NovelToon NovelToon
STILL ME

STILL ME

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.

Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.

Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STILL ME CHAPTER 12: Membaca Kontrak

​"Satu miliar."

​Dua kata itu masih menggantung di udara lobi Menara Adristo, membekukan suara bising ratusan pelamar kerja di sekitarku.

​Rayan Adristo berdiri hanya dua meter di depanku. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana bahannya yang terpotong sempurna. Ia menatapku dengan intensitas yang membuatku merasa seperti sedang diukur untuk sebuah peti mati berbalut emas.

​"Satu miliar rupiah bersih. Dibayar penuh. Di luar biaya hidup, tempat tinggal, dan semua kebutuhan personalmu selama enam bulan ke depan," ulang Rayan lambat. Suaranya sangat pelan, namun bergaung layaknya ketukan palu hakim. "Itu kompensasi finalnya."

​Langkah kakiku yang tadinya sudah bersiap untuk berputar dan melarikan diri dari pria sinting ini... mendadak lumpuh total.

​Otakku berhenti memproses kata 'gila' dan 'bahaya'.

​Sebagai gantinya, sebuah mesin kalkulator raksasa menyala terang benderang di dalam tempurung kepalaku. Berdenting nyaring, menghitung probabilitas dengan kecepatan superkomputer.

​Satu miliar rupiah.

​Itu setara dengan 333 bulan gajiku jika aku harus menyetorkan 'kontribusi' tiga juta rupiah kepada Ibu setiap bulan dari gaji UMR.

Itu adalah 27 tahun hidupku yang dihemat.

Itu adalah pelunasan lunas tunai untuk seluruh rincian angka biaya persalinan, kaleng susu formula, uang pangkal sekolah, hingga biaya mantri demam yang tercatat di buku merah sialan itu... tanpa sisa.

​Insting kewarasanku berteriak histeris menyuruhku lari keluar dari pintu kaca. Tapi matematikaku berteriak lebih keras. Dan matematika, tidak pernah berbohong.

​Satu miliar bukanlah sekadar angka. Satu miliar adalah harga sebuah kebebasan mutlak dari belenggu Sri Wahyuni.

​Aku menarik napas panjang. Mengisi paru-paruku dengan sirkulasi udara AC lobi. Mengumpulkan kepingan sisa harga diriku, lalu perlahan mengangkat daguku, menatap langsung ke dalam mata kelam milik Rayan Adristo.

​"Beri saya waktu dua puluh empat jam," kataku final, suaraku sedatar papan tulis.

​Rayan tidak tersenyum, tapi ketegangan yang sejak tadi mengunci rahang kakunya sedikit mengendur. Ia mengangguk satu kali. Sebuah persetujuan tanpa suara.

​Ia lalu menoleh ke belakang, memberikan isyarat dengan gerakan kepala yang sangat minimalis.

​Dari balik pilar marmer, seorang pria berkacamata dengan setelan jas abu-abu yang sangat rapi yang kuyakini bernama Daniel, sang asisten malang itu melangkah maju dengan cepat. Di tangannya, ia membawa map kulit hitam tebal yang tadi kutinggalkan di atas meja CEO.

​Daniel menyodorkan map itu kepadaku. Ekspresinya adalah perpaduan antara profesionalisme tingkat dewa dan keputusasaan yang tertahan.

​"Silakan, Nona," kata Daniel sopan.

​Aku menerima map kulit itu. Terasa berat di tanganku. Jauh lebih berat dari map plastik murahan berisi fotokopi CV-ku yang masih kujepit di bawah lengan.

​Tanpa berkata apa-apa lagi, aku berbalik. Berjalan melewati pintu putar kaca raksasa, keluar dari gedung Menara Adristo, dan membiarkan udara panas Jakarta menghantam wajahku.

​Aku tidak peduli lagi dengan antrean wawancara untuk posisi Staf Administrasi di lantai empat. Persetan dengan itu semua. Aku baru saja mendapat 'tawaran pekerjaan' yang gajinya tidak akan pernah bisa ditandingi oleh staf admin mana pun seumur hidup mereka.

​Aku tiba di rumah tepat pukul sebelas siang.

​Ibu sedang duduk di ruang tamu, melipat tumpukan daster baru yang akan dibawa ke toko nanti sore. Ia mendongak begitu melihatku masuk.

​"Kok udah pulang, Ra? Cepat banget tesnya?" tanyanya dengan nada menyelidik. Matanya otomatis mencari tanda-tanda kegagalan atau kesuksesan di wajahku.

​Aku menelan ludah. Menyembunyikan map kulit hitam itu di balik tas jinjingku agar tidak terlihat oleh radar Ibu.

​"Udah, Bu. Sistemnya cepat," jawabku, memilih kata-kataku dengan sangat hati-hati. Ini adalah kebohongan teknis. Aku memang sudah diwawancara, hanya saja pewawancaranya adalah pemilik gedung dan posisinya adalah istri palsu.

​"Gimana tesnya? Bisa ngerjainnya?"

​"Lancar, Bu. Tinggal nunggu hasil. Mungkin besok atau lusa ada kabarnya," jawabku datar.

​Ibu tersenyum puas. "Bagus. Ibu doain keterima. Perusahaan besar kayak Adristo itu nggak mungkin gajinya kecil. Kamu bisa cepat bantu-bantu bayar kebutuhan rumah."

​Sebuah godam tak kasatmata kembali menghantam dadaku mendengar kalimat itu.

​Bantu-bantu. Sebuah eufemisme menjijikkan untuk kata 'menyetor upeti'.

​"Iya, Bu. Aku ke kamar dulu, mau ganti baju," pamitku cepat sebelum kakiku gemetar menahan muak.

​Aku masuk ke kamarku, menutup pintu, dan memutar kuncinya dua kali hingga berbunyi klik.

​Aku menjatuhkan tasku ke lantai, lalu duduk bersila di atas kasur busa tipisku. Punggungku bersandar pada dinding triplek yang memisahkan kamarku dengan ruang TV.

​Dengan tangan yang kini tak lagi bisa menyembunyikan getarannya, aku menarik map kulit hitam berlogo 'A' emas itu ke pangkuanku.

​Aku membuka halamannya.

​Ini adalah momen pembuktian. Jika Rayan Adristo adalah seorang psikopat atau pedagang manusia berkedok CEO, aku akan merobek kertas ini dan membakarnya. Tapi jika ia benar-benar hanya seorang pria kaya yang putus asa mencari tameng... aku akan menjadi tameng termahal yang pernah ia beli.

​Aku mulai membaca setiap pasalnya. Kata demi kata. Titik demi koma. Otak normalku mati, digantikan oleh otak kalkulatifku.

​PASAL 3: Pihak Kedua dilarang keras mencampuri urusan pribadi, bisnis, maupun hubungan sosial Pihak Pertama di luar parameter sandiwara publik yang telah disepakati.

(Deal. Sangat setuju. Jangankan urusan pribadimu, Pak Rayan. Kalaupun kamu punya peliharaan T-Rex di halaman belakang rumahmu atau memuja sekte sesat di akhir pekan, aku tidak peduli selama kompensasiku cair tepat waktu).

​Aku lanjut membaca ke halaman berikutnya.

​PASAL 5: Pihak Kedua wajib hadir dan mendampingi Pihak Pertama dalam acara makan malam keluarga inti minimal 1 (satu) kali dalam sebulan, serta bersikap layaknya pasangan suami-istri yang harmonis.

(Satu kali sebulan? Hanya itu? Dibandingkan dengan kewajibanku menghadiri makan malam penuh sindiran dan guilt-tripping setiap hari dengan Sri Wahyuni, berakting harmonis satu kali sebulan dengan keluarga Adristo adalah sebuah liburan mewah berbayar).

​Aku membalik halaman lagi.

​PASAL 8: Tidak ada kontak fisik yang bersifat intim di luar kebutuhan sandiwara publik yang mutlak diperlukan (seperti bergandengan tangan atau pelukan formal di depan keluarga/media). Pihak Pertama dan Pihak Kedua akan menempati kamar yang terpisah di kediaman Pihak Pertama.

(Sempurna. Aku juga tidak mau tertular penyakit orang kaya atau berurusan dengan drama picisan. Kamar terpisah adalah syarat yang brilian).

​Aku terus membaca hingga halaman terakhir. Delapan belas halaman berisi aturan-aturan ketat yang pada dasarnya mereduksimu menjadi sebuah properti pajangan mahal yang bisa bernapas.

​Selama enam bulan, aku akan hidup di dalam gelembung kemewahan Rayan Adristo. Setelah enam bulan berlalu, surat cerai akan ditandatangani secara tertutup. Namaku akan dibersihkan. Dan aku akan keluar dari sana dengan uang satu miliar rupiah di rekeningku.

​Ini adalah transaksi yang sangat adil. Gila, tapi adil.

​Namun, saat mataku menatap kolom tanda tangan yang masih kosong di bagian bawah kertas, ujung penaku terhenti di udara.

​Ada satu hal yang mengganjal di dadaku. Sesuatu yang luput dari delapan belas halaman ketikan rapi pengacara korporat ini.

​Kontrak ini mengatur dengan sangat detail apa yang tidak boleh kulakukan terhadap Rayan. Kontrak ini mengatur kewajibanku sebagai pajangan. Tapi, kontrak ini sama sekali tidak memberikan jaminan atas kebebasan personalku sendiri.

​Jika aku menandatangani ini begitu saja, apa bedanya Rayan Adristo dengan Ibuku?

​Ibu membelengguku dengan buku catatan merah berisi hutang dua puluh dua tahun. Bagaimana jika Rayan, dengan kekuatan uang satu miliarnya, merasa berhak membelenggu kebebasanku untuk mencari kerja, berinteraksi dengan temanku, atau mengatur jadwal hidupku selama enam bulan ke depan? Aku tidak mau keluar dari kandang macan hanya untuk masuk ke dalam kandang naga.

​Aku tidak mau menjadi boneka.

​Aku meraih pena biru dari dalam kotak pensilku. Pena murahan yang kubeli di koperasi kampus saat semester satu.

​Aku menarik napas panjang. Mengumpulkan seluruh sisa keberanian dan ego yang kumiliki.

​Tepat di bawah deretan pasal terakhir, di ruang kosong sebelum kolom tanda tangan, aku menambahkan satu buah klausul tambahan. Aku menulisnya dengan tulisan tangan tegak bersambung, menekan mata penaku kuat-kuat pada kertas tebal itu hingga tintanya tercetak jelas.

​Sebuah syarat mutlak dari seorang Nara Kusuma.

​PASAL TAMBAHAN PIHAK KEDUA: Selama masa kontrak berlangsung, identitas, privasi, dan kebebasan Pihak Kedua untuk menentukan pilihan karir di luar kewajiban sandiwara publik, tetap menjadi hak mutlak Pihak Kedua. Pihak Pertama tidak memiliki otoritas maupun hak untuk mengatur, membatasi, atau mengintervensi kehidupan personal Pihak Kedua.

​Aku berhenti sejenak. Membaca kalimat birokratis itu. Terlalu panjang. Rayan Adristo adalah pria yang menyukai efisiensi. Ia butuh kesimpulan.

​Maka, aku menambahkan satu kalimat pendek sebagai penutup di bawahnya.

​Singkatnya: Hidup saya, tetap milik saya.

​Aku meletakkan pena biru itu. Menatap kalimat tambahan yang baru saja kutulis dengan dada bergemuruh.

​Aku tidak tahu apa yang sedang menantiku enam bulan ke depan. Aku tidak tahu apakah Rayan Adristo akan merobek kontrak ini begitu melihat kelancanganku menambahkan syarat sepihak, atau apakah ia justru akan menandatanganinya.

​Aku juga tidak tahu apakah keputusan ini akan menyelamatkanku dari neraka buku merah Ibuku, atau justru menjerumuskanku ke dalam neraka jenis baru di lantai tiga puluh Menara Adristo.

​Tapi aku sudah tidak punya pilihan lain. Mundur berarti mati perlahan. Maju berarti melompat ke dalam jurang dengan mata tertutup, berharap ada tumpukan uang di bawah sana untuk menahan jatuhku.

​Tanpa keraguan sedetik pun lagi, aku menempelkan ujung penaku di atas garis kosong Pihak Kedua.

​Aku menggoreskan tanda tanganku di sana.

​Mengesahkan diriku sebagai istri sewaan dari seorang CEO sedingin es yang tidak kukenal sama sekali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!