Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.
Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.
bagaimana kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKIKAH
Farhan menggelar acara akikah sederhana namun hangat untuk putri kecilnya. Seekor kambing disembelih sesuai sunnah, rambut bayi dipotong dengan hati-hati, lalu ditimbang. Hasil timbangannya disedekahkan kepada yang membutuhkan sebagai bentuk syukur atas kelahiran sang buah hati.
Doa-doa dipanjatkan silih berganti. Para tamu memenuhi halaman rumah dengan senyum dan ucapan selamat.
Di tengah keramaian itu, Rani duduk anggun di kursi tamu utama. Senyum terus terpasang di wajahnya, namun matanya kosong. Ia menjawab setiap ucapan selamat dengan ramah, meski hatinya terasa jauh dari suasana bahagia yang sedang dirayakan.
Sementara itu, Claudia justru menjadi pusat keceriaan kecil hari itu. Gadis kecil itu sibuk membuka satu per satu hadiah yang dibawa para tamu.
Boneka, pita rambut, buku gambar, dan kotak mainan memenuhi lantai di sekitarnya.
Namun beberapa saat kemudian, wajahnya berubah cemberut.
“Hadiahnya nggak ada buat aku?” keluhnya polos sambil menatap Farhan.
Beberapa tamu langsung tertawa kecil mendengar protes jujur itu.
Farhan menggeleng sambil tersenyum geli.
“Kakak juga mau hadiah?” tanya salah satu kolega Farhan yang berdiri tak jauh dari sana.
Claudia mengangguk cepat, matanya berbinar penuh harap.
“Mau!” jawabnya mantap.
Pria itu tertawa ringan.
“Baiklah… nanti Om kasih sepatu roller blade.”
Mata Claudia langsung membesar.
“Bener, Om?” tanyanya antusias, hampir melonjak dari duduknya.
“Tentu. Om sudah suruh orang mengantarnya ke sini,” jawab pria itu yakin.
Tak lama kemudian, seorang kurir datang membawa sebuah kotak besar berbungkus rapi. Semua mata langsung tertuju ke arah Claudia.
Begitu kotak dibuka, tampak sepasang sepatu roller blade berwarna cerah di dalamnya.
Claudia menjerit kegirangan.
“Yeeaay!” Ia melompat-lompat kecil, memeluk kotak itu erat seolah harta paling berharga di dunia.
Para tamu tertawa melihat tingkah polosnya. Bahkan Rani ikut tersenyum tipis, meski hanya sesaat.
Farhan menatap putrinya dengan mata hangat. Di tengah segala kerumitan hidupnya, kebahagiaan sederhana anak-anak selalu menjadi alasan terkuatnya untuk tetap berdiri.
“Ucapkan terima kasih, Kakak,” suruhnya lembut.
“Makasih, Om!” ujar Claudia dengan senyum lebar, memeluk kotak roller blade itu erat-erat.
“Sama-sama, Kakak,” jawab pria itu senang melihat kebahagiaan polos anak kecil tersebut.
Suasana kembali riuh oleh tawa. Acara akikah berlanjut dengan makan bersama. Para tamu berbaur, sebagian berbincang santai, sebagian lagi membicarakan kerja sama bisnis dengan Farhan. Aroma masakan memenuhi halaman rumah, menciptakan suasana hangat penuh syukur.
Di tengah keramaian itu, Rani mulai terlihat lelah. Wajahnya tetap tersenyum, tetapi bahunya sedikit turun menahan letih.
“Mas… aku istirahat ya,” ujarnya pelan.
Farhan menoleh cepat.
“Baiklah, sayang. Istirahat saja.”
Rani mengangguk lalu berdiri perlahan. Ia meninggalkan keramaian, melangkah masuk ke dalam rumah.
Saat melewati ruang tengah, langkahnya sempat terhenti di depan boks bayi. Rafna tertidur lelap, botol susu kecil di sampingnya sudah kosong.
Rani menatap bayi itu beberapa detik.
Demi menjaga citra di depan tamu, ia mengangkat Rafna dan membawanya ke kamar.
Namun begitu pintu kamar tertutup. Ekspresi wajahnya berubah.
Rani meletakkan bayi itu kembali ke dalam boks dengan gerakan cepat, nyaris tanpa kelembutan.
“Huh… menyusahkan,” gumamnya pelan.
Ia menghela napas panjang, lalu duduk di tepi ranjang.
“Baru lahir sudah pilih-pilih susu. Nggak mau formula… maunya ASI,” omelnya lirih.
“Sampai Mas Farhan harus beli susu donor itu buat kamu sampai enam bulan ke depan…”
Nada suaranya terdengar kesal, bukan lelah.
Rani menghempaskan tubuhnya ke kasur empuk. Pandangannya kosong menatap langit-langit kamar.
Pikirannya melayang… kembali ke hari-hari pertama setelah persalinan.
“Dok, bayi menolak minum susu formula. Kondisinya mulai dehidrasi,” ujar seorang perawat dengan nada cemas.
Dokter menoleh dari catatan medisnya.
“Apa ibunya sudah mulai menghasilkan ASI?” Perawat menggeleng pelan.
“Belum, Dok. Kemungkinan bunda mengalami stres berlebihan. Refleks oksitosinnya belum bekerja.”
L
Dokter menghela napas tipis, lalu menatap ke arah ruang perawatan.
“Kondisi psikologis ibu sangat berpengaruh. Kalau ibunya menolak secara emosional, tubuh juga ikut menolak memproduksi ASI.”
Kilas balik itu berputar seperti kaset rusak di kepala Rani. Ia teringat betapa paniknya Farhan saat itu, berlari kesana kemari menghubungi bank ASI, sementara Rani sendiri hanya menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan perasaan hampa.
Bagi Rani, tangisan Rafna saat itu bukan suara malaikat kecil yang butuh pertolongan, melainkan beban tambahan yang mengacaukan rencana besarnya.
"Oeeek! Oeeek!" tangis kecil Rafna membuat Rani kesal. Ia menutup wajahnya dengan bantal. Berharap tidak mendengar tangisan itu.
Farhan yang ke dalam rumah, mendengar tangisan bayi langsung masuk. Ia menatap istrinya menutup wajah dengan bantal.
'Rani?" sebuah panggilan yang mengagetkan Rani.
"Eh ... Mas?" ia jadi kikuk ketika ketahuan.
"Kamu kenapa?" tanya Farhan menatapnya penuh tuntutan.
'Aku ... Aku pusing, Mas!' jawab Rani melemahkan suaranya.
Wajah Farhan yang sedikit curiga langsung berubah cemas dan khawatir. Ia mendekat dan duduk di sisi ranjang. Meraba kening sang istri.
"Kamu pusing kenapa sayang?' tanyanya pelan.
Rani tertunduk, ia tak mungkin mengatakan jika dirinya pusing akibat tidak suka sama bayinya sendiri.
"Entah lah, Mas. Semenjak Rafna lahir. Aku seperti hilang kendali," jawabnya pada akhirnya.
"Sayang, apa aku menyakitimu?" tanya Farhan merasa bersalah.
Pria itu memeluk istrinya pelan, mengelus punggung Rani. Wanita itu merasa kehangatan dan cinta tulus dari suaminya.
Setelah merasa cukup, ia menguraikan pelukannya. Menatap istrinya dan mengecup kening sang istri mesra.
"Aku tinggal lagi ya," ujarnya Rani mengangguk.
Farhan pun berdiri, membuat susu untuk Rafna yang masih menangis. Setelah menyedot susu di botolnya. Rafna baru tenang dan terlelap.
Rani berdecih pada bayinya setelah Farhan menutup pintu. Ia merebahkan dirinya kembali dan akhirnya tertidur sampai ashar datang.
Sementara di rumah Sinta, perempuan itu tak lagi sibuk seperti sediakala. Tokonya tetap berjalan. Pesanan kue tatap ada, tapi tak sebanyak waktu awal-awal hingga lima tahun toko berjalan. Lalu perlahan pesanan demi pesanan menurun. Lalu stabil sampai sekarang.
Leo dan Adrian pun mulai beranjak dewasa. Adrian kini sudah masuk SMA sementara Leo masuk universitas pilihannya. Semuanya Sinta tak perlu pusing memikirkan uang ataupun sibuk ikut mendaftarkan putra pertamanya itu. Karena Farhan telah menyiapkan semuanya.
"Bunda ... Besok ada pertemuan orang tua!' ujar Adrian membuyarkan lamunan Sinta.
'Oh iya, Bunda udah catet di notebook ponsel Bunda!" jawab Sinta cepat.
Adrian menatap ibunya. Sudah lama ia tak melihat ibunya sesibuk dulu.
"Bunda bosen ya di rumah terus?" tanyanya menerka.
"Tentu tidak sayang!" bantah Sinta.
"Tapi hampir beberapa menit Bunda selalu lihat hape!' sahut Adrian, ada sedikit protes di sana.
"Bunda itu punya usaha, Dek!" sahut Leo yang turun dari lantai dua.
"Jadi dia memastikan jika usahanya lancar," lanjutnya tenang.
"Hampir setiap menit? Ayah CEO kayaknya jarang liat hape kalau di rumah!' sahut Adrian dan membuat Leo dan Sinta terdiam.
"Sayang, sudah ya!" putus Sinta.
"Bunda memang sedikit bosan karena tadinya Bunda ikut kerja," pada akhirnya ia pun mengaku.
"Iya ... sampai bunda lupa harus menjemput kami ...," sahut Adrian pelan.
bersambung.
ya gitu lah.
Next?