Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 "Cemburu Salah Sasaran"
Dewa yang sejak tadi duduk tegak dengan wibawa CEO-nya, mulai merasa tidak tenang. Ia memperhatikan gerak-gerik Gisel yang terus-menerus melirik ke arah depan dengan senyum yang sulit diartikan. Dewa mengikuti arah pandang istrinya.
Tepat di posisi yang sejajar dengan pandangan Gisel, berdiri seorang guru muda bertubuh tegap, berwajah tampan khas bintang film, yang sedang sibuk mengatur barisan siswa. Guru itu tampak berwibawa, namun tetap ramah dengan senyum yang menawan.
"Gisel," panggil Dewa dengan suara rendah yang mengintimidasi. "Apa yang sedang kamu perhatikan sampai tidak berkedip begitu?"
Gisel menoleh sebentar, lalu nyengir lebar tanpa beban. "Lagi liat pemandangan manis," jawab Gisel jujur. Maksud Gisel tentu saja interaksi malu-malu antara Raka dan Hana yang duduk tak jauh dari guru itu.
Rahang Dewa mengeras seketika. Di kepalanya, kata 'manis' itu ditujukan untuk sang guru muda.
Dewa menatap tajam ke depan, rahangnya mengeras. Ia tidak bisa lagi menoleransi pandangan Gisel yang terus tertuju pada guru muda di depan sana. Dengan gerakan dingin dan tegas, Dewa mengangkat Diego yang sedang duduk di pangkuannya, lalu menyodorkannya ke arah Gisel.
"Pindah ke sini," ucap Dewa singkat, suaranya rendah namun penuh penekanan.
Gisel mengernyit bingung sambil menerima Diego dalam pelukannya. "Kenapa tiba-tiba pindah? Mas kan biasanya paling suka duduk di pojok biar nggak keganggu orang," tanya Gisel heran.
Tanpa menjawab, Dewa langsung berdiri dan menukar posisi duduknya. Ia sengaja duduk tepat di depan Gisel, memposisikan tubuh tegapnya sedemikian rupa untuk menghalangi pandangan Gisel ke arah panggung—terutama ke arah guru tampan itu.
Gisel yang merasa pandangannya terhalangi mulai merasa kesal. Ia memukul punggung lebar Dewa dengan tangan kirinya.
"Hallo, Bapak CEO yang terhormat! Punggungmu memang indah dan sexy, aku akui itu. Tapi untuk saat ini, khususnya di tempat ini, bisa minggir dulu nggak? Aku nggak bisa liat ke depan!" protes Gisel dengan gaya ceplas-ceplos-nya.
Dewa merasakan sudut bibirnya berkedut, hampir membentuk senyum kemenangan saat mendengar pujian "indah dan sexy" dari mulut istrinya. Setidaknya, strategi menghalangi pandangan ini berhasil menarik perhatian Gisel kembali padanya.
Namun, dengan wajah yang kembali dibuat kaku dan tegas, Dewa sedikit menoleh tanpa bergeser satu inci pun.
"Tidak," ucap Dewa pendek dan mutlak.
"Mas! Itu ada momen penting Raka mau dipanggil ke depan!" seru Gisel lagi, mencoba melongok dari samping bahu Dewa.
Dewa tetap bergeming layaknya tembok raksasa. "Lihat lewat punggungku saja. balas Dewa membuat Gisel hanya bisa mendengus kesal sementara Raka di samping mereka hanya bisa memijat pelipis, apa lagi yang di perbuat gisel sampai ayah nya begitu.
Acara memasuki puncaknya: pengumuman nilai kelulusan terbaik dan peraih juara umum. Suasana aula mendadak hening. Meski Raka dikenal sedikit bandel dan sering bersikap cuek, semua orang tahu otak cowok itu sangat encer.
"Dan juara ketiga untuk lulusan tahun ini, dengan nilai nyaris sempurna, jatuh kepada... Raka Dewangga!"
Begitu nama Raka menggema melalui pengeras suara, Gisel tidak bisa lagi menahan diri. Lupa dengan aksi "tembok raksasa" Dewa tadi, ia langsung meloncat dari kursinya.
"WAAAA! RAKA! ITU ANAK SAYA! LIHAT, ITU ANAK SAYA JUARA!" teriak Gisel sambil bertepuk tangan heboh, bahkan sampai sedikit melompat-lompat.
Para orang tua murid di sekitar mereka hanya bisa menoleh dan tersenyum kecil melihat tingkah "ibu muda" yang sangat ekspresif itu. Raka yang masih duduk di barisannya langsung menunduk dalam-dalam. Wajahnya yang biasanya pucat kini berubah merah padam sampai ke leher karena ulah Gisel yang sangat mencolok.
"Raka! Ayo maju! Budeg ya? Itu sudah dipanggil, Sayang! Buruan!" teriak Gisel lagi tanpa rasa malu sedikit pun, sambil melambai-lambaikan tangannya tinggi-tinggi.
Dengan langkah kaku dan wajah yang masih merah karena malu ditonton semua orang, Raka terpaksa berdiri dan berjalan menuju panggung. Ia bisa merasakan ratusan pasang mata memperhatikannya, terutama mata Hana yang juga tampak tersenyum bangga di barisannya.
Dewa yang tadinya masih memasang wajah kaku dan cemburu, kini perlahan luluh. Ia menyandarkan punggungnya di kursi, melipat tangan di dada, dan memandangi punggung Gisel yang masih asyik bersorak. Sebuah senyuman tipis dan tulus terukir di bibir Dewa.
Ia tidak lagi peduli pada guru tampan itu. Melihat bagaimana Gisel begitu tulus mencintai dan bangga pada anaknya—meski bukan anak kandungnya—membuat Dewa merasa bahwa keputusannya menikahi gadis "ajaib" ini adalah hal terbaik yang pernah ia lakukan.
"Istriku memang luar biasa memalukan, tapi dia yang terbaik," gumam Dewa pelan, hampir tak terdengar di tengah riuhnya tepuk tangan.
.