"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: DASI ATAU TALI JEMURAN?
Suasana tenang di ruang ganti mewah Nael mendadak berubah menjadi arena sirkus. Nael berdiri kaku di depan cermin besar, mengenakan kemeja putih bersih yang pas di tubuh atletisnya. Namun, ada satu pemandangan yang sangat tidak serasi: Alurra sedang bergelantungan di lehernya, mencoba mengikat selembar kain sutra hitam panjang—dasi—dengan cara yang sangat mengerikan.
"Nael! Diamlah! Kenapa kain ini licin sekali seperti belut?" gerutu Alurra. Wajahnya merah padam karena konsentrasi penuh, lidahnya sedikit menjulur ke luar.
Nael hanya bisa menatap cermin dengan pasrah. Dasi sutra seharga ribuan dolar itu kini sudah kusut dan melilit lehernya lebih mirip tali jemuran daripada aksesori pria kelas atas. Nael mencoba meraih tangan Alurra untuk melepaskan lilitan yang mulai mencekiknya, namun Alurra justru menepis tangan Nael dengan galak.
"Jangan bergerak! Aku sedang menggunakan insting surgawiku untuk mengikat ini!" bentak Alurra. "Katamu kau mau pergi ke 'kantor'. Tempat apa itu? Apa itu sejenis medan perang sampai kau harus memakai baju berlapis-lapis begini?"
Nael mengambil ponselnya yang terletak di meja rias, mengetik dengan satu tangan sementara tangan lainnya menahan pinggang Alurra agar tidak jatuh: "KANTOR ADALAH TEMPAT KERJA. SAYA HARUS RAPI."
Alurra membaca tulisan itu sembari menarik ujung dasi Nael dengan kencang. Uhukk! Nael terbatuk kecil karena tercekik.
"Kerja? Mencari harta lagi?" Alurra menyipitkan mata. "Kenapa harus rapi? Apa di sana banyak bidadari bumi yang genit? Kalau iya, aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian. Kau harus memakai baju yang jelek saja agar mereka tidak naksir!"
Alurra kemudian menarik jas hitam mewah Nael dari gantungan. Ia mencoba memakaikannya pada Nael, namun karena Alurra terlalu bersemangat, ia malah memakaikan jas itu terbalik.
"Nah! Begini lebih bagus! Punggungmu jadi terlihat kotak, sangat tidak menarik bagi wanita lain!" Alurra bertepuk tangan bangga melihat hasil karyanya yang berantakan.
Nael memejamkan mata, menghela napas panjang yang terdengar sangat lelah. Ia memutar tubuh Alurra agar menghadap cermin. Ia menunjuk pantulan diri mereka: Nael dengan jas terbalik dan dasi melilit miring, serta Alurra yang masih mengenakan kaos kebesarannya dengan rambut berantakan.
Nael mengetik lagi: "SAYA BISA TERTAWAAN ORANG JIKA BAJU SAYA SEPERTI INI. BIARKAN SAYA MEMPERBAIKINYA."
"Siapa yang berani menertawakan pangeranku?!" Alurra berkacak pinggang, auranya mendadak berubah menjadi intimidasi bidadari. "Akan aku ubah gigi mereka jadi biji jagung semua! Biar mereka tahu rasa!"
Alurra kemudian mendekat, ia merapikan kerah kemeja Nael dengan gerakan yang tiba-tiba menjadi lembut. Jemarinya yang halus menyentuh kulit leher Nael, membuat pria itu merinding.
"Nael... kau tampan sekali," bisik Alurra, suaranya melembut 180 derajat. "Baju manusia ini memang membosankan, warnanya cuma hitam dan putih. Tapi entah kenapa, kau terlihat seperti dewa paling bersinar saat memakainya."
Nael terpaku menatap mata ungu Alurra di cermin. Untuk sesaat, keheningan yang manis menyelimuti mereka. Nael perlahan mengangkat tangannya, hendak membelai rambut Alurra, namun...
"TAPI!" Alurra kembali berteriak, merusak suasana romantis. "Aku ikut! Aku tidak mau kau ditinggal sendirian di kantor itu. Bagaimana kalau ada wanita bumi centil yang mencoba menuangkan air lumpur pahit tadi ke bajumu?"
Nael menggeleng cepat. Ia mengetik: "DI SANA MEMBOSANKAN. ANDA AKAN MENGANTUK."
"Membosankan? Justru itu!" Alurra menarik dasi Nael lagi hingga wajah mereka sejajar. "Kalau membosankan, kau pasti butuh hiburan. Dan aku adalah hiburan terbaik yang pernah turun dari langit! Ayo, Nael! Bawa aku, atau aku akan menghancurkan gerbang rumahmu dengan sihir petir!"
Nael melihat kilatan ungu di mata Alurra. Ia tahu bidadari ini tidak main-main dengan ancamannya. Menghancurkan gerbang mansion adalah hal sepele bagi bidadari yang bisa membengkokkan baja dengan dua jari.
Nael akhirnya mengangguk pasrah. Ia menyerah. Ia akan membawa "bom waktu" tercantik ini ke pusat bisnis Ryker Group.
"YAY! Pangeranku memang yang terbaik!" Alurra melompat kegirangan dan mengecup pipi Nael dengan bunyi muach yang keras. "Sekarang, berikan aku baju manusia yang paling cantik! Aku ingin semua orang di kantormu tahu kalau pemilikmu adalah bidadari yang levelnya jauh di atas mereka!"
Nael hanya bisa menatap dasinya yang sudah hancur lebur di cermin. Ia baru menyadari satu hal: Pergi ke kantor bersama Alurra mungkin akan menjadi hari paling kacau—sekaligus paling berisik—dalam sejarah kariernya sebagai CEO.
"Oh, satu lagi, Nael!" Alurra berbalik di ambang pintu kamar ganti. "Nanti di kantor, jangan berani-berani bicara pada wanita lain lewat matamu ya! Matamu itu cuma boleh bicara padaku! Paham?"
Nael mengangguk kecil dengan garis senyum yang hampir tak terlihat. Bidadari bar-bar ini benar-benar tidak memberinya ruang untuk bernapas, tapi anehnya, Nael tidak keberatan sama sekali.
...****************...
aku suka namanya Nael ....