“Aku akan bantu ungkap perselingkuhan suamimu, tapi setelah itu, ceraikan dia dan menikahlah denganku.”
Sekar tak pernah menyangka kalimat itu keluar dari mulut adik iparnya, Langit Angkasa. Lima bulan menikah dengan Rakaditya Wiratama, ia tengah hamil dan merasa rumah tangganya baik-baik saja. Sampai noda samar di kemeja suaminya dan transfer puluhan juta rupiah ke rekening-rekening asing membuka satu per satu kebohongan yang selama ini tersembunyi.
Sekar harus memilih: bertahan dalam luka, atau menyetujui ide gila yang bisa menghancurkan semuanya.
Dan ketika balas dendam berubah menjadi pernikahan, siapa yang sebenarnya akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hashifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merah di tengah putih
Sekar duduk di ruang tunggu setelah proses pendaftaran selesai. Sementara Langit berdiri tak jauh darinya. Pria itu tampak sibuk berbicara di telepon dengan seseorang. Sesekali ia melirik ke arah Sekar yang asyik dengan ponselnya.
“Ibu Sekar …”
Sekar mendongak saat namanya dipanggil.
Langit menoleh. “Saya tutup dulu teleponnya, nanti kita bicara lagi,” ucapnya datar, lalu ikut beranjak ke arah pintu.
“Mas mau ngapain?” tanya Sekar, sedikit menghalangi.
“Aku ikut masuk. Suami kamu yang nyuruh,” jawabnya singkat.
Sekar hanya mendengus, lalu membiarkan pria itu ikut masuk meskipun sedikit risih. Bagaimanapun mereka bukan suami istri. Belum—lebih tepatnya.
“Wah, kali ini ditemani suami ya, Bu,” sapa salah seorang asisten dokter.
“Dia bukan suami saya.”
“Dia bukan istri saya.”
Keduanya kompak menjawab, membuat beberapa orang di dalam ruangan tersenyum kecil.
“Dia … kakak ipar saya. Suaminya menyuruh saya menemani pemeriksaan,” jelas Langit, kali ini terdengar sedikit canggung. Wajahnya samar memerah.
Sementara itu, Sekar sudah berbaring di brankar, bersiap menjalani USG. Ia menatap Langit penuh arti, memberi isyarat agar pria itu memalingkan wajah.
Langit hanya menaikkan alis, tidak mengerti.
Sang dokter yang tampaknya paham, tersenyum tipis. “Saya tutup tirainya sedikit, ya, Pak. Kalau Bapak mau lihat calon bayinya, bisa dari monitor sebelah,” ucapnya ramah.
Langit akhirnya mengangguk kaku.
Tak lama, dokter mulai mengoleskan gel ke perut Sekar, lalu menggerakkan alat transduser di atasnya. Beberapa detik kemudian, terdengar detak jantung bayi—cepat dan ritmis—disertai munculnya gambaran janin di layar.
“Assalamualaikum, Sayang. Say hi to Mama,” ucap dokter itu lembut, seolah menyapa bayi di dalam kandungan.
Sekar menatap layar itu dengan takjub. Ia semakin bertumbuh, semakin nyata.
Di balik tirai, Langit ikut menatap monitor itu. Ada sesuatu yang mencubit hatinya. Sekilas terlintas bayangan—ia berdiri di sana tanpa sekat, mendampingi Sekar sebagai seseorang yang lebih dari sekadar kakak ipar.
Pria itu menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan, seolah menepis pikirannya sendiri.
“Hai, Sayang … ini Mama,” bisik Sekar dalam hati. “Senang rasanya bisa lihat kamu, Nak.”
“Detak jantungnya bagus, Bu. Ini tangan, ini kaki. Wajahnya juga mulai terbentuk,” jelas dokter sambil menunjuk layar.
Sekar mengangguk pelan, matanya tidak lepas dari monitor.
“Berat badannya masih di bawah batas normal, ya. Sedikit kecil, tapi masih aman. Nanti bisa kita kejar.“
Setelah pemeriksaan selesai, Sekar duduk kembali sambil merapikan pakaiannya. Dokter menuliskan beberapa catatan sebelum kembali menatapnya.
“Mood dan emosi tolong dikontrol dengan baik, ya, Bu. Kondisi psikis sangat berpengaruh pada pertumbuhan bayi. Kalau ibunya happy, insya Allah bayinya juga ikut happy dan tumbuh dengan baik. Jadi, Ibu harus tetap bahagia.”
Sekar tersenyum tipis. “Iya, Dok.”
Ia menundukkan kepalanya.
Bagaimana saya bisa bahagia dok, kalau ayah dari bayi ini justru jadi sumber luka yang paling dalam?
Sementara di sudut ruangan, Langit hanya diam. Tatapannya sempat jatuh pada Sekar, menangkap sesuatu yang berusaha perempuan itu sembunyikan.
Amarah muncul di dalam hatinya. Bukan pada Sekar. Tapi pada seseorang yang bahkan tidak ada di ruangan itu.
***
Setelah menebus obat dan vitamin di apotek, keduanya beranjak pulang. Sepanjang perjalanan, Sekar hanya diam. Tatapannya kosong menembus jendela, mengikuti rintik gerimis yang mulai membasahi kaca mobil.
Entah kenapa, hatinya terasa tidak nyaman.
Seharusnya, memeriksakan kandungan terasa menyenangkan—bersama Raka. Melihat tumbuh kembang bayi mereka, mendengar detak jantung kecil itu. Tapi sekarang, semua terasa hambar.
“Jangan melamun. Ingat kata dokter tadi, emosinya dijaga.” Suara Langit memecah lamunannya tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
Sekar hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap keluar. Namun beberapa detik kemudian, matanya berbinar.
“Mas, stop!”
Langit refleks menginjak rem. “Kenapa? Perutmu sakit? Keram?”
Sekar menggeleng cepat. Senyumnya muncul, sedikit manja.
“Lapar. Boleh makan, nggak?”
Langit menghela napas lega. “Kita cari restoran di dekat sini.”
“Jangan … nggak mau makan nasi.” Sekar menunjuk ke arah pinggir jalan. “Tuh, ada seblak, mau itu.”
Langit menoleh. Sebuah warung seblak sederhana terlihat di sana. Pria itu sontak menggeleng keras.
“Nggak baik ibu hamil makan makanan seperti itu. Kita ke restoran saja, kamu boleh pilih apa yang kamu mau.”
“Tapi aku maunya itu, Mas. Kata siapa nggak sehat? Kan, ada sayurnya.”
“Iya, tapi ada mie, ada kerupuk, bumbunya juga pedas. Nggak sehat.”
“Buktinya aku sehat-sehat aja sering makan seblak,” balas Sekar tak mau kalah.
Langit menarik napas berusaha menahan kesabaran.
“Kamu lagi hamil, Sekar. Jangan sembarangan makan. Lagipula aku nggak mau Raka marah karena kamu makan sembarangan. Kita makan di tempat lain, atau kita pulang sekarang!”
Sekar diam. Tatapannya berubah. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku, tuh, ngidam, Mas. Kamu ngerti nggak, sih?” suaranya mulai bergetar. “Cuma seblak doang, bukan makan petasan. Kamu nggak peka banget.”
Ia mendengus kesal.
“Belum nikah aja udah kayak gini. Nanti kalau sama kamu, bisa kurus kering aku. Nggak boleh makan ini itu. Dasar kanebo!”
Langit menatapnya lama, lalu mendengus pelan.
“Sebenernya yang menghamili kamu siapa? Kamu yang hamil, kenapa aku yang harus repot?” gerutu Langit kesal sambil melepas sabuk pengamannya.
Sekar hanya memberengut. Hormon kehamilannya benar-benar membuatnya semakin manja dan gampang tersulut emosi.
“Ya sudah kalau nggak ikhlas. Aku juga bisa, kok, cari sendiri. Kamu pulang saja sana. Tugas kamu dari Mas Raka cuma nganterin aku ke dokter buat periksa, bukan buat nyari makanan.”
Sekar membuka pintu mobil Langit lalu turun sambil bersungut-sungut. Sementara pria itu hanya mendesah keras, menatap Sekar dari kaca spionnya.
Gerimis kecil membasahi baju Sekar, namun wanita itu tidak peduli. Ia berhenti di depan penjual seblak yang tak jauh dari sana.
“Mari, silakan, Neng …,” sapa penjual itu ramah.
Sekar tersenyum tipis. Ia mengambil piring kecil untuk memilih-milih isian. Kerupuk, mi instan, dan beberapa potong dumpling sudah masuk ke dalamnya. Namun ia begitu terkejut saat seseorang tiba-tiba merebut piringnya lalu mengembalikan kerupuk yang ada di sana.
Langit mengambil beberapa topping yang menurutnya lebih aman—tanpa kerupuk, tanpa mie—lalu menyerahkannya kepada penjual.
“Sambelnya satu sendok saja,” ucapnya tegas.
“Loh, nggak bisa gitu dong. Tiga sendok,” protes Sekar.
Langit menatapnya tajam. “Satu sendok atau nggak sama sekali!” ancamnya tegas membuat Sekar semakin geram.
Pria itu menatap pemilik warung.
“Pak, sambalnya satu sendok aja, ya. Maaf istri saya sedang hamil, nggak baik makan terlalu pedas. Terus jangan pakai penyedap ya, Pak. Minyaknya sedikit saja.”
“Astaghfirullahaladzim, Mas—“
“Nurut, atau kita pulang.”
Sekar langsung menghentakkan kaki, lalu duduk di kursi ujung dengan wajah ditekuk.
“Maaf, ya, Pak,” ucap Langit canggung.
“Nggak apa-apa, Mas. Wajar. Istri kalau lagi hamil, beuh ... pokoknya siap-siap aja kayak naik rollercoaster. Tiap hari ada aja yang bikin dag did dug,” ucap penjual dengan ramah membuat Langit tersenyum tipis.
Ia bergabung dengan Sekar dan duduk di depannya. Belum sempat ia bicara, penjual itu kembali bertanya.
“Mau minumnya apa, Neng?”
Sekar membuka mulut.
“S—”
“Es teh satu, Pak. Gula sedikit, es sedikit. Kalau ada, kasih jeruk nipis dikit.”
Sekar langsung menatapnya. Dari mana pria itu tahu?
“Tumben dipesankan es teh,” sindirnya. “Nggak sekalian air keran aja? Biar sehat. Tanpa gula, tanpa pengawet, tanpa rasa, tanpa bahagia.”
Langit tak menjawab, ia hanya tersenyum kecil. “Jangan marah-marah terus. Ibu hamil harus selalu bahagia.”
“Ya kamu yang bikin kesel!” sergah Sekar cepat.
Ia mendengus, lalu menatap Langit tajam.
“Lagian pede banget bilang kita suami istri. Jangan ngaku-ngaku, Pak Dosen. Saya masih istri orang.”
Langit tidak langsung menjawab. Tatapannya tenang.
“Tapi kamu juga calon istriku.”
Sekar terdiam.
“Jadi nggak salah, kan, kalau aku nyebut kamu istri?” lanjutnya pelan. “Toh cepat atau lambat kita menikah.”
Deg. Sekar mati kutu.
“Serah, deh,” gumamnya lagi.
Entah kenapa percakapan mereka mulai mencair. Bukan hangat, tapi jarak itu mulai luruh. Meskipun sering terjadi perdebatan diantara mereka. Tapi entah kenapa, saat Langit menyebut calon istri membuat hati Sekar berdesir halus.
***
Suasana rumah Raka tampak ramai dan meriah. Dekorasi serba putih menghiasi setiap sudut ruangan untuk acara pengajian empat bulanan kehamilan Sekar. Para tamu mulai berdatangan, memenuhi ruang tamu yang luas. Mereka duduk rapi di atas karpet permadani yang telah disiapkan.
Sekar tampak anggun dalam balutan gamis putih gading dengan aksen bunga kecil berwarna merah muda di bagian lengan. Wajahnya terlihat cerah, senyumnya terjaga sempurna.
Di sampingnya, Ayunda duduk dengan penuh kebahagiaan. Tangannya tak lepas menggenggam tangan menantunya itu.
“Mama sangat bahagia melihat kalian berdua, Nak,” ucapnya lembut. “Raka sangat mencintai kamu. Mama bersyukur untuk itu. Dan kamu menantu yang baik, Mama bangga punya kamu, Sekar.”
Sekar tersenyum hangat. Ia merangkul Ayunda, menyandarkan kepalanya pelan.
“Sekar juga beruntung, Ma. Dapat mertua yang secantik dan sebaik Mama.“
Ayunda tertawa kecil, menepuk tangan Sekar dengan sayang.
Di sisi lain, Bagas tampak sibuk hilir mudik memastikan semua berjalan lancar. Sementara Raka berdiri di dekat pintu, menyambut para tamu yang terus berdatangan tidak hanya tetangga sekitar namun juga beberapa kolega penting.
Senyumnya terpasang rapi. Senyumnya terpasang rapi, ramah menyiratkan sosok suami sempurna di hadapan semua orang.
Namun, sejurus kemudian matanya membelalak seketika. Seorang perempuan turun dari mobil mewah yang baru saja berhenti di depan rumah.
Gaun merah marun yang dikenakannya kontras dengan nuansa putih di dalam rumah. Mencolok dan terlihat berani hingga mencuri perhatian. Beberapa tamu mulai berbisik pelan.
Raka menelan ludah. “Anita …”
gile nih ulet bulu ya kali bikin rusuh dipengajian 4 bulan an
bang Langit kau dimana ih lagi sibuk ama mahasiswa mu kah😂
ap mungkin foto Kaina Raka🙄
ish kebiasan si othor😂