Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Siang Yang Tidak Biasa
Pagi itu kota terlihat lebih cerah dari biasanya.
Langit biru terbuka tanpa banyak awan, dan sinar matahari memantul di kaca gedung-gedung tinggi yang memenuhi pusat bisnis.
Namun bagi Adrian, pagi itu terasa sedikit berbeda.
Sejak menerima undangan makan siang dari Hartono Group kemarin, pikirannya tidak benar-benar tenang.
Di atas meja kerjanya masih tergeletak kartu undangan kecil yang ia baca berkali-kali.
Pertemuan makan siang.
Direktur proyek: Rania.
Adrian menatap kartu itu sebentar sebelum akhirnya memasukkannya ke dalam saku jasnya.
Ia berdiri dari kursinya dan mengambil kunci mobil.
Hari ini ia akan keluar kantor lebih awal dari biasanya.
Restoran yang dipilih untuk pertemuan itu berada di salah satu hotel bintang lima di pusat kota.
Tempat itu terkenal dengan suasana yang tenang dan elegan, sering digunakan untuk pertemuan bisnis penting.
Jam makan siang baru saja dimulai ketika Adrian tiba di sana.
Pelayan segera menyambutnya dan membawanya ke meja yang sudah dipesan.
Meja itu berada di dekat jendela besar yang menghadap ke taman hotel.
Adrian duduk di kursinya sambil menunggu.
Beberapa menit berlalu.
Lalu seorang pelayan datang lagi.
“Maaf, Tuan. Rekan Anda sudah tiba.”
Adrian menoleh.
Di pintu restoran berdiri seorang wanita yang langsung menarik perhatian banyak orang di ruangan itu.
Rania.
Ia mengenakan gaun kerja sederhana berwarna krem dengan blazer hitam.
Rambut panjangnya dibiarkan terurai rapi di belakang punggung.
Langkahnya tenang.
Tidak terburu-buru.
Namun setiap langkahnya membuat orang-orang secara tidak sadar memperhatikannya.
Adrian berdiri dari kursinya.
Rania berjalan mendekat.
Ketika sampai di meja, ia tersenyum tipis dengan sikap profesional.
“Terima kasih sudah datang, Tuan Adrian.”
Adrian sedikit mengangguk.
“Aku juga berterima kasih atas undangannya.”
Beberapa detik mereka hanya berdiri saling menatap.
Situasi itu terasa sedikit aneh.
Seolah dua orang yang pernah sangat dekat sekarang mencoba berbicara seperti orang asing.
Akhirnya mereka duduk.
Pelayan datang membawa menu.
“Apakah Anda sudah siap memesan?”
Rania membuka menu sebentar.
“Saya akan memesan salad dan kopi.”
Pelayan menoleh ke Adrian.
“Dan Anda, Tuan?”
“Steak dan kopi.”
Setelah pesanan dicatat, pelayan pergi meninggalkan mereka berdua.
Keheningan singkat muncul di antara mereka.
Namun Rania memecahnya lebih dulu.
“Pertemuan ini sebenarnya hanya untuk membicarakan beberapa detail kecil dari proyek kerja sama.”
Ia membuka tablet yang ia bawa.
Di layar terlihat beberapa dokumen proyek.
Adrian memperhatikannya.
“Baik.”
Rania mulai menjelaskan beberapa poin tambahan tentang kontrak investasi.
Nada suaranya profesional seperti saat rapat kemarin.
Ia berbicara dengan jelas, tanpa ragu sedikit pun.
Adrian mendengarkan dengan serius.
Namun di dalam pikirannya, ada bagian lain yang memperhatikan sesuatu yang berbeda.
Cara Rania berbicara sekarang.
Cara ia menjelaskan strategi bisnis.
Wanita di depannya tidak lagi sama seperti yang dulu ia kenal.
Setelah beberapa menit, Rania selesai menjelaskan.
“Itu saja yang ingin saya diskusikan hari ini.”
Adrian mengangguk.
“Proposal itu masuk akal.”
Pelayan datang membawa minuman mereka.
Setelah pelayan pergi, Adrian akhirnya berkata,
“Aku tidak menyangka kau akan kembali seperti ini.”
Kalimat itu keluar tanpa ia rencanakan.
Rania mengangkat alis sedikit.
“Kembali?”
Adrian menatapnya.
“Tiga tahun lalu kau pergi tanpa mengatakan apa pun.”
Rania mengambil cangkir kopinya dengan tenang.
“Apa yang harus kukatakan?”
Pertanyaan itu membuat Adrian sedikit terdiam.
Rania melanjutkan dengan nada santai.
“Kau sudah membuat keputusanmu saat itu.”
Ia meminum sedikit kopinya.
“Dan aku hanya menghormatinya.”
Adrian tidak langsung menjawab.
Ia mengingat kembali malam ketika ia menyuruh Rania pergi.
Saat itu ia benar-benar berpikir bahwa semuanya akan menjadi lebih sederhana.
Namun sekarang…
Situasinya terasa jauh lebih rumit.
Pelayan datang membawa makanan mereka.
Percakapan terhenti sebentar.
Beberapa menit mereka makan dalam keheningan yang tidak sepenuhnya canggung, tapi juga tidak benar-benar nyaman.
Akhirnya Adrian berkata lagi,
“Kau berubah banyak.”
Rania tersenyum tipis.
“Orang memang berubah.”
“Kau tidak terlihat seperti orang yang sama.”
Rania menatapnya beberapa detik sebelum menjawab.
“Mungkin karena kau tidak pernah benar-benar mengenalku.”
Kalimat itu sederhana.
Namun entah kenapa terasa cukup tajam.
Adrian terdiam.
Ia tidak bisa menyangkal bahwa selama pernikahan mereka dulu, ia memang jarang mencoba memahami Rania lebih dalam.
Setelah makan siang hampir selesai, Rania menutup tabletnya.
“Kalau begitu, saya rasa pertemuan ini cukup.”
Ia berdiri dari kursinya.
Adrian juga berdiri.
“Terima kasih atas waktunya.”
Rania mengangguk kecil.
Namun sebelum ia pergi, Adrian berkata,
“Rania.”
Wanita itu berhenti.
Ia menoleh.
“Ada apa?”
Adrian menatapnya.
Untuk beberapa detik ia terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.
Namun akhirnya ia hanya berkata,
“Tidak apa-apa.”
Rania menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis.
“Kalau begitu, sampai jumpa di pertemuan berikutnya.”
Ia berbalik dan berjalan menuju pintu restoran.
Langkahnya tenang seperti ketika ia datang tadi.
Adrian tetap berdiri di dekat meja, memperhatikan punggungnya yang semakin jauh.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama…
Ia merasa ada sesuatu yang tidak bisa ia pahami sepenuhnya.
Dan perasaan itu membuatnya sedikit tidak nyaman.
Di sisi lain restoran, beberapa orang masih memperhatikan wanita yang baru saja pergi itu.
Tanpa mereka sadari…
Pertemuan makan siang sederhana itu mungkin baru saja membuka bab baru dalam kisah yang jauh lebih besar.
Adrian masih berdiri di samping meja restoran beberapa detik setelah Rania pergi.
Suasana restoran tetap tenang. Beberapa tamu masih menikmati makan siang mereka, sementara pelayan berlalu-lalang membawa pesanan.
Namun bagi Adrian, suara di sekitarnya terasa agak jauh.
Pikirannya masih tertinggal pada percakapan singkat tadi.
Rania terlihat begitu tenang.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada rasa sakit.
Bahkan tidak ada sedikit pun tanda bahwa mereka pernah memiliki hubungan di masa lalu.
Seolah semua yang pernah terjadi di antara mereka hanyalah bagian kecil dari hidup yang sudah lama ditutup.
Adrian akhirnya duduk kembali di kursinya.
Ia menatap cangkir kopi yang masih setengah penuh di meja.
Uap tipis masih naik dari permukaannya.
Entah kenapa, ia tiba-tiba teringat pada kebiasaan kecil Rania dulu.
Wanita itu selalu membuat kopi setiap pagi.
Bahkan ketika Adrian tidak pernah memintanya.
Ia menghela napas pelan.
Kenangan itu muncul begitu saja tanpa ia inginkan.
Setelah beberapa menit, Adrian akhirnya berdiri dan meninggalkan restoran.
Di sisi lain kota.
Mobil hitam yang ditumpangi Rania berhenti di depan gedung Hartono Group.
Sopir membuka pintu untuknya.
Rania turun dengan langkah tenang.
Dina, asistennya, sudah menunggu di lobi dengan tablet di tangannya.
“Direktur, bagaimana pertemuannya?” tanya Dina sambil berjalan mengikuti Rania menuju lift.
“Baik.”
Jawaban Rania singkat seperti biasa.
Lift terbuka.
Mereka masuk.
Dina menekan tombol lantai atas.
“Ada beberapa dokumen baru yang perlu Anda periksa,” katanya sambil membuka tablet.
“Tim analisis juga sudah mengirimkan pembaruan mengenai proyek perusahaan Adrian.”
Rania mengangguk.
“Kirimi ke emailku juga.”
Lift bergerak naik perlahan.
Dina ragu-ragu sebentar sebelum akhirnya bertanya,
“Direktur… apakah pertemuan tadi berjalan lancar?”
Rania meliriknya sekilas.
“Kenapa kau bertanya begitu?”
Dina tersenyum kecil.
“Saya hanya penasaran.”
Rania tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian ia berkata,
“Dia tetap sama seperti dulu.”
Dina tidak tahu harus menanggapi apa.
Namun ia bisa merasakan bahwa Rania tidak ingin membicarakan hal itu lebih jauh.
Lift akhirnya berhenti.
Pintu terbuka ke lantai kantor direktur.
Rania berjalan keluar menuju ruang kerjanya.
Begitu masuk, ia langsung duduk di kursinya.
Beberapa dokumen sudah menunggu di meja.
Ia membuka laptop dan mulai bekerja lagi.
Seolah pertemuan makan siang tadi tidak meninggalkan jejak apa pun.
Sementara itu di perusahaan Adrian.
Clara berdiri di dekat jendela ruang kerjanya ketika Adrian kembali ke kantor.
Ia melihat Adrian berjalan melewati koridor dari kejauhan.
Ekspresinya tetap tenang seperti biasa.
Namun Clara mengenalnya cukup lama untuk menyadari sesuatu.
Ada sesuatu yang berbeda.
Ketika Adrian masuk ke ruangannya, Clara segera mengetuk pintu dan masuk.
“Kau sudah kembali.”
Adrian duduk di kursinya.
“Ya.”
Clara menyilangkan tangannya.
“Bagaimana makan siangnya?”
Adrian membuka laptopnya.
“Hanya pertemuan bisnis.”
Clara tersenyum tipis.
“Tentu saja.”
Ia berjalan mendekati meja Adrian.
“Dan bagaimana Rania?”
Adrian berhenti mengetik sebentar.
Namun ia tidak langsung menjawab.
Clara memperhatikannya dengan lebih serius.
“Aku tidak percaya kau tidak merasa apa-apa.”
Adrian akhirnya menatapnya.
“Apa yang harus kurasakan?”
Clara sedikit terdiam.
Pertanyaan itu membuatnya berpikir.
Ia menghela napas.
“Tidak tahu.”
Ia mengangkat bahu.
“Mungkin terkejut. Mungkin kesal. Mungkin… menyesal.”
Kata terakhir itu membuat suasana ruangan berubah sedikit lebih berat.
Adrian menatap Clara dengan ekspresi datar.
“Tidak ada yang perlu disesali.”
Clara tidak terlihat yakin.
Namun ia tidak melanjutkan pembicaraan itu.
“Baiklah,” katanya akhirnya.
Ia berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, Clara berhenti sebentar.
“Adrian.”
Pria itu menatapnya.
“Jika aku jadi kau…”
Clara berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
“Aku tidak akan meremehkan Rania lagi.”
Setelah mengatakan itu, ia keluar dari ruangan.
Pintu tertutup perlahan.
Adrian kembali sendirian.
Ia menatap layar laptopnya, namun pikirannya kembali melayang ke restoran tadi.
Ke cara Rania menatapnya.
Ke kalimat yang ia ucapkan sebelum pergi.
"Mungkin karena kau tidak pernah benar-benar mengenalku."
Adrian bersandar di kursinya.
Untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya-tanya…
Apakah benar selama ini ia tidak pernah benar-benar mengenal wanita yang dulu menjadi istrinya?
Sore hari mulai berubah menjadi malam.
Di gedung Hartono Group, sebagian besar karyawan sudah pulang.
Namun lampu di ruang kerja Rania masih menyala.
Ia sedang membaca laporan terakhir hari itu ketika pintu ruangannya diketuk.
“Masuk.”
Pintu terbuka.
Arsen masuk dengan langkah santai seperti biasa.
“Kau masih bekerja?”
Rania bahkan tidak mengangkat kepalanya dari dokumen.
“Kau juga masih di sini.”
Arsen tertawa kecil.
“Aku hanya ingin melihat bagaimana hasil makan siangmu.”
Rania akhirnya menutup dokumen itu.
“Tidak ada yang istimewa.”
Arsen duduk di kursi di depan meja.
“Benarkah?”
Ia menatap Rania dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu.
“Pertemuan pertama setelah tiga tahun dan kau menyebutnya tidak istimewa?”
Rania bersandar di kursinya.
“Karena memang begitu.”
Arsen mengamati wajahnya beberapa detik.
Kemudian ia tersenyum kecil.
“Kalau begitu bagus.”
Ia berdiri dari kursi.
“Karena permainan sebenarnya baru saja dimulai.”
Rania mengangkat alis sedikit.
“Apa maksudmu?”
Arsen berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, ia menoleh.
“Direksi Hartono Group ingin mempercepat keputusan tentang proyek perusahaan Adrian.”
Rania menatapnya.
“Dan?”
Arsen tersenyum tipis.
“Dan keputusan itu sekarang ada di tanganmu.”
Pintu tertutup setelah ia pergi.
Rania duduk diam beberapa saat di ruang kerja yang kembali sunyi.
Di atas meja, berkas proyek perusahaan Adrian masih terbuka.
Ia menatapnya cukup lama.
Sekarang bukan hanya pertemuan yang mempertemukan mereka kembali.
Nasib perusahaan Adrian mungkin juga akan berada di tangannya.
Rania akhirnya menutup berkas itu perlahan.
Di luar jendela, lampu kota bersinar terang.
Dan tanpa ia sadari…
Langkah berikutnya yang ia ambil mungkin akan mengubah hidup mereka berdua sekali lagi.