NovelToon NovelToon
Hutang Yang Harus Kubayar

Hutang Yang Harus Kubayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:726
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

09

Pagi datang dengan cara yang tidak pernah Nadia harapkan.

Kesadarannya muncul perlahan, seperti seseorang yang dipaksa naik ke permukaan dari dasar air yang gelap. Kepalanya terasa berat, denyutan samar berulang di pelipisnya. Ia mengerang kecil dan mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa pening membuatnya berhenti sejenak.

Saat kelopak matanya akhirnya terbuka sepenuhnya, hal pertama yang ia lihat bukanlah langit-langit kamar kosnya yang kusam, bukan pula dinding bercat pucat yang sudah begitu ia hafal.

Melainkan wajah seorang wanita asing.

“Selamat pagi, Nona.”

Suara itu lembut, terlalu lembut untuk pagi yang terasa begitu salah.

Nadia tersentak. Ia reflek menarik tubuhnya ke belakang, punggungnya menabrak sandaran ranjang. Jantungnya berdegup kencang, napasnya memburu.

“Siapa kamu?” suaranya serak, nyaris seperti bisikan panik.

Wanita itu terlihat terkejut dengan reaksi Nadia, namun ia segera menundukkan kepala sedikit, sikapnya sopan dan tenang. Usianya mungkin sekitar tiga puluhan, wajahnya rapi, rambutnya disanggul sederhana. Pakaian yang dikenakannya bukan pakaian biasa terlalu bersih, terlalu teratur untuk ukuran kamar kos sempit ini.

Wanita itu tidak menjawab, ia hanya mengangguk cepat sembari memperhatikannya.

Nadia mengalihkan pandangan, napasnya masih belum stabil. Ia menoleh ke arah jam dinding yang tergantung miring di dekat lemari. Jarum pendek menunjuk angka tujuh, jarum panjang tepat di angka dua belas.

Masih pukul tujuh pagi.

Terlalu pagi untuk semua kekacauan ini.

Ia mengangkat tangannya ke kepala, memijat pelipisnya yang berdenyut. Pusing itu datang seperti gelombang, membuat perutnya terasa mual.

“Semalam…” gumamnya tanpa sadar.

Potongan-potongan ingatan muncul samar. Setelah Arya pergi. Setelah pintu kos tertutup. Setelah suara langkah kaki menghilang. Ia ingat saat dirinya berbaring setengah menerima minum dari laki-laki itu, lalu rasa kantuk yang datang begitu cepat, terlalu cepat.

Nadia menelan ludah.

Melihat gerakan itu, wanita di hadapannya segera beranjak. Ia mengambil sesuatu dari meja kecil segelas air bening.

“Minum ini, Nona,” katanya sambil menyodorkan gelas itu. “Biasanya bisa membantu meredakan pusing.”

Nadia menatap gelas itu. Tangannya terulur secara refleks, menerima benda itu, namun ia tidak langsung meminumnya. Pikirannya bekerja cepat, mencoba menyusun semua hal yang terasa janggal.

“Siapa kalian sebenarnya?” tanyanya pelan, matanya menatap lurus ke wajah wanita itu.

Wanita itu terdiam.

Ia tidak menjawab pertanyaan itu. Tidak membantah, tidak menjelaskan. Ia hanya kembali menyodorkan gelas air itu sedikit lebih dekat, seolah berharap Nadia mengalihkan fokusnya.

Gerakan itu justru membuat sesuatu di dalam diri Nadia runtuh.

Tangannya yang memegang gelas itu bergetar.

Ingatan kemarin menghantamnya tanpa ampun.

Bagaimana ia diseret oleh orang-orang asing. Bagaimana rumah sakit berubah menjadi tempat paling sunyi ketika ayahnya dinyatakan meninggal. Bagaimana ia berdiri di hadapan kontrak dingin yang menentukan hidupnya. Bagaimana namanya kini terikat pada seorang pria yang tidak pernah ia pilih.

Dan bagaimana Arya kehadirannya yang tiba-tiba di kamar kos ini semalam membuat udara terasa menyesakkan.

Dadanya terasa sakit.

Tiba-tiba, kepanikan mengambil alih.

“Jangan!” serunya keras.

Dengan satu gerakan kasar, Nadia melempar gelas itu ke lantai. Bunyi pecahan terdengar nyaring, memantul di dinding sempit kamar. Air tumpah, serpihan kaca berserakan.

Wanita itu tersentak mundur. “Nona—!”

Nadia bangkit dari ranjang, menjauh beberapa langkah. Tangannya gemetar, napasnya terengah-engah.

“Aku tidak mau terlibat apa pun lagi dengan dia,” ucapnya cepat, suaranya bergetar. “Aku tidak mau!”

Wanita itu mengangkat kedua tangannya, mencoba menenangkan. “Tenang, Nona. Kami hanya menjalankan perintah. Tidak ada yang akan menyakiti Anda.”

Namun kata-kata itu tidak sampai.

Bulu roma Nadia meremang.

Ingatan lain menyusup sentuhan yang terlalu dekat, napas yang terasa di ruang sempit, bisikan rendah sebelum pintu tertutup. Nadia menurunkan pandangannya, menelisik tubuhnya sendiri dengan tergesa.

Pakaiannya lengkap.

Kaus panjang, celana kain semuanya masih ada, masih rapi.

Ia menghembuskan napas lega, lututnya hampir melemas.

Namun kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik.

Saat ia melihat lebih teliti, ada beberapa tanda kemerahan samar di kulitnya. Di lengan. Di dekat leher. Tidak mencolok, tapi cukup jelas untuk membuat jantungnya kembali berdegup liar.

Air mata menggenang di pelupuk matanya.

“Keluar,” ucap Nadia pelan, namun penuh tekanan.

“Nona, mohon—”

“Keluar!” Nadia berteriak.

Ia menutup telinganya, tubuhnya gemetar hebat. Frustrasi, takut, marah semuanya bercampur menjadi satu ledakan emosi yang tak bisa ia kendalikan.

Wanita itu terlihat bimbang sejenak. Akhirnya ia mengangguk, mundur perlahan menuju pintu.

“Baik,” katanya lembut. “Saya akan menunggu di luar. Jika Nona membutuhkan apa pun, silakan panggil saya.”

Pintu tertutup dengan bunyi pelan.

Keheningan menyelimuti kamar itu.

Nadia jatuh terduduk di lantai, tepat di samping ranjang. Tangannya menjambak rambutnya sendiri, terisak tanpa suara. Air mata mengalir deras, membasahi pipinya.

“Kenapa harus aku…” gumamnya putus asa.

Hidupnya terasa seperti bukan miliknya lagi. Setiap keputusan, setiap langkah, seolah ditentukan oleh orang lain. Ia ingin kembali ke hari-hari sederhana bangun pagi, bekerja paruh waktu, pulang membawa kelelahan yang jujur. Bukan hidup yang penuh ancaman dan kendali orang lain.

Namun bagaimana caranya?

Hutang ayahnya terlampau besar. Angkanya menghantui pikirannya seperti bayangan gelap yang tak bisa diusir. Menggantinya sendiri terasa mustahil, apalagi tanpa bantuan siapa pun.

Nadia menghapus air matanya kasar. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang tergantung di dinding. Wajahnya pucat, matanya sembab. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang belum padam.

Tekad.

“Aku tidak boleh menyerah,” bisiknya pada diri sendiri.

Dengan langkah goyah, Nadia berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Ia membuka keran, membiarkan air mengalir deras. Ia menanggalkan pakaiannya dan berdiri di bawah pancuran, menggosok kulitnya berulang kali, seolah ingin menghapus semua rasa tidak nyaman yang menempel.

Air mengalir, membawa serta air mata yang jatuh tanpa suara.

Ia tidak tahu berapa lama ia berdiri di sana. Ketika akhirnya mematikan keran, tubuhnya lelah, tapi pikirannya sedikit lebih jernih.

Ia membungkus tubuhnya dengan handuk, menatap pantulan dirinya sekali lagi.

Hidupnya memang sudah kacau. Tapi ia masih bernapas. Ia masih bisa berpikir. Dan selama itu, masih ada kemungkinan.

Ia harus mencari cara.

Cara untuk bertahan. Cara untuk keluar.

Entah bagaimana, entah kapan Nadia bersumpah pada dirinya sendiri, ia tidak akan membiarkan hidupnya sepenuhnya dikuasai oleh orang lain. Tidak oleh kontrak. Tidak oleh ketakutan. Tidak oleh seorang pria bernama Arya.

Di balik dinding tipis kamar kos itu, dunia mungkin terasa menekan. Namun di dalam hati Nadia, sebuah tekad perlahan tumbuh rapuh, tapi nyata.

Dan pagi itu, meski dimulai dengan ketakutan, menjadi awal dari perjuangannya sendiri.

...

"Nona, anda terlihat lebih baik dari sebelumnya." Wanita yang sempat ia usir menyapanya ketika Nadia keluar dari kamar kost.

Nadia mengabaikan sapaan yang ia dengar. Dia harus pergi bekerja, tidak ada waktu untuk bersantai terlebih setelah semua yang telah terjadi. Hidupnya belum berakhir hanya karena satu perjanjian yang tidak masuk akal itu.

"Nona, anda mau ke mana? Tuan muda berpesan.." kata-kata wanita itu terhenti begitu Nadia mengangkat tangan.

"Jangan halangi aku dan katakan pada tuanmu, aku akan segera mengembalikan uang itu." Tatapan mata Nadia tajam, wajahnya datar dan tidak menampakkan ekspresi apapun

"Maaf nona.."

"Dan satu hal lagi, berhenti menganggu hidupku. Aku muak melihat kalian semua!"

Nadia melenggang pergi setelah mengungkapkan isi hatinya. Dia menvari jalan lain untuk membayar hutang mendiang ayahnya, tapi bukan dengan menjual tubuhnya dan kebebasannya pada laki-laki itu.

"Nona tunggu!"

Nadia tidak menghiraukan panggilan wanita itu, kakinya terus berjalan menuju minimarket tempatnya bekerja.

Di tempat lain, Arya masuk ke ruang kerja bersama asistennya. Ia baru saja melihat gudang yang terbakar cukup parah dan karena hal itu asetnya tidak bisa di selamatkan. Semuanya habis terbakar, kerugian yang di taksir pun tidak sedikit.

"Apakah kamu sudah mendapatkan hasilnya?" tanya Arya ia merasa sesak memikirkan para pengkhianat yang berani mengacau.

"Sudah tuan." Rio me dekat, menyerahkan laporan yang di minta oleh Tuannya itu

"Katakan saja, aku malas membacanya." Arya memijat kepalanya yang berdenyut hebat, masalah ini bukan lah masalah kecil.

Rio menundukkan kepalanya, ia ragu harus mengungkapkan fakta yang sebenarnya atau tidak. Ia tidak ingin Nadia menjadi sasaran kemarahan tuannya lagi.

"Kenapa diam?! Cepat katakan!"

Rio masih bungkam. Meski ia tidak bisa melindungi Nadia setidaknya ia tidak ingin melihat gadis itu terluka lagi.

"Tinggalkan ruanganku dan kemari barang-barangmu! Aku tidak butuh orang lemah sepertimu!" ujar Arya tidak sabar.

Rio menelan ludahnya, ia harus memikirkan masa depannya sendiri sebelum menyelamatkan orang lain.

"Maafkan saya, saya takut hal ini membuatnya anda.."

"Katakan siapa yang berani melawanku?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!