“Iya, jadi aku dengar Karina baru saja bercerai belum lama ini. Dia sibuk jadi ibu dan pemilik toko roti Aura Bakery sekarang. Usia anaknya sepertinya hampir sama dengan usia anakku, kira-kira 1 tahunan lah,” ujar Benny, seorang lelaki berusia 33 tahun.
“Jujur saja, kamu masih ada rasa ‘kan dengan Karina? 9 tahun loh, tidak mungkin selesai begitu saja. Aku tahu, lelaki memang hanya jatuh cinta sekali saja, setelahnya hanya melanjutkan hidup,” lanjut Beni, teman baik Khale.
Diam-diam dari luar ruangan, Syafira yang tengah mengandung mendengar ucapan sang suami dengan temannya itu.
Bahkan, Syafira pun tahu suaminya langsung menuju ke toko kue milik Karina tak lama setelah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
“Khayra tidak mau berangkat sekolah diantar Om Putra!” Bocah cantik nan lucu itu menyilangkan kedua tangannya.
Terus membujuk, Syafira akan meminta Putra meminta maaf pada anak gadisnya itu. Ia juga menjelaskan bahwa Putra melakukannya karena begitu menyayangi kembar. “Om Putra tidak sengaja, Sayang.”
Ria yang selama ini selalu berusaha membujuk kembar saat sedang marah pun kini hanya terdiam, begitu juga Khanza yang biasanya bisa bersikap dewasa saat adiknya sedang cemberut.
“Ayok, Khayra, nanti kamu telat. Sebentar lagi Om Putra datang.” Syafira tak berhenti membujuknya.
“Mau Om Khale aja yang antar?” Tak ada angin tak ada hujan Khale tiba-tiba mendatangi rumah mereka.
Seketika Syafira shock karena Khale semakin berani menemui mereka, berbeda dengan kembar terutama Khayra yang tiba-tiba langsung menghampiri Khale dengan raut wajah bahagia.
“Bunda, kita berangkat sama Om ya,” ucap Khayra manja.
Anehnya, Syafira yang tak terima Khale menemui kembar, justru terdiam melihat kebahagiaan kembar saat bersama Khale.
“Ibu, kami berangkat ya,” pamit Ria bersama Khanza menyusul Khayra yang sudah lebih dulu digandeng Khale menuju mobil.
Tak lama, mobil Putra datang.
“Anak-anak sudah berangkat. Ayahnya yang jemput,” ujar Syafira datar.
Mengepalkan tangannya, Putra seakan tak terima Khale masih berani melakukan ini apalagi sampai datang ke rumah.
“Kenapa kamu tak melarangnya? Bodoh!” bentak Putra.
Dengan mata nanar Syafira menatap lelaki di hadapannya itu yang kini tampak terlihat kasar. Masih dalam keadaan emosional, Syafira berbalik menyalahkannya karena telah berani membentak Khayra hingga anak gadisnya itu tak mau berangkat diantar oleh Putra. “Dan sekarang kamu juga berani membentakku! Kamu berubah, aku tidak pernah melihatmu seperti ini selama bertahun-tahun kita saling kenal. Atau memang aku yang hanya belum tahu aslimu?”
Tanpa berucap lagi Syafira masuk ke dalam rumah dan membanting pintu.
“Bukan begitu maksudku, Syaf.” Putra mengejar dan mengetuk pintu berkali-kali memohon Syafira mau keluar.
***
Selesai berurusan dengan Putra, Syafira menelepon Khale untuk memperingatkannya agar segera pergi setelah menurunkan anak-anaknya di depan gerbang sekolah dan tak menjemput kembar sepulang sekolah nanti.
Namun, bukan Khale namanya jika tak menentang, justru ia memang akan melakukannya. Ia bahkan tak masalah jika Syafira ikut menjemput kembar, dengan begitu mereka bisa kembali bertemu.
“Siapa yang menjemput lebih dulu saja,” ujarnya santai.
“Sebentar, nanti kita lanjutkan. Ada kerikil yang mengganggu,” lanjutnya lalu mematikan telepon.
Setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, dengan wajah tegak dan penuh percaya diri ia menatap Putra yang baru saja menghampirinya di depan gerbang sekolah.
“Penculik! Padahal Syafira sudah melarangmu, benar-benar tak tahu malu! Sudah tidak bertanggungjawab, sekarang anak-anak sudah besar ingin diambil alih begitu saja. Bagaimana bila karyawan-karyawanmu tahu kelakuan bosnya seperti ini?” Putra membuka percakapan.
“Kalau tidak tahu kebenarannya jangan sok tau. Anda yang seharusnya meminta izin padaku. Mereka sepenuhnya milikku, aku berkewajiban penuh atas mereka. Tenang saja, akan aku kembalikan seluruh biaya yang sudah Anda keluarkan untuk mereka. Setelah ini, menyingkir lah,” jawab Khale tak gentar.
Putra pun berkelit, bagaimana bisa ia akan pergi dari kembar jika ia saja akan menjadi ayah sambung dan suami sah Syafira. “Move on, dong.”
Tersenyum geli mendengar ucapan Putra, Khale percaya Syafira tak benar-benar mau menikah dengan lelaki di hadapannya itu. Ia menduga mantan istrinya mau dekat dengan Putra karena ingin kembar punya sosok ayah. Namun, kini ia sudah kembali dan tentu, kembar tak perlu sosok ayah baru lagi.
“Sebelum bertemu denganmu, mereka lebih dulu bertemu denganku dan sudah nyaman dengan kehidupan yang aku berikan. Aku tak butuh uangmu, simpan saja untuk membiayai mantanmu dan anaknya itu,” ketus Putra.
Di tengah perdebatan mereka, datanglah Syafira yang sedari awal sudah memiliki firasat tak enak.
“Jangan pernah memperebutkan anak-anakku! Kamu, aku sudah bilang jangan pernah lagi datang di kehidupan kami. Kami sudah bahagia!” cetus Syafira menatap tajam Khale.
Tersenyum puas, Putra menimpali ucapan Syafira dengan mengatakan mereka akan segera menikah, jadi tak ada alasan Khale untuk menjadi sosok ayah bagi kembar.
“Tidak! Aku juga tak akan sudi anak-anakku memiliki ayah sepertimu!” sahut Syafira membuat Khale yang kini giliran tersenyum.
Tersenyum sengit, Putra mengatai Syafira wanita tak tahu diri, setelah apa yang selama ini ia lakukan padanya.
“Kalau bukan karena Helena, aku tidak mungkin mau menerimamu. Secara background dan skill, masih banyak yang lebih darimu. Kalau bukan pula karena aku menyukaimu, aku tidak mungkin mau menahan perasaanku selama ini. Setelah kesabaranku bertahun-tahun dan pengorbananku untuk kalian, kamu dengan mudahnya mengkhianatiku. Padahal, kemarin kamu bilang akan menikah denganku. Jangan jadi kacang yang lupa kulitnya, Syaf,” ujar Putra tak terima.
Ucapan Putra seakan membuat ia terlihat benar-benar sedang menunjukkan watak aslinya. Mendengar nama Helena disebut, Khale seakan langsung teringat pada kuasa hukum yang menangani perceraiannya kala itu, yang ia rasa familiar saat melihatnya di acara peresmian cabang baru Putra. Tak gentar, Syafira mengucapkan terima kasihnya atas bantuan Putra selama ini. Ia berjanji akan mengembalikan seluruh biaya yang telah Putra keluarkan untuk kembar. Ia juga telah membuat surat pengunduran diri yang akan disampaikan segera pada pihak personalia kantor Putra tempat ia bekerja.
“Termasuk kamu siap jika harus angkat kaki dari rumah yang aku pinjamkan untuk kamu tinggali?” sahut Putra.
“Mengundurkan diri? Dengan cara apa kamu bisa mengembalikan uangku? Lagi pula kontrakmu masih panjang. Tentu, ada denda yang harus kamu bayar jika ingin resign,” lanjut Putra penuh percaya diri.
Terdiam, Syafira pun seakan tak tahu harus membalas bagaimana lagi karena sejujurnya ia tak menyangka akan berani berbicara demikian pada Putra. Di satu sisi, sungguh ia menyesal karena tak teliti membaca surat kontrak kerjanya saat diangkat menjadi kepala cabang. Tak pernah ia kira Putra akan menerapkan peraturan mengikat seperti ini. Mengingat, ia bukan lah karyawan baru.
Melihat Syafira yang terdiam, Putra merasa telah menang.
“Kerja saja tanpa aku bayar, sampai kamu bisa membayar hutangmu,” tutur Putra mendekat ke arah bunda kembar itu.
Semakin mendekatkan wajahnya, Putra kembali membuka mulut. “Kecuali jika kamu mau menikah denganku, kamu akan kembali mendapatkan fasilitas yang sekarang kamu miliki. Hidupmu dan anak-anakmu akan terjamin, dan aku bisa pastikan pria busuk ini tak akan berani menampakkan dirinya di depan kalian.”
Menatap kedua bola mata Putra, raut wajah Syafira seakan sedang ingin berubah pikiran.
...****************...
kan dia mau berubah dan bertanggung jawab🤭
KLO pun nggak BS balikan SM khale biar aja Syafira menjanda selama nya, tp hub anak² SM khale bagus..
kayaknya ada sesuatu antara putra dan Karina 🤔
ekhh khale bodoh harusnya kau jgn percaya sama perempuan siluman itu...suami paling bodoh