Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Situasi di koridor seketika berubah menjadi horor yang mencekam.
Pintu ganda ruang operasi terbuka dengan dentuman keras, menampakkan wajah-wajah panik tim medis.
"Cepat! Pasokan darah tambahan! Tekanan darah pasien menurun drastis!" teriak salah seorang perawat senior.
Ambar tersentak berdiri, jantungnya seolah berhenti berdetak melihat kegaduhan itu.
Di tengah kekacauan para perawat yang berlarian membawa kantong darah dan peralatan darurat, Jayden melihat celah.
Dengan gerakan secepat kilat, ia menyelinap masuk melewati kerumunan medis yang sedang fokus pada monitor yang berbunyi nyaring.
Di dalam ruang operasi yang dingin, di bawah lampu bedah yang menyilaukan, Baskara terbaring tak berdaya dengan tubuh penuh kabel.
Tanpa ragu, Jayden mendekati kepala ranjang dan dengan satu sentakan kasar, ia menarik selang oksigen yang terhubung ke mulut Baskara hingga terlepas.
"Mati kau, naga lumpuh!" desis Jayden penuh kebencian sebelum akhirnya berbalik dan lari menghilang melalui pintu keluar darurat di sisi
lain ruangan.
Detik berikutnya, alarm monitor berubah menjadi nada tunggal yang melengking panjang. Garis di layar berubah menjadi datar.
"CODE BLUE! CODE BLUE! Pasien gagal napas! Segera lakukan intubasi ulang!" teriak Om Edward yang matanya membelalak melihat selang oksigen yang menjuntai di lantai.
Thomas yang menyadari ada sosok mencurigakan berlari keluar, langsung mengejar dengan senjata terhunus, namun ia bimbang antara mengejar pelaku atau melindungi Ambar yang kini jatuh terduduk di depan pintu ruang operasi sambil menjerit histeris.
"BASKAARAAA!!!"
Seluruh rumah sakit kini dalam keadaan siaga satu. Nyawa Baskara berada di ujung tanduk, sementara Jayden tertawa di kegelapan tangga darurat, merasa tugasnya telah usai.
Suasana di depan ruang operasi yang tadinya penuh harapan, seketika berubah menjadi pemakaman yang sunyi.
Lampu merah di atas pintu padam, digantikan oleh keheningan yang mencekik paru-paru.
Pintu ganda itu terbuka perlahan, menampakkan sosok Om Edward yang melangkah keluar dengan bahu yang lunglai.
Masker bedahnya menggantung di leher, menyingkap wajah yang pucat dan mata yang berkaca-kaca.
Ambar berdiri dengan lutut yang gemetar. "Om... bagaimana? Bas sudah bangun?"
Om Edward menunduk, tak sanggup menatap mata keponakannya.
Tangannya yang biasanya stabil saat memegang pisau bedah, kini gemetar hebat.
"Maaf, Ambar. Kami sudah mencoba segalanya. Pacu jantung manual, intubasi ulang, tapi tubuhnya tidak merespons setelah selang itu ditarik paksa. Maafkan Om, Nak."
Dunia Ambar seolah runtuh. Suara di sekelilingnya mendadak hilang, menyisakan denging panjang di telinganya.
Tanpa memedulikan larangan perawat, Ambar menerjang masuk ke dalam ruang operasi yang dingin dan berbau besi.
Di sana, di bawah lampu bedah yang masih menyala, tubuh tegap itu terbaring kaku.
Sebuah kain putih telah ditarik menutupi hingga ke ujung kepala Baskara.
"Tidak, tidak mungkin," isak Ambar.
Ia menyentakkan kain putih itu hingga menampakkan wajah suaminya yang pucat namun tampak tenang, seolah hanya sedang tidur pulas.
Ambar jatuh berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan Baskara yang mulai mendingin.
"Bas, bangun! Jangan bercanda seperti ini! Kamu bilang kamu mau mengambil cincin ini lagi setelah semuanya selesai!"
Tangis Ambar pecah, memenuhi ruangan yang steril itu dengan kepedihan yang luar biasa.
"Seharusnya aku melarangmu operasi, Aku egois, Bas! Aku hanya memikirkan egoku yang ingin melihatmu berjalan, sampai aku lupa bahwa yang paling berharga adalah keberadaanmu di sampingku, meski di kursi roda sekalipun!"
Ambar memukul-mukul dada bidang Baskara dengan sisa tenaganya, mencoba membangkitkan detak jantung yang telah berhenti itu.
"Bangun, Bas! Aku belum mengatakannya padamu. Aku ingin kita punya keluarga kecil. Aku ingin hamil anakmu, Bas! Aku ingin melihatmu menggendong bayi kita! BANGUN!!"
Ambar mendekatkan wajahnya ke telinga Baskara, membisikkan kata-kata yang selama ini ia simpan di lubuk hati terdalam dengan suara parau yang menyayat hati.
"Baskara Mahendra, jika kamu pergi sekarang, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri. Kembalilah, demi anak kita yang belum sempat hadir. Aku mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri."
Tiba-tiba, di tengah kesunyian yang mematikan itu, sebuah keajaiban terjadi.
Jari tangan Baskara yang digenggam Ambar bergerak sedikit.
Monitor jantung yang tadinya menampilkan garis datar statis, mendadak mengeluarkan bunyi bip pelan.
Bip... Bip...
Garis itu mulai bergelombang kecil. Dada Baskara terangkat perlahan, menghirup oksigen dengan sentakan kecil yang lemah namun nyata.
"Dokter! Om Edward! Dia bergerak!" teriak Ambar histeris namun penuh harapan.
Om Edward dan tim medis segera berlarian
masuk kembali.
Mereka terpana melihat monitor yang kembali menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Baskara tidak benar-benar pergi; bisikan Ambar tentang masa depan dan buah hati mereka seolah menjadi jangkar yang menarik jiwanya kembali dari kegelapan.
Di ambang kesadarannya yang sangat tipis, Baskara membuka matanya sedikit, menatap wajah Ambar yang basah oleh air mata.
Bibirnya bergerak tanpa suara, namun Ambar tahu apa yang ingin dikatakannya: Aku kembali untukmu.
Ketegangan yang luar biasa selama berjam-jam, puncaknya saat melihat napas Baskara kembali, akhirnya meruntuhkan pertahanan fisik Ambar.
Begitu ia melangkah keluar dari pintu ruang operasi yang dingin, pandangannya mendadak kabur.
Seluruh tenaganya seolah tersedot habis oleh emosi yang meledak-ledak.
Tubuh Ambar limbung, namun sebelum sempat menyentuh lantai marmer yang keras, sepasang lengan kokoh dengan sigap menangkapnya.
"Nyonya!" seru Thomas dengan nada yang jarang sekali menunjukkan kepanikan.
Thomas membopong tubuh Ambar yang sudah tak sadarkan diri dengan satu gerakan mantap.
Wajah Ambar pucat pasi, namun guratan ketegangan di dahinya sedikit mengendur, menyisakan sisa air mata yang masih basah di pipinya.
"Perawat! Cepat kemari! Nyonya Ambar pingsan!" teriak Thomas ke arah koridor.
Beberapa perawat segera berlarian membawakan brankar.
Thomas membaringkan Ambar dengan hati-hati, memastikan kepala sang nyonya tersangga dengan baik.
Sementara tim medis mulai memeriksa tekanan darah Ambar yang menurun drastis akibat syok dan kelelahan hebat, Thomas berdiri di sampingnya dengan waspada, matanya terus menyapu sekeliling koridor.
"Dia hanya kelelahan dan mengalami syok emosional yang hebat, Tuan. Tekanan darahnya sangat rendah. Kami akan memberinya infus nutrisi agar dia bisa beristirahat," lapor seorang perawat setelah pemeriksaan singkat.
Thomas mengangguk pelan, sedikit lega. Namun, tatapannya kembali menajam. Ia menyentuh earpiece di telinganya, menghubungi tim keamanan luar.
"Kalian dengar? Jaga ketat pintu kamar perawatan Nyonya Ambar dan Tuan Baskara. Jangan biarkan satu lalat pun masuk tanpa seizinku. Jayden masih berkeliaran, dan aku tidak akan memberikan kesempatan kedua baginya untuk menyentuh keluarga ini," perintah Thomas dengan suara rendah yang penuh ancaman.
Di dalam ruang perawatan yang berseberangan, Baskara yang baru saja melewati maut mulai dipindahkan ke unit perawatan intensif.
Sementara itu, Ambar terbaring di ruangan lain, tertidur lemas di bawah pengaruh cairan infus, tidak menyadari bahwa keajaiban yang ia minta tadi baru saja dimulai.