NovelToon NovelToon
Surat Cinta Untuk Dinara

Surat Cinta Untuk Dinara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Cinta setelah menikah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.

Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.

Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Keputusan Besar di Surabaya

Malam di Blitar terasa lebih sunyi dari biasanya, namun bagi Dimas, kesunyian ini adalah alarm yang memekakkan telinga. Ia berdiri di ambang pintu kamar, memerhatikan Dinara yang sedang merapikan mukena setelah shalat Isya. Istrinya itu tampak lebih kurus sejak mereka menetap di sini. Ada gurat kelelahan yang menetap di bawah matanya, bukan karena kurang tidur, melainkan karena lelah batin menghadapi standar "menantu sempurna" yang dipaksakan ibunya.

Dimas tahu, jika mereka terus di sini, cahaya di mata Dinara akan benar-benar padam sebelum gadis itu sempat memakai toga.

"Dek," panggil Dimas pelan.

Dinara menoleh, mencoba memberikan senyum yang—sayangnya—tidak sampai ke mata. "Nggih, Mas? Mau dibuatkan teh?"

"Enggak usah. Duduk sini sebentar," Dimas menepuk sisi ranjang di sampingnya. Begitu Dinara duduk, Dimas menggenggam tangan istrinya yang terasa dingin. "Besok lusa, kita pindah ke Surabaya."

Mata Dinara membulat. "Lho, Mas? Tapi Ibu... Ibu bilang kita di sini saja dulu sampai aku lulus. Ibu kan juga pengen kita bantu-bantu di sini kalau ada acara keluarga."

"Ibu itu pengennya kamu jadi asisten pribadinya, Sayang," sahut Dimas dengan nada jujur yang getir. "Mas nggak mau kamu terus-terusan jadi sasaran tembak sindiran tetangga atau dikritik Ibu soal cara motong bawang. Kamu itu istrinya Dimas, bukan buruh cuci piring rumah ini. Mas mau kamu fokus kuliah. Di Surabaya, kita punya kehidupan sendiri."

"Tapi kuliahku di Malang gimana, Mas? Kalau pindah Surabaya, apa nggak kejauhan?" Dinara tampak ragu, meski binar harapan mulai muncul di matanya.

Dimas tersenyum, kali ini senyum penuh rencana. "Jaman sekarang sudah ada jalan tol, Dek. Blitar-Malang-Surabaya itu sudah kayak sejengkal kalau niatnya ibadah. Nanti Mas atur. Kamu bisa tinggal di kosan dekat kampus kalau lagi banyak jadwal, atau Mas antar-jemput setiap hari. Mas bisa ngetik naskah di kafe dekat kampusmu sambil nunggu kamu pulang. Gampang toh? Ojo digawe mumet."

Dinara terdiam. Membayangkan hidup berdua saja dengan Dimas di Surabaya terasa seperti mimpi yang terlalu indah. "Ibu gimana, Mas? Beliau pasti marah."

"Biarkan Mas yang bicara. Ini tugas suami, bukan tugas mahasiswa hukum semester lima," Dimas mengedipkan mata, mencoba mencairkan suasana.

Keesokan paginya, bom itu meledak di meja makan. Bu Subroto meletakkan centong nasinya dengan keras hingga menimbulkan bunyi denting yang memicu ketegangan.

"Pindah? Ke Surabaya sekarang? Dim, istrimu itu belum selesai kuliah. Di sana nanti siapa yang ngawasi? Siapa yang ngajari Dinara tata krama kalau bukan Ibu?" suara Bu Subroto meninggi.

Dimas tetap tenang, ia menyuap nasi pecelnya perlahan sebelum menjawab. "Bu, kafe Dimas di Surabaya butuh dipantau langsung. Nggak bisa cuma lewat telepon. Lagian, Dinara itu sudah pinter, sudah tahu caranya jadi istri yang baik. Masalah tata krama, nanti Dimas yang bimbing pelan-pelan."

"Tapi Ibu belum setuju!"

"Dimas bukan minta izin, Bu. Dimas lagi pamit," ujar Dimas dengan suara rendah namun penuh wibawa. "Sebagai suami, Dimas punya tanggung jawab buat jaga ketenangan hati istri. Dinara butuh suasana yang tenang buat skripsinya nanti. Kalau di sini terus, kasihan dia, Bu. Kepikiran omongan orang terus."

Pak Subroto yang sejak tadi diam, akhirnya berdeham. Ia menatap putranya, lalu beralih ke Dinara yang tertunduk diam. "Ya sudah. Kalau memang itu keputusanmu sebagai suami, Bapak nggak bisa melarang. Asal jangan lupa, sesekali pulang ke Blitar. Dan kamu, Dinara, jaga dirimu baik-baik di kota orang."

Bu Subroto mendengus, masuk ke dapur tanpa sepatah kata pun. Itu adalah bentuk protes bisu, namun Dimas tahu, benteng pertahanan ibunya sudah runtuh.

Dua hari kemudian, mobil minibus milik Dimas sudah terisi penuh dengan kardus-kardus buku dan koper. Mereka berangkat tepat setelah shalat Subuh. Saat mobil perlahan meninggalkan pekarangan rumah di Blitar, Dinara menoleh ke belakang melalui kaca spion. Ia merasa seperti baru saja keluar dari sebuah kotak yang menyesakkan.

Begitu mobil masuk ke gerbang tol, Dimas melirik istrinya. "Gimana? Sudah merasa merdeka?"

Dinara mengembuskan napas panjang, pundaknya yang biasanya tegang kini tampak santai. "Rasanya aneh, Mas. Lega, tapi juga takut. Nanti di Surabaya kita gimana?"

"Lho, ya gimana. Mas kerja, kamu kuliah. Kalau malam kita cari makan bareng. Kalau kamu capek, Mas pijetin. Kalau Mas lapar, ya kamu... ya masak sebisanya lah, atau kita go-food saja kalau kamu lagi males," tawa Dimas pecah. "Di Surabaya itu suasananya beda, Dek. Orang nggak akan tanya 'kapan hamil' setiap lima menit sekali. Di sana orang lebih pusing mikir macet sama cicilan motor."

Perjalanan dua jam lebih itu tidak terasa membosankan. Dimas terus menceritakan tentang kafenya di daerah Gubeng dan bagaimana ia sudah menyiapkan satu sudut meja khusus di lantai dua untuk Dinara belajar.

"Mas beneran mau antar-jemput kalau Dinara ada kelas?" tanya Dinara tak percaya.

"Beneran, Sayang. Mas ini kan penulis, tempat kerja Mas itu di mana saja asal ada laptop sama kopi. Anggap saja Mas lagi riset novel tentang supir ganteng yang jatuh cinta sama penumpangnya," goda Dimas. "Lagian, Mas lebih tenang kalau kamu di bawah pengawasan Mas langsung. Surabaya itu keras, Dek. Tapi tenang, Mas lebih keras kalau ada yang berani ngganggu kamu."

Memasuki perbatasan Surabaya, hawa panas mulai terasa menyentuh kaca mobil. Gedung-gedung tinggi dan hiruk-pikuk kendaraan menyambut mereka. Bagi orang lain, ini mungkin kota yang melelahkan, tapi bagi Dinara, ini adalah wilayah kedaulatan barunya.

Mereka tiba di sebuah unit apartemen sederhana namun estetik di kawasan Surabaya Timur. Begitu pintu terbuka, aroma pengharum ruangan vanilla menyambut mereka. Tidak ada mertua, tidak ada tetangga yang hobi mengintip dari balik gorden, hanya ada mereka berdua.

"Bismillah, Sayang. Selamat datang di rumah kita yang sebenarnya," ucap Dimas sambil meletakkan koper pertama di tengah ruangan.

Dinara melangkah masuk, ia menyentuh meja kayu kecil di dekat jendela yang menghadap ke arah jembatan Suramadu di kejauhan. "Mas... terima kasih ya. Terima kasih sudah bawa Dinara keluar dari sana."

Dimas mendekat, merangkul pinggang istrinya dari belakang. "Mas yang harusnya terima kasih karena kamu mau sabar selama di Blitar. Sekarang, tugasmu cuma dua: selesaikan kuliahmu dan bahagia sama Mas. Sisanya, biar Mas yang urus."

Dimas membalikkan tubuh Dinara agar menghadapnya. "Tapi ya jangan senang dulu. Di sini Mas bakal lebih sering jahilin kamu karena nggak ada Ibu yang bakal marahi Mas."

"Mas mah jahilnya sudah mendarah daging," canda Dinara sambil menyandarkan kepalanya di dada Dimas.

"Oh jelas. Itu bumbu dapur paling penting di rumah tangga kita," Dimas mencium puncak kepala Dinara dengan lembut. "Sekarang, ayo kita beres-beres. Habis itu kita shalat Dhuhur jamaah pertama di rumah ini. Mas mau lapor sama Allah kalau kita sudah sampai dengan selamat."

Malam pertamanya di Surabaya tidak lagi dilewati Dimas dengan tidur di lantai. Di kamar apartemen yang sejuk itu, mereka mulai belajar arti kemandirian yang sesungguhnya. Tidak ada lagi keran yang sengaja dinyalakan untuk menutupi tangis. Yang ada hanyalah suara tawa kecil saat Dimas gagal memasak mie instan tanpa tumpah, dan suara Dinara yang dengan sabar membacakan catatan kuliahnya sementara Dimas mendengarkan sambil pura-pura mengerti.

Di kota pahlawan ini, mereka bukan lagi sekadar dua orang yang dijodohkan. Mereka adalah tim. Di sinilah, surat-surat cinta yang ditulis Dimas mulai menemukan makna sejatinya—bukan lagi tentang janji di atas kertas, tapi tentang tindakan nyata seorang suami yang siap menjadi tameng dan rumah bagi istrinya.

Babak kecanggungan di Blitar telah usai. Dan saat lampu-lampu kota Surabaya mulai menyala di bawah sana, Dimas tahu, ia telah mengambil keputusan terbaik dalam hidupnya.

"Mas..." panggil Dinara saat mereka duduk di balkon kecil malam itu.

"Kenapa, Dek?"

"Dinara sayang sama Mas."

Dimas tertegun sejenak, lalu tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Wah, ini pernyataan hukum yang sah dan mengikat ya? Nggak bisa dicabut kembali?"

"Nggak bisa, Mas."

"Oke. Kalau gitu, hukumannya adalah... kamu harus nemenin Mas makan penyetan di pinggir jalan sekarang juga. Mas lapar banget!"

Tawa mereka menyatu dengan suara bising Surabaya, menandai dimulainya babak baru yang lebih manis, lebih harmonis, dan benar-benar mandiri.

1
Wardah Saiful
bagus ceritanya,semangat thor
kaka_21: siap kakak! (kaka)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!