Jangan lupa follow Ig noer_azzura16 for visualnya ya.
Diandra menjadi sugar baby seorang pria dingin selama tiga tahun lebih ketika dia berada di luar negeri. Selain nama dan nomor ponselnya, Diandra sama sekali tidak tahu apapun tentang pria itu.
Namun, tiba-tiba ayahnya menyuruhnya kembali, setelah mengasingkannya selama 7 tahun, ketika adik tirinya akan bertunangan.
Diandra yang memang punya dendam pada ayahnya dan keluarga baru ayahnya itu. Memutuskan kembali, ada dendam yang harus dia tuntaskan.
Namun, siapa sangka. Jika tunangan sang adik tiri, ternyata adalah seseorang yang mengenal Diandra luar dan dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03- MCI 03
Diandra menarik koper berukuran sedang sambil berjalan ke arah seorang wanita yang melambaikan tangan dan meneriakkan namanya.
"Diandra!"
Diandra membuka kacamata hitamnya dan tersebut arah wanita itu.
"My honey bunny best friend! saranghae, Bogosipeo, Bogosipeo jukgesseo!" kata wanita muda itu memeluk Diandra.
"Aku ke Madrid sayang, kenapa bicara Hangul padaku?" protes Diandra.
Wajah wanita muda itu langsung manyun.
"Karena aku gak pernah nonton sepak bola, aku nontonnya drakor!" jawab Celine.
Wanita itu adalah Celine, sahabatnya dari TK. Bahkan dia adalah orang yang menjalankan bisnis restoran dan toko kecantikan milik Diandra di kota ini.
Celine melihat ke arah koper yang di bawa Diandra.
"Kamu hanya bawa satu koper?" tanya Celine.
"Tentu saja, isinya cuma oleh-oleh untukmu!" kata Diandra, yang memang hanya beli oleh-oleh untuk Celine saja.
Celine tersenyum. Dia juga tahu, betapa bencinya Diandra pada keluarganya, sungguh Diandra tidak akan pernah membawakan oleh-oleh untuk ibu tirinya dan adik tirinya itu.
"Itu sudah cukup. Ayo, kita pulang ke rumah. Seperti katamu, aku beli sebuah rumah, bukan apartemen. Kamu tahu restoran kita semakin berkembang....!"
Celine bicara banyak hal pada Diandra. Mereka menuju ke rumah yang dibeli Celine satu keuntungan restoran mereka selama tiga tahun ini. Karena Celine kuliah di jurusan bisnis, maka Diandra sangat percaya padanya.
"Ini rumahmu, rumahku di sebelah!" kata Celine.
Ya, karena Celine tahu. Bagaimanapun keduanya butuh privasi.
"Waktunya berbelanja!" kata Diandra bersemangat karena rumahnya memang belum banyak barang-barang.
"Let's go!"
Dua wanita itu benar-benar menghabiskan banyak uang. Ketika Diandra sedang mencoba pakaian baru dari merek yang sangat terkenal. Ponselnya berdering.
Celine yang ada di dekat meja melirik ke arah layar ponsel Diandra.
"Hem, pak tua itu!"
Diandra keluar dari kamar, dan menghampiri meja.
"Siapa?" tanya Diandra.
"Pak tua itu!"
Diandra terkekeh, Celine memang pandai memberikan julukan pada orang lain. Diandra meraih ponsel itu dah menerima panggilan dari ayahnya.
"Halo..."
[Kamu sudah sampai belum? Omar menunggumu sejak satu jam lalu di bandara]
Diandra terkekeh getir. Untungnya dia memang tidak terlalu berharap ayahnya benar-benar menjemputnya. Jika tidak, mungkin saat ini dia hanya akan kecewa. Dan ternyata benar, yang menjemputnya memang bukan ayahnya. Tapi Omar.
"Aku sudah di rumah...."
[Di rumah? yang benar? kata Genelia kamu belum datang]
"Aku tidak bilang aku di rumah kalian kan? aku di rumah ku!"
[Sejak kapan kamu punya rumah? memangnya kamu kerja apa? bukannya hanya pekerja restoran di Madrid, berapa gajimu sampai punya...]
"Makan malamnya lusa kan? maka jangan ganggu aku!"
Tut
Diandra segera memutuskan panggilan telepon itu. Dia kesal sekali. Ayahnya benar-benar tak pernah gagal membuat mood Diandra menjadi buruk.
"Tidak apa-apa, ada aku!" kata Celine mengusap punggung Diandra dan memeluk Diandra.
Celine bisa merasakan apa yang saat ini dirasakan Diandra. Ayahnya sama sekali tidak pernah bisa percaya padanya. Ayahnya hanya tahu meragukannya, mencurigainya dan pada akhirnya memberikan hukuman padanya. Menjadi Diandra sangat tidak mudah.
Rasanya dibandingkan dengan Diandra yang masih memiliki orang tua. Celine yang dari kecil sudah tinggal di panti asuhan lebih bahagia. Dia tidak punya kenangan buruk sama sekali tentang orang tuanya.
Diandra tersenyum getir.
"Jangan perdulikan! ayo ke restoran! aku lapar!" kata Diandra.
"Ayo!"
**
Di rumah besar, yang dulunya adalah rumah kakek dan nenek Diandra. Namun sekarang menjadi milik Kamila, ibu tiri Diandra.
Wanita paruh baya yang penampilannya dibuat sepuluh tahun lebih muda dari usianya itu tampak menutup panggilan telepon.
Seorang wanita muda yang punya sedikit kemiripan dengan Diandra tampak menghampiri ibunya.
"Bagaimana Bu? apa dia sudah sampai? aku sudah tidak sabar untuk melihat bagaimana penampilan lusuhnya. Dia sudah 7 tahun berada di luar negeri. Sudah 5 tahun ini kita menghentikan uang kiriman kesana. Dan dia menjadi pelayan restoran kan? wajahnya pasti 20 tahun lebih tua dari usianya. Tangannya kasar, seperti gembell, ha ha ha!"
Genelia tertawa senang. Dia benar-benar menantikan untuk bisa melihat penampilan lusuh Diandra. Selama ini yang mereka tahu, terakhir kali ketika Omar mencari tahu tentang Diandra. Asisten pribadi Romi Kusuma itu, mengatakan kalau Diandra bekerja sebagai pelayan restoran untuk membayar sewa tempat tinggalnya. Dia putus kuliah, karena memang gajinya tidak besar.
Dan hal itu memang membuat mereka semua senang. Hanya saja, keluarga Mahendra mengetahui kalau Romi Kusuma memiliki putri sulung dari istri sah pertanyaan Jessica Wicaksana. Jadi, mereka mau putri sulungnya itu hadir. Keluarga Mahendra memang sangat mementingkan hal semacam itu. Makanya meski enggan, mereka mau tidak mau memang harus memanggil Diandra kembali.
Kamila juga tersenyum senang.
"Tentu saja dia akan terlihat seperti gembell! karena tuan putri satu-satunya keluarga Wicaksana dan Kusuma memang hanya kamu putriku, hanya kamu saja Genelia!"
Genelia merangkul ibunya. Dia memang selalu dimanjakan sejak lahir. Padahal, Kamila juga hanya anak angkat. Anak angkat, adik angkat yang tidak tahu diri dan tidak tahu malu.
Sementara kedua orang itu tengah memikirkan kesenangan mereka yang mungkin tidak akan pernah terealisasikan. Karena penampilan Diandra sama sekali tidak seperti apa yang mereka pikirkan. Bahkan seluruh barang yang menempel di tubuh Genelia saat ini, harganya tidak lebih mahal dari blazer yang dipakai oleh Diandra, saat dia dan Celine ke restoran.
"Silahkan dicicipi, bos!" ucap Celine bergaya ala-ala chef restoran.
Banyak sekali makanan yang ada di atas meja. Semuanya adalah menu terbaik di restoran ini.
"Apa semua ini disukai pelanggan?" tanya Diandra.
Celine mengangguk cepat.
"He'em, ini 13 menu yang mendapatkan bintang lima di restoran ini. Kita punya koki terbaik, dia temanku di panti. Tapi kemampuan memasaknya mengalahkan koki bintang lima!"
Diandra mengangguk paham.
"Kalau begitu, minta dia ujian sertifikasi!"
"Hah, kenapa? kamu ragu padanya?" tanya Celine.
Diandra menggelengkan kepalanya.
"Tidak! hanya saja dia harus memiliki sertifikat. Lakukan secepatnya ya! kita tidak tahu, apa yang akan terjadi di masa depan kan? siapa tahu ada orang dengki yang akan membuat masalah untuk restoran kita!"
Celine mengangguk paham.
"Iya kamu benar!"
"Ayo makan, setelah makan. Kita nonton film, dan bersenang-senang!"
"Iya betul, kamu harus memperbaiki mood kamu, sebelum bertemu dengan dua wanita teh hijau itu!"
"Dua wanita teh hijau"
"Iya, memangnya buah apel akan jatuh di bawah pohon kelapa? kan tidak! ibunya pelakorr, anaknya juga pasti akan menjadi pelakorr kan?"
"Dia bertunangan dengan pria single!" sahut Diandra.
"Benarkah? apa pria itu butaa?"
"Ha ha ha"
***
Bersambung...
Ternyata Raez sudah tau jika Diandra berbohong soal hamil palsu.. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ucapan Diandra bikin ngakak.. Raez lagi esmosi, bisa² nya di ngelece..🤣🤣🤣🤣🤣
Takdir mereka di tangan author, aku mah pasrah aja bacanya 🤣