Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaun Pengantin
Lampu gantung kristal di butik pengantin ternama di kawasan Menteng itu membiaskan cahaya keemasan yang lembut, menciptakan atmosfer yang begitu sakral dan tenang. Di tengah ruangan yang dikelilingi cermin besar setinggi langit-langit, Devina Maharani berdiri di atas podium kecil.
Kain sutra mikado berwarna putih gading membalut tubuhnya dengan sempurna. Gaun pengantin itu adalah mahakarya; dengan potongan off-shoulder yang elegan dan detail bordir buatan tangan yang membentuk motif sulur bunga melati di sepanjang bagian dada hingga ujung ekor gaun yang menjuntai dua meter di lantai marmer.
"Chef, Anda tampak sangat luar biasa. Sejujurnya, ini adalah pengantin tercantik yang pernah saya tangani tahun ini," puji sang desainer sambil merapikan bagian pinggang gaun tersebut dengan jarum pentul.
Devina menatap pantulan dirinya di cermin. Ia menyentuh lembut kain dingin yang melekat di kulitnya. Air matanya menggenang, namun kali ini bukan air mata ketakutan. Ia teringat setahun lalu, saat ia hanya bisa mengenakan baju koki yang penuh noda tepung dan air mata saat menghadapi maut. Kini, ia akan mengenakan gaun impiannya untuk bersanding dengan pria yang telah mempertaruhkan nyawa demi melindunginya.
"Gavin... aku harap kamu suka," bisik Devina lirih.
Ia memutar tubuhnya perlahan, melihat bagaimana siluet gaun itu mengikuti setiap gerakannya. Di luar butik, dua pengawal berpakaian safari hitam tetap berjaga dengan waspada, namun di dalam ruangan yang harum aroma lavender dan bunga segar itu, Devina merasa benar-benar aman. Ia merasa seolah-olah seluruh penderitaannya telah dibayar lunas oleh kebahagiaan yang sedang ia jemput.
****
Namun, di belahan bumi yang lain, ketenangan adalah sebuah kemewahan yang tidak ada harganya. Di Lapas Khusus Nusakambangan, langit malam sedang mengamuk. Hujan badai mengguyur pulau karang itu dengan beringas, suara petir menggelegar bersahutan dengan deburan ombak raksasa yang menghantam tebing-tebing tajam.
Di dalam sel isolasi nomor 09, Aris Wicaksana tidak sedang tidur. Ia berdiri di pojok ruangan, tubuhnya yang kini nampak lebih kering dan berotot diam membeku seperti patung. Matanya menatap tajam ke arah langit-langit sel yang terbuat dari beton bertulang.
Suara petir yang sangat keras meledak tepat di atas gedung penjara, menyebabkan getaran hebat dan seketika membuat lampu-lampu darurat berkedip-kedip. Itulah momen yang ditunggu Aris selama dua belas bulan terakhir.
Selama setahun, Aris telah melemahkan baut-baut pada jeruji ventilasi kecil di atas selnya dengan menggunakan sisa kawat dari sikat pembersih lantai yang ia curi dan tajamkan. Ia bekerja setiap malam, sedikit demi sedikit, menyamarkan bekas goresannya dengan campuran debu semen dan air ludah.
Dengan sekali sentakan bertenaga yang lahir dari dendam setahun penuh, Aris menarik jeruji baja itu. KRAK! Baut yang sudah keropos itu lepas. Aris mengangkat tubuhnya dengan kekuatan otot lengan yang luar biasa, menyelinap masuk ke dalam saluran ventilasi yang sempit dan berbau tikus mati.
Ia merayap seperti ular di dalam lorong gelap, mengabaikan luka gores pada bahu dan punggungnya yang bergesekan dengan beton kasar. Ia tahu denah gedung ini di luar kepala lewat pengamatannya yang obsesif. Ia menuju ke ruang kontrol listrik cadangan yang letaknya bersebelahan dengan saluran pembuangan air hujan.
Di sana, Aris bertemu dengan sosok bayangan lain—seorang sipir muda yang matanya bergetar hebat karena ketakutan. Sipir itu adalah orang yang telah disuap oleh kaki tangan Aris di luar penjara dengan jumlah uang yang tidak mungkin ditolaknya.
"Ma-maafkan saya, Pak Aris... seragamnya ada di sana," bisik sipir itu sambil menunjuk sebuah tas hitam di pojok ruangan.
Aris tidak menjawab. Ia hanya menatap sipir itu dengan pandangan yang membuat pria muda itu hampir jatuh pingsan. Aris dengan cepat mengganti seragam oranyenya dengan seragam sipir cadangan. Ia mengambil kunci master dan sebuah kartu akses.
"Terima kasih atas bantuanmu," ucap Aris dingin.
Sebelum sipir itu sempat membalas, Aris menghantam tengkuk pria itu hingga jatuh tak sadarkan diri. Aris tidak membunuhnya; ia butuh waktu beberapa jam sebelum pelariannya terdeteksi sepenuhnya.
Aris keluar melalui pintu samping gudang logistik, menyelinap di antara guyuran hujan deras yang menutupi pandangan kamera pengawas. Ia berlari menuju tebing barat, tempat sebuah perahu nelayan kecil yang tidak menyalakan lampu sudah menunggu di tengah deburan ombak yang liar.
****
Jauh di pedesaan Jawa Barat, Bu Imroh terbangun dari tidurnya dengan napas tersengal. Jantungnya berdegup kencang, sebuah perasaan tidak enak yang sangat kuat mencengkeram dadanya. Ia segera bangkit, mengambil air wudu meski udara malam sangat dingin menusuk tulang.
Ia menghampiri sajadahnya, mengenakan mukena putih yang sudah mulai kusam, dan duduk bersimpuh. Di tangannya, tasbih kayu itu bergerak dengan cepat.
"Ya Allah... Ya Lathif... Ya Hafiz..." rintih Bu Imroh.
Suaranya lirih, bersaing dengan suara angin yang menderu di luar rumah kayunya. "Hamba merasakan kegelapan itu lagi. Hamba merasakan napas iblis itu kembali mendekat. Lindungilah Nak Devina... Lindungilah Nak Gavin... Jangan biarkan tangan kotor itu merusak kebahagiaan yang sedang mereka bangun."
Air mata Bu Imroh jatuh membasahi telapak tangannya. Sebagai seseorang yang pernah merasakan dinginnya maut di dasar jurang karena tangan Aris, ia memiliki ikatan batin yang aneh dengan kejahatan pria itu. Ia bisa merasakan kapan dendam itu sedang memuncak.
Ia terus berzikir, memohon agar malaikat penjaga dikirimkan untuk mengelilingi rumah Devina di Jakarta. Namun, di dalam hatinya, sebuah kegelisahan tetap bersarang. Ia melihat ke arah foto Salsa di dinding, dan seolah-olah mata putrinya itu sedang memberikan peringatan bahwa pertempuran terakhir akan segera dimulai.
****
Pagi harinya, saat lonceng apel pagi berbunyi di Lapas Nusakambangan, sebuah teriakan histeris memecah rutinitas.
"TAHANAN ISOLASI 09 MELARIKAN DIRI! ULANGI, ARIS WICAKSANA MELARIKAN DIRI!"
Sirine panjang meraung-raung, kali ini lebih keras dan lebih lama dari biasanya. Seluruh penjara gempar. Para petinggi kepolisian segera dihubungi. Helikopter mulai diterbangkan untuk menyisir pantai, namun laut sedang tidak bersahabat. Badai semalam telah menghapus semua jejak.
Kabar itu sampai ke meja kerja Gavin tepat saat ia sedang melihat-lihat foto Devina di butik pengantin yang dikirimkan lewat pesan singkat. Ponsel di tangan Gavin hampir jatuh. Wajahnya yang tadinya cerah seketika berubah menjadi pucat pasi, lalu mengeras seperti batu karang.
"Tutup semua akses rumah Devina! Sekarang!" Gavin berteriak pada kepala tim keamanannya melalui interkom. "Panggil semua personel! Kita kembali ke protokol merah! Dia sudah keluar... Iblis itu sudah keluar!"
Di butik, Devina baru saja akan mengganti gaunnya saat pintu butik didorong kasar oleh pengawalnya.
"Chef, kita harus segera pergi! Sekarang juga!"
Devina menatap wajah pengawalnya yang panik. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia melihat gaun pengantin putih yang masih ia kenakan di depan cermin. Putihnya gaun itu tiba-tiba terasa seperti kain kafan yang mendinginkan jiwanya.
"Dia kabur... kan?" tanya Devina dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Pengawal itu hanya bisa mengangguk pelan. Devina jatuh terduduk di atas podium, gaun mahalnya yang cantik kini kusut di lantai marmer. Mimpi indahnya baru saja hancur oleh bayang-bayang masa lalu yang menolak untuk mati. Aris Wicaksana sedang menuju ke arahnya, dan kali ini, pria itu tidak punya apa-apa lagi untuk kehilangan.