Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Pagi itu, sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden kamar VVIP, menciptakan garis-garis emas di lantai marmer.
Ambar terbangun lebih awal, merasa kepalanya sedikit lebih ringan meski perban masih melilit erat.
Ia menoleh ke samping dan mendapati Baskara sedang bersandar di ranjang khusus penunggu yang diletakkan tepat di sebelah ranjangnya.
Pria itu tampak masih terlelap, gurat kelelahan terlihat jelas di wajahnya yang tegas. Namun, dalam posisi tidur sekalipun, Baskara tetap terlihat berwibawa dengan kemeja hitamnya yang sedikit kusut.
Ambar terdiam, memandangi pahatan wajah pria di depannya.
Ingatannya memang belum kembali sepenuhnya, namun rasa hangat yang menjalar di hatinya setiap kali melihat pria ini tidak bisa dibohongi.
Rasa aman yang aneh mulai mengikis
ketakutannya kemarin.
"Dia suamiku?" gumam Ambar sangat lirih, hampir seperti bisikan angin.
Sebuah senyum tipis—senyum tulus pertamanya sejak sadar—terukir di bibirnya yang pucat.
Tanpa disadari Ambar, kelopak mata Baskara bergetar.
Sebenarnya, sejak Ambar bergerak, Baskara sudah terjaga.
Ia hanya ingin menikmati momen tenang ini tanpa membuat istrinya ketakutan lagi.
"Apakah aku sangat tampan sampai kamu tidak bisa berhenti memandangiku, Sayang?" ucap Baskara tiba-tiba dengan suara bariton yang serak khas orang baru bangun tidur.
Ia membuka matanya dan langsung mengunci tatapan Ambar.
Ambar tersentak kaget, pipinya mendadak merona merah karena tertangkap basah sedang mengagumi suaminya sendiri.
Ia segera memalingkan wajah, mencoba menyembunyikan senyumnya yang tertinggal.
"Ishhh... jangan besar kepala, Tuan! Aku hanya sedang mengecek apakah kamu masih bernapas atau tidak," sahut Ambar dengan nada ketus yang dibuat-buat, namun ada binar ceria di matanya.
Baskara tertawa kecil, suara tawa yang begitu renyah dan penuh kelegaan.
Ia meraih tongkatnya, lalu dengan perlahan mencoba duduk tegak di sisi ranjang Ambar.
"Setidaknya, hari ini kamu tidak memanggilku pembunuh lagi. Itu sudah kemajuan besar bagi hatiku yang malang ini."
Ambar meliriknya sekilas, lalu kembali tersenyum. "Mungkin karena pembunuh tidak akan tidur dengan wajah selelah itu di samping korbannya."
Pintu kamar terbuka pelan, seorang perawat masuk untuk mengganti cairan infus Ambar dan memeriksa tanda-tanda vital mereka berdua.
Melihat Baskara yang juga duduk dengan penyangga dan tampak masih pucat, perawat itu memberikan perhatian ekstra.
Ambar menatap suaminya lekat-lekat, menyadari ada sesuatu yang salah.
"Kamu juga sakit?" tanyanya pelan.
Baskara mengangguk perlahan, ia menggeser lebih dekat ke ranjang Ambar.
"Aku baru saja menjalani operasi besar pada kakiku. Dan saat aku sedang berjuang di ruang pemulihan, Jayden datang, dia melepas selang oksigenku, mencoba menghabisiku saat aku tak berdaya."
Ambar menutup mulutnya, matanya membelalak ngeri.
"Kamu menangis hebat saat aku tidak ada di sisimu, Ambar. Dan saat aku akhirnya bisa kembali kepadamu, kamu justru pingsan karena trauma yang luar biasa," lanjut Baskara dengan suara yang mulai serak menahan emosi.
Mendengar kata-kata itu, seolah ada pintu bendungan yang jebol di dalam pikiran Ambar.
Kilasan-kilasan memori berputar cepat seperti film yang diputar ulang dengan kecepatan tinggi: jembatan saat mereka bertemu, janji pernikahan mereka, tawa di butik, hingga rasa dingin saat Jayden menculiknya.
"Bas..." rintih Ambar. Suaranya bergetar hebat.
Seketika, pertahanan mental Ambar runtuh. Ia menangis sesenggukan, dadanya sesak oleh gelombang ingatan yang kembali menghujamnya sekaligus.
Ia ingat betapa ia mencintai pria ini, dan betapa takutnya ia kehilangan Baskara saat insiden di rumah sakit itu.
"Aku ingat semuanya, Bas. Aku ingat!" tangis Ambar pecah.
Ia menghambur ke pelukan Baskara, mengabaikan rasa sakit di kepalanya.
Ia memeluk suaminya dengan erat, seolah tak mau melepaskannya lagi ke dalam bahaya.
Baskara memejamkan mata, membalas dekapan istrinya dengan seluruh kekuatannya.
Air mata kelegaan juga membasahi pipi sang Naga Mahendra.
"Terima kasih, Ambar. Terima kasih sudah kembali padaku."
Perawat yang sedang mengganti cairan infus hanya bisa tersenyum simpul, matanya berkaca-kaca melihat pemandangan mengharukan di depannya.
Ia segera merapikan peralatan medisnya, memberikan ruang bagi pasangan yang baru saja "bertemu kembali" itu untuk bernapas dalam kelegaan.
Tepat saat itu, pintu terbuka dan Om Edward melangkah masuk. Ia berhenti sejenak, melihat Ambar yang masih terisak di pelukan Baskara dan Baskara yang mendekap istrinya seolah dunia baru saja kembali ke porosnya.
"Cinta kalian berdua sungguh membuat Om iri," ucap Om Edward dengan nada jenaka namun penuh haru.
Ia mendekat, meletakkan stetoskopnya di saku jas putihnya.
"Melihat kalian berdua seperti ini, sepertinya semua obat-obatan di rumah sakit ini tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuatan rindu kalian."
Om Edward kemudian melakukan pemeriksaan singkat pada Ambar.
Ia memeriksa reaksi pupil mata Ambar dan memastikan detak jantungnya kembali tenang.
"Luar biasa," gumam Om Edward puas.
"Memori disosiatif itu biasanya butuh waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan untuk pulih. Tapi kamu berhasil mendobrak pintu itu hanya dalam semalam karena tidak tega melihat suamimu menderita."
Baskara menyeka air mata di pipi Ambar dengan ibu jarinya, lalu menatap pamannya.
"Apakah dia sudah benar-benar pulih, Om?"
"Secara neurologis, ingatannya sudah kembali. Tapi ingat, kalian berdua tetaplah pasien yang sedang dalam masa pemulihan fisik," Om Edward mengingatkan dengan tegas namun hangat.
"Baskara, kaki kamu butuh istirahat setelah 'akrobat' di jalan tol kemarin. Dan Ambar, luka di kepalamu masih baru. Jadi, tolong, simpan dulu adegan pelukan dramatis ini untuk di rumah nanti."
Ambar tersenyum kecil di balik sisa tangisnya, ia menoleh ke arah Baskara dengan tatapan cinta yang sempat hilang kemarin.
"Dengar itu, Tuan Besar? Kamu harus istirahat."
"Aku akan istirahat kalau kamu di sampingku, Ambar," balas Baskara mantap.
Om Edward tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.
"Thomas sudah menyiapkan pengamanan maksimal di sayap bangunan ini. Jadi kalian bisa beristirahat dengan tenang. Jayden dan komplotannya sudah tamat, Baskara. Sekarang, fokuslah pada kesembuhan kalian."
Suasana haru di dalam kamar VVIP itu perlahan mencair ketika Thomas mengetuk pintu dengan sopan.
Ia masuk dengan wajah yang jauh lebih cerah dari biasanya, membawa map hitam berisi dokumen-dokumen resmi.
"Tuan, Nyonya," Thomas membungkuk hormat.
"Kabar dari pengadilan dan kepolisian baru saja keluar. Jayden telah dijatuhi hukuman maksimal atas semua percobaan pembunuhan dan penculikan yang ia lakukan. Tidak akan ada remisi."
Baskara menoleh dengan tatapan puas. "Lalu bagaimana dengan Clara?"
"Sesuai perintah Tuan, Clara telah dipindahkan ke penjara Nusakambangan di pulau terpencil dengan pengamanan paling ketat. Dia ditempatkan di blok isolasi tanpa akses komunikasi apa pun. Dia tidak akan pernah bisa menyentuh dunia luar lagi," lapor Thomas tegas.
Setelah itu Thomas keluar dari ruang perawatan mereka.
Aura "Naga" yang mematikan tadi mendadak hilang, berganti dengan binar nakal di matanya.
"Ambar," panggil Baskara dengan suara rendah yang menggoda.
Ambar yang sedang merapikan selimutnya menoleh.
"Ya, Bas?"
"Ingat janji kita sebelum semua kekacauan ini terjadi? Tentang pemulihan total?" Baskara mendekatkan wajahnya ke telinga Ambar, membuat bulu kuduk istrinya meremang.
"Aku ingin 'point tiga'."
Mata Ambar membelalak sempurna. Wajahnya yang tadi pucat seketika berubah merah padam seperti kepiting rebus.
Ia ingat betul "point tiga" dalam daftar rencana masa depan yang pernah dibicarakan Baskara saat mereka sedang mesra—yaitu tentang memiliki momongan atau "Naga Kecil" yang akan meramaikan rumah mereka.
"Bas!!!" teriak Ambar sambil menutupi wajahnya dengan bantal, merasa malu sekaligus kesal karena suaminya bisa-bisanya memikirkan hal itu di tengah kondisi mereka yang masih penuh perban.
Baskara tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya memenuhi ruangan, terdengar begitu lepas dan bahagia.
Ini adalah tawa yang sudah lama tidak terdengar sejak badai menghantam rumah tangga mereka. Melihat tingkah lucu Ambar yang kembali seperti dulu—pemalu namun menggemaskan—adalah obat terbaik bagi semua luka di tubuh Baskara.
"Kenapa? Kamu sendiri yang bilang ingin keluarga yang ramai, kan?" goda Baskara lagi sambil mencoba menarik bantal yang menutupi wajah istrinya.
"Tapi tidak sekarang, Baskara! Kita ini masih pasien!" protes Ambar dari balik bantal, meski hatinya kini dipenuhi bunga yang bermekaran.
Baskara berhenti tertawa, lalu dengan lembut menarik bantal itu dan mengecup dahi Ambar yang tertutup perban.
"Aku bercanda, Sayang. Tapi aku serius soal satu hal, aku tidak akan membiarkan siapa pun merebut tawa ini darimu lagi."
Mampir dan dukung karyaku, yuk!
- TRUST ME
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰