Cerita Chef yang ogah nikah dan Dokter yang juga ogah menikah.
Arletta Peterson, cucu-cicit-buyut chef terkenal dari keluarga Reeves McCloud itu belum kepikiran menikah di usianya yang menginjak 26 tahun. Chef cantik itu sangat menikmati hidup lajangnya. Hingga di bulan Desember, dia melayani pesta natal di sebuah rumah sakit di London Inggris . Disana Arletta bertemu dengan Dokter Jeff Clarke yang 12 tahun lebih tua darinya. Gara-gara sebuah mistletoe dan kecerobohan Arletta, dokter Jeff mencuri dua kali ciuman dari chef cantik itu. Pertemuan kacau mereka, membuat dokter tampan itu jatuh cinta pada Arletta. Bagaimana cara Dokter Jeff bisa meyakinkan chef cantik itu kalau mereka memang berjodoh?
Generasi ke delapan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dokter Lucky dan Jeff
Lampu di depan ruang operasi masih menyala redup, seolah ikut lelah setelah berjam-jam menyaksikan perjuangan hidup dan mati di dalamnya.
Jeff Clarke duduk bersandar di dinding, masker sudah diturunkan ke leher, rambutnya sedikit berantakan, sesuatu yang jarang terjadi padanya. Tangannya masih terasa gemetar halus, bukan karena takut, tapi karena adrenalin yang perlahan turun.
Di sebelahnya, Dokter Lucky mendudukkan dirinya selaras dengan Jeff dan berulang kali menghela napas panjang.
“Kalau ini film,” gumam Dokter Lucky pelan, menatap lantai, “kita pasti sudah dapat musik dramatis dan slow motion waktu bayi itu nangis. Apalagi kalau sutradaranya Christoper Nolan. Aku kebayang Batman dan Two Face kelelahan bertarung dan musiknya macam ... Kenapa langsung terngiang-ngiang?"
Jeff mendengus kecil, kelelahan tapi tak bisa menahan senyum tipis. “Sayangnya ini bukan film. Ini kenyataan … dan kita hampir kehilangan dua nyawa sekaligus.”
Hening sejenak.
Suara langkah perawat di kejauhan terdengar samar. Di dalam ruang operasi, kini hanya tersisa tim yang merapikan semuanya.
Dokter Lucky menyandarkan kepala ke belakang. “Detak jantung ibu itu sempat drop. Aku benar-benar pikir .…” Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Jeff menatap lurus ke depan, rahangnya sedikit mengeras. “Aku juga.”
Nada suaranya datar, tapi matanya menyimpan sesuatu yang lebih dalam, seolah ketegangan yang belum sepenuhnya lepas.
Dokter Lucky meliriknya. “Tapi kamu tetap tenang. Bahkan waktu tekanan darahnya anjlok.”
Jeff menghela napas pelan. “Bukan tenang. Aku cuma … tidak punya pilihan selain tetap fokus.”
Ia menunduk, menatap tangannya sendiri, seolah masih melihat darah yang tadi menempel di sarung tangan.
“Kalau aku panik, mereka mati.” Kalimat itu jatuh begitu saja. Sederhana. Dalam.
Dokter Lucky terdiam, lalu tersenyum kecil.
“Kadang aku lupa … Kita akan seseram itu kalau lagi kerja.”
Jeff mengangkat sebelah alisnya. “Seram?”
“Iya,” jawab Lucky sambil terkekeh pelan, “dingin, cepat, dan nggak kasih ruang buat kesalahan. Tapi …” Ia menoleh, lebih serius sekarang.
“… hari ini, itu yang menyelamatkan mereka.”
Jeff tidak langsung menjawab. Ia hanya bersandar lagi, memejamkan mata sebentar. Begitu juga dengan Dokter Lucky.
"Sungguh Jeff, aku kemari untuk berlibur bersama istri dan anak-anakku, bukan menjadi dokter dadakan di negeri orang. Aku macam ... Dokter yang tidak tahu malu masuk ranah orang."
"Setidaknya yang di dalam bersamaku, sama-sama memiliki visi dan fokus yang sama ... Dan aku berterimakasih kalau kamu bisa mengimbangi semua ritme kerja aku," senyum Jeff sambil tetap terpejam.
"Aku hanya tahu diri siapa tuan rumahnya," balas Dokter Lucky yang juga sambil terpejam. "Jeng Daisy pasti bertanya-tanya kenapa aku tidak pulang ini."
"Pasti sumpah doktermu yang membuat kamu mau melakukannya?"
"Hippocratic Oath. To serve with integrity, competence, and compassion ( Melayani dengan integritas, kompetensi, dan kasih sayang )," ucap Dokter Lucky.
"A lifelong commitment to heal ( Komitmen seumur hidup untuk menyembuhkan )," lanjut Jeff.
"I will use treatment to help the sick ( Saya akan menggunakan pengobatan untuk menolong orang sakit )," senyum Dokter Lucky.
"Bagaimana pun, pasti kita terbawa sumpah Hippokrates ... Bukan hippo kuda nil," kekeh Jeff.
Keduanya pun tertawa kecil, seolah ingin menenangkan diri usai hectic yang barusan terjadi.
"Jadi, Daisy, istrimu, apa pekerjaannya?" tanya Jeff.
"Dokter forensik," jawab Dokter Lucky.
Jeff membuka matanya dan menoleh ke Dokter Lucky. "Seriously?"
"Way serious! Dia dokter forensik terbaik kedua setelah seniornya, Dokter Wayan di Bhayangkara Hospital, rumah sakit milik kepolisian Republik Indonesia.
"Wow!" Jeff memejamkan matanya lagi. "Kalian pasangan yang ... Wow!"
"Dia istriku satu-satunya dan aku sudah berjanji tidak akan ada wanita lain ... Tapi sepertinya aku sekarang melanggar janjiku," gumam Dokter Lucky.
"Apakah kamu selingkuh?"
"Tidak, tapi aku punya anak perempuan yang cantiknya mampu mengubah duniaku. Aku jauh lebih protektif pada Elina dan bisa dibilang ... Aku mau memberikan standar tinggi pada Elina nanti agar dia tidak menurunkan standarnya ke pria yang akan mendampinginya," jawab Dokter Lucky. "Aku adalah cinta pertamanya dan aku ingin memberikan yang terbaik untuknya."
Jeff mengangguk. "Apakah aku bisa seperti itu pada Arletta?"
"Jika kamu jujur terhadap dirimu sendiri, apakah kamu memang suka pada Letta itu serius atau hanya karena adrenalin mistletoe. Aku tidak mau siapapun menyakiti adik perempuan aku! Daripada kamu kena hajar ayahnya, kakak lelakinya ...."
"Aku sudah dihajar Shaqeer," potong Jeff membuat Dokter Lucky tersenyum smirk.
"Kasian," kekehnya.
"Just shut up!" cebik Jeff. Keduanya pun terdiam lagi karena mereka masih merasa lemas.
Beberapa pun detik berlalu. Dari dalam ruangan, terdengar suara bayi menangis lagi, lebih jelas kali ini, lebih kuat.
Keduanya membuka mata hampir bersamaan.
Lucky tersenyum lebar. “Itu suara terbaik hari ini.”
Jeff menatap pintu operasi, dan untuk pertama kalinya sejak keluar dari sana, bahunya benar-benar terlihat rileks.
“Ya,” katanya pelan. “Artinya kita berhasil.”
Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorakan.
Hanya dua dokter yang duduk kelelahan di depan ruang operasi … dan satu tangisan kecil yang menjadi bukti bahwa semua perjuangan mereka tidak sia-sia. Keduanya pun bangkit karena masih ada banyak korban yang membutuhkan pertolongan mereka.
***
RR'S Meals London
Suara panci beradu, minyak mendesis, dan teriakan pesanan bersahut-sahutan memenuhi dapur restoran. Biasanya, Arletta adalah pusat ketenangan di tengah kekacauan itu, gerakannya cepat, matanya tajam, dan pikirannya fokus.
Tapi malam ini … berbeda.
“Chef Arletta! Sausnya hampir gosong!” seru salah satu pelayan.
Arletta tersentak. Ia menatap wajan di depannya, baru sadar tangannya sudah terlalu lama diam. Dengan cepat ia mematikan api, tapi aromanya sudah sedikit berubah.
“Maaf…” gumamnya pelan.
Ia mencoba kembali bekerja. Mengiris, mencampur, plating. Tapi setiap beberapa detik, pikirannya melayang lagi.
Bayangan ruang operasi itu terus muncul di kepalanya. Lampu terang. Darah. Ketegangan. Dan kekacauan disana. Arletta tahu bagaimana Dokter Lucky jika di dalam ruang operasi tapi Jeff. Dia tidak tahu.
Korban kecelakaan karambol … pasti parah .…
Pisau di tangannya berhenti lagi di tengah potongan.
“Chef!"
Suara itu lebih dekat, lebih tegas. Tara menatapnya dengan alis berkerut.
“Boss, anda nggak seperti biasanya. Ada masalah?”
Arletta memaksakan senyum kecil. “Nggak … aku cuma … sedikit capek.”
Tapi bahkan dia sendiri tahu itu bukan jawabannya. Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Namun jantungnya tetap terasa gelisah.
Ia melirik ponselnya yang tergeletak di sudut meja, layar gelap tanpa notifikasi. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Tangannya hampir saja meraihnya tapi ia menahan diri.
Kalau dia menelepon sekarang … justru bisa mengganggu.
“Fokus, Arletta,” bisiknya pada diri sendiri.
Ia kembali ke pekerjaannya, kali ini lebih memaksa. Tapi setiap suara sirine di kejauhan, setiap dentingan logam, membuatnya tersentak kecil.
Dan di sela hiruk-pikuk dapur itu, satu pikiran terus berputar tanpa henti.
Kalian baik-baik saja kan?
***
Yuhuuu up malam yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
letta mulai nyaman dg jeff ya😁😁😁
chef Letta tampaknya mulai ada rasa penasaran 🤫
Jeff kaga usahh ke GR an yaa gegara di kirim makan sama Letta
menyebalkannya tapi ngangenin lho😅😅🤭