Wei Ying adalah wanita single berusia 35 tahun yang memiliki hobi membaca web novel.
Wei Ying merasa iba pada karakter jahat dalam web novel yang ia baca, meski jahat karakter itu memiliki masa lalu yang kelam. Lalu karena terlalu terbawa suasana, ia berkata..
"Jika aku yang menjadi ibunya, aku pasti akan memberinya kasih sayang dan masa kecil yang bahagia.."
Kemudian, seolah menganggap omong kosong itu sebagai doa, layar handphonenya menyeret Wei Ying masuk.
Kini, Wei Ying menyesali perkataannya. Namun, bubur sudah jadi nasi. Ia bertekad untuk mengubah ending novel, dimana dirinya mati mengenaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 Usap Ilermu!
Suara desisan daging yang menyentuh besi panggangan memecah keheningan, aroma harum yang menggugah terus mengudara seakan ingin memenuhi seluruh langit dengan baunya.
Satu persatu warga desa mulai berdatangan, bahkan orang yang tak sengaja lewatpun akan berhenti hanya untuk melihat lemak daging itu meleleh di atas meja panggangan.
"Uihhhh, harumnya.." seru Wei Ying sengaja mengeraskan suaranya. Ia juga mengibas-ngibaskan asap tipis yang muncul dari daging panggang itu dengan lengan bajunya.
Salah satu warga desa yang sudah tak kuat menahan godaan itu, melangkah masuk dengan air liur yang hampir menetes.
"Anu.. Nyonya Wei..." Panggilnya. "Bisakah, aku mencicipi juga.."
Wei Ying menoleh menatap ke arah pria itu, alisnya terangkat sebelah. Wei Ying ingat, pria itu adalah orang yang sama yang dulu menuduhnya mengambil ayam. Lalu senyum picik tersungging di bibirnya.
"Bayar 1 keping emas, untuk 1 tusuk sate daging itu.." sahut Wei Ying sambil mengangkat tangannya, menadah ke arah pria itu.
Wajah pria itu melongo dan dengan susah payah menelan air liurnya.
Seseorang di luar pintu gerbang yang mendengar Wei Ying mematok harga tinggi, merasa tak terima.
"Hei, dasar tak tau malu! Kenapa kamu tega mematok harga tinggi untuk makananmu, padahal seisi desa tengah kesusahan.." serunya.
Wei Ying menatap tajam orang yang baru saja berbicara, "Oi, ini makananku! Aku tak punya kewajiban untuk memberi makan seisi desa, memangnya kalian siapa? Anak-anak ku? Enak saja.." timpal Wei Ying dengan sadis.
Saat suasana menjadi tegang, kepala desa maju dan berusaha menengahi.
"Nyonya Wei, jika kamu masih punya bahan makanan lebih.. bisakah kamu membaginya atau aku menukarnya dengan hal lain selain koin emas?" tanyanya.
Wei Ying berpura-pura berpikir keras, lalu dengan senyuman ceria ia berkata, "Bagaimana dengan seekor kuda dan gerobak milik desa!"
Desa itu memiliki satu ekor kuda dengan gerobak kecil yang biasa di pakai untuk mengangkut hasil panen untuk di jual ke kota terdekat, kota paling dekat dengan desa itupun jaraknya sekitar 2 hari.
Kepala desa tampak menimbang permintaan itu, ia bahkan berdiskusi sejenak dengan beberapa warga desa.
"Hah, baiklah. Aku setuju. Sebagai kepala desa, aku punya kewajiban untuk membantu warganya, kami tengah kesulitan pangan karena masa paceklik ini.." ujarnya dengan lesu.
"Pilihan bijak.." ujar Wei Ying. "Tunggu sebentar!"
Wei Ying lalu masuk ke dalam rumah, dia membawa beberapa keranjang yang di buat dari anyaman bambu.
"Ini!" ujarnya, "Beberapa keranjang sayur, daging dan berbagai bahan pangan.."
Warga desa yang melihat itu menatap keranjang-keranjang itu dengan mata berbinar dan liur yang nyaris menetes. Saat kepala desa hendak mengecek keranjang-keranjang itu, Wei Ying segera menepisnya.
"Tunggu dulu!" serunya. "Mana kuda dan gerobaknya!"
Kepala desa lalu memerintahkan dia warga desa untuk membawanya dari balai desa. Wei Ying langsung menyambut sumringah gerobak dengan kuda itu.
"Ah, kepala desa! Ambil benda ini juga.. bonus dariku!" seru Wei Ying sambil menyerahkan mesin barbequenya.
Wei Ying tak bisa menyembunyikan senyum puasnya saat melihat para warga mengangkat keranjang-keranjang penuh bahan makanan itu, mereka bersorak-sorai gembira.
Sedangkan Lu Shu yang terus menyaksikan kelakuan Ibu tirinya dalam diam, merasa bingung dan tak mengerti.
"Anak-anak..." panggil Wei Ying, "Kita berangkat sore nanti!"
Saat para warga desa tengah membagi makanan yang diberikan oleh Wei Ying dengan barter dengan gerobak kuda milik desa, Wei Xang dan Bibinya berjalan dengan penuh amarah menuju kediaman Wei.
garam sama gula pada burek warna nya🤭🤭🤭