Alicia Roses hidup di panti asuhan sejak dia berumur lima tahun, setelah kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan.
Bibinya Melinda Stone merampas seluruh harta warisan milik Alicia dan membuang Alicia kecil ke panti asuhan.
Hidup selama dua puluh lima tahun dengan membawa dendam, untuk memuluskan rencana balas dendam nya Alicia menerima lamaran dari pria yang sangat terobsesi dengan nya.
Revano Ace Draco pria gila yang memiliki kekuasaan mengerikan di dunia gangster.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04
...****************...
Siang itu, ibukota tampak berkilau di bawah cahaya matahari.
Sebuah mobil sport edisi terbaru berhenti tepat di depan valet restoran paling bergengsi di ibukota.
Pintu terbuka perlahan.
Alicia turun dengan langkah tenang. Gaun putih rancangan desainer internasional membalut tubuhnya sempurna, tas tangan limited edition menggantung di lengannya. Kacamata hitam besar menutupi sebagian wajahnya, namun aura elegan dan dingin itu tak bisa disembunyikan.
Beberapa tamu berbisik pelan.
“Itu Alicia Liona, kan?”
“Pengusaha muda itu?”
Alicia tidak peduli.
Ia datang bukan sebagai sosialita.
Ia datang untuk menemui utusan pria misterius yang menelponnya kemarin.
Ruangan VVIP tempat tujuan Alicia.
Pelayan menunduk hormat.
“Silakan, Nona Liona. Tamu Anda sudah menunggu.”
Pintu ruangan VVIP dibuka.
Alicia melangkah masuk.
Dan ia berhenti dengan alis yang naik sebelah, ekspresi yang langsung ditunjukkan saat melihat sosok pria didepannya sekarang.
Duduk santai di kursi kulit mahal, seorang pria berjas hitam dengan ekspresi tenang sedang memutar gelas anggurnya perlahan.
Tatapan mereka bertemu,
Alicia mengenal wajah itu,bukan dari berita atau juga dari majalah bisnis.
Tapi dari database dunia bawah.
"Brian Bennber."
Asisten pribadi tangan kanan pemimpin mafia paling berbahaya di kota.
Pemimpin kelompok gengster itu adalah Revano Ace Draco.
Musuh bebuyutan Red Devils, gosip perseteruan mereka sudah bukan rahasia lagi di kalangan mafia.
Brian tersenyum tipis.
“Terima kasih sudah datang, Nona Liona.”
Alicia melepas kacamata hitamnya perlahan.
“Atau aku harus memanggilmu dengan nama lain?” lanjut Brian.
Alicia duduk tanpa izin, seakan tidak terintimidasi dengan identitas lawan bicaranya.
“Kau cukup berani memanggilku ke sini,” jawabnya datar. “Kau juga cukup berani mengetahui identitasku.”
Brian menyilangkan tangan.
“Kami hanya melakukan riset.”
“Risetmu terlalu dalam, dan beresiko tinggi.”
“Tapi..,Dunia bawah memang penuh kejutan.”
Pertemuan dimulai.
Pelayan keluar. Pintu tertutup rapat.
Alicia menatap Brian tanpa emosi.
“Langsung saja. Kenapa kelompokmu ingin menghancurkan Red Devils?”
Brian tersenyum kecil.
“Karena mereka mulai melanggar batas.”
“Semua mafia melanggar batas. Tidak ada yang merampas dan dirampas di dunia kotor kalian.”
“Benar,” Brian mengangguk. “Tapi mereka mencoba mengambil wilayah dan klien kami. Bahkan menyentuh jalur distribusi senjata kami.”
Alicia menyandarkan punggungnya.
“Jadi ini perang bisnis atau kekuasaan.”
“Ini perang harga diri,” jawab Brian dingin.
Alicia menatapnya tajam.
“Dan kalian pikir aku akan membantu hanya karena kalian bermusuhan?”
“Kau punya dendammu sendiri.”
Alicia tidak bereaksi.
Brian melanjutkan pelan,
“Kecelakaan dua puluh tahun lalu, itu operasi yang dibiayai Miranda Stone melalui Red Devils.”
Mata Alicia sedikit menyipit.
“Kami memiliki sebagian arsip lama mereka,” lanjut Brian. “Tapi kami butuh akses penuh ke sistem internal mereka. Dan hanya ada satu orang yang bisa melakukannya.”
“Mr A,” jawab Alicia tenang.
Brian tersenyum.
“Wanita paling dicari di forum gelap.”
Alicia menyandarkan dagunya di ujung jari.
“Jika aku menolak?”
Brian tidak terlihat terancam.
“Kami tidak akan menyerahkan identitasmu.”
“Kenapa?”
“Karena menghancurkan Red Devils lebih penting bagi kami daripada menjualmu.”
Alicia tertawa kecil, tanpa kehangatan.
“Kalian mafia selalu berbicara soal prioritas.”
“Kami realistis tapi sangat menjunjung kesepakatan, kau tau sendiri Nona Alicia penghianat adalah dosa yang paling tidak bisa diampuni di kalangan kami.”
Ketegangan mulai memuncak di ruangan itu.
Alicia menatap Brian beberapa detik, membaca gerak tubuhnya.
“Katakan padaku sesuatu, Brian,” ucapnya pelan. “Apakah Revano tahu siapa aku sebenarnya?”
Brian terdiam sesaat." Tentu,"
“Dia tahu kau penting.”
Brian akhirnya menjawab,
“Dia tahu kau adalah Alicia Roses.”
Udara di ruangan terasa lebih berat.
Alicia tetap tenang.
“Dan dia tetap mengundangku?”
“Dia menghormati orang yang bertahan hidup dari api.”
Hening.
Brian mencondongkan tubuhnya sedikit.
“Red Devils mulai mencurigaimu. Mereka memiliki divisi siber yang hampir menemukan jejakmu.”
“Aku tahu.”
“Tanpa perlindungan, kau akan diburu dari dua arah.”
Alicia tersenyum tipis.
“Aku sudah diburu sejak umur lima tahun.”
Brian menatapnya lebih serius sekarang.
“Kau tidak takut?”
Alicia bangkit perlahan dari kursinya.
“Aku tidak takut pada orang yang membunuh keluargaku.”
" Aku tidak memiliki sesuatu yang dapat membuat ku merasakan kehilangan jika mereka menyerang,"
Ia berjalan beberapa langkah, lalu berhenti tepat di depan Brian.
“Tapi dengarkan aku baik-baik,” ucapnya pelan namun tajam. “Aku tidak bekerja untuk mafia seperti kalian tanpa imbalan.”
“Kami akan membayar semua yang kau sebutkan nominalnya, atau jika perlu sebuah perlindungan total dari setiap musuh mu bisa menjadi timbal balik.”
“Jika aku bekerja sama, itu hanya untuk tujuanku sendiri." ujar Alicia dengan ego dan prinsip-prinsip yang dipegangnya.
Brian ikut berdiri.
“Kami tidak keberatan.”
Alicia menatapnya lurus.
“Dan jika Revano mencoba mengkhianatiku.., dia akan tau akibat dari keputusan gegabah nya.”
Brian tersenyum samar.
“Dia tidak akan sebodoh itu.”
Alicia mengambil tasnya, bersiap untuk pergi.
“Kirimi aku semua data yang kalian miliki tentang Red Devils.”
“Itu artinya kau setuju?”
Alicia membuka pintu ruangan.
“Aku tidak setuju.”
Brian mengangkat alis.
“Aku hanya memanfaatkan kalian.”ujarnya ambigu.
Brian tertawa pelan.
“Kami juga memanfaatkanmu.”
Alicia berhenti sejenak di ambang pintu.
“Pastikan Revano memahami satu hal.”
“Apa itu?”
Alicia menoleh sedikit, tatapannya dingin dan penuh peringatan.
“Aku bukan bidak catur yang digerakkan oleh Grandmaster di balik layar.”
Lalu ia keluar dari ruangan.
Brian menatap pintu yang tertutup sambil tersenyum tipis.
...****************...