NovelToon NovelToon
MISTERI DESA GETIH

MISTERI DESA GETIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:89.3k
Nilai: 5
Nama Author: Siti H

Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.

Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.

Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?

Ikuti kisah selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal

Alawiyah baru saja turun dari taxi yang ditumpanginya. Mobil itu tak dapat membawanya ke desa tujuan, dengan alasan yang cukup membuat ia merasa sangat nelangsa.

"Tolonglah, Kang. Antarkan saya sampai ke Desa Getih. Saya tidak mungkin naik ojek. Ongkosnya saya tambahi lagi, dua kali lipat." Alawiyah mencoba memaksa sang sopir taksi online untuk mengantarkannya.

Wajahnya sudah cukup kelelahan, dan hal itu disebabkan karena perjalanan yang cukup jauh, dan ditambah lagi dengan kondisinya yang hamil besar.

Perutnya terasa begah, dan pinggangnya terasa panas, ditambah lagi pergerakan aktif sang janin yang tak mau diam, seolah tak sabar ingin segera melihat dunia.

"Maaf, Mbak. Bukan saya tidak mau, tetapi desa Getih yang Mbak sebutkan itu tidak terbaca oleh maps, dan itu artinya tidak ada terdata di administratif pemerintahan Jawa Timur." sahut sang Sopir menjelaskan.

Pria itu berulangkali mengetik nama desa yang disebutkan oleh Alawiyah, tetapi hasilnya tetap sama saja, tidak terbaca.

"Gak terdata gimana—sih, Kang?" Alawiyah mengerutkan keningnya, sebab ia tidak mungkin salah, karena suaminya pernah mengatakan dirinya berasal dari Desa Getih, dilereng gunung Kawi—tepatnya.

Ia menganggap jika sopir taksi itu hanya mencari alasan saja, dan tidak memiliki empati pada wanita hamil sepertinya.

"Maaf, Mbak. Saya gak bisa antar sampai kesana, cari saja ojek." tolak sang sopir dengan yang tak kalah bersikeras.

"Sudahlah, Kang. tidak ada gunanya juga berdebat," Alawiyah akhirnya mengalah, lalu menyerahkan uang tagihan dari jasa yang sudah digunakannya.

Sejujurnya, hatinya sangat nelangsa. Sebab ia tidak tahu benar dimana alamat Bayu—suaminya. Tetapi yang ia ingat, hanya nama 'Desa Getih' yang disebutkan oleh suaminya.

Taaak

Pintu mobil ditutup. Alawiyah mengambil koper berisi pakaian yang tidak begitu terlalu banyak.

Tangannya yang tampak kurus, menyeret koper dengan cepat, lalu berdiri mematung menatap rimbunan pohon yang berbaris dijalanan.

Sesekali ia menarik nafasnya yang terasa sangat sesak.

"Ya, Allah, semoga aku bisa menemukan Mas Bayu," ucapnya lirih. Ia hanya punya harapan, meskipun begitu sangat kecil.

"Kita cari bapakmu—ya, Nak." Alawiyah mengusap perutnya yang membuncit, dan calon bayinya bereaksi kecil, memberikan tendangan, sebagai jawaban dari interaksi mereka..

Ia masih mengingat saat tiga bulan yang lalu, Bayu—Suaminya berpamitan pulang ke kampung halaman, dan janji akan kembali lagi karena ingin mencari biaya untuk persalinannya.

"Dik, Mas balik kampung dulu, mau cari uang buat biaya kelahiran anak kita," suara Bayu terdengar penuh meyakinkan.

Hal itu membut Alawiyah merasa pasrah, meskipun tak rela melepaskannya, ada perasaan berat mengganjal dihatinya.

"Aku ikut kamu, Mas. Aku tidak mau kalau kamu tinggal," Alawiyah memohon agar dibawa serta. Tetapi Bayu tampak berubah rona wjahnya, seperti ada sesutu yang sedang disembunyikannya.

"Jangan, kamu disini saja. Mas janji—jika uangnya sudah terkumpul, Mas akan segera kembali, dan kita tinggal disini selamanya, bersama-sama,"

Bayu tampak gelisah, tatapannya seperti menerawang, membuat hati Alawiyah semakin tak tenang.

"Aku seperti ragu melepaskanmu. Dimana desa kamu sebenarnya, Mas?" kali ini, Alawiyah mendesak suaminya. Sebab pria itu selalu saja mengalihkan pembicaraan, setiap kali ia bertanya dimana desa tempat tinggal suaminya.

Bayu mengamit pundak istrinya, lalu mengusapnya dengan lembut.

"Desa Getih, tepatnya dilereng Gunung Kawi,"

Wajah pria itu terlihat sangat jujur, dan mustahil jika menipunya.

Akan tetapi, sudah tiga bulan lamanya, dan kelahiran putera mereka sudah mendekati sebulan lagi perkiraan dari Dokter, tetapi tak ada kabar yang didapatnya.

Setelah kepergian Bayu yang tak juga kunjung kembali, membuat ia mengambil keputusan, meskipun harus ditentang oleh keluarganya.

"Wiyah, kamu beneran mau nyusul Bayu ke Gunung Kawi?" tanya Rahayu seminggu yang lalu, sebelum Alawiyah memutuskan untuk pergi. Beliau adalah bibinya, sebab ia sudah yatim piatu.

"Iya, Bi. Bentar lagi aku mau lahiran, gak mungkin aku terus menunggu tanpa kepastian, aku harus menyusul Mas Bayu," ia bersikeras dengan keinginannya.

Rahayu merasa iba melihat sang keponakan. Hidupnya terus saja dirundung duka, dimana kedua orangtuanya sudah meninggal dunia, dan kini suami yang ia jadikan sandaran hati juga pergi meninggalkannya tanpa kabar.

"Bibi gak merasa direpotkan kalau kamu melahirkan tanpa Bayu. Tapi kalau kamu harus ke lereng Gunung Kawi, bibi merasa berat melepaskanmu,"

Rahayu sangat khawatir. Ia berharap jika Alawiyah mengurungkan niatnya, sebab bagaimanapun, Alawiyah adalah satu-satunya saudara yang ia punya.

"Jangan takut, Bi. Aku bisa jaga diri." sangkal Alawiyah, mencoba meyakinkan wanita yang selama ini sudah mengasuhnya sedari kedua orangtuanya meninggal dunia.

"Terserah kamu saja, tapi jika kamu menemui masalah, kembali lah ke rumah ini, Bibi siap menerimamu," wanita itu menawarkan sebuah ketulusan yang tak dapat dinilai oleh apapun.

"Mbak, mau ojek!" seru seorang pria yang membuyarkan lamunan Alawiyah.

"Hah!" Alawiyah tersentak kaget. Lalu mengulas senyum ramah. "Iya, Kang. Saya mau ke Desa Getih, kira-kira berapa ongkosnya?" ia langsung menanggapinya. Sebab melihat hari semakin sore, ia sangat takut kemalaman.

Pria yang menggunakan topi berwarna hitam itu terdiam sejenak. Lalu menatap sang wanita, dan pandangannya berhenti pada perut Alawiyah yang sudah membuncit sangat besar.

"Serius mau ke sana? Gak takut? Apalagi mbaknya sedang hamil begini, loh?" pria itu tampak ragu dengan apa yang dikatakan oleh calon penumpangnya.

Bahkan ia melupakan harga ongkos yang ditanya oleh sang wanita barusan.

Ia menelisik wajah Alawiyah yang sangat kelelahan, dan sedikit merasa iba.

"Iya, Kang. Saya mau nemui suami saya. Memangnya ada apa—ya, Kang?" tanya Alawiyah dengan rasa penasaran.

Pria itu tampak sedang berfikir keras untuk menjawab pertanyaan dari calon penumpangnya. "Mbak. Desa itu terisolasi, gak ada yang mau kesana, baiknya mbak batalin saja, deh." pria itu mencoba mengingatkan.

Ia berharap jika Alawiyah kembali berfikir ulang, lalu membatalkan niatnya.

"Gak bisa, Kang. Saya harus ketemu suami saya, perasaan saya gak enak." Alawiyah bersikeras dengan apa yang akan dilakukannya.

Pria itu menarik nafasnya dengan berat. "Tapi ingat pesan saya, saat disana nanti, jangan banyak tanya dengan warganya, kalau ada yang tanya nama kamu, jangan pernah beritahu yang asli dan juga jangan lupa baca doa," pesannya pada sang wanita.

Alawiyah semakin merasakan hal yang sangat janggal, dan hatinya tak tenang. Tetapi ia semakin merasa penasaran, dan ingin mencari tahu, apa yang membuat desa itu sangat begitu misteri.

"Sudah, saya antar, nanti keburu malam." pria itu memberikan helm kepada Alawiyah yang masih tampak berfikir.

 "Dipakai, Mbak." ia mengingatkan kembali, dan tak ingin membuat calon penumpangnya banyak tanya. Kemudian bersiap untuk membawa wanita itu ketujuannya.

Alawiyah meraihnya, lalu mengenakan helm tersebut.

Sepanjang perjalanan, Alawiyah merasakan seperti sebuah bisikan-bisikan yang samar, dimana memintanya untuk membatalkan perjalanan dan ada juga bisikan yang memintanya untuk meneruskan niatnya.

Semua itu, membuatnya semakin gelisah yang bercampur rasa penasaran.

Jalanan yang berbatu, membuat ia memegangi perutnya terguncang, menahannya agar tidak mengalami masalah yang serius pada janinnya.

"Masih lama, Kang?" tanya Alawiyah, rasanya ia sudah tidak lagi sanggup berada diatas kendaraan bermotor, rasa mual dan keram menjadi satu.

"Kan—sudah saya katakan, jangan pergi, tapi—Mbaknya tetap memaksa," pria itu menanggapinya dengan dingin.

"—Tapi, Kang. Saya—" Alawiyah menghentikan ucapannya, saat melihat pemandangan yang tak biasa.

1
V3
Alhamdulillah mbak Wewe sdh bahagia ikut dg om Begu ke Medan ,,,, walaupun dsna kerjaan nya sdh berubah mjd kang rongsokan dan cm makan sayur Kol saja ( tidak tumbal nyawa lagi ) ,,,,, yg ptg Bahagia yaa mbak Wewe.
skrg sdh JD Demit Baik dan sdh ada yg Sayang sama kamu jg ,, si Om Begu 🤭🤭
sdh dpt Hadiah Al-fatihah dan Doa jg dr Bayu ,, smg kamu baik-baik ja di Medan 🤣🤣💃💃💃💃💃
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin... semoga istiqamah ya We ..
total 1 replies
Marsiyah Minardi
Aku sambil ngakak ngucapin selamat pulang ke Medan ya begu ganjang 🤣🤣🤣🤣
tak apalah mulung besi daripada di tanah Jawa jadi demit penjahat 😄😄
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: Aamiin... moga istiqamah😂😂😂
total 1 replies
V3
benar ja kn si Wewe mau tobat gegara di janjiin Bagas gkan di timpuk lg pke batu bata 🤭🤭🤣🤣
Hary Nengsih
pocong belagu baget baru jd padeka sehari
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: getok aja, Bun🤧
total 1 replies
V3
riweeeeh ini mah semuanya ,,, kacau-balau semuanya 🤣🤣
dan siluman ular beneran kabur pulang donk 🤣🤣
V3
si Wewe di janjiin sama Bagas gak akan di timpuk lg dg syarat hrs Tobat dn login JD Demit Baik ,, akhirnya nurut donk si Wewe nya 🤣🤣🤣
pintar jg si Bagas buat ngerayu nya 🤭🤭
V3
aku kasihan sama si om Wowo Krn para pasukan nya PD gak benar 🤣🤣🤣
yg 2 dh login JD Demit Baik ( Sundel dn Wewe ) ,,,
yg 2 lagi pulang ( Buto dn Siluman Ular ) ,, para Kuyang dan para Palasik PD pulang lngsung Mudik ke Kampung Halaman nya 🤣🤣🤣🤣
skrg pasukan nya tinggal se upil 🤣🤣🤣
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: Kuyang juga mudik ke Kalimantan, gak mau lena rendang😂
total 1 replies
V3
hahahaha .... astaghfirullah al'adzim benar-benar gak konsisten nih para demit ,, mlh pilih pulang donk si Buto Ijo dn Siluman Ular dr pd capek-capek berperang ,,, lebih baik ngambil tumbal yg ada di rumah ja deh 🤣🤣🤣🤣
V3
sangkin takut nya di timpuk lg ,,, si Wewe ngumpet donk di pohon mangga 🤣🤣🤣💃💃💃💃
V3
aku kasihan sama si Wewe JD trauma kalau lihat Bagas ,, takut kena timpuk lg sama Batu Bata 🤣🤣🤣
JD dr td mo ikut nyerang tp ragu ,,, gegara dh ketakutan duluan 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
V3
untung nya Bayu datang tepat waktu ,, JD Babang Bagas yg Ganteng ( kata Kun Kun ) JD selamat deh dr tangan hitam nya si Kun Hit 🤣🤣
𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽᴛ⑅⃝ˢ🐈
waduh bayu bakal dunserang habis2an
lantas gmn ya
wis susah2 pait2
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
yaa setan itu kau
V3
akhirnya Sundel sdh logout dr Demit jahat ,,,, dn Login JD Demit Baik spt Kun Put 🤗💃💃
V3
akhirnya Sundel sdh logout dr Demit jahat ,,,, dn Login JD Demit Baik spt Kun Put 🤗
V3
semoga Nawang Wulan alias Kun Put selamat 😱😱
V3
gilaaaa .... si Bagas mpe jadi rebutan para demit Kunti donk 🤣🤣
Kun Kun dan Kun Bir mlh jambak-jambakan Krn Bagas 🤣🤣🤣
keren lah di Bagas ini ,,, walaupun gak laku di dunia manusia tp mlh laku di dunia demit 🤣🤣🤣🤣
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: sedih banget nasibnya, malah di sukai demit🤧🤣
total 1 replies
V3
semoga Bagas bisa lolos dr Kun Bir dn bisa membawa raga nya Linda pulang ke rumah Ratih 🙈🙈
Jgn sampai Nawang Wulan musnah oleh Demit 5 😱😱
V3
si Begu bukan nya ikut bertarung lah kok mlh lg pilih calon bini dr ke 7 demit panggung itu ,, ktnya mo di bawa pulang ke Medan 🤣🤣🤣🤣🤣
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: lagi cari jodoh.. udah musim rambutan, musim duren, bekum dapat jodoh juga😂
total 1 replies
neni nuraeni
lnjuttttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!