“Aku akan bantu ungkap perselingkuhan suamimu, tapi setelah itu, ceraikan dia dan menikahlah denganku.”
Sekar tak pernah menyangka kalimat itu keluar dari mulut adik iparnya, Langit Angkasa. Lima bulan menikah dengan Rakaditya Wiratama, ia tengah hamil dan merasa rumah tangganya baik-baik saja. Sampai noda samar di kemeja suaminya dan transfer puluhan juta rupiah ke rekening-rekening asing membuka satu per satu kebohongan yang selama ini tersembunyi.
Sekar harus memilih: bertahan dalam luka, atau menyetujui ide gila yang bisa menghancurkan semuanya.
Dan ketika balas dendam berubah menjadi pernikahan, siapa yang sebenarnya akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hashifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita simpanan suamiku
Langit melangkah cepat memasuki ruang guru. Napasnya masih sedikit tersengal.
Di sana, Zayn berdiri dengan wajah ditekuk. Matanya sembap, bibirnya mengeras menahan tangis. Di sebelahnya seorang pria paruh baya menemani Zayn.
Di hadapan mereka, seorang anak memegangi hidungnya yang berdarah, ditemani ibunya yang tampak tidak terima.
“Zayn …,” panggil Langit pelan.
Zayn menoleh. Begitu melihat Langit, pertahanannya runtuh.
“Papa …,” suaranya pecah. Ia berlari dan memeluk Langit erat. “Dia bilang Zayn nggak punya papa … mereka bilang Papa bukan papa kandung Zayn …”
Langit membeku sesaat. Rahangnya mengeras, tapi tangannya justru mengusap punggung Zayn pelan, menenangkan.
“Sudah … Papa di sini,” ucapnya rendah.
Ia mengangkat wajahnya, menatap ke arah anak itu dan ibunya. Wanita itu langsung mengalihkan pandangan salah tingkah.
“Maaf, Pak Langit. Saya Zara, wali kelas Zayn. Bisa kita bicara sebentar?” ucap seorang guru dengan nada hati-hati.
Langit mengangguk singkat. “Pak Amin, kembali ke kafe dulu,” katanya tanpa menoleh. “Biar saya yang urus di sini.”
“Baik, Pak.” Pria paruh baya bernama Amin itu mengangguk meninggalkan ruangan.
Setelah itu, Langit duduk berhadapan dengan Zara.
“Apa yang terjadi?” tanyanya datar.
Zara menjelaskan dengan tenang.
"Minggu depan ada acara sekolah bertema My Father is My Hero. Kami membahas dengan anak-anak kalau nantinya acara itu akan diikuti oleh ayah dan anak untuk mempererat bonding antara ayah dan anak. Tadi Zayn dan Farhan sempat berselisih. Dari keterangan anak-anak lain … ada ucapan yang memicu pertengkaran mereka tentang—"
“Namanya juga anak-anak, Pak,” sela ibu Farhan cepat. “Farhan nggak sengaja.”
Langit menoleh perlahan. Tatapannya tajam, tapi suaranya tetap terkendali.
“Justru karena mereka masih anak-anak, seharusnya kita ajarkan mana yang benar sejak dini, Bu,” ujarnya tenang. “Ini bukan sekadar bercanda. Ini sudah termasuk perundungan.”
Wanita itu mendengus pelan. “Tapi nggak harus pakai kekerasan juga, kan?”
Langit menarik napas.
“Zayn membela diri,” katanya tegas. “Saya akan tetap mengajarinya bahwa memukul itu salah. Tapi saya juga tidak akan membiarkan dia diperlakukan seperti itu.”
“Tapi memang benar, kan? Farhan hanya mengatakan yang sebenarnya. Kita semua tahu kalau papa kandung Zayn memang nggak pernah terlihat.”
Langit mengeratkan rahangnya.
“Apakah hubungan ayah dan anak harus selalu tentang darah?” suara Langit rendah, tapi tegas. “Saya yang merawat dia sejak bayi. Saya yang mengadzani dia saat lahir. Jadi tolong, ajarkan anak Ibu untuk menghormati orang lain.”
Ruangan itu hening. Langit menoleh pada Zara.
“Saya akan hadir di acara itu sebagai ayahnya. Dan saya harap pihak sekolah bisa bersikap adil. Mungkin juga perlu ada edukasi tentang perundungan.”
Zara mengangguk cepat. “Baik, Pak.”
Langit lalu menoleh pada Zayn. “Zayn, minta maaf.”
Zayn menatapnya ragu.
“Papa tahu kamu membela diri. Tapi memukul seseorang tetap salah. Sekarang minta maaf.”
Zayn akhirnya mengangguk mendengar ucapan Langit. Ia berjalan pelan ke arah Farhan. Tangannya terulur, meski wajahnya masih cemberut.
“Maaf …,” gumamnya. “Tapi aku nggak suka kamu ngomong begitu. Aku punya papa.”
Farhan menunduk. Ia tidak membalas.
“Farhan, ayo salaman,” bujuk Zara lembut.
Anak itu hampir mengangkat tangannya, tapi ibunya menahannya.
“Sudah, nggak usah,” katanya dingin. “Ayo pulang.”
Ia menarik lengan anaknya keluar ruangan tanpa menoleh lagi. Langit menatap punggung mereka tanpa ekspresi. Namun rahangnya kembali mengeras.
Sementara Zayn berdiri di sampingnya, menggenggam ujung baju Langit lebih erat dari biasanya.
Tepat saat itu, Kania datang dengan napas tersengal. Ia hampir berlari menghampiri Zayn.
“Zayn … kamu nggak apa-apa?” tanyanya cemas. Wajahnya pucat, napasnya belum teratur.
Zayn langsung memeluknya.
Langit menoleh sekilas. “Dia baik-baik saja,” jawabnya singkat, nada suaranya kembali datar.
Ia lalu menatap Zara. “Kalau begitu, kami permisi dulu, Miss.”
Tanpa menunggu jawaban, Langit menggandeng Zayn keluar. Kania mengikuti di belakang dengan langkah cepat.
Zara hanya bisa mengerutkan kening melihat mereka pergi.
“Keluarga yang aneh …,” gumamnya pelan.
Begitu sampai di parkiran, Langit membuka pintu mobil.
“Masuk.”
Zayn menurut tanpa banyak bicara. Begitu pintu tertutup, Langit berbalik pada Kania. Tatapannya tajam.
“Kenapa kamu pergi dari rumah sakit? Bukannya hari ini jadwal kontrol kamu?” suaranya rendah, tapi jelas menahan kesal. “Sudah saya bilang, Zayn itu urusan saya. Kamu urus diri kamu sendiri.”
Kania menunduk. “Maaf, Mas ... saya kepikiran Zayn. Tadi antreannya nggak terlalu panjang, jadi saya langsung ke sekolah.”
Ia menggenggam ujung bajunya, ragu.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Zayn nggak mungkin memukul tanpa alasan.”
Langit mengembuskan napas panjang. Emosinya perlahan turun.
“Dia cuma membela diri,” ujarnya akhirnya. “Jangan dimarahi. Cukup kasih tahu kalau memukul itu tetap salah.”
Kania mengangguk pelan. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Dia … semakin sering bertanya soal ayahnya, Mas,” bisiknya lirih. “Saya … saya nggak tahu harus jawab apa lagi.”
Suaranya hampir pecah.
Langit terdiam sejenak. Tatapannya beralih ke arah mobil, ke arah Zayn yang duduk diam di dalam.
“Aku tahu,” gumamnya pelan.
Hening beberapa detik.
“Tunggu sebentar lagi,” ucap Langit akhirnya. “Tinggal selangkah lagi. Setelah itu... semuanya akan terbongkar.”
***
Sekar berkali-kali melirik jam di pergelangan tangannya.
“Kemana, sih, orang itu? Dasar kanebo,” gerutunya pelan sambil mendesah.
Ia bangkit, melangkah ke arah dinding kaca di ruang privat yang sudah dipesan Langit. Pemandangan kota Jakarta terbentang di hadapannya. Langit sedikit mendung, mengibaratkan situasi hatinya saat ini.
“Kenapa juga harus di tempat begini?” gumamnya. “Kayak mau makan siang romantis saja.”
Sekar menggeleng cepat, menepis pikirannya sendiri.
“Mikir apa, sih, kamu Sekar?”
Ia menyandarkan bahu pada kaca, menatap kosong ke luar. Untuk kesekian kalinya sejak semua ini dimulai, Sekar merasa gamang.
Apakah yang ia lakukan ini benar?
Ia bahkan tidak pernah membayangkan akan berada di posisi seperti sekarang—merencanakan sesuatu bersama adik dari suaminya sendiri. Hal yang—bahkan untuk dipikirkan saja— dulu terasa mustahil.
Namun hidupnya sudah terlanjur berubah. Pengkhianatan Raka menghancurkan sesuatu dalam dirinya. Mengguncang kepercayaannya. Mengubah cara pandangnya tentang cinta, tentang rumah tangga yang ia bangun.
Di tengah kekacauan itu, Langit datang. Membawa tawaran yang terdengar gila. Dan entah bagaimana … ia justru menerima tawaran Langit.
Sekar memejamkan mata sejenak.
‘Ayah … Sekar nggak tahu ini benar atau salah. Tapi Sekar nggak akan membiarkan Mas Raka lolos begitu saja. Sekar nggak bisa menghadapi dia sendirian.’
Tangannya perlahan mengelus perutnya.
‘Sekar butuh sekutu. Dan mungkin … Mas Langit adalah pilihan terbaik yang Sekar punya sekarang.’
“Sayang,” bisiknya lirih, “kita bisa jadi tim yang kuat, kan? Kamu yang kuat di dalam sana, ya. Apa pun yang terjadi … kamu jadi alasan Mama bertahan.”
“Melamun tidak baik untuk ibu hamil.”
Suara itu datang tiba-tiba, membuyarkan lamunan Sekar. Wanita itu tersentak dan menoleh.
Langit sudah berdiri di sampingnya. Sejak kapan pria itu datang, ia bahkan tidak menyadarinya.
Langit menatap lurus ke depan, seolah ikut memperhatikan pemandangan di luar, sebelum akhirnya menoleh.
Tatapannya jatuh tepat pada Sekar.
“Apa pun yang sedang kamu pikirkan, jangan coba-coba kabur dari kesepakatan kita,” ucapnya dingin, lalu berbalik menuju meja.
Sekar menoleh, mengikuti langkahnya.
Ia tertegun begitu melihat meja makan di hadapannya. Beragam hidangan tersaji rapi—dari lauk utama hingga sayur dan buah. Aromanya hangat dan menggugah selera, tapi justru membuat perut Sekar terasa begah.
Langit memesan terlalu banyak. Bahkan cukup untuk sepuluh orang.
Pria itu melirik sekilas. “Kamu mau terus berdiri di situ?”
Sekar tersadar. Ia segera duduk di kursi di seberang Langit. “Mas yang pesan semua ini?”
“Kenapa? Kamu nggak suka?” jawab Langit santai, tetap tanpa menatapnya. “Saya nggak tahu kamu mau makan apa. Jadi saya pesan semuanya.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan datar.
“Tenang saja. Saya sudah minta dapur untuk nggak memakai penyedap berlebihan. Aman untuk ibu hamil.”
Sekar terdiam. Untuk pertama kalinya ia merasa Langit sedikit terasa seperti manusia dibandingkan robot kaku yang biasa ia lihat.
Langit mendorong satu piring berisi nasi putih lengkap dengan sayur dan lauk ke arahnya
“Makan dulu. Setelah itu baru kita bicara.”
Sekar menurut, meski nafsu makannya hampir tidak ada. Sementara pria dihadapannya makan dengan tenang, seolah semua ini hanya makan siang biasa. Padahal Sekar tahu—tidak ada yang “biasa” dari pertemuan ini.
***
Beberapa saat kemudian, saat piring mulai tersisih, Langit menyandarkan tubuhnya. Ia meraih sebuah map cokelat dari sampingnya, lalu mengulurkannya ke arah Sekar.
“Lihatlah.”
Sekar mengernyit, tapi tetap menerimanya.
“Di dalamnya ada informasi tentang wanita simpanan suamimu,” ucap Langit datar.
Jantung Sekar langsung berdegup lebih cepat. Tangannya mendadak dingin. Dengan ragu, ia membuka map itu.
Satu per satu lembaran di dalamnya terbuka. Dan seketika napasnya tertahan menatap beberapa potret Raka bersama seorang wanita. Mereka terlihat begitu—mesra. Tanpa sadar tangan Sekar mencengkeram foto itu dengan erat.
Dan ia terpaku saat mulai mengenal perempuan di dalam foto itu.
“Ini kan …”
gile nih ulet bulu ya kali bikin rusuh dipengajian 4 bulan an
bang Langit kau dimana ih lagi sibuk ama mahasiswa mu kah😂
ap mungkin foto Kaina Raka🙄
ish kebiasan si othor😂