NovelToon NovelToon
TERJERAT

TERJERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Mafia
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aris Tea

Di bawah rindangnya pohon randu angker di sudut kampung, seorang pemuda bernama Langit tumbuh dewasa tanpa mengenal siapa orang tua kandungnya. Setiap senja, ia merenung di sana, merasa namanya seluas langit namun tak punya pijakan. Ia tak tahu, takdirnya sudah "terjerat" sejak hari ia ditemukan sebagai bayi di bawah pohon keramat itu oleh Nenek Wati.

Sembilan belas tahun kemudian, rahasia kelam masa lalu mulai terkuak, menyeret Langit pada sebuah pencarian identitas yang tak hanya mengancam hidupnya, tapi juga menguji perasaannya. Ketika ia dihadapkan pada sosok Intan, wanita yang sudah "terjerat" pernikahan namun begitu "layak diperjuangkan", akankah Langit mampu melepaskan diri dari belenggu masa lalu dan menemukan tempat sejatinya? Atau justru semakin dalam "terjerat" dalam takdir yang tak pernah ia minta?

Ikuti perjalanan Langit menemukan jati diri, cinta, dan rahasia yang terkubur di dalam novel TERJERAT.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 16: MATA MATA DI TENGAH SAWAH

"Ini saya Pak Pardi, Langit – cucu Bu Wati. Tadi kebetulan bertemu Bu Sri di jalan, jadi saya bantu bawa keranjangnya sebentar," jawab Langit dengan senyum polos dan tulus.

Pardi mengangguk, wajahnya tampak ramah menyambut, namun sorot matanya menyembunyikan kecurigaan yang mendalam.

"Ah ya, tentu saja. Makasih ya sudah membantu istriku. Mau tidak masuk sebentar minum air putih?"

"Enggak usah Pak, terima kasih. Saya pamit dulu," jawab Langit sopan. Ia pun berpamitan dan meninggalkan halaman rumah Pardi.

Begitu punggung Langit menghilang dan gerbang rumah tertutup rapat, senyum ramah di wajah Pardi seketika lenyap digantikan oleh wajah merah padam penuh amarah.

Tanpa aba-aba, tangan kekarnya mencengkeram pergelangan tangan istrinya dengan kuat lalu ditarik kasar hingga tubuh wanita itu terhuyung-huyung mendekat padanya.

"Dasar wanita tidak tahu malu! Main mata di depan mata kepalaku sendiri!" hardik Pardi dengan suara melengking penuh emosi.

"Apa-apan itu, hah? Cucu Bu Wati katanya? Kenapa dia harus repot-repot bawain keranjangmu? Kenapa kalian terlihat begitu akrab? Apa hubungan kalian berdua, hah?!"

Istrinya mencoba melepaskan cengkeraman itu dan hendak membela diri, namun Pardi tak memberinya kesempatan. Ia semakin keras mencaci maki, meluapkan semua kekesalan yang sudah menumpuk sejak semalam.

"Jangan coba-coba bohong! Aku tahu semuanya! Sekarang aku mengerti kenapa kamu berubah jadi sedingin es!" bentak Pardi, matanya melotot penuh kebencian.

"Selama ini aku minta hakku sebagai suami, kamu tolak mentah-mentah! Alasannya capek, alasannya ngantuk! Tapi nyatanya... tenagamu masih ada buat mesra-mesraan sama cowok lain kan?! Kamu tolak aku karena kamu sudah kasih semuanya ke dia kan?! Kamu sudah kotor!"

Pardi mengguncang bahu istrinya, napasnya memburu, rasanya ingin menghancurkan segalanya karena rasa cemburu dan sakit hati yang bercampur dengan rasa frustrasi yang tak tertahan.

Setelah meluapkan amarah dan tuduhan yang meledak-ledak, dada Pardi terasa sesak bak ditimpa batu besar. Rasanya udara di dalam rumah itu seolah tak lagi bisa ia hirup, penuh dengan kebohongan dan pengkhianatan di matanya.

"Sialan semua! Hidup gue sial banget!"

Dengan kasar ia melepaskan cengkeraman tangan dari pergelangan tangan istrinya hingga wanita itu terhuyung mundur. Tanpa menoleh lagi, tanpa pamit, Pardi berbalik badan dan melangkah lebar penuh tenaga menuju pintu keluar.

Brak!

Pintu rumah dibanting dengan keras hingga seluruh dinding seolah bergetar. Langkah kakinya menghentak kuat di lantai halaman, penuh emosi yang tak tertahan. Ia pergi meninggalkan rumah dengan kepala mendidih, hati panas, dan pikiran yang kacau balau, membiarkan istrinya terdiam sendirian di dalam kegelapan ruang tamu.

Mau kemana lagi nih Pardi? Balik ke kebun peluk pohon pisang lagi apa cari tempat nongkrong biar adem? 😂

######

Langit tidak langsung pulang ke rumahnya. Ia tahu betul, saat ini rumahnya pasti sepi dan kosong melompong. Nenek Wati dan Teh Intan beserta kedua anaknya kan sedang pergi ke kota untuk mengurus urusan penting di Bank.

'Rumah kosong gak enak... Lebih baik aku ke tempat biasa saja,' batinnya.

Kakinya melangkah menuju sebuah saung bambu kecil yang terletak di tepi sungai, tak jauh dari pemukiman. Itu adalah tempat favorit Langit sejak kecil. Tempat yang tenang, dikelilingi pemandangan sawah hijau, dan suara gemericik air yang menenangkan hati.

Ia duduk bersandar pada tiang saung, membiarkan angin sore membelai wajahnya. Perlahan, bayangan sikap Pardi tadi kembali terlintas di pikirannya.

'Aneh sekali Pak Pardi itu... Padahal kan aku cuma membantu Bu Sri bawa barang. Tapi kenapa tatapannya begitu tajam dan penuh selidik? Seolah-olah aku ini penjahat yang mau mencuri sesuatu,' renung Langit.

Rasa tidak nyaman itu menghantuinya. Ada firasat buruk yang mengatakan bahwa Pardi bukanlah orang semudah yang dilihat mata. Ada banyak rahasia gelap yang tersimpan di balik senyum manis pria itu.

"Dunia ini memang penuh topeng ya..." gumamnya pelan, matanya menatap jauh ke arah cakrawala yang mulai berwarna jingga.

Sementara itu, di tempat Sri, setelah kemarahan sang suami, melangkah pergi dari rumahnya. Hatinya gelisah. Ia yakin sekali suaminya Pardi salah besar menuduh ku. Namun, bagaimana cara membuktikannya? Dan bagaimana cara memantau gerak-gerik suaminya yang akhir-akhir ini sering keluar rumah tanpa alasan jelas?

"Tapi gimana ya caranya menyelidiki? Anakku tak mungkin kan terus menerus kutitipkan pada neneknya terus?" batinnya bingung.

Tiba-tiba sebuah ide cemerlang muncul di kepalanya. Wajahnya langsung berseri-seri.

"Dewi! Ya! Aku minta bantuan adikku saja!"

Dewi adalah adiknya sendiri, statusnya janda dengan satu anak. Wanita itu terkenal pandai bergaul, lincah, dan cukup pandai menggoda pria. Rencana Sri matang sempurna:

'Dewi bisa mendekati Langit untuk mengawasi dan memastikan apakah pemuda itu benar anak baik-baik saja. Dan sekaligus, lewat Dewi juga aku bisa memantau apa yang dilakukan suamiku Pardi kalau di luar rumah. Satu batu dapat dua burung!'

Dengan senyum penuh strategi, Sri pun bergegas melangkah cepat meninggalkan kampung, menuju rumah ibunya untuk mengambil anaknya sekaligus menemui Dewi. Ia yakin rencananya ini akan berhasil.

Namun Sri tidak sadar... atau mungkin semua orang tidak sadar.

Mereka semua mengira Langit hanyalah pemuda polos, polos seperti anak kecil yang suka bercanda. Itu adalah kesalahan fatal terbesar mereka.

Walaupun saat ini wajahnya terlihat santai duduk di saung, namun insting dan indra Langit jauh lebih tajam dari manusia biasa.

Sorot matanya yang tadi lembut, tiba-tiba berubah tajam dan dingin. Pandangannya mengarah tepat ke balik rimbunnya pohon kelapa di utara, tak jauh dari rumah Teh Intan.

Di sana... tersembunyi di balik semak belukar, berdiri seorang lelaki tegap dengan badan kekar dan wajah seram. Matanya terus mengawasi ke mana Langit pergi, seolah sedang memata-matai setiap gerak-gerik pemuda itu.

Langit tersenyum miring, seringai licik dan percaya diri terukir di bibirnya.

"Kalian berpikir aku masuk menjadi buruan kalian... Namun bila perlu kalian tahu, justru kalianlah yang sedang diburu olehku," bisiknya pelan penuh tantangan.

Ia tahu siapa orang itu. Ia tahu siapa musuh yang dikirim. Dan ia siap memainkannya.

Matahari mulai condong ke barat. Langit melihat dari kejauhan sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Nenek Wati, Intan, dan kedua anaknya sudah pulang dari kota!

Suara tawa riang Adel dan Adi langsung terdengar memecah keheningan.

"Om Langit...!!" teriak mereka berdua saat melihat pemuda itu datang.

"Adel........... Adi..........."

"Ayo kita pulang, mandi dulu gih. Nanti sesudah mandi bersih baru main lagi sama Om," sahut Intan memanggil anak-anaknya.

"Ah Bunda nggak asik... Seru-seruan nih," rengek kedua bocah itu kesal.

Langit tersenyum manis mendekati mereka.

"Kalian berdua kalau mau main terus sama Om, harus nurut sama Bunda dong. Ayo sini, Om gendong yuk?"

"Enggak mau...! Ciap Om! Kita lari aja!" jawab mereka kompak lalu berlari kecil. "Om kejar kami... Bunda ayo kejar!"

Langit dan Intan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah lucu si kembar. Mereka pun berjalan beriringan menuju rumah Intan.

Sesampainya di pekarangan rumah Intan, suasana berubah seketika. Wajah polos Langit hilang berganti menjadi sangat serius.

Dengan gerakan cepat, ia berjalan mendekat, tubuhnya menempel sedikit ke arah Intan seraya berbisik pelan dan tegas, agar tidak terdengar oleh siapa pun.

"Teh... Kamu sama anak-anak masuk dulu ke dalam, kunci pintunya."

"Kenapa Ngit? Ada apa?" tanya Intan terkejut.

"Aku mau mengejar seseorang... Sejak tadi dia terus memata-matai kita dari jauh. Aku harus tahu siapa dia dan apa maksudnya!"

"JLEB!

Jantung Intan berdebar kencang.

CATATAN PEMBACA:

SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!

SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.

JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!

SALAM DARI ANAK KAMPUNG,

ARIS.

Bersambung.

1
Guru
Lagi atuh Thor
Guru
aduhhh dewi hati hati jatuh cinta
Guru
Waduhh
Guru
waduhhh😭😭😭
Guru
Ya kan kalah juga laki laki
Guru
gasss polll
Guru
saling siasat hahahaha saya yakin si cowok tepar🤣🤣🤣
Guru
Musuhnya masih ada ikatan darah sama langit ya thor
Guru
langit sudah sadar ya thor
Guru
siap untuk balas dendam😄😄😄💪💪💪
Guru
Nah kan takut hshs🤣🤣
Guru
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪
Guru
Lanjutkan thor
Guru
akhirnya akhirnya penyelamatan darang😭😭😭
Ramdan
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ramdan
akhir nya langit sadar memaafkan ibunya
Ramdan
akhirnya bisa balas dendam
Ramdan
jaji Jaji 🤣🤣🤣🤣
Ramdan
🤣🤣🤣🤣🤣 gasss
Ramdan
flashback ya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!