NovelToon NovelToon
Cinta Dititik Nol Rupiah

Cinta Dititik Nol Rupiah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:679
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.

Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.

Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Lantai koridor rumah sakit di depan ruang ICU lantai tiga memantulkan cahaya lampu neon yang putih pucat, menciptakan suasana yang kaku dan dingin. Agus duduk di kursi besi panjang, menatap pintu lift yang terletak di ujung lorong dengan perasaan yang tidak menentu. Di dalam saku celananya, amplop cokelat berisi surat pemutusan hubungan kerja itu terasa seolah-olah memiliki berat berton-ton, terus menekan pahanya dan mengingatkannya bahwa ia kini adalah seorang pengangguran.

Suara denting lift terdengar, diikuti oleh terbukanya pintu baja yang mengkilap. Nor Rahma melangkah keluar dengan anggun. Ia mengenakan gamis berwarna biru dongker yang dipadukan dengan jilbab berwarna abu-abu muda. Di tangannya, ia menjinjing dua kantong plastik besar berisi kotak makanan dan beberapa botol minuman segar. Penampilannya yang sangat rapi dan wangi seolah memberikan kontras yang menyakitkan dengan kondisi koridor yang berbau obat-obatan tersebut.

Agus mencoba berdiri untuk menyambutnya, namun pergelangan kaki kirinya memberikan protes keras. Rasa nyeri yang tajam menyengat hingga ke pinggang, memaksanya untuk kembali terduduk dengan wajah meringis. Ia mencengkeram pinggiran kursi besi itu hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha menyembunyikan rasa sakit fisiknya, juga rasa sakit di hatinya.

"Mas Agus, jangan dipaksakan berdiri," ucap Rahma dengan nada khawatir yang sangat tulus saat ia sampai di depan Agus. Ia segera meletakkan kantong plastik itu di atas kursi kosong di sebelah Agus.

Bu Asmah yang sedang duduk tidak jauh dari sana langsung berdiri dengan wajah sumringah. "Nak Rahma, ya Allah... repot-repot sekali bawa makanan sebanyak ini. Tadi pagi saja Nak Rahma sudah bantu banyak sekali."

Rahma tersenyum lembut, lalu menyalami tangan Bu Asmah dengan takzim. "Tidak apa-apa, Bu. Rahma cuma ingin memastikan Ibu dan Mas Agus tidak lupa makan. Kalau perut kosong, nanti malah ikut sakit, kasihan Bapak di dalam."

Agus menatap Rahma yang kini duduk di sampingnya. Jarak mereka hanya sekitar tiga puluh sentimeter. Ia bisa mencium aroma parfum Rahma yang lembut, aroma yang sangat berbeda dengan bau debu semen dan keringat yang menguap dari tubuhnya sendiri. Agus merasa sangat kecil. Ia merasa seperti seorang penipu yang sedang menerima hadiah atas kebohongannya.

"Mas Agus kenapa diam saja?" tanya Rahma sambil menatap wajah Agus. Ia memperhatikan noda putih semen yang masih tertinggal di pelipis dan sela-sela rambut Agus. "Tadi dari gudang ya? Bukannya tadi pagi bilang mau ke dokter ortopedi buat periksa kaki?"

Jantung Agus berdegup kencang. Pertanyaan Rahma adalah jebakan yang ia buat sendiri. Ia melirik ke arah Lukman yang berdiri di dekat dinding, memberi kode agar temannya itu tetap diam.

"Iya, tadi... tadi mampir ke gudang sebentar. Ada administrasi yang harus diurus. Tanggung kalau tidak diselesaikan sekarang," jawab Agus dengan suara yang ia usahakan tetap stabil. Ia tidak berbohong soal administrasi, namun ia menyembunyikan fakta bahwa administrasi itu adalah surat pemecatannya.

Rahma menghela napas, ia mengambil selembar tisu basah dari tasnya. Tanpa ragu, ia meraih wajah Agus dan menyeka debu semen di pelipis laki-laki itu. "Mas Agus ini keras kepala sekali. Pekerjaan itu memang penting, tapi kesehatanmu jauh lebih penting. Lihat wajahmu, kusam sekali karena debu. Apa tadi Pak Jono memaksamu memikul semen lagi dengan kondisi kaki begitu?"

Sentuhan tangan Rahma yang halus di wajahnya membuat Agus ingin menangis saat itu juga. Ia merasa tidak pantas mendapatkan perhatian semacam ini. Ia ingin berteriak bahwa ia sudah tidak punya pekerjaan lagi, bahwa ia adalah laki-laki gagal yang sebentar lagi tidak tahu bagaimana cara membelikan beras untuk ibunya. Namun, lidahnya terasa kelu. Kebohongan yang ia sampaikan pada ibunya tadi seolah-olah telah membeku di tenggorokannya.

"Tidak, Rahma. Pak Jono... Pak Jono justru menyuruh saya istirahat dulu," ucap Agus lagi, memutar fakta yang sebenarnya. Memang benar Pak Jono menyuruhnya istirahat, tapi istirahat selamanya dari gudang itu.

"Bagus kalau begitu. Berarti Pak Jono masih punya rasa kemanusiaan," komentar Rahma sambil terus membersihkan wajah Agus.

Agus menatap mata Rahma. Di sana hanya ada ketulusan. Rahma tidak tahu bahwa laki-laki di depannya ini baru saja kehilangan martabatnya sebagai pekerja. Rahma tidak tahu bahwa uang dua juta yang ia berikan semalam mungkin tidak akan pernah bisa dikembalikan oleh Agus dalam waktu dekat.

"Ini, dimakan dulu. Aku beli nasi kotak yang ayamnya empuk, supaya Ibu dan Mas Agus selera makan," Rahma membuka salah satu kotak makanan dan menyodorkannya pada Agus.

Agus menerima kotak itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Aroma makanan yang lezat menusuk hidungnya, namun perutnya justru merasa mual karena tekanan batin yang ia rasakan. Ia melihat ibunya sedang makan dengan lahap, sesekali ibu agus memuji kebaikan hati Rahma. Setiap pujian ibunya terasa seperti sembilu yang menyayat hati Agus.

"Mas Agus," panggil Rahma pelan saat Bu Asmah sedang sibuk mengobrol dengan Lukman.

"Iya, Rahma?"

"Besok kalau kondisi Bapak sudah lebih tenang, aku ingin bicara soal rencana yang kemarin aku sampaikan. Ayahku benar-benar menunggu ide usahamu. Beliau bilang, kalau memang rencananya bagus, beliau tidak keberatan untuk membantu modal awal," ucap Rahma dengan mata yang berbinar penuh harapan.

Agus hampir saja tersedak nasi yang sedang ia kunyah. Ide usaha. Modal awal. Kata-kata itu terdengar sangat mengerikan baginya sekarang. Bagaimana mungkin ia bisa menyusun rencana usaha di saat untuk berpikir jernih saja ia tidak mampu? Ia merasa terjepit. Rahma sedang mencoba membantunya naik ke atas, namun ia merasa kakinya sedang ditarik masuk ke dalam lumpur hisap oleh kenyataan bahwa ia adalah seorang pengangguran.

"Rahma... bolehkah kita tidak bahas itu sekarang? Fokus saya benar-benar hanya untuk kesembuhan Bapak," jawab Agus, berusaha menghindari pembicaraan itu.

Rahma terdiam sejenak, wajahnya menunjukkan sedikit rasa kecewa, namun ia segera mengangguk mengerti. "Maaf, Mas. Aku tahu ini bukan waktu yang tepat. Aku hanya terlalu bersemangat ingin melihat Mas keluar dari gudang itu dan punya kehidupan yang lebih layak."

Kehidupan yang lebih layak. Agus membatin pahit. Hidupnya saat ini justru sedang menuju ke arah yang sebaliknya.

Sepanjang sore itu, Rahma tetap tinggal di rumah sakit. Ia membantu ibu agus merapikan barang-barang, mengobrol dengan perawat untuk menanyakan perkembangan Pak Marjuki, dan beberapa kali memijat pundak Agus yang kaku. Perhatian Rahma begitu besar, namun bagi Agus, setiap kebaikan Rahma adalah beban hutang budi yang semakin menumpuk.

Saat hari mulai gelap dan lampu-lampu kota mulai menyala di balik jendela besar koridor rumah sakit, Rahma berpamitan untuk pulang.

"Aku pulang dulu ya, Mas. Besok pagi aku ke sini lagi sebelum berangkat kantor. Jangan lupa diminum obat kakinya, tadi aku sudah beli di apotek bawah waktu Mas makan," pesan Rahma sambil merapikan tasnya.

Agus mengantar Rahma hanya sampai ke depan pintu lift. Ia berdiri dengan kayu penyangganya, menatap pintu lift yang perlahan menutup dan menyembunyikan wajah cantik Rahma. Begitu lift turun, Agus merasa seluruh kekuatannya menghilang. Ia bersandar pada dinding koridor yang dingin, membiarkan tubuhnya merosot hingga terduduk di lantai.

Ia merogoh sakunya, mengeluarkan amplop cokelat yang sedari tadi menghimpitnya. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya hanya ada tiga lembar uang seratus ribuan dan dua lembar uang lima puluh ribuan. Empat ratus ribu rupiah. Itulah harga dari dua tahun keringatnya di gudang material. Sisa upah dan pesangon yang menurut Pak Jono sudah sangat bijaksana.

Agus tertawa pelan, sebuah tawa yang penuh dengan keputusasaan. Empat ratus ribu rupiah di tangannya, sementara ia punya hutang dua juta pada Rahma. Empat ratus ribu rupiah, sementara biaya rumah sakit ayahnya mungkin akan terus bertambah setiap harinya.

Ia melihat ke arah tangannya yang kasar. Tangan yang sudah tidak punya pekerjaan lagi. Ia melihat ke arah kakinya yang bengkak. Kaki yang sudah tidak punya tujuan lagi.

"Rahma... maafkan aku. Aku bukan laki-laki hebat yang kamu bayangkan," bisik Agus pada kesunyian koridor lantai tiga.

Malam kembali datang, membawa udara dingin yang menusuk tulang. Di dalam ruang ICU, bapak agus masih bertarung dengan mesin-mesin yang membantunya bernapas. Di koridor, Agus masih bertarung dengan kenyataan yang berusaha menghancurkannya. Di balik layar ponselnya yang mati, cinta Rahma tetap bersinar terang, namun bagi Agus, cahaya itu kini terasa menyilaukan dan menyakitkan, memperlihatkan setiap inci kegagalannya sebagai seorang laki-laki.

Ia melipat kembali surat pemecatannya, memasukkannya kembali ke saku celana, dan berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menyimpan rahasia ini serapat mungkin, setidaknya sampai bapaknya bisa bernapas sendiri tanpa bantuan alat. Namun, Agus tahu, rahasia itu adalah bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak dan menghancurkan apa pun yang tersisa dari martabatnya di depan Nor Rahma.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!