NovelToon NovelToon
Bayangkan Di Rumah Sendiri

Bayangkan Di Rumah Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cerrys_Aram

Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Langit yang Berbeda

Suasana di meja makan mansion Omerly malam itu lebih sunyi dari biasanya. Hanya ada suara denting garpu dan pisau yang terasa seperti dentang jam kematian. Aldric tidak bicara, namun auranya begitu menekan hingga Zerya hampir kesulitan menelan makanannya.

"Semua persiapan sudah selesai, Pih. Zerya berangkat besok pagi," ucap Zerya memecah keheningan.

Aldric meletakkan pisaunya, menatap Zerya dengan tatapan datar yang sulit diartikan. "Javian Talandra pikir dia memenangkan permainan ini hanya karena memegang kontrak."

Zerya terdiam, menanti kelanjutannya.

"Pergilah ke London," lanjut Aldric. "Jalankan peranmu sebagai wajah proyek itu dengan sempurna. Tapi jangan lupa satu hal, Zerya..."

Aldric memajukan tubuhnya sedikit. "Setiap investasi memiliki batas waktu. Papih sudah bicara dengan kolega kita di Singapura. Mereka bersedia menunggu kepulanganmu dalam dua belas bulan. Papih memberikanmu kebebasan sementara ini sebagai modal untukmu belajar bagaimana dunia bekerja di bawah kaki Talandra."

Aldric tersenyum tipis—senyum yang membuat Zerya sadar bahwa ayahnya tidak menyerah. Dia hanya sedang melakukan hedging, membiarkan Zerya dipinjam sementara oleh Javian demi keuntungan perusahaan, sebelum akhirnya ditarik kembali ke sangkarnya.

"Jangan biarkan dirimu menjadi lebih murah dari kontrak yang ditandatanganinya," tutup Aldric dingin sebelum berdiri dan meninggalkan ruangan.

Bandara Internasional Heathrow menyambut mereka dengan suhu 10°C dan langit kelabu khas London. Zerya melangkah keluar dari terminal privat dengan mantel wol panjangnya, diikuti oleh asisten pribadinya dan dua pengawal kiriman Aldric yang tetap menempel seperti bayangan.

Di sana, sebuah Bentley hitam sudah menunggu. Javian berdiri di samping mobil, mengenakan trench coat hitam yang membuatnya terlihat menyatu dengan atmosfer London yang elegan dan misterius.

"Selamat datang di London, Nona Zerya," ucap Javian. Ia membukakan pintu mobil untuknya sendiri—sebuah gestur yang sederhana namun terasa sangat berbeda saat dilakukan oleh pria setingkat dia.

Di dalam mobil, selama perjalanan menuju hotel di kawasan Mayfair, keheningan menyelimuti mereka. Zerya menatap ke luar jendela, melihat bangunan-bangunan bata merah yang mulai berganti dengan arsitektur modern.

"Ayah Anda mengirim pesan pagi ini," ucap Javian tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari tablet di pangkuannya.

Zerya menoleh. "Apa isinya?"

"Sebuah pengingat tentang jatuh tempo kontrak," Javian menutup tabletnya, lalu beralih menatap Zerya. "Dia ingin memastikan saya tidak lupa bahwa Anda hanya 'aset yang dipinjamkan'."

Zerya mengepalkan tangannya di balik saku mantel. "Dan bagi Anda... apakah saya memang hanya itu? Aset yang dipinjamkan?"

Javian menatap mata Zerya cukup lama. Di dalam mobil yang bergerak tenang itu, intensitas tatapannya terasa lebih berat daripada biasanya.

"Setiap aset memiliki nilai," jawab Javian dengan suaranya yang bariton. "Tapi ada beberapa hal yang nilainya tidak bisa dicantumkan dalam adendum karena terlalu berisiko jika diketahui lawan."

"Maksud Anda?"

Javian tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Ia justru mengalihkan pandangan ke depan saat mobil melambat di depan sebuah hotel mewah. "Maksud saya adalah, selama Anda di sini, Anda bukan lagi bayangan Aldric Omerly. Anda adalah rekan saya. Berdirilah dengan tegak, Zerya. Karena mulai besok, panggung ini sepenuhnya milik Anda."

Saat pintu mobil terbuka, Javian turun lebih dulu dan mengulurkan tangannya pada Zerya. Bukan sebagai formalitas, tapi sebuah pernyataan terbuka di depan para pengawal Aldric.

Zerya menyambut tangan itu. Hangat. Solid.

"Jangan biarkan mereka melihatmu gemetar," bisik Javian tepat di dekat telinga Zerya saat gadis itu turun. "London menyukai keberanian, bukan kepatuhan."

Zerya mendongak, menatap mata Javian, dan untuk pertama kalinya sejak mereka mendarat, ia merasa paru-parunya memiliki cukup ruang untuk bernapas. Ia tidak tahu apa yang direncanakan Javian, tapi ia tahu satu hal: di bawah langit London ini, permainan baru saja dimulai.

1
Iqlima Al Jazira
next thor, kopi & vote untukmu👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!