Cerita ini mengisahkan tentang Kaelen, Raja Es Kerajaan Celestial yang hidup terisolasi selama seratus tahun dalam kesendirian dan dingin yang abadi. Hidupnya berubah drastis saat kedatangan Lira, seorang wanita dari dunia luar yang datang meminta bantuannya untuk melawan kekuatan gelap yang mengancam nyawa banyak orang. Seiring berjalannya waktu, terungkap bahwa Lira memiliki kekuatan es yang sama dengan Kaelen, yang mengindikasikan adanya hubungan rahasia antara dirinya dan Kerajaan Celestial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raja Ilusi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22:Simulasi Pertarungan Terakhir Dan Kesiapan Menuju Pertarungan Nyata
Waktu terus berjalan, dan musim berganti. Musim panas yang hangat perlahan-lahan digantikan oleh musim gugur yang sejuk dan indah, dengan daun-daun pohon yang berubah warna menjadi merah, oranye, dan kuning keemasan. Selama waktu ini, Kaelen dan Lira telah berlatih dengan sangat keras, dan mereka telah tumbuh menjadi penyihir yang sangat kuat dan sangat terampil. Mereka telah menguasai berbagai macam kekuatan dan keterampilan, mulai dari kontrol energi dasar, serangan dan pertahanan yang kuat, kombinasi kekuatan, strategi perang, penguasaan berbagai elemen, hingga kekuatan penyembuhan dan koneksi dengan alam.
Eldric melihat kemajuan mereka dengan mata yang penuh dengan kekaguman dan bangga. Dia tahu bahwa Kaelen dan Lira sudah hampir siap. Mereka sudah cukup kuat untuk menghadapi Malakar dan kekuatan gelapnya. Tapi sebelum mereka pergi untuk menghadapi Malakar, Eldric memutuskan untuk memberikan mereka satu ujian terakhir yang paling sulit dan paling menantang: sebuah simulasi pertarungan terakhir yang akan meniru seakurat mungkin situasi pertarungan melawan Malakar.
"Hari ini," kata Eldric suatu pagi saat mereka berkumpul di area latihan yang luas, "kita akan melakukan ujian terakhir kalian. Aku akan menciptakan sebuah simulasi di mana kalian akan bertarung melawan bayangan Malakar yang memiliki kekuatan yang sama persis dengan Malakar yang asli. Tentu saja, bayangan ini tidak akan bisa membunuh kalian, tapi dia akan memberikan perlawanan yang sangat kuat dan sangat berbahaya. Tujuan dari simulasi ini bukan hanya untuk menguji kekuatan fisik dan sihir kalian, tapi juga untuk menguji ketenangan hati kalian, strategi kalian, kerja sama kalian, dan kesiapan mental kalian untuk menghadapi situasi yang sebenarnya."
Kaelen dan Lira saling menatap dengan mata yang penuh dengan tekad dan semangat. Mereka tahu bahwa ini adalah kesempatan mereka untuk membuktikan bahwa mereka sudah siap. Mereka tahu bahwa ini adalah kesempatan mereka untuk menunjukkan kepada Eldric, dan kepada diri mereka sendiri, bahwa mereka sudah cukup kuat untuk mengalahkan Malakar.
"Kami siap, Tuan Eldric," kata Kaelen dan Lira secara bersamaan, suaranya tegas dan penuh dengan keyakinan.
"Baiklah," kata Eldric. "Sekarang, tutup mata kalian. Dan ketika kalian membukanya lagi, simulasi akan dimulai. Ingatlah semua yang telah aku ajarkan kepada kalian. Gunakanlah kekuatan kalian dengan bijak, bekerjalah sama dengan baik, dan jangan pernah kehilangan keberanian dan keyakinan kalian."
Kaelen dan Lira menutup mata mereka. Mereka menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan pikiran mereka dan mempersiapkan diri mereka secara mental. Mereka bisa merasakan energi di dalam diri mereka mulai berkumpul, siap untuk digunakan.
Beberapa saat kemudian, mereka membuka mata mereka secara bersamaan. Pemandangan di sekitar mereka telah berubah. Mereka tidak lagi berada di area latihan yang indah dan damai di dekat gua mereka. Mereka kembali berada di aula utama benteng Malakar yang suram dan mengerikan, dengan dinding-dinding batu hitam, obor-obor yang menyala dengan api hijau kehitaman, dan aura gelap yang pekat dan menyesakkan.
Di ujung aula itu, di atas singgasana tulang-belulang, berdiri sosok yang tidak salah lagi adalah Malakar. Dia mengenakan jubah hitamnya yang panjang, memegang tongkat sihirnya yang berkilauan dengan energi ungu, dan menatap Kaelen dan Lira dengan pandangan yang dingin dan penuh dengan kebencian.
"Jadi, kalian kembali lagi," kata Malakar, suaranya berat dan serak, sama persis dengan suara Malakar yang asli. "Kalian benar-benar bodoh. Kalian sudah diberi kesempatan untuk hidup, tapi kalian memilih untuk kembali dan mati di tanganku. Baiklah, kali ini, aku tidak akan membiarkan kalian pergi. Kali ini, aku akan menghancurkan kalian sekali dan untuk selamanya."
Tanpa peringatan apa pun, Malakar melompat ke arah Kaelen dan Lira dengan kecepatan yang luar biasa, mengayunkan tongkat sihirnya dan melemparkan bola-bola energi ungu yang sangat besar dan kuat ke arah mereka.
Pertarungan pun dimulai. Dan ini adalah pertarungan yang paling sulit dan paling menantang yang pernah Kaelen dan Lira alami selama latihan mereka. Malakar dalam simulasi ini benar-benar memiliki kekuatan yang sama persis dengan Malakar yang asli. Dia sangat cepat, sangat kuat, dan sangat cerdas. Dia menggunakan berbagai macam serangan yang dahsyat, mulai dari bola energi, badai energi, hingga mantra-mantra gelap yang sangat berbahaya.
Kaelen dan Lira bertarung dengan sekuat tenaga. Mereka menggunakan semua kekuatan dan keterampilan yang mereka pelajari dari Eldric. Kaelen menggunakan kekuatan esnya untuk membekukan gerakan Malakar, menciptakan tembok-tembok es untuk melindungi diri mereka, dan menyerang Malakar dengan serangan-serangan es yang kuat dan tepat. Lira menggunakan kekuatan cahaya emasnya untuk menyerang Malakar, menciptakan perisai cahaya untuk melindungi diri mereka, dan menyembuhkan luka-luka kecil yang mereka dapatkan selama pertarungan.
Mereka juga bekerja sama dengan sangat baik. Mereka saling melindungi, saling membantu, dan saling mendukung. Mereka menggunakan strategi yang tepat, mencari kelemahan Malakar, dan menyerang dia dengan cara yang paling efektif. Mereka juga menggunakan koneksi mereka dengan alam untuk menarik energi dari alam sekitar mereka, membuat kekuatan mereka menjadi lebih besar dan lebih kuat.
Pertarungan itu berlangsung sangat lama dan sangat melelahkan. Kaelen dan Lira merasa sangat lelah, dan tubuh mereka penuh dengan luka-luka kecil. Tapi mereka tidak menyerah. Mereka terus bertarung, didorong oleh tekad yang kuat, cinta satu sama lain, dan keinginan untuk melindungi dunia ini.
Akhirnya, setelah berjam-jam bertarung, Kaelen dan Lira melihat kesempatan. Malakar sedang sibuk menangkis serangan es dari Kaelen, dan dia tidak menyadari bahwa Lira sedang mengerahkan semua kekuatannya. Lira merasakan kekuatan cahaya emasnya dan kekuatan es Kaelen berkumpul menjadi satu, menjadi sebuah bola energi yang sangat besar dan kuat—yang berwarna biru bercampur emas dan bersinar dengan cahaya yang sangat terang.
"Kaelen! Sekarang!" teriak Lira.
Kaelen segera mengerti. Dia pun mengerahkan semua kekuatannya, dan bersama-sama, mereka melemparkan bola energi gabungan itu ke arah Malakar dengan sekuat tenaga.
Malakar terkejut, dan dia mencoba untuk melindungi dirinya dengan menciptakan perisai energi gelap. Tapi dia terlambat. Bola energi itu menghantam dirinya dengan kekuatan yang sangat besar dan dahsyat.
Terdengar suara ledakan yang sangat keras dan mengerikan, dan cahaya yang terang menyelimuti seluruh aula. Saat cahaya itu meredup, Malakar dalam simulasi itu menjerit kesakitan dan kemudian hancur menjadi asap hitam yang menghilang di udara.
Pemandangan di sekitar mereka kembali berubah. Mereka kembali berada di area latihan yang indah dan damai di dekat gua mereka, dengan langit biru dan matahari yang bersinar terang. Eldric berdiri di depan mereka, menatap mereka dengan senyum yang lebar dan penuh dengan bangga.
Kaelen dan Lira berdiri di sana, napas mereka terengah-engah dan tubuh mereka lelah. Tapi mereka tersenyum bahagia dan lega. Mereka berhasil. Mereka berhasil mengalahkan Malakar dalam simulasi pertarungan terakhir itu.
"Kalian hebat, Kaelen! Kalian hebat, Lira!" teriak Eldric, berjalan ke arah mereka dan memeluk mereka berdua dengan erat. "Aku sangat bangga dengan kalian. Kalian telah melewati ujian terakhir dengan sangat baik. Kalian telah membuktikan bahwa kalian sudah siap. Kalian sudah cukup kuat untuk menghadapi Malakar yang asli dan untuk mengalahkan