NovelToon NovelToon
Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Auzora Maleeka

"Di saat napas terakhir Pak Tua Arman dianggap sebagai akhir dari kejayaan keluarga Chandra, seorang asing berpakaian putih muncul tanpa suara. Tak ada obat, tak ada mantra rumit. Ia hanya membungkuk, membisikkan satu kalimat di telinga kakek yang sekarat itu, lalu berbalik pergi. Detik berikutnya, jantung kembali berdetak kuat, membuat para anak tercengang. Siapakah dia? Dan apa yang diucapkannya untuk menantang kematian?"

"Sebuah kalimat yang mengubah takdir. Saat dunia medis menyatakan Kakek sekarat, seorang asing bernama Yun Miao muncul dan menyembuhkannya hanya dengan satu kalimat perintah. Siapakah Yun Miao, dan bagaimana kalimat sederhana bisa melawan maut?"

Mohon maaf ya teman-teman kalau novel pertamaku belum bisa membuat kalian puas bacanya. InsyaAllah aku akan terus berusaha agar novelku selanjutnya bisa memenuhi keinginan dan kriteria kalian semua.... Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auzora Maleeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

05

Setelah melihat Tuan Arman sadar, Nadira langsung menuju ke sebuah kursi yang berada di dalam kamar Tuan Arman. Dan dia pun langsung duduk disitu.

Sedangkan mereka yang melihat Tuan Arman sadar, langsung saja menuju ke tempat Tuan Arman sambil memanggil Ayah dan Kakek mereka.

"Ayah." Panggil Tuan Rendi.

"Ayah." Panggil Tuan Rayhan.

"Kakek." Panggil Adrian.

"Ayah jangan panik, kami akan memanggil dokter. Aku tahu Ayah baik-baik saja. Anda akan berumur panjang." Sambung Tuan Rendi.

"Nggak perlu. jangan panggil dokter. Bantu aku berdiri." Kata Tuan Arman.

Mereka bertiga pun membantu Tuan Arman, untuk bangun sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Tuan Arman.

"Lepaskan." Kata Tuan Arman. Meskipun Tuan Arman masih sempoyongan ketika berdiri, beliau pun memaksa mereka untuk melepaskan pegangannya.

"Ayah, tubuhmu masih lemah. Kalau aku lepaskan tangan..... " Kata Tuan Rendi.

"Aku suruh kalian lepaskan tangan." Bantah Tuan Arman.

Kemudian, mereka pun melepaskan tangan mereka yang mana pada awalnya memegang tangan Tuan Arman. Sedangkan Tuan Arman melihat ke depan ke arah dimana Nadira duduk.

"Ini cuman keturunannya, dan bukan orang yang ingin Ayah temui. Begitu bersemangat dan merindukan sepanjang hidup, lalu apa gunanya ? Bertemu sekalipun apa gunanya ?" Kata Tuan Rayhan.

Sedangkan Tuan Arman yang sudah sampai di depan Nadira langsung berlutut didepannya, sehingga mereka yang ada disana kaget karena Tuan Arman berlutut di depan Nona Nadira.

"Ayah." Tuan Rendi kaget melihat Ayahnya berlutut di depan Nadira sehingga ia reflek berlutut juga, sedangkan Tuan Rayhan pun sama.

"Hamba, Arman Chandra, menemui Nona." Ucap Tuan Arman sambil bersujud di depan Nadira. Sedangkan yang lainnya kaget melihat apa yang dilakukan oleh Ayah dan Kakek mereka.

"Hamba apa ? Nona apa ?" Tanya Tuan Rayhan.

"Apa mungkin, Ayah mengalami kilas balik terakhir, dan jadi pikun ?" Jawab Tuan Rendi.

"Dito." Panggil Nadira.

Setelah mendengar dia dipanggil oleh Nona nya, Tuan Arman pun langsung bangun dari sujudnya itu.

"Tujuan sudah tercapai. Pergilah." Sambung Nadira.

"Terimakasih, Nona." kata Tuan Arman sambil bersujud kembali di hadapan Nadira.

Setelah mendengar jawaban Tuan Arman ia pun langsung pergi begitu saja, sedangkan mereka terkejut dan langsung melihat ke arah Nadira yang sudah pergi, tapi Tuan Arman masih tetap seperti semula.

"Sudah pergi. Begitu saja ? Datang dan pergi dengan mudah ?" Heran Tuan Rendi

"Ayah." Panggil Tuan Rendi kepada Ayahnya yang masih bersujud, sambil membantu Sang Ayah bangun dibantu oleh adik dan anaknya. Setelah itu mereka pun mendudukkan Tuan Arman ke kasur.

"Rendi." Panggil Tuan Arman.

Setelah dipanggil, Tuan Rendi langsung berlutut di depan Ayahnya sambil mengajak anak dan adiknya itu untuk ikut berlutut di depan sang Ayah atau sang kakek.

"Ayah. anda katakan saja." Kata Tuan Rendi.

Sementara Tuan Arman melihat ke arah jempolnya dimana ada sebuah cincin disana. kemudian diapun melepaskan cincin tersebut dan menggenggamnya. Tentu Tuan Rendi melihatnya dan langsung berbicara.

"Ayah. Sejak aku sudah bisa mengingat, cincin ini sudah anda pakai. Nggak pernah dilepas. Ayah...." Tanya Tuan Rendi.

"Aku sudah bilang, hanya ketika kau benar-benar mewarisi identitasku, baru kau berhak mendapatkan cincin ini." Jawab Tuan Arman.

"Ayah. Sudah puluhan tahun. Aku selalu mengejar kesempurnaan dalam segala hal. Aku nggak pernah memenuhi syarat. Untuk mendapatkan cincin ibu jari ini. Aku pikir, aku nggak akan pernah mendapatkan pengakuan anda seumur hidupku. Nggak disangka.... Ayah. Aku bersumpah aku pasti akan memajukan bisnis keluarga Chandra dan menciptakan prestasi baru." Kata Tuan Rendi.

"Nggak ada hubungannya dengan keluarga. Aku... Sejak kecil adalah pelayanan Nona. Sekarang giliranmu." Ucap Tuan Arman sambil memasang kan cincin tersebut ke jempol sang Anak.

"Ayah. Barang berharga seperti ini, anda menyerahkannya padaku, hanya untuk menjadi pelayan Nona Nadira ?" Tanya Tuan Rendi.

"Menjadi pelayan Nona Nadira adalah keberuntunganmu. Nona turun gunung pasti ada hal penting. Kau harus bersumpah akan menjaga Nona dan memprioritaskan Nona dalam segala hal." Jawab Tuan Arman.

"Aku, Rendi Chandra, bersumpah, akan menjaga Nona dan memprioritaskan Nona dalam segala hal." Balas Tuan Rendi sambil bersumpah di depan sang Ayah.

...****************...

Flashback On

Pada saat itu, Arman kecil sedang berjongkok, sambil memegang sebuah mangkok. Dan pada saat itu pula ada sebuah cincin yang jatuh dibawahnya, lalu ia pun mengambil cincin tersebut, dan menoleh ke arah gadis yang masih berdiri sambil memegang payung.

"Kalau kau bersedia menjadi pelayanku, ikuti aku." Kata gadis tersebut.

Setelah gadis itu pergi, Arman pun melihat lagi ke arah cincin yang mana masih ada di bawahnya, lalu mengambilnya dan kemudian mengikuti gadis tersebut dari belakang.

Flashback off

"Meskipun ratusan tahun telah berlalu dan duniaku telah berubah. Identitas dan statusku mungkin telah bergeser, tapi aku akan selalu mengingat aku adalah pelayan Nona." Kata Tuan Arman.

Setelah Tuan Arman selesai mengucapkan itu, dia langsung terjatuh dan meninggal dunia. Sehingga mereka yang masih disana terkejut karena Tuan Arman telah meninggal.

"Ayah." Panggil Tuan Rendi.

"Ayah." Panggil Tuan Rayhan.

"Kakek." Panggil Adrian

Mereka memanggil bersamaan dengan suara yang sangat keras, sehingga orang-orang yang berada di luar berhamburan masuk kedalam kamar Tuan Arman berada.

"Ayah." Panggil Nyonya Saskia.

"Ayah." Panggil Nyonya Sonia.

Mereka menangisi kepergian Tuan Arman, berteriak histeris terus memanggil Ayah mereka. Sedangkan Nadira, berjalan ke arah luar karena urusannya telah selesai. Meskipun dia mendengar suara gaduh itu, Nadira tetap saja berjalan meskipun suara mereka yang terus berteriak itu.

Diapun berhenti, sambil memandangi hujan yang turun di sekitaran rumah Chandra tersebut.

"Suara tangisan ini, sudah lebih dari belasan tahun nggak kudengar. Tetap saja sama, selalu membuatku kesal." Ucap Nadira.

Setelah itu, Nadira bersiap-siap akan pergi dari rumah itu sambil membuka payungnya yang selalu ia pegang itu.

"Nona Nadira, tolong tunggu.", Cegah Tuan Rendi ketika melihat Nadira akan pergi dengan payungnya.

"Ada apa ?" Tanya Nadira.

"Nona Nadira, Ayahku baru saja menyerahkan cincin ini, agar aku melayani Nona. Mulai sekarang Nona adalah tamu agung Keluarga Chandra." Ucap Tuan Rendi yang mana langsung menunjukkan jari jempolnya sebagai tanda dia tidak berbohong akan ucapannya itu.

Setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Tuan Rendi, Nadira langsung menutup payungnya itu karena dia akan tinggal dikediaman Chandra untuk sementara.

"Siapkan tempat tinggal untukku." Sambung Nadira.

"Nona Nadira suka ketenangan. Aku akan suruh orang untuk membawa kau ke halaman belakang."Ujar Tuan Rendi. Karena dia mengingat kata-kata dari Ayahnya itu.

"Menjadi pelayan Nona, adalah keberuntungan mu."

"Oh ya, Ayah baru saja meninggal. Ada banyak hal yang harus ku urus, nggak bisa melayani Nona Nadira secara langsung. Aku sama sekali nggak bermaksud untuk mengabaikan Nona Nadira." Ucap Tuan Rendi.

Nadira pun memahami hal tersebut, sehingga ia dan seorang pelayan wanita langsung pergi menuju ke tempat dimana ia akan tinggal.

Setelah, Nadira pergi bersama sang pelayan menuju ke tempat dimana ia akan tinggal, Tuan Rendi dihampiri oleh Tuan Rayhan dan Nyonya Sonia beserta Pak Eko.

"Kak Rendi." Panggil Tuan Rayhan.

"Pemakaman Ayah sudah di urus." Kata Nyonya Sonia

"Pak Eko, ibuku sudah tua. Nyonya juga harus mengurus banyak hal. Masalah melayani Nona Nadira ku serahkan padamu." Ucap Tuan Rendi.

"Tuan Rendi tenang saja. Aku nggak akan mengabaikannya." Jawab Pak Eko.

"Nggak. Bukan hanya nggak boleh mengabaikan, harus layani. Harus layani seperti dia adalah Leluhur Keluarga Chandra." Lanjut Tuan Rendi.

"Baik." Jawab Pak Eko.

"ini ... Nona Nadira adalah keturunan orang yang disukai Ayah. Kalau melayaninya seperti Leluhur, bukankah sama saja dengan menghina ibu ?" Tanya Nyonya Sonia ke Tuan Rendi.

1
Andira Rahmawati
absend dulu thor...
Chen Nadari
mampir Thorr
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!