NovelToon NovelToon
MEMBURU ATAU DIBURU

MEMBURU ATAU DIBURU

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Zombie
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Di tengah panas Kalimantan yang tak kunjung reda, Budi Santoso-seorang sales biasa di Palangkaraya menemukan kehidupan yang berubah drastis setelah sebuah “sistem” misterius muncul di kepalanya. Awalnya hanya alat untuk naik level dan bertahan hidup, sistem itu kini menjadi satu-satunya harapannya saat alam mulai bermutasi dengan kejam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Budi dan Rina masuk ke halaman rumah. Begitu pria kurus itu melihat pisau panjang Budi yang masih ada noda darah segar menempel di bilahnya, mukanya langsung pucat pasi. Dia mundur cepat, badannya menempel ke pintu, dan berteriak, “Mau apa kalian? Kami nggak punya duit!”

Budi mengerutkan kening. Dari reaksi orang itu, dia langsung paham situasi di desa ini pasti lebih kacau dari yang dibayangkan. Dia tersenyum tipis, coba tenangin, “Tenang aja, Pak. Kami bukan penjahat. Pisau ini cuma buat bela diri. Tanpa ini, kami nggak bakal bisa lolos dari bukit tadi. Kami ketemu belasan tikus mutan gede, kalau nggak ada pisau, sekarang kami udah jadi tulang putih di pinggir jalan.”

Pria kurus itu kelihatan kaget, jelas nggak sepenuhnya percaya, tapi dia mengangguk-angguk cepat. Saat itu, seorang ibu paruh baya keluar dari dalam rumah sambil megang pisau dapur. Dia langsung berteriak histeris begitu lihat Budi.

Budi mengerutkan kening lagi. Kenapa keluarga ini gampang banget panik? Bahkan ngomong baik-baik nggak mempan. Akhirnya dia bicara dengan suara dingin, “Saya nggak mau cari masalah. Cuma butuh nginep semalam, besok pagi langsung pergi. Nggak lebih dari itu. Suruh ibu berhenti teriak.”

Pria kurus buru-buru narik istrinya ke samping, bisik-bisik cepat di telinga. Tak lama, ekspresi istrinya berubah. Dia tersenyum dipaksain, “Untung suami bilang ada tamu. Masuk aja, duduk dulu.”

Dia bisik lagi ke istrinya, “Cepet siapin makan malam, tambah lauk ya. Aku nemenin mereka di sini.” Lalu dia balik ke Budi dan Rina, “Biar saya buatin teh dulu buat kalian.”

Ibu paruh baya lihat suaminya dengan tatapan khawatir, tapi akhirnya masuk ke dapur. Mereka bertiga masuk ke ruang tamu. Pria kurus bawa tiga gelas teh panas.

Budi diam-diam periksa tehnya pake insting tajamnya, pastiin nggak ada racun, baru minum. Dia bilang lagi, “Bapak nggak usah takut. Kami dari palangkaraya, lagi ke sini mau ketemu saudara. Pisau ini cuma buat jaga-jaga. Bapak pasti tahu sendiri sekarang di luar bahaya banget.”

“Iya, iya!” pria kurus jawab sambil ketawa kaku. Matanya sesekali lirik pisau Budi, tapi gerakannya kelihatan terkendali.

Budi lihat langit udah gelap gulita, tapi ruang tamu nggak ada lampu nyala. Dia aneh, tanya, “Di sini nggak ada listrik ya?”

“Kabelnya digigit tikus, udah tiga hari mati lampu. Belum ada yang dateng benerin,” jawab pria kurus hati-hati sambil senyum.

“Ada air nggak?” Rina tanya, badannya lengket keringat dan debu. Nggak enak tidur malam tanpa mandi.

“Ada, air dingin sama panas. Atapnya ada pemanas air tenaga matahari,” jawab pria itu.

Sepanjang malam, pria kurus tetep waspada. Budi coba ngobrol ringan, tapi lama-lama males. Akhirnya mereka bertiga cuma duduk diam minum teh.

Tak lama, makan malam siap.

Ibu paruh baya buru-buru taruh makanan di meja. Meski tambah dua lauk, makanannya sederhana banget. Cuma ada semangkuk daging, sisanya sayur-sayuran.

Ibu itu duduk, suasana awkward. Dia lihat suaminya, lalu bilang ke Budi dan Rina, “Silakan makan. Ini cuma makan malam sederhana, susah nyari sayur dan daging sekarang. Sayur-sayur ini tanam sendiri di belakang, masih segar. Yang daging itu daging anjing diasap. Kami potong beberapa hari lalu, masih bagus. Silakan dicoba.”

“Enak banget, Pak, Bu. Ini jauh lebih banyak dari yang biasa aku makan di Palangkaraya,” kata Budi sambil senyum sopan.

“Kenapa bunuh anjingnya? Kasihan…” Rina lihat semangkuk daging itu, mukanya sedih. Dia punya anjing di rumah, setiap dia pergi anjingnya ngikutin sampe jauh karena sayang banget. Lihat daging anjing, dia langsung ingat anjingnya sendiri.

Ibu paruh baya lihat muka Budi yang datar, lalu senyum dan jelasin, “Suami saya pelihara anjing itu dari kecil, tapi akhir-akhir ini banyak anjing liar gila di desa, nyerang orang. Kami takut kejadian buruk, jadi kami potong aja. Sekarang di desa ini udah nggak ada anjing lagi.”

Nggak heran sepanjang jalan tadi mereka nggak denger gonggongan sama sekali. Hewan peliharaan kayak gitu emang bisa jadi bahaya tersembunyi. Meski setia sama majikan, buat orang lain bisa ganas. Lagian ngasih makan anjing sekarang berat, makanannya banyak. Setelah dipotong, setidaknya dapet daging lumayan. Lebih hemat.

Budi lihat semangkuk daging anjing itu, tiba-tiba muncul info di benaknya. Mukanya sedikit berubah.

[Daging Anjing Mutasi Bumbu]

Bahan: Daging anjing bermutasi, Garam

Kelangkaan: Putih

Berat: 300 gram

Efek: Pemulihan cepat kelelahan, meningkatkan sistem kekebalan tubuh

Evaluasi: Varian daging anjing masak sederhana, mengandung jejak energi aktif.

Budi agak kaget. Makanan dari hewan mutan ternyata punya efek begini. Efeknya halus, biasa orang nggak sadar kecuali pake kemampuan identifikasi kayak dia. Kalau nggak, dia nggak bakal tahu. Anjing ini cuma level putih, mutasi terendah. Dia penasaran sama ular biru pucat yang pernah dia temuin dulu, efeknya pasti lebih kuat. Tapi dia nggak nyesel nggak lawan ular raksasa itu ularnya aja udah telan beberapa orang. Kalau dapet kesempatan makan, dia juga nggak mau coba. Lebih baik waspada aja.

Setelah ngobrol sebentar, suasana makin kaku.

Pasangan itu sesekali saling kedip mata, komunikasi diam-diam. Budi terus makan, pura-pura nggak lihat. Makan malam cepat selesai, langit udah gelap total.

Ibu paruh baya berdiri, senyum, “Nggak ada kamar di atas, jadi kalian tidur di kamar bawah aja ya? Saya rapikan sekarang, sekalian siapin tempat tidur.”

“Boleh,” Budi angguk. Dia tahu mereka waspada banget, jadi nggak mau bikin ribet lagi.

Ibu itu kelihatan lega. Senyumnya lebih natural, “Mas, ambilin dua pasang sandal sama lilin dong.” Lalu dia lihat tamu, “Kalau mau mandi, pake kamar mandi bawah aja.” Dari kata-katanya, kelihatan istri yang lebih dominan di rumah ini, suaminya malah pendiam.

Tiba-tiba Rina tarik lengan Budi. Budi agak aneh, tapi langsung jawab, “Bu, bisa tambah kasur lagi nggak? Kami bukan pasangan, jadi nggak enak tidur bareng.”

Ibu itu mengerutkan kening, “Cuma ada dua kasur di rumah. Gimana kalau tambah matras aja?”

“Bagus,” Budi angguk.

Tak lama, pasangan itu naik ke atas. Budi masuk kamar, kasih lilin ke Rina, bilang, “Kamu mandi dulu.”

Di luar gelap, plus lingkungan baru, Rina pegang lilin dengan tangan gemetar. “Atau… kamu mandi dulu aja?”

“Nggak usah takut,” Budi senyum, “Mau aku anterin ke kamar mandi?”

Rina tatap Budi garang, ragu lama, gigit bibir, lalu keluar kamar. Dia buru-buru masuk kamar mandi, tutup pintu rapat. Jantungnya berdegup kencang. Dia selalu takut film hantu, gampang kaget beberapa hari ini. Kadang malah nahan pipis tengah malam gara-gara takut ke kamar mandi. Apalagi setelah kejadian hari ini.

Pas Budi ada, dia nggak takut. Tapi sekarang sendirian, setiap detik terasa siksaan. Dia takut ada monster masuk. Dia buru-buru lepas baju, mandi kilat di bawah shower.

Pas mau pake baju lagi, dia ragu. Kebanyakan bajunya ketinggalan bareng tas, nggak ada yang bersih. Kaos dan rok masih oke, tapi celana dalamnya ada noda gelap di tengah. Mukanya panas ingat pas tadi di bahaya, hampir kencing ketakutan. Jijik banget kalau dipake lagi. Tapi kalau nggak pake, harus hati-hati biar rok nggak tersingkap.

Dia pake baju lagi, ngerasa dingin di bagian bawah karena nggak biasa tanpa celana dalam. Dia buru-buru keluar kamar mandi, balik ke kamar. Di dalam, Budi lagi lap pisau panjangnya dengan kain, fokus banget. Rina langsung ngerasa aman lagi, takutnya ilang.

“Kamu mandi cepet banget!” Budi taruh pisau pelan, masukin ke sarung.

“Udah selesai. Cepet balik ya!” Rina bilang, nggak mau sendirian.

Budi pasrah, “Bentar lagi. Tenang aja, nggak ada yang perlu ditakutin. Kalau ada yang masuk rumah, pasti lewat pintu depan. Aku denger langsung dateng.”

“Tapi aku takut!” Rina duduk di pinggir kasur, mukanya sedih. Tiba-tiba dia ingat nggak pake celana dalam, buru-buru tekan roknya, berdiri.

“Jangan mikirin yang nggak-nggak. Ketakutan itu biasanya orang bikin sendiri. Pikirin hal senang atau main game di kepala pas aku mandi,” kata Budi, lalu berdiri ke kamar mandi.

1
Jack Strom
Lanjut... 😁
Jack Strom
Mantap... Lanjut lagi!!! 😁
Jack Strom
Mantap... Lanjuuut!!! 😁
Jack Strom
Waktunya berburu... 😁
Jack Strom
Asah terus skillnya sambil bertahan hidup... 😁
Jack Strom
Asem... Kirain tadi yang namanya Jali itu manusia, eh ternyata seekor anjing... hahaha 😁
Jack Strom
Cih... Pura² jual mahal... 😁
Jack Strom
Eh... Blong??? 😁
Jack Strom
Hah??? 😁
Jack Strom
Bertahan... 😁
Jack Strom
Wow... Seram 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Chaos!!! 😁
Jack Strom
Lanjuuut... 😁
Jack Strom
Masih hmmm 🤔
Jack Strom
Hmmm??? 🤔
Jack Strom
Tekan dong... 😁
Jack Strom
Hmmm??? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Era gede²... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!