Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Di Sini
"Empat Minggu?"
Tangannya mengelus perutnya, ia menatap dirinya di cermin.
Perut itu masih terlihat datar, seolah mustahil ada kehidupan disana.
Jika usianya empat Minggu, berarti...
Ia berusaha untuk mengingat kembali.
Jarak waktu diantara keduanya hampir berdekatan.
Satu bulan yang lalu..
Gavin.. lalu..
Hening. Pikirannya beradu.
Tidak lama setelah itu..
Pak Arka.
Ia menutup mulutnya, dadanya berdegup kencang.
Perempuan itu sangat takut untuk kemungkinan yang kedua.
Aku berharap ini anak Gavin..
Sebuah kalimat yang tidak benar-benar ingin ia ucapkan.
Sebuah harapan yang tidak benar-benar ia inginkan.
Bukan karena tidak ingin memiliki buah hati dari mantan suaminya..
Perpisahan yang telah terjadi—
Begitu juga dengan luka yang masih abadi.
Membuatnya takut…
bahwa semua luka yang sudah ia coba tinggalkan, akan kembali hidup melalui sesuatu yang seharusnya ia lindungi.
Namun..
Harapan itu jauh lebih baik daripada kemungkinan kedua.
Tapi.. bagaimana jika ternyata..
Ini anak Pak Arka?
Walaupun katanya dia mencintai ku, tapi..
Seolah ungkapan cinta yang keluar dari bibir pria itu, hanyalah angin yang berlalu, tanpa pernah benar-benar tinggal.
Aluna tertawa di depan cermin.
Bukan karena ada yang lucu, ia hanya sedang mentertawakan dirinya sendiri—
Yang terlihat begitu polos dan bodoh.
Apa yang aku harapkan dari CEO gila itu..
Pertanggung jawaban?
Ia kembali tertawa terbahak-bahak.
Aluna.. aku akan meninggalkan semuanya, lalu menikahlah dengan ku.
Perempuan itu kembali tertawa setelah bergumam seolah kalimat itu datang dari bosnya.
Terdengar seperti dongeng..
Bodoh..
Wajahnya berubah menjadi datar.
Ia menatap kedua matanya dalam cermin.
Ada amarah yang terukir di wajahnya, sorot matanya yang terlihat tajam menggambarkan suasana hatinya.
Aku membenci mu.. Arka.
***
Arka sedang berdiri di ambang pintu berwarna putih itu.
Wajahnya terlihat ragu, tangannya beberapa kali terangkat namun kembali turun.
Beberapa hari belakangan, Aluna terlihat tidak baik. Wajahnya selalu tampak pucat, semangat yang dulu selalu terpancar di dalam dirinya seolah lenyap begitu saja.
Badannya tampak lebih kurus.
Arka mengkhawatirkan perempuan itu.
Malam ini ia berniat untuk mengunjunginya, hanya mengetahui keadaannya dari orang lain tidak cukup membuat khawatirnya mereda.
Kali ini ia ingin memastikannya sendiri.
Ia menarik nafas sebelum akhirnya pintu itu ia ketuk.
Beberapa saat kemudian, pintu pun terbuka dari dalam.
Sosok perempuan menyapa, wajah itu—
Seketika membuat Arka bergegas mendorong pintu lebih lebar, pria itu masuk sebelum dipersilahkan masuk lebih dulu.
"Aluna.. kamu tidak apa-apa?"
Tangannya memegang wajah Aluna, paperbag yang ia bawa terjatuh begitu saja ke lantai.
Aluna menatapnya dengan heran.
"Saya baik."
"Kamu terlihat pucat," ucap Arka ragu.
Aluna menurunkan tangan pria itu dari wajahnya.
"Saya cuma kelelahan."
Ia duduk di lantai yang beralaskan karpet bulu.
Pria itu mengikutinya, dan mengambil paperbag yang ia bawa.
"Kamu sudah makan?"
Tanya Arka sambil menyerahkan paperbag.
"Sudah.. tapi saya sedang tidak nafsu makan akhir-akhir ini."
Aluna membuka isi paperbag, ia mengambil susu kotak lalu meminumnya.
"Kamu sudah cek kesehatan ke dokter?"
tanya Arka.
Aluna mengangguk.
"Lalu?"
tanyanya pria itu mulai penasaran.
Hening.
Aluna masih menyedot susu kotaknya.
Arka menatapnya dengan penuh tanda tanya.
Karena tidak kunjung ada jawaban, pria itu membunyikan jarinya sekali, dua kali, sampai Aluna akhirnya tersentak dan menyadari bahwa ia sedang diam terhanyut sendiri.
"Astaga..." Arka mengusap wajahnya sendiri.
"Oh.. Bapak menunggu?"
Ucap perempuan itu dengan asal.
"Iya, lalu bagaimana hasilnya?"
Nada pria itu sedikit meninggi.
Aluna merogoh kembali isi paperbag di tangannya. Ia menemukan biskuit coklat, lalu membukanya.
Arka memperhatikannya dengan kesal, namun merasa lucu.
"Hasilnya baik," mulutnya menggigit biskuit. "Saya hanya amnesia."
"Hah?" Arka terkejut.
"Amnesia atau anemia?" Lanjutnya.
Aluna tersentak, "maksud saya anemia." Lalu ia tertawa.
Arka menghela nafas, tingkah perempuan itu membuatnya ingin menepuk kepala gemas sekaligus tertawa.
"Kalau begitu, kamu harus banyak makan, Aluna."
Tiba-tiba Aluna menutup mulutnya, mual menjalar di perutnya.
Ia kemudian berlari ke kamar mandi.
Meninggalkan Arka dengan penuh rasa bingung.
"Aluna.. kamu gapapa?"
Teriak Arka.
"Im oke."
Sahut Aluna dari dalam.
Arka menyapu seluruh ruangan, ia senang memperhatikan setiap detail kamar perempuan itu. Sampai kemudian..
Matanya melihat tumpukan obat di mejanya.
Karena penasaran dengan obat yang Aluna minum, ia mendekati meja itu.
Beberapa obat tergelatak.
Nama-nama obat yang Arka tidak terlalu pahami.
Tangannya meraih satu persatu, sampai ia menemukan sebuah kertas di bagian bawah obat.
Seperti sebuah foto, namun hitam putih.
Gambar yang tidak ia pahami, namun—
Ia cukup tahu bahwa itu adalah foto hasil USG.
Arka tercekat.
Pikirannya berusaha ingin segera memahami.
Namun tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, ia cepat-cepat kembali ke tempat duduknya.
"Aluna," panggil pria itu.
Aluna kembali duduk dihadapan Arka.
"Jika hanya anemia.. tidak mungkin mual seperti itu." Lanjut pria itu.
Aluna menunduk mendengarkan.
"Ada yang kamu sembunyikan?"
Kata Arka tiba-tiba.
Aluna langsung mengangkat kepalanya.
"Tidak ada."
Aluna berusaha meyakinkan, walaupun ia sangat ingin mengatakan semuanya.
Agar beban yang ia bawa tidak lagi terasa berat.
Tapi… ia tidak bisa.
Tidak sekarang.
Rahasia yang begitu besar membuatnya terhenti, dan ketakutannya akan reaksi Arka menahan semuanya.
Arka menatap perempuan itu yang tertunduk, wajahnya penuh luka yang tak terucapkan.
Meski Aluna selalu berkata “baik-baik saja,” Arka bisa merasakan beban yang ia sembunyikan.
Wajah itu… berbicara lebih banyak daripada kata-katanya sendiri.
Arka mendekatkan dirinya ke hadapan perempuan itu.
Lalu memeluknya dengan erat, tangannya menyentuh kepala Aluna, tangan satunya mengusap-usap punggung perempuan itu.
"Jangan berjalan sendirian," bisik Arka lirih. "Aku disini."
Aluna terdiam, wajahnya terbenam dalam dada pria itu. Tenggorokannya terasa seperti disayat, air matanya berusaha untuk keluar, namun—
Aluna berusaha untuk menahannya sekuat mungkin.
Aluna memeluk tubuh Arka sekuat yang ia bisa, mencoba menyembunyikan setiap luka yang menyesakkan dadanya.
Namun, meski bibirnya terkatup rapat dan air mata ditahan, Arka bisa merasakan kepedihan itu—meresap di antara pelukan mereka.
Tangannya membelai punggung Aluna dengan lembut, seperti ingin mengatakan, “Aku di sini. Aku tidak akan pergi.”
Dan di saat itu, di tengah diamnya malam dan detak jantung yang seirama, keduanya menemukan sebuah ketenangan:
meski dunia terasa kejam, setidaknya di pelukan satu sama lain, mereka bisa bernafas sejenak.
***
Dan untuk mengetahui siapa Ayah biologis anak ini..
Aku harus memastikannya sendiri..
Aluna melangkah mendekati rumah itu—
Rumah yang tidak asing baginya.
Rumah yang pernah menjadi tempat pulang paling hangat, sekaligus rumah yang menjadi saksi bisu tumbuhnya luka.
Tok.. tok.
Ia mengetuk pintu itu.
Seseorang dari dalam membukanya.
Wajah itu—
Membuka luka lama yang belum sepenuhnya kering.
Gavin.
Ia berdiri dibalik pintu.
Wajahnya tercekat tak percaya pada sosok yang ia tatap saat ini.
"Aluna."
Ucapnya lirih.
Aluna tersenyum padanya.
"Boleh aku masuk?"
Gavin mempersilahkannya masuk, mereka duduk di sofa ruang tengah.
Aluna menyapu seluruh ruangan itu, wajahnya tersenyum tipis.
Gavin hanya diam menatapnya.
"Apa kamu baik?" tanya Gavin.
"Iya, aku baik," Aluna berusaha terlihat tenang.
"Bagaimana dengan mu?"
Gavin menundukkan pandangannya sesaat, "Aku.." kalimatnya tertahan. "Aku terlalu lemah, tanpa mu." Suaranya bergetar.