NovelToon NovelToon
Kakiku Menolak Berjalan Lagi

Kakiku Menolak Berjalan Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:62
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Aku berumur tujuh tahun saat nyamuk itu menggigit.
Aku berumur lima puluh dua saat akhirnya bisa berjalan lagi.
Empat puluh lima tahun di antaranya adalah sunyi.

Namaku Mahesa. Kakiku mulai membengkak sejak kecil. Dokter bilang cidera. Ibu bilang kutukan. Ayah bilang aku harus kuat.

Tidak ada yang bilang bahwa aku akan kehilangan segalanya.

Ayah meninggal jatuh dari bangunan. Ibu pergi membawa adik—dengan teriakan terakhir: "Dadah kaki gajah!" Kakek menjual sawah, lalu mati di pelukanku.

Sendirian. Mengemis. Dikucilkan. Mencoba bunuh diri—tali putus, atap roboh.

Lalu datang Reza, anak kecil pemberani yang berjanji: "Aku akan jadi dokter. Aku akan obati kaki Bapak."

Dua puluh tahun kemudian, pintu gubuk itu diketuk. Ia kembali.

Operasi berhasil. Aku bisa berjalan lagi.

Tapi infeksi kembali. Dokter bilang: amputasi.

Aku menatap kakiku—kaki yang menyiksaku selama 45 tahun, tapi juga satu-satunya yang setia menemani. Lalu aku berkata pada Reza:

"Aku mau pergi utuh."

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: IBU MENJUAL KAIN WARISAN UNTUK OBAT

Mahesa terbangun karena suara. Bukan suara biasa. Bukan ayam. Bukan angin. Suara ibu. Dari dapur. Rendah. Tapi tegang.

Ia berbaring di tikar. Tidak bergerak. Hanya mendengar. Telinganya yang terlatih—dari tahun-tahun mendengar tanpa dilihat, dari tahun-tahun menjadi hantu di pojok—telinga itu menangkap setiap kata.

"Harus ke dokter." Suara ibu berat. Seperti beban yang dipikul terlalu lama. "Kakinya makin besar. Obat dari puskesmas tidak cukup. Harus ke rumah sakit."

Suara ayah. Lebih berat. Lebih lelah. "Uang?"

Diam. Panjang. Seperti jarak antara mereka. Seperti jarak antara harapan dan kenyataan.

"Jual kain." Ibu berkata lebih kecil. Hampir tidak keluar. "Kain yang dari nenek."

Mahesa membeku. Di tikarnya. Di pojok yang basah.

Kain. Ia tahu. Satu-satunya harta ibu. Dari nenek. Yang sudah mati sebelum Bima lahir. Yang meninggalkan satu peti. Berisi kain batik lawasan. Yang ibu simpan di bawah kasur gantung. Yang ibu keluarkan hanya saat lebaran. Saat hari raya. Saat masih ada yang dirayakan.

Kain itu. Satu-satunya yang ibu punya. Satu-satunya yang bisa diwariskan. Satu-satunya yang membuat ibu punya sesuatu.

Dan sekarang. Untuk kakinya. Untuk obat. Untuk sesuatu yang mungkin tidak berhasil.

---

Mahesa bangun. Perlahan. Kaki kanannya—yang menjadi alasan semua ini—protes. Nyeri. Tapi ia abaikan. Berjalan ke dapur. Tiga langkah. Empat. Lima.

Ibu dan ayah berbalik. Melihatnya. Di ambang pintu. Di kegelapan. Di tengah-tengah pembicaraan yang seharusnya rahasia.

"Mahesa." Ibu berkata. Tidak marah. Tidak kaget. Hanya lelah. "Kamu dengar?"

Mahesa mengangguk. "Maaf, Bu. Tidak sengaja."

"Tidak usah." Ia berkata cepat. Sebelum ibu melanjutkan. Sebelum ayah berkata apa-apa. "Tidak usah jual kain, Bu. Nanti sembuh sendiri."

Ibu menatapnya. Lama. Mata berkaca. Di cahaya lampu minyak yang redup. Di cahaya yang tidak cukup untuk melihat air mata, tapi cukup untuk melihat sesuatu. Sesuatu yang tidak pernah Mahesa lihat sebelumnya. Sesuatu yang seperti... cinta. Tapi cinta yang terlalu lelah. Cinta yang terlalu terlambat.

"Kamu dengar?" ibu bertanya lagi. Bukan tanya. Hanya memastikan.

"Maaf," Mahesa berkata lagi. Tidak tahu kenapa. Tidak ada yang salah dengan mendengar. Tapi maaf keluar. Seperti biasa. Seperti selalu.

Ayah mendekat. Dari meja. Dari tempat duduknya. Pelan. Tubuh besar—tapi semakin kurus, semakin ringkih—tubuh itu mendekat. Memeluk bahu Mahesa. Tangan kasar. Berdebu. Belum dicuci sejak tambang.

"Besok kita ke rumah sakit," ayah berkata di telinganya. Suara bergetar. "Pagi-pagi. Biar cepat sampai."

Rumah sakit. Bukan puskesmas. Rumah sakit kota. Dua puluh kilometer. Yang tidak bisa ditempuh dengan berjalan.

"Naik apa, Pak?" Mahesa bertanya.

Ayah diam. Tidak punya jawaban. Hanya diam.

Ibu berkata pelan, "Nanti Ibu pinjam sepeda ke tetangga. Sekalian antar."

Sepeda. Satu. Untuk empat orang. Ayah, ibu, Mahesa, Bima. Tidak mungkin. Tapi itulah yang ada. Itulah yang bisa.

---

Mahesa tidak tidur lagi. Setelah ibu dan ayah kembali ke kamar. Setelah Bima terbangun sejenak, lalu tidur lagi dengan pulas.

Ia berbaring. Menatap atap bocor. Yang sama. Tapi malam ini terlihat berbeda. Terlihat lebih dekat.

Memikirkan kain ibu. Kain yang akan dijual. Kain yang dari nenek. Kain yang seharusnya untuk Bima nanti. Untuk hari pernikahan Bima. Untuk yang bahagia.

Tapi sekarang untuknya. Untuk kakinya. Untuk obat yang mungkin tidak berhasil.

Memikirkan ayah yang akan lelah. Ayah yang sudah lelah. Yang harus minta ijin tidak masuk tambang—berarti tidak ada uang hari itu. Yang harus meminjam sepeda—berarti berhutang budi.

Memikirkan Bima yang akan protes. Pasti. Bima yang tidak mau ditinggal. Bima yang akan ikut. Bima yang akan mengeluh sepanjang jalan.

Dan ia. Di tengah semua. Menjadi alasan. Menjadi beban. Menjadi yang menjual kain, membuat ayah lelah, membuat Bima protes.

Mungkin lebih baik tidak usah, pikirnya. Mungkin lebih baik diam.

Tapi ia sudah diam. Bertahun-tahun. Dan kakinya makin besar. Dan ibu mau jual kain.

---

Pagi datang. Jam empat. Gelap masih pekat. Bintang masih terlihat. Tapi mereka sudah bangun.

Ayah. Ibu. Bima—yang memang ikut, yang memang protes semalam, yang memang menangis sampai diizinkan. "Tidak mau ditinggal!" Dan sekarang di gendong ayah. Di punggung yang membungkuk. Di tangan yang sudah lelah sebelum berangkat.

Mahesa berjalan. Sendirian. Di belakang. Kaki kanan nyeri setiap langkah. Seperti ada jarum di dalam. Seperti ada yang menusuk dari dalam tulang. Dari dalam daging yang membesar tanpa izin.

Mereka berjalan ke rumah tetangga. Meminjam sepeda. Satu. Tua. Berkarat di sana-sini. Tapi bisa dikayuh.

"Bima di depan," ibu mengatur. "Sama Bapak. Mahesa di boncengan belakang. Ibu jalan."

Mahesa melihat sepeda itu. Boncengan belakang sempit. Besi. Keras. Untuk satu orang normal. Untuk kakinya... tidak mungkin.

"Aku jalan saja, Bu," katanya. "Biar Bima sama Ibu."

"Kamu tidak kuat," ibu berkata. Bukan tanya.

"Kuat." Mahesa memaksakan senyum. Senyum yang tidak sampai mata. "Nanti kalau capek, baru naik."

Ibu ragu. Tapi ayah sudah siap. Bima sudah di depan. Waktu terus berjalan.

"Ya sudah," ibu akhirnya mengalah. "Tapi kalau capek, bilang."

Mahesa mengangguk. Tahu itu bohong. Tidak akan bilang. Tidak akan mau.

Mereka mulai. Ayah mengayuh pelan. Bima di depan. Ibu di samping sepeda, berjalan cepat. Mahesa di belakang. Berjalan. Pincang. Sendirian.

Setengah jam. Satu jam. Kaki kiri mulai sakit—lelah, bukan luka. Kaki kanan mati rasa, tapi berat. Seperti menyeret balok kayu di setiap langkah.

Ayah berhenti. Menunggu. "Naik!"

Mahesa menggeleng. "Sebentar, Pak. Masih kuat."

Lanjut. Satu jam lagi. Matahari mulai naik. Panas. Mahesa berkeringat. Haus. Tapi tidak minta berhenti. Tidak mau.

Di pinggir jalan, ada warung. Ibu beli air minum. Satu botol. Untuk Bima. Untuk ayah. Untuk ibu. Untuk... Mahesa?

"Minum," ibu menyodorkan sisa. Setelah Bima minum. Setelah ayah minum. Setelah ibu minum sedikit. Sisa di dasar botol.

Mahesa menerima. Minum. Tidak cukup. Tapi tidak minta lagi.

Lanjut. Dua jam. Tiga jam. Mahesa mulai tertinggal. Jarak makin jauh. Ayah harus berhenti lebih sering. Menunggu.

"Naik!" ayah setengah marah. Bukan marah ke Mahesa. Marah ke keadaan. Marah ke tidak ada pilihan.

Mahesa naik. Memaksa. Boncengan belakang. Besi. Keras. Kaki kanan tidak bisa diletakkan normal. Harus miring. Harus menggantung. Sakit. Tapi tidak bilang.

Sepeda berjalan. Goyang. Tidak stabil. Boncengan belakang untuk satu orang, sekarang untuk Mahesa dengan kaki bengkak. Terlalu berat.

Di tanjakan kecil, sepeda oleng. Ayah hampir jatuh. Bima menjerit. Ibu berteriak.

Mahesa turun. Cepat. "Aku jalan lagi, Pak. Ini sudah dekat."

Tidak dekat. Masih jauh. Tapi ia turun. Berjalan. Lagi.

---

Rumah sakit. Pagi sekali, tapi sudah ramai. Antrean panjang. Orang sakit. Keluarga. Harapan.

Mahesa duduk di kursi tunggu. Besi. Dingin. Tapi tidak peduli. Kaki kanan diistirahatkan. Diangkat sedikit. Nyeri berkurang—sedikit.

Ayah antre. Ibu jaga Bima yang mulai rewel. Mahesa sendiri. Menatap orang-orang.

Ada anak kecil. Di seberang. Umurnya mungkin enam tahun. Kakinya... sama. Bengkak. Tidak sama besar. Tapi sama.

Anak itu melihat Mahesa. Lama. Lalu tersenyum. Senyum kecil. Seperti di jendela sekolah dulu. Seperti Ningrum.

Mahesa tersenyum balik. Rasanya... ada yang mengerti. Ada yang sama. Ada yang tidak menertawakan.

Ibu anak itu melihat. Tersenyum juga. Lalu berkata, "Anak saya juga begitu. Sudah dua tahun."

Mahesa hanya mengangguk. Tidak tahu harus berkata apa.

"Obatnya gratis," ibu itu melanjutkan. "Tapi harus rutin. Setiap bulan ke sini. Jauh ya dari mana?"

Mahesa menunjuk ke luar. Samar. "Dari kampung. Jauh."

Ibu itu mengangguk. "Sabar ya, Nak. Semoga cepat sembuh."

Cepat sembuh. Kata-kata yang sering ia dengar. Tapi dari ibu ini, rasanya berbeda. Mungkin karena ia mengerti. Mungkin karena anaknya sama.

---

Giliran Mahesa dipanggil. Dokter muda. Laki-laki. Memeriksa dengan teliti. Menekan-nekan kaki kanan. Bertanya ini-itu.

"Ini filariasis. Kaki gajah." Dokter menjelaskan. "Sudah stadium lanjut. Tapi masih bisa diobati. Obatnya gratis. Rutin setiap bulan. Minimal setahun."

Mahesa mendengar. Menyimpan setiap kata.

"Tapi," dokter melanjutkan. "Yang sudah membesar tidak akan mengecil. Hanya berhenti membesar. Dan harus menjaga kebersihan. Mencegah infeksi. Kalau infeksi, bisa tambah parah."

Ibu bertanya, "Berapa lama, Dok?"

"Seumur hidup." Dokter menjawab datar. Tapi tidak kejam. Hanya fakta. "Minum obat setiap bulan. Kontrol rutin. Jaga kaki. Jangan sampai luka."

Seumur hidup.

Kata itu menggema. Di kepala Mahesa. Di dada. Di seluruh tubuh.

Seumur hidup. Obat setiap bulan. Kontrol rutin. Jaga kaki.

Ia tidak akan pernah sembuh. Tidak akan pernah normal. Tidak akan pernah lari seperti Bima.

Tapi setidaknya, tidak tambah besar. Setidaknya, tidak tambah parah. Setidaknya... masih bisa berhenti.

Ia melihat ibu. Ibu menangis. Diam-diam. Di kursi tunggu. Menyeka air mata dengan punggung tangan.

Mahesa tidak tahu ibu bisa menangis. Ibu yang selalu keras. Selalu datar. Selalu jauh. Sekarang menangis. Untuknya.

---

Pulang. Naik angkutan desa yang lewat sore. Dibayar ibu dengan sisa uang—uang yang seharusnya untuk jajan Bima.

Bima protes. Lapar. Haus. Panas. Tapi tidak ada yang bisa dilakukan.

Mahesa duduk di pojok angkutan. Kaki kanan di lorong. Tidak sakit—tapi tidak nyaman. Bima di samping ibu. Masih merajuk.

Sesampai di rumah, malam sudah turun. Ayah langsung tidur—lelah. Ibu ke dapur—masak air untuk Mahesa, untuk mandi.

Bima menangis. Kelaparan. Ibu tidak punya uang untuk beli jajan. Ayah tidak masuk tambang—tidak ada uang.

Mahesa duduk di beranda. Sendirian. Menatap bintang.

Ia memegang obat di tangan. Paket kecil. Tablet-tablet pahit untuk sebulan ke depan.

Seumur hidup.

Tapi tiba-tiba, Bima keluar. Duduk di sampingnya. Masih dengan sisa-sisa tangis di mata.

"Kak," katanya. "Kamu sakit ya?"

Mahesa mengangguk.

"Parah?"

Mahesa diam. Tidak tahu jawab.

"Nanti kalau aku besar, aku beliin obat biar sembuh," Bima berkata. Sama seperti dulu. Tapi kali ini lebih serius. "Aku kerja keras. Dapat uang banyak."

Mahesa menatapnya. Adiknya. Yang sering protes. Yang sering merebut. Yang sering... menjadi pusat segalanya.

"Iya," Mahesa berkata. Suara serak. "Nanti."

Bima tersenyum. Lalu masuk. Tidur.

Mahesa tetap di beranda. Memandangi bintang. Memikirkan kain ibu yang tidak jadi dijual. Memikirkan dokter yang bilang seumur hidup. Memikirkan Bima yang berjanji.

Obat di tangan terasa berat. Tapi juga ringan. Berat karena harus diminum selamanya. Ringan karena masih ada.

Ibu keluar. Membawa segelas air. "Minum obat," katanya. Sederhana. Seperti biasa.

Tapi kali ini, setelah ibu memberikan gelas, ia tidak langsung pergi. Ia duduk. Di samping Mahesa. Di beranda. Di kayu lapuk.

Lama. Tidak bicara. Hanya duduk. Menatap gelap.

Lalu, tanpa menoleh, ibu berkata: "Kain itu tidak jadi dijual. Tapi kalau butuh lagi, Ibu jual. Yang penting kamu sehat."

Mahesa tidak bisa menjawab. Tenggorokannya tercekat.

Ia minum obat. Pahit. Tapi pahit yang bisa ditahan.

Malam ini, ada ibu di sampingnya. Ada obat di perutnya. Ada janji Bima di telinga.

Kakinya masih besar. Masih sakit. Masih penjara.

Tapi malam ini, ia tidak merasa sendiri.

Itu cukup. Untuk malam ini. Untuk obat pahit. Untuk perjalanan panjang. Itu cukup.

Mahesa berbaring di tikar. Kaki kanan di posisi paling nyaman. Obat di samping bantal. Ibu di dapur. Ayah tidur. Bima mendengkur.

Ia memejamkan mata. Besok, minum obat lagi. Lusa, minum obat lagi. Setiap hari. Seumur hidup.

Tapi besok juga ada Bima yang berjanji. Ada ibu yang duduk di sampingnya. Ada... harapan kecil bahwa ia tidak sendirian.

Malam ini, itu cukup.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!