Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?
Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab23
Vivian menatap Nathan dengan sorot mata sinis. Wanita paruh baya itu benar-benar murka melihat sikap keras anaknya yang kini tak lagi bisa ia kendalikan.
“Terserah kalau memang kamu sudah tidak mau menurut lagi pada Mami,” tandasnya tajam.
Nathan menggeleng pelan. Rahangnya mengeras. “Ini bukan soal nurut atau tidak, Mi,” sahutnya cepat. “Ini tentang moral… dan tentang kehidupan seorang gadis yang pernah Mami hancurkan.”
Tatapannya semakin tajam. Apa Mami bisa mengembalikan nama baik gadis itu? Tidak, kan?”
Vivian mendengus kesal. Amarahnya hampir meledak. Ia ingin sekali memaki Nathan, namun sebelum kata-kata kasar itu keluar dari mulutnya, tiba-tiba terdengar suara kecil dari ranjang.
Darrel bergerak. Anak itu mengerjapkan matanya pelan. Sebenarnya sejak tadi ia sudah terbangun, hanya saja ia tetap diam karena melihat ayah dan neneknya sedang berbicara serius.
Meski tidak mengerti semuanya, ada satu hal yang tertangkap oleh telinganya.
Nama Andin.
Nathan langsung mendekat. Ia duduk di kursi di samping ranjang anaknya. “Nak… kamu sudah bangun?” tanyanya lembut.
Darrel mengangguk kecil. Ia menatap ayahnya dengan mata yang masih setengah mengantuk.
“Dad… mana Mbak Andin?”
Nathan terdiam sejenak.
“Katanya Daddy keluar mau jemput Mbak Andin,” lanjut Darrel polos. “Tapi sampai sekarang kok belum datang?”
Kalimat sederhana itu seperti menekan dada Nathan dengan kuat, mana mungkin sanggup pria itu menemui mantannya itu, setelah tahu kebenaran yang terungkap. Bahkan untuk sekadar menatap bayangnya saja ia tidak mampu. Namun dihadapannya ia dihadapkan dengan permintaan sang anak yang tak bisa ia abaikan begitu saja.
Ia menelan ludah.
Sekilas ia melirik Vivian yang masih berdiri tidak jauh dari sana. Namun kali ini Nathan tidak ingin memperpanjang perdebatan.
Fokusnya kini hanya satu, menuruti apa yang menjadi permintaan sang anak, meskipun ia tahu hatinya masih belum benar-benar siap.
Nathan mengusap rambut Darrel dengan lembut. “Daddy akan menjemputnya sekarang,” ucapnya pelan.
Wajah Darrel langsung sedikit cerah. “Benarkah?”
Nathan mengangguk. “Iya. Kamu istirahat dulu. Daddy tidak akan lama.”
Darrel tampak puas dengan jawaban itu. Anak kecil itu kembali merebahkan kepalanya di bantal.
Sementara Nathan berdiri perlahan. Pria itu tidak lagi menoleh pada Vivian. Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah keluar dari ruangan.
Vivian hanya bisa menatap punggung anaknya dengan wajah yang dipenuhi kemarahan dan kekesalan, karena Nathan sudah tidak bisa ia kendalikan lagi.
Beberapa saat kemudian, mobil Nathan melaju membelah jalan kota. Di dalam mobil, pria itu menggenggam kemudi dengan kuat. Rahangnya menegang, sementara pikirannya terus berputar.
Dua belas tahun.
Dua belas tahun ia hidup dengan kebencian pada orang yang salah. Dan selama dua belas tahun itu pula… Andin menanggung semuanya sendirian.
Nathan menghembuskan napas panjang. Wajah Andin tiba-tiba terlintas jelas di benaknya. Tangisan perempuan itu di masa lalu. Tatapan terluka yang dulu ia abaikan.
Hati Nathan terasa semakin sesak, jika mengingat semua itu, ia pun mengumpat pada dirinya sendiri yang seolah percuma.
"Ah ... bodoh!" bentaknya sendiri sambil memukul setir mobilnya. "Kenapa harus Andin Mi... kenapa? Apa perbedaan segitu berpengaruhnya," gumam Nathan dengan amarah.
Mobilnya akhirnya berbelok memasuki gang kecil yang sudah tidak asing lagi baginya. Ia pernah datang ke tempat ini sebelumnya. Namun kali ini perasaannya berbeda.
Jika dulu masih ada ego dan keraguan, sekarang yang tersisa hanya satu.
Penyesalan.
Mobil Nathan berhenti di depan deretan kontrakan sederhana. Saat ia keluar dari mobil, beberapa ibu-ibu yang sedang duduk di depan rumah langsung menoleh.
Tatapan mereka penuh rasa ingin tahu.
“Eh… itu mobil yang kemarin datang lagi,” bisik salah satu dari mereka.
Yang lain langsung menimpali dengan nada setengah mengejek. “Wah… si perawan tua itu akhirnya ada juga yang jemput.”
Beberapa orang tertawa kecil. “Iya. Kirain sampai ubanan tetap sendirian.”
Langkah Nathan yang tadi hendak menuju pintu kontrakan tiba-tiba terhenti.
Ia mendengar semuanya. Setiap kata. Setiap ejekan. Dada Nathan terasa seperti dihantam sesuatu yang berat, perempuan yang dulu ia tuduh berkhianat, yang ia hina, dan ia buang dari hidupnya... ternyata menjalani hidup dan hinaan selama ini sendirian.
Nathan menutup matanya sejenak. Penyesalannya terasa berkali-kali lipat. Perlahan ia kembali melangkah hingga akhirnya berdiri tepat di depan pintu kontrakan kecil itu.
Pintu yang selama dua belas tahun memisahkan dirinya dari masa lalu.
Tangan Nathan terangkat. Namun ia tidak langsung mengetuk, Nathan merasa ragu. Apakah ia masih pantas datang ke kehidupan Andin?
Nathan akhirnya mengetuk pintu itu.
Tok.
Tok.
Tidak lama kemudian terdengar langkah kaki dari dalam. Pintu kontrakan itu terbuka perlahan. Andin berdiri di ambang pintu.
Begitu melihat Nathan, perempuan itu langsung terdiam. Ada sedikit keterkejutan di wajahnya, seolah tidak menyangka Nathan akan datang lagi sore itu.
“Nathan?” ucapnya pelan.
Nathan berdiri kaku. Untuk beberapa detik ia hanya menatap Andin tanpa berkata apa-apa.
Padahal mereka sudah beberapa kali bertemu sejak takdir mempertemukan mereka kembali. Namun sore ini rasanya berbeda.
Lebih berat, dan lebih menyesakkan.
Andin yang akhirnya memecah keheningan.
“Ada apa?” tanyanya datar.
"Darrel," sahut Nathan akhirnya.
"Darrel, dia kenapa lagi?" tanya Andin dengan cepat.
"Dia mencari mu," ucap Nathan.
Mendengar kata Darrel disebut, hati Andin langsung terenyuh, gadis itu mana bisa menolak keinginan Darrel, yang ingin bertemu dengannya, bahkan meskipun tahu Vivian sangat menentang namun langkah Andin masih tetap maju.
"Bentar aku ambil tas dulu," sahutnya begitu tergesa.
Saat dia hendak mengambil tas tiba-tiba suara Nathan menghentikan langkahnya. "Tunggu Ndin," cegah Nathan.
Andin menatap pria itu heran. "Ada apa lagi Darrel sangat menungguku," sahutnya.
Nathan terdiam sejenak meskipun berat tapi ia harus berkata sekarang. “Aku ingin bicara.”
Andin terdiam beberapa detik. Lalu ia menggeleng pelan. “Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Nath, sekarang aku ingin bertemu Darrel."
Nathan langsung menggeleng. “Ada.”
Andin menarik napas panjang, seolah lelah. “Mau bicara apa sih," sahutnya sambil menoleh ke pergelangan tangannya, seolah waktu tidak boleh disia-siakan begitu saja.
"Tapi ini penting Ndin, dan selama ini aku sudah salah paham," jelas Nathan.
Andin tertegun.Tatapannya tenang, tapi jelas menyimpan luka lama. “Beberapa hal tidak perlu dibuka lagi.”
Nathan menatapnya dalam-dalam.
“Aku tahu semuanya.”
Kalimat itu membuat Andin membeku, seketika tatapan teduhnya berubah menjadi kaget.
“Aku tahu apa yang sebenarnya terjadi waktu itu.”
Andin menatapnya lama. Lalu perempuan itu tertawa kecil. Namun tawa itu terdengar pahit.
“Jadi sekarang kamu tahu?” katanya lirih.
Nathan mengepalkan tangannya. "Aku bodoh percaya begitu saja Ndin, maafkan aku ...."
Andin menatapnya tanpa emosi. “Aku sudah memaafkan, tapi apa nama baikku bisa dibersihkan pada waktu itu? Enggak kan."
Nathan tidak bisa menjawab, rasa salahnya begitu besar terhadap perempuan itu.
Andin menundukkan pandangannya sejenak sebelum berkata pelan, “Nama baikku sudah hancur waktu itu, Nathan," ulangnya lagi, seolah mempertegas.
Suasana di antara mereka terasa semakin berat, dan mencengkam.
“Aku kehilangan pekerjaanku.”
Andin tersenyum tipis, senyum yang lebih terlihat seperti luka.
“Teman-temanku menjauh… seolah-olah aku benar-benar perempuan murahan seperti yang mereka tuduhkan.”
Nathan menahan napas panjang.
“Aku tidak punya keluarga yang bisa membelaku,” lanjut Andin lirih. “Tidak ada siapa pun yang mau mendengar penjelasanku.”
Ia mengangkat pandangannya lagi.
“Jadi aku hanya bisa bertahan.”
Andin menoleh sebentar ke dalam kontrakannya.
“Aku tetap tinggal di sini.” Suara Andin pelan, namun jelas. “Di kontrakan kecil yang sama… tempat aku mencoba memulai semuanya lagi dari nol.”
Nathan merasa dadanya seperti diremas, mendengar pernyataan itu.
Andin melanjutkan dengan tenang,
“Aku bekerja apa saja yang bisa aku lakukan.” Lalu ia menatap Nathan. “Sampai akhirnya… menjadi penjaga kantin sekolah.”
Kalimat itu sederhana, tapi terasa berat.
"Dan kamu..." ucapnya tertahan. "Orang yang aku percaya satu-satunya mulai menyudutkan ku bahkan menatapku layaknya sampah.
Nathan pun kembali menatap wajah Andin yang penuh dengan senyuman getir. "Aku salah Ndin, dan terlalu gampang."
"Penyesalan itu sudah tidak ada guna Nath," sahut Andin dengan cepat. "Dan aku hadir untuk hari ini, semata karena Darrel bukan karena siapa-siapa." tegas Andin.
Andin segera mengambil tasnya, lalu keduanya berjalan tanpa suara, Nathan mencoba untuk menatap Andin, namun tatapan wanita itu kosong karena luka yang ia pendam terlalu dalam untuk dilupakan begitu saja.
bersambung ....