NovelToon NovelToon
Anomali Hati Di Suhu Minus

Anomali Hati Di Suhu Minus

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / CEO / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:729
Nilai: 5
Nama Author: Ella

"Di Perusahaan ini, saya adalah hukum. Hukum tidak mengenal kata MAAF" Adrian Bramantyo.

Adrian adalah CEO dingin yang hidup seperti robot. Kesalahan sekecil apapun adalah tiket menuju pemecatan dan berakhir menjadi pengangguran di black list semua perusahaan. Namun saat sistem logistik bernilai miliaran rupiah lumpuh, seorang admin gudang yang berantakan justru muncul sebagai penyelamat dengan buku catatan kumal yang dimilikinya.

Gisel Amara, gadis pemberani yang hobi mendumel, mendadak ditarik paksa menuju lantai 40 menjadi sekertaris pribadi Adrian yang merupakan "Beruang Kutub".

Akankah Gisel bertahan di ruangan bersuhu minus tanpa beku?
Atau Gisel yang akan mencairkan hati sang CEO yang sudah lama membeku di titik Minus?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perkara Jempol Kaki

Di ruang rapat eksekutif yang didominasi dinding kaca dan meja marmer hitam panjang, suasana terasa sangat tegang. Para investor dari Seoul sudah duduk rapi dengan setelan jas mereka yang kaku, sementara Adrian berdiri di dekat jendela besar, sesekali melirik jam tangan Patek Philippe-nya dengan raut wajah yang mulai tidak sabar.

Lalu, terdengar suara ketukan sepatu yang ritmis di koridor marmer. Tuk... tuk... tuk... Mantap, tajam, dan berwibawa.

Pintu jati besar itu terbuka perlahan. Adrian membalikkan badannya, siap untuk memberikan teguran dingin karena keterlambatan asistennya. Namun, kata-kata yang sudah di ujung lidah itu mendadak menguap begitu saja.

Gisel melangkah masuk.

Adrian tertegun, matanya tidak berkedip sedikit pun. Napasnya tertahan di tenggorokan. Ia melihat Gisel yang berbeda. Blazer charcoal itu membentuk siluet tubuh Gisel dengan sempurna, memberikan kesan profesional yang sangat mahal. Rambutnya yang biasa dikuncir asal-asalan kini jatuh bergelombang di bahunya. Dan yang paling membuat Adrian terpaku adalah cara Gisel berdiri.

Berkat bantuan "paku" tujuh senti pilihan Budi, Gisel tampak lebih tinggi, kakinya terlihat jenjang, dan dagunya terangkat dengan penuh percaya diri.

Gisel melihat Adrian yang bengong, ia tersenyum tipis memamerkan gradasi lipstik merahnya yang mematikan.

"Mohon maaf atas keterlambatan saya, Pak Adrian. Ada sedikit penyesuaian teknis pada... 'peralatan tempur' saya."ucap Gisel.

Adrian masih mematung. Matanya menyusuri penampilan Gisel dari ujung kepala sampai ke ujung sepatu pointed toe yang mengkilap. Ia tidak menyangka bahwa sekretaris yang biasanya bau debu gudang bisa bertransformasi menjadi wanita yang aura kecantikannya sanggup membungkam seisi ruangan.

Adrian berbisik sangat pelan, hampir tidak terdengar oleh orang lain "Gisel... kamu beneran mau bikin saya serangan jantung pagi ini?"

Gisel mendekat untuk meletakkan tablet dokumen di meja, berbisik balik dengan nada jahil "Gimana, Pak? Masih mau bahas sepatu kets saya yang bau oli tadi?"

Adrian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berdeham keras untuk menetralkan kegugupannya, lalu menoleh ke arah para investor Korea yang sedari tadi juga ikut terpaku menatap Gisel.

Melihat tatapan kagum dan sedikit menggoda dari para investor pria itu terhadap Gisel, sisi protektif Adrian langsung bangkit. Ia segera menarik kursi di sampingnya kursi yang paling dekat dengan posisinya.

Suara Adrian kembali berat dan otoriter "Silakan duduk, Nona Gisel. Mari kita mulai rapatnya sekarang. Dan Tuan-tuan... perkenalkan, ini Gisel Amara, tangan kanan saya yang paling tajam. Jadi, saya harap kalian bisa fokus pada presentasinya, bukan pada asisten saya."

Adrian sengaja meletakkan tangannya di sandaran kursi Gisel saat wanita itu duduk, memberikan sinyal kepemilikan yang sangat jelas kepada semua orang di ruangan itu.

**

Suasana di ruang rapat mendadak berubah sedikit "gerah" ketika Mr. Park, salah satu investor muda dari Seoul yang terkenal flamboyan, terus-menerus mencuri pandang ke arah Gisel. Bukannya fokus pada grafik pertumbuhan aset di layar, ia justru lebih sibuk memperbaiki dasinya sambil melemparkan senyum miring.

Mr. Park berbisik kepada rekannya dalam bahasa Korea, mengira tidak ada yang mengerti, sementara matanya menyapu penampilan Gisel dari bibir merah hingga ke sepatu hak tingginya.

Mr. Park (Dalam bahasa Korea, nada

 meremehkan) "Wah, asisten Adrian ini cantik sekali. Bibirnya merah menantang. Sayang sekali dia cuma pajangan untuk mempermanis ruangan. Paling-paling dia cuma tahu cara pesan kopi, bukan cara hitung valuasi."

Adrian, yang sedikit mengerti bahasa Korea dasar, rahangnya langsung mengeras. Ia baru saja hendak angkat bicara ketika Gisel memberikan kode halus dengan sentuhan tangan di lengannya sebuah isyarat agar Adrian tetap tenang.

Gisel berdiri dengan anggun, menyeimbangkan tubuhnya di atas stiletto tujuh senti itu tanpa goyah sedikit pun. Ia menekan tombol remote presentasi, menampilkan tabel data logistik yang sangat rumit.

Gisel dengan Suaranya jernih, tegas, dan penuh otoritas "Maaf memotong lamunan Anda, Mr. Park. Tapi sepertinya Anda terlalu fokus pada 'estetika' bibir saya sampai melewatkan poin krusial di halaman 42 laporan distribusi."

Seluruh ruangan mendadak hening. Mr. Park tersentak, wajahnya memerah karena tertangkap basah.

"Mari kita bahas angka aslinya. Jika Anda menganggap saya hanya 'pajangan', mungkin Anda bisa menjelaskan mengapa biaya dwelling time di pelabuhan Busan meningkat 12% bulan ini? Padahal, dengan optimasi rute logistik yang saya susun menggunakan algoritma Linear Programming $f(x) \= cx$, kita bisa menekan biaya operasional sebesar $1.500.000 per kuartal."

Gisel melangkah mendekat ke arah Mr. Park, menatapnya tajam tepat di mata.

"Bibir merah ini bukan untuk mempermanis ruangan, Tuan Park. Bibir ini ada di sini untuk mendikte Anda bahwa perusahaan kami tidak butuh investor yang hanya pandai menilai lipstik, tapi investor yang paham bahwa efisiensi logistik adalah nadi dari profit Anda." Tambah Gisel

Mr. Park bungkam seribu bahasa. Ia menunduk, pura-pura sibuk membolak-balik berkasnya yang sebenarnya sudah ia hafal. Rekan-rekannya yang lain mulai berbisik kagum, menyadari bahwa wanita di depan mereka adalah "otak" di balik operasional Bramantyo.

Adrian yang duduk di samping Gisel, menyandarkan punggungnya ke kursi sambil melipat tangan. Senyum bangga yang sangat lebar tersungging di wajahnya yang biasanya kaku.

Adrian menatap Mr. Park dengan tatapan 'Jangan Macam-Macam' "Ada pertanyaan lagi, Mr. Park? Atau Anda butuh asisten saya untuk menjelaskan ulang rumus valuasinya dalam bahasa yang lebih... sederhana agar Anda bisa paham?"

Mr. Park tergagap "T-tidak... Penjelasan Nona Gisella sangat... sangat impresif. Mohon maaf atas kelancangan saya."

**

Pintu jati besar itu akhirnya tertutup rapat setelah investor terakhir keluar dengan wajah pucat karena "pelajaran logistik" dari Gisel. Begitu sunyi melanda ruangan, aura "Dewi Bisnis" yang tadi terpancar dari Gisel mendadak kempes.

"ADUH! MAK... AMPUN!"

Tanpa mempedulikan martabatnya sebagai sekretaris elit, Gisel langsung ambruk ke kursi marmer terdekat. Tangannya dengan gerak cepat menyambar tumitnya, lalu stiletto tujuh senti itu ia tendang sembarang arah sampai salah satunya menabrak kaki meja.

Gisel meringis sambil memijat jempol kakinya yang memerah "Gila ya... ini mah bukan sepatu, ini alat penyiksaan zaman penjajahan! Pak Adrian, kalau besok Bapak nyuruh saya pake ini lagi, saya mendingan resign jadi tukang parkir aja!"

Adrian tidak langsung berdiri. Ia hanya menatap Gisel dari kursinya, matanya masih menyimpan sisa-sisa kekaguman dari adegan "pembantaian" Mr. Park tadi. Ia perlahan bangkit, berjalan mendekati Gisel yang sedang sibuk mengaduh.

"Tadi itu... sangat luar biasa, Gisel. Kamu membuat Mr. Park kelihatan seperti anak magang yang salah masuk ruangan." Ucap Adrian

"Ya itu bayarannya mahal, Pak! Harganya adalah nyawa jempol saya! Liat nih, merahnya udah ngalahin warna lipstik saya!" Ucap Gisel.

Tiba-tiba, Adrian melakukan sesuatu yang tidak pernah terbayangkan oleh siapa pun di gedung Megah Perkasa ini. Sang CEO yang biasanya ogah bersentuhan dengan debu itu perlahan berlutut di lantai marmer, tepat di depan kaki Gisel yang telanjang.

Gisel seketika membeku, matanya melotot "P-Pak?! Bapak ngapain?! Jangan aneh-aneh ya, nanti kalau ada yang liat saya dikira lagi dandanin sepatu Bapak!"

Adrian tanpa mempedulikan protes Gisel, ia meraih pergelangan kaki Gisel dengan lembut "Diam sebentar. Ini bentuk apresiasi saya karena kamu sudah menyelamatkan muka perusahaan dan muka saya di depan investor tadi."

Tangan Adrian yang hangat mulai memijat lengkungan kaki Gisel dengan gerakan yang sangat pelan namun mantap. Gisel yang tadi hendak berontak mendadak terdiam. Rasa hangat menjalar dari telapak tangan Adrian ke seluruh tubuhnya, membuat rasa pegalnya seolah menguap.

Adrian mendongak, menatap Gisel dengan tatapan yang sangat tulus "Sakit?"

Wajah Gisel memerah padam, lebih parah dari lipstiknya "E-nggak... eh, dikit. Tapi Pak, tangan Bapak itu tangan mahal buat tanda tangan kontrak triliunan, bukan buat mijet kaki anak logistik..."

Adrian tersenyum tipis, jarinya menekan titik syaraf yang tepat di tumit Gisel "Kontrak triliunan itu nggak ada artinya kalau orang yang bikin saya menang nggak bisa jalan. Mulai sekarang, kalau ada rapat besar, kamu boleh bawa sepatu kets kamu di dalam tas. Pakai high heels ini cuma pas masuk ruangan, setelah duduk... silakan lepas."

"Beneran, Pak?"ucap Gisel

"Beneran. Asalkan... kamu tetap jadi 'SINGA' saya yang galak tadi. Saya suka cara kamu mendikte Mr. Park. Sangat... seksi." Ucap Adrian

Gisel hampir saja tersedak udara sendiri. Ia menarik kakinya pelan, merasa jantungnya berdetak lebih kencang daripada saat ia presentasi tadi.

"Bapak jangan gombal ya! Inget, saya masih punya blog anonim. Kalau Bapak mulai macem-macem, saya bakal tulis judul: 'Tips Menghadapi Bos yang Tiba-Tiba Jadi Tukang Urut Panggilan'!"

Adrian tertawa yang benar-benar renyah dan tulus. Ia tetap memberi kenyamanan melakukan pijatan di kaki Gisel.

**

Suasana intim yang jarang terjadi di ruang rapat itu mendadak terganggu oleh sebuah suara kecil:

 Kriet...

Pintu jati besar yang seharusnya tertutup rapat itu sedikit terbuka, menyisakan celah sempit seukuran mata manusia. Di balik celah itu, dua kepala bertumpuk seperti rak sepatu yang kelebihan muatan. Di bawah ada Hadi dengan kacamata yang melorot, dan di atasnya ada Budi yang sedang menahan napas sampai mukanya biru.

Budi berbisik sangat pelan, tapi tetap dengan nada kemayu yang melengking

 "Aduh, makkk... liat deh, tangan Pak Adrian yang biasanya megang pulpen emas sekarang megang jempol kaki Gisel! Itu jempol apa berlian, dicium-cium gitu?"

"Ssttt! Diem, Pak Budi! Jangan berisik! Nanti kalau ketahuan, cicilan mobil saya beneran hangus!" ucap Hadi.

"Ih, yey mah urusan mobil mulu! Liat tuh, tatapannya Pak Adrian... udah kayak es krim kena matahari Jakarta, meleleh mampus! Gisel juga, gayanya sok nolak tapi kakinya anteng aja dipijet..." ucap Budi

Tiba-tiba, mata tajam Adrian menangkap bayangan aneh di celah pintu. Ia tidak melepaskan kaki Gisel, tapi suaranya mendadak berubah menjadi frekuensi "Kulkas Sub-Zero" yang membekukan ruangan.

Adrian tanpa menoleh, suaranya berat dan bergema "Hadi... Budi... kalau kalian tidak segera masuk dan menjelaskan apa yang kalian lakukan, saya pastikan besok kalian berdua yang bertugas memijat aspal di parkiran gudang seharian."

Pintu terbuka lebar dengan sangat canggung. Hadi dan Budi masuk dengan langkah kaku, wajah mereka pucat pasi seperti orang habis melihat penampakan, tapi Budi masih sempat-sempatnya membetulkan tatanan rambutnya.

"Anu... Pak... ini... tadi saya cuma mau nanya, apakah kopinya perlu ditambah gula atau... atau Bapak mau saya pesankan tukang urut profesional?" Ucap Hadi

Budi langsung nyerocos dengan gaya seribu alasan "Iya, Pak! Maksudnya Mami Budi tuh, tadi saya liat Gisel jalannya udah kayak pinguin keseleo, jadi saya mau nawarin plester cadangan. Eh, nggak taunya Bapak sudah turun tangan... eh, turun kaki... maksudnya, sudah melayani dengan paripurna!"

Gisel langsung menarik kakinya dari tangan Adrian dengan gerakan secepat kilat, wajahnya panas sampai ke telinga "Mami Budi! Mas Hadi! Jangan mikir aneh-aneh ya! Ini... ini cuma P3K darurat! Pak Adrian cuma... cuma ngecek apakah sepatu kantor ini layak atau harus dibakar!"

Adrian berdiri dengan tenang, merapikan jasnya seolah tidak terjadi apa-apa. Ia menatap Hadi dan Budi bergantian dengan tatapan yang membuat mereka berdua ingin menghilang ke dalam lubang semut.

"Kalian sudah melihat semuanya?" ucap Adrian tenang

Hadi dan Budi kompak mengangguk cepat, lalu menggeleng lebih cepat lagi "Nggak, Pak! Kami buta sesaat tadi!" ucap Hadi hampir bersamaan dengan Budu

"Bagus. Kalau sampai ada satu kata pun bocor ke grup WhatsApp karyawan, atau masuk ke blog anonim siapa pun..." (Adrian melirik Gisel sekilas) "...saya pastikan kalian berdua akan jadi asisten Mr. Park di Korea. Dan saya dengar dia sangat suka memaki bawahannya."

Budi mendadak menutup mulutnya rapat-rapat "Eimmm... siap, Pak Kulkas! Eh, Pak Bos! Bibir saya dikunci pakai gembok tronton!"

Adrian melangkah meninggalkan Hadi, Budi, dan Gisel di ruangan rapat menuju ruangannya.

**

Kantin karyawan Bramantyo Grup pukul 13.00 WIB benar-benar mendidih. Bukan karena suhu udara, tapi karena dua "agen rahasia" Budi dan Hadi sudah duduk di pojok paling strategis dengan sepiring batagor dan es teh manis.

Budi sudah dalam posisi "siaga satu", badannya condong ke depan, sementara Hadi berkali-kali menengok ke kanan-kiri memastikan tidak ada mata-mata Adrian.

Budi sambil mengaduk es teh dengan gaya centil yang menggebu-gebu "Hadidit... yey liat nggak tadi? Itu tangan Pak Adrian yang asuransinya milyaran, yang biasa megang pulpen emas buat tanda tangan kontrak, tadi megang jempol Gisel! Jempol, Had! Bukan cuma tumit, jempolnya dipijet manja!

Hadi menelan batagor dengan susah payah "Ssttt! Bud, pelanin suara kamu ya! Kalau ada intel Pak Adrian denger, kita berdua besok beneran dikirim ke Korea jadi asisten Mr. Park yang galak itu!"

"Aduuuh, bodo amat! Ini mah berita Headline! Eike liat sendiri tadi, tatapan Pak Adrian ke Gisel tuh udah nggak kaku lagi. Itu mah bukan tatapan Bos ke Sekretaris, itu mah tatapan 'Aku Ingin Memilikimu Tapi Aku Gengsi'!" ucap Budi dengan gaya khasnya.

"Tapi asli ya, Bud... saya merinding. Pak Adrian yang biasanya kalau ada kotoran dikit di meja langsung panggil OB, tadi rela berlutut di lantai marmer. Berlutut! Saya kerja sama dia sepuluh tahun, boro-boro dipijetin, saya telat lima menit aja udah kayak mau dihukum mati." Ucap Hadi memelas.

Budi menaruh sendoknya dengan bunyi klang yang dramatis, matanya menyipit penuh analisa.

"Yey tau nggak teorinya apa? Ini namanya 'Sindrom Kulkas Meleleh'. Gisel itu ibarat seblak level 15 yang ditaruh di dalem kulkas. Lama-lama itu kulkas kepedesan, panas, terus cair deh! Liat aja tadi pas Gisel masuk ruang rapat pake lipstik 'Berani Mati' saran dari eyke... Pak Adrian langsung lupa cara napas! "

"Iya juga sih. Terus tadi pas rapat, Gisel ngebantai Mr. Park pake data logistik... Pak Adrian bukannya marah asistennya motong pembicaraan, malah senyum-senyum bangga kayak bapak-bapak liat anaknya dapet rangking satu di sekolah." Tambah Hadi mendadak jadi kang gosip.

"Fix! Eyke ramalin ya, nggak sampe sebulan lagi, Gisel bukan cuma pegang jadwal Pak Adrian, tapi pegang buku nikahnya juga! Tadi pas Pak Adrian mijet, eyke liat dia kayak lagi nimbang-nimbang... ini jempol mau dipakein cincin apa dipakein plester ya? aaaaaaaarrrrrrrrr" ucap Budi sambil menghentakkan kakinya dengan gemas.

Tiba-tiba, suasana kantin sedikit sunyi. Gisel masuk dengan langkah santai, mengenakan blazer mahalnya tapi bawahnya... sepatu kets buluk warna abu-abu yang legendaris itu.

Budi berbisik histeris "Tuh! Tuh liat! Dia boleh pake kets lagi! Pasti itu 'hadiah' abis pijet tadi! Pak Adrian beneran udah bertekuk lutut di bawah sol sepatu kets Gisel!"

Hadi cepat-cepat menunduk, pura-pura sibuk makan batagor "Diem, Budi! Gisel arah sini! Pasang muka polos, pasang muka polos!"

Gisel menghampiri meja mereka dengan muka lelah tapi segar, langsung menarik kursi di sebelah Budi.

"Woi! Kenapa muka kalian kayak orang abis liat hantu? Lagi ngomongin saya ya?" ucap Gisel dengan suara lantang.

Budi menampilkan senyum manis yang sangat mencurigakan "Eh, sayangkuh Gisel... enggak kok, ini tadi lagi bahas... bahas dwelling time pelabuhan Busan! Iya kan, Had? Penting banget itu buat masa depan bangsa!"

Gisel menyipitkan matanya, menatap Hadi yang masih berpura-pura sibuk mengaduk sisa bumbu batagornya dengan wajah yang dibuat seserius mungkin. Ekspresi Hadi dari sosok asisten CEO yang kaku menjadi korban cicilan mobil benar-benar tidak meyakinkan bagi Gisel.

Gisel melipat tangan di dada, menatap Hadi datar "Mas Hadi... jangan coba-coba 'logistik-washing' di depan gue ya. Sejak kapan kalian peduli sama dwelling time di Busan? Terakhir kali saya cek, kalian bahkan nggak tau bedanya kontainer 20 feet sama 40 feet kalau nggak saya kasih label!"

Hadi tergagap, wajahnya makin pucat "Eh... itu... Mbak Sel... anu, Pak Adrian kan mau ekspansi... jadi saya sebagai asisten harus visioner, ya kan Bud?"

Budi sambil sibuk touch-up bedak di cermin kecilnya "Aduh Hadidit, bohongnya yey kurang estetik! Gisel itu otaknya udah kayak GPS gudang, mana bisa yey kibulin pake istilah pelabuhan Busan. Bilang aja yey tadi lagi bahas 'Operasi Jempol Kaki' tapi takut ketahuan CCTV kantor!"

"Nah! Ngaku juga kalian. Busan itu cuma tameng biar kalian nggak ngerasa berdosa pas gosipin bos sendiri, kan? Lagian logikanya gini, kalau emang bahas Busan, kenapa muka kalian tadi panik pas saya dateng? Harusnya kan kalian langsung buka tablet, bukan malah pura-pura keselek batagor!" tandas Gisel.

Hadi akhirnya menjatuhkan sendoknya ke piring dengan bunyi clank yang pasrah. Ia menyeka keringat di dahinya dengan tisu makan yang sudah lecek.

"Oke, oke! saya nyerah! Mbak Gisel, kamu emang terlalu pinter buat jadi sekretaris, kamu cocoknya jadi detektif intelijen! Saya emang nggak bahas Busan. Saya cuma takut... saya beneran takut kalau Pak Adrian tau kita bertiga satu geng, dia bakal mikir saya yang ngeracunin otak kalian buat jadi pembangkang!" ucap Hadi.

Gisel tertawa sinis tapi sayang "Mas... Pak Adrian itu udah tau kita semua 'satu spesies'. Dia nggak butuh Busan buat mecat kalian. Dia cuma butuh satu alasan: kalau kopi dia kurang panas lima derajat aja. Jadi mending kalian jujur, tadi Mami ngomongin apa lagi soal saya?"

Budi langsung nyamber "Eyke cuma bilang, Sela sayang... kalau Busan itu jauh, tapi jempol kaki yey itu deket banget di hati Pak Adrian! Itu doang kok!"

Gisel terdiam sejenak lalu melakukan pembelaan diri.

"Mami! Dengerin saya pake logika logistik ya! Pak Adrian itu mijet kaki saya bukan karena 'meleleh' atau 'cinta mati'. Itu namanya Manajemen Aset Operasional! Dia tau kalau asistennya pincang, jadwal dia berantakan. Dia cuma nggak mau rugi waktu buat nyari sekretaris baru yang harus diajarin dari nol lagi!" Gisel membela diri.

Budi memutar bola matanya 360 derajat, tangan kirinya menopang dagu "Alasan! Manajemen aset kok pake pegang-pegang jempol? Itu mah namanya Manajemen Hati Berbalut Profesi, Sela! Kalo cuma urusan jadwal, dia tinggal panggil OB buat bawain kompres air anget, bukan turun tangan sendiri sambil berlutut kayak pangeran nyari sepatu kaca!"

Hadi berbisik panik, badannya gemetar)"Mbak Sel... Budi... pelanin dikit napa? Itu meja sebelah udah mulai bisik-bisik. Kalau Pak Adrian denger istilah 'Pangeran Jempol' dari mulut Budi, kita semua bakal di-audit sampai ke akar-akarnya!"

"Nggak, Mas Hadi. Kalian tuh terlalu banyak nonton drakor! Pak Adrian itu orangnya hitung-hitungan. Tadi itu dia merasa bersalah karena maksa saya pake stiletto tujuh senti yang bikin kaki saya lecet. Dia nggak mau kena tuntutan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja). Jadi, pijat itu adalah bentuk 'Kompensasi Non-Tunai' supaya saya nggak nuntut perusahaan!" ucap Gisel masih dengan pemikiran logis.

Budi mencibir, bibirnya miring ke kanan "Kompensasi non-tunai pala lo peyang! Gisel, sayangku... Singa yang pinter tapi buta asmara... Cowok sekelas Adrian Bramantyo itu punya gengsi setinggi langit ketujuh. Dia nggak bakal sudi megang kaki orang kalau orang itu nggak 'spesial' di matanya. Yey liat nggak tadi pas dia liat bibir yey? "

Hadi makin pucat, memegang lengan Gisel "Mbak Sel, udahlah... ikutin aja kata Budi. Kamu jangan terlalu logis, nanti malah Pak Adrian yang baper sendirian. Tapi plis, jangan bahas ini di sini. Saya berasa lagi duduk di atas bom waktu yang detonatornya ada di tangan Budi!"

"Pokoknya tetep nggak mungkin! Dia itu Kulkas, Mami. Es batu nggak bisa jatuh cinta sama api, yang ada es batunya ilang, apinya padam. Kita itu beda kasta, beda frekuensi—" ucap Gisel mantap

Budi memotong dengan satu telunjuk di bibir "Ssttt! Beda frekuensi tapi tadi pas dipijet yey merem-melek kan? Ngaku yey! yey juga baper kan sebenernya?"

Wajah Gisel mendadak merah padam, gagal memberikan penjelasan logis "Itu... itu karena titik syarafnya pas! Refleks biologis itu mah!"

Hadi pasrah, menyandarkan punggung "Ya Tuhan... lindungilah cicilan mobilku dari perdebatan dua orang keras kepala ini..."

Hening sejenak di meja kantin itu. Gisel dan Budi secara sinkron menoleh ke arah Hadi dengan ekspresi yang sangat konyol Gisel dengan alis terangkat sebelah dan sisa sambal kacang di sudut bibir, sementara Budi dengan mata menyipit tajam dan bibir yang mengerucut seolah sedang menimbang-nimbang kadar "kewarasan" rekan kerjanya itu.

“Mas Hadi... Mas denger nggak barusan? Mas kedengeran kayak radio rusak yang cuma punya satu siaran: Cicilan, Cicilan, dan Cicilan."

"Iya, Hadidit! Masa depan bangsa dan negara lagi dipertaruhkan lewat jempol kaki Gisel, lo malah sibuk mikirin leasing? Mana wibawa lo sebagai asisten tangan kanan yang biasanya sedingin kulkas dua pintu?"

Hadi, yang tadinya duduk tegak dengan bahu kaku persis fotokopi-an Adrian, mendadak "kempes". Bahunya merosot, kepalanya tertunduk lesu di atas piring batagor yang sudah tinggal bumbunya saja. Aura misterius asisten CEO-nya luntur seketika.

Suara Hadi serak dan dramatis "Kalian nggak ngerti... Pak Adrian itu kalau lagi baper, dunia indah. Tapi kalau dia lagi patah hati atau tersinggung, yang kena bukan cuma Gisel, tapi BI Checking saya! Kalau saya dipecat gara-gara kalian keceplosan gosip, mobil saya bakal ditarik, terus saya mau kerja naik apa? Naik gerobak logistik?!"

Gisel dan Budi saling lirik, lalu kembali menatap Hadi dengan wajah yang makin konyol kali ini ditambah tatapan kasihan yang dibuat-buat.

Gisel menepuk-nepuk bahu Hadi dengan telapak tangan yang masih bau kerupuk "Duh, kasian banget asisten kesayangan kita. Tenang, Mas. Kalau kamu dipecat, nanti saya rekomendasiin ke Bang Rendi buat jadi kernet truk pengangkut ban bekas. Gajinya cukup kok... buat bayar parkir mobil kamu yang ditarik itu."

Budi menimpali sambil mengibas-ngibaskan serbet "Atau gini aja, Had. Nanti kalau mobil yey ditarik, yey tebeng eyke aja naik motor matic eyke yang stikernya bunga-bunga. Tapi syaratnya satu: yey harus dandan jadi asisten yey, bukan asisten Pak Adrian!"

Hadi mengerang, menutup wajahnya dengan kedua tangan "Ya Tuhan... kenapa saya harus terjepit di antara bos yang mulai bucin dan dua orang sinting dari departemen logistik ini?"

Ketegangan yang tadinya menyelimuti Hadi akhirnya mencair jadi tawa pasrah. Ia sadar, tidak ada gunanya bersikap kaku di depan Gisel dan Budi yang urat malunya sudah putus di gudang.

"Oke, oke! Gue nyerah! Saya bakal tutup mulut soal insiden 'Pijat Jempol' itu demi keselamatan asuransi jiwa saya. Tapi janji ya, Mbak Sel... kalau Pak Adrian nanya kenapa saya telat balik ke ruangan, bilang aja saya lagi... lagi nyari data logistik yang 'sangat mendalam' di kantin!" ucap Hadi

"Beres, Mas! saya bakal bilang kamu lagi audit jumlah tusuk sate di sini demi efisiensi perusahaan!" ucap Gisel membuat Hadi melepas nafas kasar.

“Benar-benar nih Ratu Gudang” ucap Hadi lemah, membuat Gisel dan Budi tertawa.

Gisel berdiri, merapikan blazer charcoal-nya yang tetap elegan meski ia memakai sepatu kets buluk di bawahnya.

"Dengerin ya kalian berdua. Hapus itu teori Busan, hapus teori jodoh, apalagi teori cincin di jempol. Kita balik ke kantor. Kalau Pak Adrian nanya, bilang kita lagi rapat koordinasi... titik. Dan Mas Hadi, tenang aja, cicilan mobil kamu aman selama kamu nggak keceplosan bilang saya 'seksi' pas bantai investor Korea tadi."

Hadi Langsung tegak lagi "Loh? Emang kamu tau Pak Adrian bilang gitu?"

Gisel melangkahkan kakinya terhenti sejenak, wajahnya memerah "GUE CUMA NEBAK! Udah, ayo balik!"

Hadi mengusap wajahnya dengan kasar sedangkan Budi tertawa menatap tingkah Gisel yang konyol dan Hadi yang kaku.

To be continue

1
TriAileen
mami Budi ampun dah🤣
TriAileen
gitu kan mantap. ada yang berani ma Bos ny
Mom's VB: Terima kasih masih setia dengan author 🙏
total 1 replies
TriAileen
q mampir kak. cinta karena cinta gimana KK. lnjut gak
Mom's VB: Siap akan diusahakan untuk tetap update cerita Dito-Nayla
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!