Arga Pratama, seorang mekanik tangguh yang hidupnya sederhana namun penuh prinsip, tak sengaja bertemu dengan Clara, wanita cantik pewaris perusahaan besar yang sedang lari dari perjodohan. Karena suatu keadaan terpaksa, mereka harus terikat perjanjian kontrak palsu. Siapa sangka, dari bau oli dan mesin, tumbuhlah benih cinta yang tak pernah disangka-sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olshop sukses Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelahiran Sang Buah Hati dan Keluarga yang Sempurna
Waktu berlalu begitu cepat, dan kini masa kehamilan Clara sudah memasuki bulan kesembilan. Perutnya sudah membesar dengan sempurna, menandakan sang jabang bayi sudah siap untuk hadir ke dunia.
Suasana di kediaman keluarga Pratama terasa sangat hangat namun penuh persiapan matang. Arga benar-benar tidak main-main. Ia sudah mempersiapkan segalanya dengan detail yang luar biasa.
Sebuah ruang bersalin pribadi yang setara dengan fasilitas rumah sakit kelas atas sudah disiapkan di lantai dua rumah mereka, lengkap dengan tim dokter kandungan dan perawat terbaik yang siap siaga 24 jam.
"Mana mungkin aku biarin istriku antre di rumah sakit umum atau kerempong orang lain," ucap Arga tegas saat ditanya alasan mempersiapkan ruang bersalin di rumah. "Kenyamanan dan keselamatan Clara adalah prioritas nomor satu bagiku."
Hari itu, cuaca sedang cerah. Arga sedang menemani Clara berjalan-jalan santai di taman belakang rumah sambil memegang erat tangan istrinya. Arfan sedang asyik bermain ayunan sambil sesekali menoleh dan tersenyum melihat ibunya.
"Mas..." panggil Clara pelan, langkahnya terhenti sejenak.
"Iya Sayang? Kenapa? Capek ya? Ayo duduk dulu," Arga langsung sigap membantunya duduk di bangku taman yang empuk.
"Bukan capek, Mas..." Clara memegang perutnya, wajahnya sedikit memerah menahan rasa. "Kayaknya... dedeknya mau keluar nih Mas. Rasanya mulas sekali, dan perutku terasa kencang banget."
Wajah Arga yang biasanya tenang dan cool, langsung berubah menjadi panik luar biasa. Matanya membelalak, jantungnya berdegup kencang.
"HAH?! MAU LAHIRAN SEKARANG?!" teriak Arga sedikit keras, membuat Arfan kaget berhenti main.
"Iya Mas... rasanya udah mulai intensitasnya," jawab Clara sambil tersenyum tipis menahan sakit.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Arga langsung mengangkat tubuh istrinya dengan gaya bridal style dengan sangat mudah dan cepat. Meski Clara sedang hamil besar, bagi Arga yang kuat dan berotot, itu bukan beban sama sekali.
"PAK SUPIR! SIAPKAN MOBIL! DOKTER PANGGIL SEKARANG!" teriak Arga sambil berlari kecil menuju dalam rumah.
"Tenang Sayang, tenang ya... Ayah bawa Bunda ke kamar sekarang. Semuanya sudah siap, jangan takut," bisik Arga sambil berlari, keringat dingin mulai membasahi dahinya. Bukan karena lelah, tapi karena cemas luar biasa.
Beberapa jam kemudian...
Suasana di ruang bersalin sangat tegang namun terkontrol. Suara instruksi dokter dan suara napas Clara terdengar bergantian. Arga berdiri di samping tempat tidur, menggenggam tangan Clara dengan sangat erat. Ia tidak mau meninggalkan istrinya sedetik pun.
"Nah... tarik napas panjang... buang pelan-pelan... sekali lagi Bu Clara, hebat!" seru dokter.
"Aaaaahhh!!!" Clara mengerang kesakitan, kuku tangannya mencengkeram lengan Arga kuat sekali hingga meninggalkan bekas merah.
"Sakit ya Sayang... sakit ya... Maafin Ayah ya..." Arga mencium kening Clara berkali-kali, matanya berkaca-kaca melihat istrinya berjuang. "Kuatt ya Sayangku... sebentar lagi ketemu sama dedeknya. Kamu hebat banget, kamu wanita terkuat yang aku kenal."
"Iya Mas... aku kuat... demi kamu dan demi anak kita..." jawab Clara terbata-bata, air mata mengalir di pipinya karena campuran rasa sakit dan haru.
Arga terus memijat lembut punggung istrinya, membisikkan kata-kata cinta dan semangat tanpa henti. Ia rela rasanya menanggung semua rasa sakit itu menggantikan Clara kalau saja ia bisa.
"Waktunya Bu Clara! Sekarang dorong sekuat tenaga!!!" perintah dokter.
"AAAAAAHHHHHH!!!"
Clara mengerahkan seluruh sisa tenaganya. Arga memegang bahunya memberi kekuatan.
Dan pada detik itu juga...
WAAAAAA!!! WAAAAAA!!!
Tangisan bayi yang sangat lantang dan sehat menggema memenuhi seluruh ruangan! Suara itu adalah suara paling indah yang pernah didengar oleh Arga dan Clara.
"ALHAMDULILLAH!!!" seru seluruh perawat serempak.
"Selamat Tuan Arga, Selamat Bu Clara! Bayinya lahir dengan selamat! Sehat dan sangat kuat!" ucap dokter dengan wajah berseri-seri.
Arga langsung melepaskan pelukannya, ia melihat ke arah dokter yang sedang memandikan bayi kecil itu. Hatinya berdebar tak karuan.
"Laki-laki atau perempuan, Dok?" tanya Clara lemah namun penasaran.
"Dilihat sendiri ya Bu... Cantik banget! Ini Putri cantik!" jawab dokter sambil tersenyum.
Seorang bayi perempuan mungil, putih bersih, dengan rambut halus dan wajah yang sangat mirip dengan Clara saat kecil, namun memiliki garis dagu yang tegas seperti Arga.
"Anak perempuan... kita punya anak perempuan..." bisik Arga tak percaya. Matanya basah, air mata bahagia akhirnya jatuh membasahi pipi gagahnya.
Ia maju mendekat, menerima bayi mungil itu dari perawat dengan tangan yang gemetar. Ia begitu takut menyakiti makhluk kecil yang begitu rapuh itu.
"Halo... Halo cantik... Ayah sayang..." bisik Arga parau. Ia mencium kening bayi itu dengan penuh kasih sayang. "Selamat datang di dunia, Nak. Terima kasih sudah lahir dengan selamat."
Arga lalu membawa bayi itu mendekat ke arah Clara yang sudah terbaring lemas namun wajahnya bersinar bahagia.
"Sayang... lihat ini... dia sempurna..."
Clara mengulurkan tangan lembut menyentuh pipi bayi itu. "Cantiknya... Mirip Mas Arga ya matanya."
"Mirip ibunya dong... cantiknya," jawab Arga lembut. "Terima kasih ya Sayang... Terima kasih sudah berjuang sekuat tenaga buat lahirin dia. Kamu pahlawan keluargaku."
Tak lama kemudian, Arfan yang sudah menunggu dengan sabar di luar diizinkan masuk. Bocah kecil itu berlari menghampiri ranjang ibunya.
"Bunda... Ayah... ini adik ya?" tanyanya penasaran.
"Iya Nak, ini adik perempuan Arfan. Namanya nanti Aura Pratama, cantik kan?" kata Arga.
Arfan tersenyum lebar, lalu dengan hati-hati memegang jari mungil adiknya. "Halo Dek Aura... Abang sayang ya. Nanti Abang ajak main mobilan ya."
Momen itu terasa begitu sempurna dan abadi.
Di sana, di ruangan itu, berdiri sebuah keluarga yang utuh. Ayah yang gagah dan penyayang, Ibu yang cantik dan sabar, serta dua orang anak yang lucu dan sehat.
Mereka telah melewati badai, melewati hinaan, melewati pertarungan hidup dan mati. Dan kini, Tuhan telah menghadiahi mereka kebahagiaan yang begitu utuh, indah, dan tak ternilai harganya.
"Mulai hari ini, kita jadi keluarga lengkap ya..." bisik Arga sambil memeluk ketiga orang yang paling dicintainya di dunia ini.
"Ya Mas... Keluarga Pratama yang bahagia selamanya..." jawab Clara lembut.
Cahaya matahari sore masuk menerangi mereka, seolah turut mendoakan kebahagiaan yang abadi untuk pasangan suami istri ini dan keturunan mereka.