namun tetap saja…

ia belum ada keberanian untuk memberikan kepastian untuk bertanggung jawab.

Sementara di kamar lain, di rumah yang berbeda…

Raline tidur dengan wajah pucat dan mata yang masih basah oleh air mata.

Dan janin kecil di dalam tubuhnya, yang belum siapa pun tahu, terus tumbuh dalam diam seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja.

Anak itu mungkin akan lahir tanpa ayah.

Tanpa ada yang melindungi.

Tanpa ada yang akan peduli.

Lalu... tentu saja akan dipandang hina dan menjijikan dengan sebutan "Anak Haram".

Sungguh, wanita adalah pihak yang paling dirugikan dari sebuah perbuatan yang tidak dilandasi pernikahan.

Bersambung...

1
Nurul Hilmi
ganteng amat visual kai Thor,,, 😍
Nurul Hilmi
mulai... mulai... kai... lama lama ❤😘
Nurul Hilmi
lanjut Thor.
bacanya Brebes mili
Yantie Narnoe
lanjut...👍
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
double up Thor
bagus ini cerita😍
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
lelaki juga kaisar. gentle dan bertanggung jawab
deeRa
Lepas Dari Kai, kamu & anakmu harus bahagia ya Lin... 😊
deeRa
no comment, ikut alur nya saja😊
next ya
falea sezi
cpet cerai kalo. abis lahiran. ortu. kaisar. toxic
Nurul Hilmi
jangan kasih cinta buat kaisar lin. biar die nyesel😄
Lisdaa Rustandy: cinta akan hadir saat waktu terus berjalan. bahkan saya yg menikah tanpa cinta aja sekarang jadi bucin🤣
total 1 replies
Nurul Hilmi
anak jangan dikasih orang lain, tetep raline yang rawat...
deeRa
Ganbatee Lin💪😊
falea sezi
jangan mau pergi jauh dr situ besarin anak sendiri ibunya egois cucu kandung mau di buang dajjal bgt ne orang
deeRa
Nyesek ya jd raline, 🥺
ROSULA DARWATI
kasihan Raline
Melinda Cen
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!