Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16 - Di Antara Luka dan Kepemilikan
Udara di dalam mobil mendadak terasa tipis. Jantung Nadine berdegup kencang, begitu keras sampai ia khawatir Pandji bisa mendengarnya.
Ia cepat-cepat membuang muka, pura-pura menatap ke luar jendela yang masih diselimuti kabut pagi. Pipinya terasa panas seperti terbakar. “Pandji… jangan bercanda gitu,” gumamnya pelan, suaranya masih serak karena habis tertawa dan menangis bergantian.
Pandji tersenyum kecil, tangannya tetap memegang setir dengan santai. “Aku nggak bercanda, Nad.”
Mobil melaju pelan. Hanya suara mesin dan hembusan AC yang mengisi keheningan beberapa detik. Nadine menarik napas panjang, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berulah. Tapi setiap kali ia mengingat kata “cantik” yang keluar begitu saja dari mulut Pandji, degupannya malah semakin liar.
“Biasanya orang bilang cantik pas lagi ceweknya dandan cantik atau lagi senyum manis,” kata Nadine pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.
“Bukan pas lagi nangis berantakan, muka bengkak, hidung merah, dan habis ketawa gila-gilaan.”
Pandji menoleh sekilas ke arahnya. Matanya lembut.
“Justru itu,” jawabnya. “Kamu cantik pas lagi hancur sekalipun. Kamu nggak perlu pura-pura kuat di depanku. Kamu boleh nangis, boleh marah, boleh ketawa gila kayak tadi… tetep aja cantik buat aku.”
Nadine terdiam. Kata-kata itu terasa terlalu manis, terlalu hangat, dan terlalu berbahaya untuk hatinya yang sedang rapuh. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha menahan gelombang emosi yang tiba-tiba naik.
“Pandji…” suaranya hampir hilang. “Aku baru putus sama tunangan aku. Baru beberapa jam yang lalu aku denger dia pilih wanita lain. Dan sekarang kamu… ngomong gini.”
Pandji mengangguk pelan, ekspresinya serius. “Aku tahu. Aku nggak bilang ini buat manfaatin situasi kamu yang lagi sakit hati. Aku cuma… nggak bisa bohong lagi. Dari dulu aku udah suka liat kamu. Tapi aku selalu mundur karena kamu milik Aga.”
Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan, “Hari ini, pas liat kamu nangis di samping aku, pas liat kamu berusaha kuat… aku baru sadar, aku nggak mau lagi cuma diam. Aku mau kamu tahu, Nad. Kamu nggak sendiri.”
Nadine menoleh pelan. Mata mereka bertemu di ruang sempit mobil itu. Pandji menatapnya dengan tatapan yang tenang tapi dalam — tidak ada main-main di sana.
“Aku takut,” bisik Nadine jujur. “Aku takut kalau aku mulai suka sama kamu, nanti aku cuma pindah sakit hati. Aku nggak mau jadi beban orang lagi.”
Pandji mengulurkan tangan kanannya, lalu dengan lembut meraih tangan Nadine yang dingin. Ia genggam pelan, ibu jarinya mengusap punggung tangan Nadine dengan gerakan menenangkan.
“Kamu bukan beban,” katanya tegas. “Kamu cewek yang udah berusaha jadi yang terbaik buat orang yang bahkan nggak bisa menghargai usaha itu. Itu bukan salahmu. Dan aku nggak akan biarin kamu sendirian ngadepin ini semua.”
Mobil terus melaju. Kabut di luar mulai menipis sedikit demi sedikit. Nadine membiarkan tangannya berada dalam genggaman Pandji. Hangat. Nyaman. Berbeda sekali dengan rasa sakit yang tadi mendominasi dadanya.
Setelah beberapa menit dalam diam yang nyaman, Nadine akhirnya bersuara pelan.
“Pandji… pelan-pelan ya. Aku masih berantakan banget di dalam sini.”
Pandji tersenyum lembut, tidak melepaskan genggamannya.
“Aku tahu. Aku nggak buru-buru. Kita punya waktu. Yang penting sekarang… kamu boleh nangis, boleh marah, boleh diam, boleh ketawa gila lagi. Aku tetap di sini.”
Nadine menunduk, tapi kali ini sudut bibirnya terangkat kecil. Untuk pertama kalinya sejak pagi tadi, beban di dadanya terasa sedikit lebih ringan.
...__Kejar Tenggat__...
Keesokan harinya
Kabut masih menyelimuti Danau Beratan saat mereka meninggalkan villa. Udara pagi terasa dingin dan berat, seolah ikut merasakan ketegangan di antara ketiganya.
Gwen duduk di kursi belakang, kepala menghadap jendela. Ia sengaja memilih tempat itu supaya tak perlu berdekatan dengan Aga. Tapi pria itu justru memberikan kursi kemudi kepada Pandji setelah setengah jam perjalanan, lalu pindah ke belakang — tepat di sampingnya.
Gwen langsung menutup mata, berpura-pura tidur.
Aga diam beberapa menit. Lalu pelan-pelan, tangannya menyentuh bahu Gwen, mengangkat kepalanya dengan hati-hati dan meletakkannya di bahunya. Gwen menegang.
“Aku tahu kamu belum tidur, Baby.” bisik Aga lembut di atas kepalanya.
Gwen tak menjawab. Aga kemudian meraih tangan Gwen dengan posesif, menyusupkan jari-jarinya kasar tapi pasti, lalu menggenggamnya erat seolah takut tangan itu hilang.
“Aku akan selesaikan semuanya,” bisiknya dekat telinga Gwen, suaranya rendah dan gelap. “Temui Nadine, temui Papa, dan tutup semua pintu masa lalu. Nggak ada celah lagi.”
Ia diam sebentar, lalu nada suaranya semakin dalam, semakin posesif.
“Dan selama aku di sana… kamu dilarang dekat-dekat dengan pria mana pun. Satu senti pun nggak boleh.”
Gwen membuka mata, tapi Aga langsung melanjutkan dengan suara rendah yang hampir menggeram.
“Sepuluh meter minimal. Kalau ada yang berani mendekat, kamu mundur. Jangan senyum, jangan ngobrol lama, jangan kasih tatapan, jangan kasih kesempatan sedikit pun. Kamu milik aku, Baby. Hanya aku. Aku nggak akan biarkan ada laki-laki lain yang coba-coba menyentuh apa yang sudah jadi milikku sepenuhnya.”
Gwen mendengus pelan, dadanya naik-turun cepat. “Kamu ini posesif banget sih…”
“Ya, aku posesif,” potong Aga tanpa ragu, suaranya semakin berat. Ia menunduk dan mengecup puncak kepala Gwen dengan keras, hampir seperti menandai. “Aku sudah hampir kehilangan kamu sekali, dan aku nggak akan biarkan itu terjadi lagi. Kalau aku dengar kamu lirik-lirik pria lain… aku bisa langsung culik kamu, dan buat anak sama kamu sampai kamu nggak punya tenaga lagi buat lirik pria lain. Aku serius, Gwen. Jangan coba-coba.”
Gwen merasakan bulu kuduknya berdiri. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara marah, takut, dan desir yang tak ingin ia akui.
“Kamu gila,” bisiknya dengan suara bergetar.
“Gila karena kamu,” balas Aga tegas.
Mobil berhenti di depan gerbang rumah Gwen. Pandji yang mengemudi mematikan mesin pelan.
Gwen buru-buru menarik tangannya dan turun dari mobil. Sebelum ia sempat menjauh, Aga juga ikut keluar dari kursi belakang. Ia berdiri di samping mobil, tubuh tingginya tegak, tatapannya terkunci pada Gwen.
Sebelum Gwen masuk gerbang, Aga kembali memanggil dengan suara rendah tapi tegas.
“Gwen.”
Gwen berhenti sejenak di depan gerbang, tapi tak berbalik.
“Ingat kata-kataku,” ucap Aga dari samping mobil, suaranya menggantung di udara panas Denpasar.
“Kamu milik aku. Jaga jarak dari pria lain. Aku serius.”
Gwen hanya mengangguk kecil tanpa menoleh, lalu melangkah masuk ke rumah dengan cepat.
Pandji keluar dari kursi pengemudi, mengeluarkan kopernya dan sang kakak dari bagasi, meletakkannya di depan gerbang. Ia menggeleng pelan sambil melihat punggung kakaknya yang menjauh, tatapannya penuh kasihan.
Kasian banget Mba Gwen, batinnya. Baru lepas dari satu masalah, sekarang malah terjebak sama pria posesif gila kayak Aga.
Sementara itu, Aga masih berdiri di samping mobil. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana, matanya tak lepas sedikit pun dari Gwen hingga punggung wanita itu benar-benar lenyap di balik pintu rumah.
Tatapannya gelap, dalam, dan penuh kepemilikan.
inilah inti perjalanan ke depan
good job thor
lanjuttt
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍