Dua puluh tahun setelah pembantaian yang menghancurkan keluarganya, Dimas Brawijaya menemukan adiknya, Aluna, masih hidup—terkurung trauma di sebuah rumah sakit jiwa. Aluna terus menyanyikan lagu masa kecil mereka dan menuliskan satu kata yang sama di dinding: PEMBUNUH. Ketika Dimas dan saudara kembarnya, Digo, membawa Aluna pulang, serpihan ingatan kelam mulai muncul: pintu loteng, suara langkah di malam tragedi, dan ketakutan ekstrem pada seorang paman yang dulu mereka percaya. Sebuah diary ibu mereka membuka petunjuk mengerikan—bahwa pelaku mungkin adalah “orang dekat”. Kini, kebenaran masa lalu menunggu untuk dibuka, meski risikonya adalah menghancurkan sisa keluarga yang masih bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Anggrek Mawar Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 9 — Buku Lagu Ibu
Rumah tua itu kembali terasa seperti sebuah kuburan yang belum selesai diratapi. Angin malam menyusup masuk melalui celah-celah jendela yang retak, mengibaskan gorden lusuh seolah mengundang kenangan lama keluar dari persembunyiannya. Usai percakapan berat dengan Digo, Dimas tidak bisa tidur. Ada sesuatu yang menariknya, memanggilnya, menuntunnya ke sebuah ruangan yang selama ini selalu ia hindari.
Kamar orangtua mereka.
Pintu kayu itu masih menunjukkan bekas congkelan lama, saksi bisu dari malam mengerikan itu. Dimas menggenggam gagangnya, merasa dingin menembus telapak tangannya. Perlahan ia mendorong pintu, dan aroma khas kamar tua—campuran kayu lembap, parfum lawas, dan debu bertahun-tahun—langsung menyergap.
Semua masih seperti dulu. Lemari besar, meja rias dengan kaca retak, ranjang yang sudah ditutupi kain putih agar tak dimakan rayap. Tapi yang membuat napas Dimas tercekat adalah kotak musik kecil di atas meja rias—kotak perak berhias ukiran kupu-kupu.
Ia ingat. Itu milik ibunya.
Dimas mendekat, jemarinya menyapu debu tipis di permukaan kotak. Saat ia membuka tutupnya, mekanisme tua yang sudah berkarat tersentak hidup. Kotak musik itu memainkan melodi lembut… melodi yang selama ini menghantui mereka:
Kupu-kupu terbang,
sayapnya tiga…
Suara lirih itu membuat seluruh bulu kuduk Dimas berdiri. Lagu itu—lagu yang dinyanyikan Aluna di rumah sakit jiwa. Lagu yang seharusnya tidak diketahui siapa pun selain keluarga.
Lagu yang hanya dinyanyikan ibu mereka ketika ingin menidurkan Aluna.
Dimas menahan napas. Ada yang tidak beres. Lagu itu seharusnya tidak pernah keluar dari rumah ini.
Kotak musik berhenti tiba-tiba setelah memutar dua baris pertama, seolah terhenti karena ingatan buruk.
Dimas mengalihkan perhatian pada laci meja rias. Instingnya mendorongnya untuk membuka. Laci itu awalnya seret, tapi setelah ditarik keras, isinya terlihat: tumpukan surat, beberapa foto, dan sebuah buku kecil bersampul kain biru lusuh.
Buku lagu.
Milik ibunya.
Dimas membuka lembar pertama. Tulisan tangan ibunya yang halus menghiasi halaman. Lirik lagu anak-anak, melodi pengantar tidur, beberapa catatan singkat. Ia membalik-balik halaman penuh nostalgia itu sampai akhirnya tiba pada halaman dengan judul:
“Kupu-Kupu Tiga Sayap”
Liriknya sama persis seperti yang dinyanyikan Aluna… namun di bawahnya terdapat tulisan tangan lain. Tulisan ayah mereka. Tulisan yang lebih besar, lebih tegas, tapi terlihat tergesa-gesa.
Tulisan itu hanya dua kata:
“Dia melihat.”
Dimas menelan ludah. Jantungnya berdegup keras.
Siapa melihat apa?
Apa maksud ayah?
Di halaman sebelah, lebih banyak catatan ayahnya. Catatan yang tampak seperti pesan yang ditulis ketika ia sudah mulai curiga pada seseorang.
Dimas membaca seluruhnya tanpa berkedip.
“Dia melihat hari itu.”
“Tidak boleh dekat dengan anak-anak.”
“Liana bilang dia masuk kamar tanpa izin.”
“Marco tahu.”
Nama itu.
Marco.
Dimas mematung. Seolah seluruh tubuhnya membeku di tempat. Ada gema asing dalam kepalanya, seakan ayahnya sendiri sedang berbisik dari dalam buku.
Marco tahu.
Atau… Marco yang melihat?
Atau—yang lebih mengerikan—Marco yang dilihat?
Tiba-tiba ruangan itu terasa mengecil. Dada Dimas menghimpit seperti dipaksa menanggung beban berton-ton. Ia memutar kembali pertemuan Aluna dengan Marco beberapa hari lalu—bagaimana gadis itu langsung histeris begitu melihat pamannya.
Bukan takut.
Bukan cemas.
Tapi ketakutan murni yang tidak bisa dipalsukan.
Seakan tubuhnya mengingat sesuatu yang pikirannya masih mengunci rapat.
Dimas meremas buku itu. “Tidak… tidak mungkin,” desisnya. “Paman Marco tidak mungkin…”
Tapi kemudian ia melihat sesuatu lagi.
Di pojok kanan halaman, nyaris pudar, seperti bekas tinta yang terseret keringat atau air mata, ada satu kalimat kecil:
“Jika terjadi apa-apa, cari panti itu. Dia akan mengerti.”
Panti itu.
Kasih Ibu.
Tempat Sania bilang Aluna pernah tinggal.
Seketika Dimas merasa ada benang merah yang mulai menyambung satu per satu. Lagu ibu. Reaksi Aluna. Nama Marco di dinding kamar rumah sakit. Catatan ayahnya.
Dan seseorang yang melihat sesuatu yang seharusnya tidak mereka lihat.
Dimas menutup buku dan menghembuskan napas panjang, mencoba menenangkan detakan jantungnya. Namun semakin ia mencoba berpikir jernih, semakin ingatan samar dalam kepalanya menampakkan serpihan kejanggalan baru.
Misalnya:
Kenapa Marco begitu cepat setuju ketika diminta menjemput Aluna?
Kenapa ia tampak seperti orang yang dihantui, bukan orang yang kehilangan?
Dan kenapa ia selalu menghindari topik tentang malam itu?
Dari arah ruang tengah, suara roda kursi bergesek lantai terdengar pelan.
“Mas?” Digo memanggil dari kejauhan. “Mas, kamu di situ?”
Dimas memejamkan mata, mencoba meredakan gemuruh dalam dadanya. Lalu ia menjawab, “Aku di kamar Bapak dan Ibu.”
Digo muncul di ambang pintu beberapa detik kemudian. Sorot matanya langsung menuju buku yang Dimas genggam.
“Kamu temukan sesuatu?” tanya Digo pelan, seolah takut mendengar jawabannya.
Dimas mengangguk perlahan. “Ayah mencurigai seseorang.”
“Siapa?” suara Digo hampir berbisik.
Dimas menatap kakaknya.
“Mungkin… Marco.”
Digo tidak terkejut. Tidak sepenuhnya. Ia hanya menutup mata sebentar, seperti seseorang yang sudah lama takut mendengar jawaban itu.
“Mas,” katanya dengan suara serak, “kalau itu benar… kita dalam bahaya.”
Dimas menatap buku lagu di tangannya.
Melodi kupu-kupu kembali terngiang pelan, menusuk kepalanya.
Kali ini, ia yakin satu hal:
Lagu masa kecil mereka bukan lagi sekadar lagu pengantar tidur.
Lagu itu adalah pesan.
Peringatan.
Dan ayah mereka sudah mencoba menyampaikannya sejak lama.