Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."
Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.
Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.
Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Harga Diri yang Dipertaruhkan
Dua hari telah berlalu sejak pertemuan yang menyesakkan itu. Bagi Hana, butik hijab milik keluarganya adalah satu-satunya tempat ia bisa menarik napas tanpa merasa tercekik. Jika sedang tidak ada jadwal kuliah, Hana akan menghabiskan waktu seharian di sana, membantu Mama mengelola bisnis yang kian berkembang pesat.
Hari ini, butik begitu sibuk. Sejak pagi, Hana tak berhenti melakukan siaran live di aplikasi belanja online. Suaranya yang ramah dan pembawaannya yang ceria membuat penonton betah berlama-lama. Jemarinya lincah melipat kain, melakukan pengemasan, hingga memastikan pengiriman barang berjalan lancar.
Melihat tumpukan paket yang siap dikirim, Hana menyeka keringat di dahinya dengan senyum tipis. Omzet hari ini melonjak drastis, sebuah pencapaian yang setidaknya mampu mengalihkan pikirannya dari kemelut wasiat itu.
"Alhamdulillah ya, Nak. Hari ini pembelian benar-benar membeludak," ucap Diana, mama Hana, sambil merapikan sisa-sisa kain setelah lima karyawan mereka pulang.
"Iya, Ma. Hana bersyukur banget. Walaupun capek, tapi lihat hasilnya begini jadi senang," sahut Hana sembari tersenyum.
Diana menatap putrinya dengan haru. Setelah dua hari Hana hanya mengurung diri dan merenung, akhirnya senyum itu muncul kembali, meski tak secerah biasanya.
Hana adalah gadis yang periang dan murah senyum, itulah alasan mengapa pelanggan sangat menyukainya. Namun sejak kepergian Inggit, keceriaan itu seolah berputar 180 derajat menjadi mendung yang tak kunjung usai.
Namun, ketenangan itu hanyalah fatamorgana yang pecah seketika.
"HANA!"
Sebuah teriakan melengking dari arah pintu masuk membuat bahu Hana tersentak. Siska melangkah masuk dengan wajah yang masam, seolah baru saja menelan sesuatu yang pahit. Ia memijat pelipisnya dengan kasar, memperlihatkan raut wajah yang tidak sabaran.
"Ada apa ya, Tante?" tanya Hana, masih berusaha menjaga kesopanannya meski jantungnya mulai berdegup kencang.
Siska mendengus kasar, menatap Hana dengan pandangan merendah.
"Hana, kamu itu tinggal nikah saja kenapa ribet banget sih? Kenapa harus pakai drama minta waktu satu minggu segala? Bukannya ini memang bagian dari rencana kamu sejak awal?"
Hana tertegun, lidahnya kelu mendengar tuduhan itu.
"Bikin pusing saja tahu nggak!" lanjut Siska tanpa memedulikan perasaan Hana.
"Kalau kamu segera nikah, dana kami dari wasiat Mbak Inggit itu bisa segera cair. Kami butuh uang itu secepatnya!"
Mama Hana yang sejak tadi diam, akhirnya tak tahan lagi. Ia melangkah maju, menghalangi pandangan Siska terhadap putrinya.
"Jadi, kamu ke sini hanya untuk membicarakan harta?" tanya Mama Hana dengan suara yang bergetar menahan amarah.
"Iya! Memangnya apa lagi? Pelakor ini benar-benar bikin ribet semuanya, tahu nggak?!" balas Siska tajam.
"Stop! Berhenti panggil anak saya pelakor!" tegas Mama Hana. Ia menarik Hana ke belakang punggungnya, melindunginya layaknya seorang induk singa.
"Anak saya tidak pernah merebut siapa pun!"
Siska tertawa sinis, matanya menyipit penuh kebencian.
"Oke, saya tidak akan panggil dia dengan sebutan itu lagi... asalkan Hana segera menikah dengan Mas Arlan besok atau lusa. Biar urusan harta ini selesai secepatnya!"
Setelah melontarkan kalimat yang begitu merendahkan itu, Siska berbalik dan pergi begitu saja tanpa merasa berdosa. Suara langkah sepatunya yang menjauh meninggalkan keheningan yang menyakitkan di dalam butik.
Hana kembali terdiam, tubuhnya terasa lemas. Air mata yang sempat ia tahan kini kembali menggenang. Ia merasa harga dirinya benar-benar sudah diinjak-injak hingga ke dasar.
Kemarin ia diteriaki pelakor karena dituduh merebut suami orang, dan hari ini ia justru dipaksa menikahi pria yang sama demi warisan dan harta. Logika macam apa ini? Baru saja ia merasa sedikit tenang dengan pekerjaannya, kenyataan pahit kembali menghantam kepalanya dengan lebih keras.