NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Pendekar Naga

Reinkarnasi Pendekar Naga

Status: tamat
Genre:Action / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:17.1k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Jian Yi dan para rekannya gugur setelah menantang kekuatan besar Kekaisaran Pusat. Pertempuran itu seharusnya menjadi akhir dari segalanya bagi mereka.

Namun saat kesadaran Jian Yi memudar, sebuah keajaiban terjadi. Berkat campur tangan Raja Naga, mereka diberi kesempatan kedua—sebuah reinkarnasi yang mengubah takdir mereka.

Terlahir kembali di dunia yang sama namun dengan kehidupan baru, Jian Yi menyimpan satu janji dalam hatinya: membalas kehancuran yang dialaminya dan melampaui semua batas kekuatan.

Kali ini, dia tidak akan jatuh lagi.
Tapi di dunia yang dipenuhi kultivator kuat, sekte kuno, dan kekaisaran yang menguasai segalanya …

Mampukah Jian Yi benar-benar bangkit, menuntut balas, dan mencapai puncak kekuatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab19: Tanda-tanda aneh

​Malam itu, Distrik Zamrud diterangi oleh ribuan obor yang bergerak bagaikan naga api menuju kediaman Keluarga Wei.

Jian Hong, Lu Zhao, dan Tan Xing memimpin di garis depan. Tidak ada lagi negosiasi.

Suara langkah kaki ribuan prajurit elit menggetarkan tanah, menciptakan ritme kematian yang seharusnya menjemput ajal Wei Bo.

​BUMMM!

​Gerbang raksasa Keluarga Wei hancur berkeping-keping di bawah hantaman gada raksasa milik Lu Zhao.

Pasukan Aliansi menyerbu masuk dengan teriakan yang memekakkan telinga.

Mereka mengharapkan hujan panah atau benturan pedang yang sengit, namun yang mereka temui justru kesunyian yang mencekam.

​Beberapa pasukan berbaju hitam mencoba menghadang di halaman depan, namun mereka bertarung tanpa nyawa, seolah hanya menjalankan tugas bunuh diri.

Lu Zhao menebas mereka satu per satu dengan amarah yang meluap, namun ia segera menyadari sesuatu yang salah.

​"Tunggu!" teriak Jian Hong, menghentikan laju pasukan.

​Ia membedah dada salah satu musuh yang tewas. Tidak ada lencana keluarga Wei. Mereka hanyalah tentara bayaran, budak-budak yang dibayar untuk mati sebagai umpan.

​Jian Hong melesat masuk ke dalam aula utama, disusul oleh Lu Zhao dan Tan Xing. Di sana, lilin-lilin masih menyala.

Teh di atas meja bahkan masih mengeluarkan uap tipis. Namun, tidak ada tanda-tanda Wei Bo, Wei Yan, atau anggota keluarga inti lainnya. Ruang bawah tanah, gudang senjata, hingga kamar pribadi—semuanya kosong melompong.

​Keluarga Wei telah menguap seperti embun di bawah matahari, meninggalkan sebuah rumah mewah yang kini tak lebih dari kuburan megah bagi para tentara bayaran mereka.

​"Pengecut!" raung Lu Zhao, suaranya menggetarkan langit-langit aula. "Dia melarikan diri! Dia membiarkan rumah leluhurnya dijarah hanya untuk menyelamatkan nyawanya sendiri!"

​Tan Xing memeriksa sebuah peta yang tertinggal di atas meja kerja Wei Bo. Bagian tengah peta itu hangus terbakar, menghilangkan jejak ke mana mereka pergi. "Dia sudah merencanakan ini sejak awal. Lembah Terlarang hanyalah pengalih perhatian. Dia tahu kita akan menyerang, dan dia memilih untuk menghilang ke dalam kegelapan."

​Waktu berlalu dengan lambat di kediaman Keluarga Jian. Tiga pekan telah lewat sejak malam berdarah di Lembah Terlarang.

​Lu Feng adalah yang pertama sadar. Meskipun tulang rusuknya masih dibalut penyangga dan jalannya masih pincang, api di matanya tidak pernah padam.

Ia sering duduk di beranda, menatap pedang besarnya dengan diam, memendam dendam yang kian mengkristal.

​A-Lang sadar beberapa hari kemudian. Luka fisiknya pulih dengan cepat berkat ramuan dari Keluarga Tan, namun secara mental, ia berubah total.

Tidak ada lagi sisa-sisa bocah gelandangan yang ragu-ragu.

Ia menghabiskan waktunya di samping tempat tidur ibunya, atau berlatih tombak hingga tangannya melepuh, seolah-olah setiap ayunan adalah janji untuk membalas setiap tetes darah yang tumpah.

​Namun, di kamar paling ujung, suasana tetap membeku.

​Jian Yi masih terbaring kaku. Kulitnya pucat, hampir transparan, memperlihatkan aliran vena yang tampak berdenyut dengan cahaya ungu redup di bawah kulitnya.

Napasnya sangat tipis, nyaris tak terdengar, seolah-olah jiwanya sedang berkelana di tempat yang sangat jauh dan enggan untuk kembali.

​Setiap hari, tabib terbaik dari tiga keluarga datang silih berganti. Mereka memeriksa denyut nadi, mengalirkan Qi penyembuh, hingga membakar kemenyan langka, namun hasilnya tetap sama.

​"Secara fisik, luka-lukanya telah menutup. Organ dalamnya telah pulih secara ajaib," lapor kepala tabib Keluarga Tan dengan suara bergetar. "Namun ... kesadarannya terkunci. Seolah-olah dia sedang menahan sesuatu yang sangat besar di dalam dirinya, sebuah energi yang menolak untuk membiarkannya bangun."

​Lu Feng masuk ke kamar itu, langkahnya berat. Ia duduk di pinggir ranjang Jian Yi, menatap sahabatnya yang biasanya selalu punya jawaban atas segala hal.

​"Sampai kapan kau mau tidur, Yi?" bisik Lu Feng, suaranya serak. "Keluarga Wei hilang. Wei Bo melarikan diri seperti anjing. Dunia sedang menunggumu untuk bangun dan menghancurkan mereka. Jangan biarkan aku dan A-Lang menjadi anggota tanpa pemimpin kami."

​A-Lang berdiri di ambang pintu, kepalanya menunduk. Ia merasa bersalah. Jika bukan karena dirinya, Jian Yi tidak perlu memaksakan diri melampaui batas kemanusiaannya.

​Di dalam Dantian Jian Yi, bola emas itu kini tidak lagi hanya berputar.

Bola itu telah pecah, berubah menjadi nebula energi yang menyelimuti seluruh inti jiwanya.

Jian Yi tidak sekadar pingsan; ia sedang mengalami evolusi paksa.

Visi tentang Naga Emas di Lembah Terlarang telah membuka pintu segel memori dan kekuatan yang seharusnya belum siap diterima oleh tubuh anak delapan tahun.

​Setiap detik dalam komanya adalah pertarungan antara kehendak sang legenda dan keterbatasan dagingnya.

​Di luar, hujan mulai turun membasahi Kota Zamrud. Aliansi Tiga Keluarga tetap dalam siaga penuh, mencari ke setiap sudut kekaisaran untuk menemukan jejak Wei Bo.

Namun, ketegangan yang sesungguhnya berada di dalam kamar yang sunyi itu.

Semua orang tahu, jika Jian Yi tidak bangun, maka kemenangan atas Keluarga Wei hanyalah sebuah penundaan menuju kehancuran yang lebih besar.

​Jian Hong berdiri di balkon, menatap hujan dengan mata hampa. Ia adalah ayah yang berkuasa, namun di hadapan nasib putranya, ia merasa lebih kecil daripada sebutir pasir.

​"Bangunlah, Nak," gumamnya lirih. "Dunia ini terlalu gelap jika kau tidak ada untuk menyalakan apinya."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

​𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗨𝗣𝗔 𝗧𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡 𝗝𝗘𝗝𝗔𝗞 𝗗𝗘𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗜𝗞𝗘 ... 𝗛𝗘𝗛𝗘🏁

1
Nanik S
Lanjut terus
Agen One
UP nya santai dulu ya🙏
Agen One
😅
Agen One
🍗
Agen One
🔥🙏
Agen One
🙏
Agen One
👍🙏
Agen One
🚹🙏
Agen One
🤭🙏
Agen One
🙏
Agen One
/Smile/
Agen One
🙏
Agen One
😅
Agen One
🔥🍗
Agen One
👍🍗
Agen One
🚹🍗
Agen One
🍗
Agen One
🤭/Smile/
Agen One
😅🙏
Agen One
🔥🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!