NovelToon NovelToon
Sistem Warisan Kedua

Sistem Warisan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Seorang pria sukses yang meninggal karena pengkhianatan bisnis bereinkarnasi menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang hampir bangkrut. Ia mendapatkan Sistem Warisan Kedua yang memberinya misi untuk menyelamatkan keluarganya dari kehancuran ekonomi dan ancaman mafia tanah. Dengan pengalaman hidup sebelumnya dan bantuan sistem, ia bertekad mengubah takdir keluarganya menjadi keluarga terpandang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepercayaan Keluarga

Malam itu hujan turun perlahan, mengetuk atap seng rumah kayu mereka dengan bunyi yang teratur. Udara terasa lembap, tetapi suasana di ruang tengah justru terasa hangat. Lampu kecil menggantung di langit-langit, cahayanya kuning redup, menerangi meja kayu yang sudah penuh goresan waktu.

Arga duduk di sana dengan buku catatan terbuka di hadapannya. Tangannya sedikit berkeringat. Ia sudah berkali-kali menyusun ulang kalimat di kepalanya. Ia tahu ia tidak bisa terus menyembunyikan semuanya di balik alasan sederhana. Tekanan waktu empat belas hari bukan sesuatu yang bisa dihadapi dengan setengah kejujuran.

Ayahnya baru saja selesai menghitung hasil penjualan hari itu. Enam puluh porsi katering terjual. Uang tunai disusun rapi dalam amplop cokelat. Ibunya sedang menidurkan dua adiknya di kamar.

“Ayah,” panggil Arga pelan.

Ayahnya menoleh. “Iya?”

“Aku mau kasih tau sesuatu”

Nada suaranya berbeda dari biasanya. Ayahnya langsung menangkap keseriusan itu dan duduk lebih tegak.

Arga memutar buku catatannya agar menghadap ke ayahnya. Di sana tertulis rapi beberapa tabel sederhana.

Catatan pemasukan katering selama dua minggu terakhir.

Jumlah pesanan per hari. Biaya bahan baku. Margin keuntungan bersih.

Ia juga menuliskan total utang yang tersisa, lengkap dengan estimasi bunga jika terlambat.

“Ayah lihat ini dulu,” kata Arga pelan.

Ayahnya mengernyit, lalu mulai membaca perlahan. Matanya bergerak dari angka ke angka. Kadang ia berhenti, kembali ke baris sebelumnya, memastikan tidak salah baca.

“Ini semua kamu yang catat?” tanyanya akhirnya.

Arga mengangguk. “Iya. Supaya kita tahu posisi kita di mana.”

Ayahnya tidak langsung menjawab. Ia melanjutkan membaca sampai halaman berikutnya. Di sana Arga menuliskan perhitungan pelunasan lima puluh persen utang dalam empat belas hari.

Jika pesanan stabil di enam puluh porsi per hari. Jika margin bisa dinaikkan sedikit lewat efisiensi bahan. Jika ada tambahan pesanan dari proyek lain.

“Ayah, kalau kita konsisten begini, dalam dua minggu kita bisa kumpulkan setengah dari total utang,” jelas Arga hati-hati. “Memang tidak mudah. Tapi bukan mustahil.”

Ayahnya menatap angka itu lama. Wajahnya sulit ditebak.

“Kamu bahkan tulis rencana tiga bulan ke depan,” katanya pelan sambil membalik halaman.

Di halaman berikutnya, Arga menuliskan rencana ekspansi kecil.

Menambah satu pekerja bantu paruh waktu jika pesanan menembus delapan puluh porsi. Membeli kompor tambahan dari keuntungan bulan kedua. Menawarkan paket makan malam sederhana untuk warga sekitar.

Semua tertulis rapi dengan perhitungan realistis, tidak berlebihan.

“Ayah nggak ngerti dari mana kamu belajar semua ini,” ucap ayahnya akhirnya.

Kalimat itu membuat Arga menahan napas.

Ia menunduk, mencari jawaban yang masuk akal bagi anak sepuluh tahun.

“Aku cuma… sering perhatiin orang kerja, Yah. Waktu dulu Ayah cerita soal proyek, aku suka mikir sendiri.”

Ayahnya terdiam. Ia tidak terlihat curiga, hanya terlihat terharu dan bingung dalam waktu yang bersamaan.

Beberapa detik berlalu tanpa suara selain hujan di atap. Lalu ayahnya berkata pelan, dengan suara yang dalam dan jujur.

“Baiklah, Ayah percaya.”

Dua kata itu menghantam dada Arga lebih keras dari notifikasi sistem mana pun.

Ia menatap ayahnya. Tidak ada keraguan di mata pria itu. Tidak ada prasangka. Hanya kepercayaan yang tulus.

Di kehidupan sebelumnya, ia membangun perusahaan dari nol hingga menjadi konglomerasi regional. Ia memimpin ratusan karyawan. Ia menandatangani kontrak bernilai miliaran. Namun ia jarang, bahkan mungkin tidak pernah, mendengar seseorang mengatakan bahwa mereka percaya kepadanya tanpa syarat.

Dulu, kepercayaan datang dengan syarat. Dengan target. Dengan kepentingan.

Sekarang, kepercayaan itu datang dari seorang pria sederhana yang duduk di depannya dengan tangan kasar penuh bekas kerja.

Arga menunduk cepat agar ayahnya tidak melihat matanya yang mulai panas.

Dalam benaknya, sistem berbunyi pelan.

[Ikatan Keluarga Menguat.]

[Bonus Pasif Aktif: Dukungan Moral.]

[Efektivitas Negosiasi meningkat sepuluh persen.]

Arga terdiam sejenak.

Sistem tidak berbicara tentang uang, pasar, atau angka keuntungan. Ia berbicara tentang ikatan. Tentang dukungan. Tentang sesuatu yang tidak bisa dihitung dengan kalkulator.

“Ayah akan ikut rencanamu,” lanjut ayahnya pelan. “Kita kerja lebih keras dua minggu ini.”

Ibunya keluar dari kamar dan mendekat. “Bicara apa?”

Ayahnya tersenyum tipis. “Kita punya target.”

Arga menjelaskan ulang rencana itu kepada ibunya. Tidak ada yang disembunyikan lagi. Ia menunjukkan catatan pemasukan, perhitungan utang, dan strategi tiga bulan.

Ibunya mendengarkan dengan mata berkaca-kaca.

“Kamu masih kecil,” katanya pelan.

“Aku cuma mau rumah ini tetap jadi rumah kita,” jawab Arga.

Ibunya tersenyum sambil mengusap rambutnya.

Sejak malam itu, suasana kerja di rumah mereka berubah. Bukan lagi sekadar usaha untuk bertahan hidup, tetapi perjuangan dengan arah yang jelas.

Pesanan katering stabil di enam puluh porsi per hari. Kadang naik menjadi enam puluh lima. Arga memastikan kualitas tetap terjaga. Ia memeriksa ulang pembelian bahan, memastikan tidak ada pemborosan.

Setiap malam mereka menghitung pemasukan bersama. Uang yang terkumpul untuk pelunasan utang dipisahkan dalam amplop berbeda.

Namun tekanan dari luar tidak berhenti.

Suatu siang, ketika ayahnya sedang bersiap mengantar pesanan, dua pria tak dikenal datang ke warung. Penampilan mereka rapi tetapi sorot matanya dingin.

“Ayah kamu ada?” salah satu dari mereka bertanya pada Arga.

“Ada,” jawab Arga singkat.

Ayahnya keluar dan berbicara dengan mereka di luar rumah. Arga mengintip dari balik pintu.

“Jangan lupa jatuh temponya,” kata salah satu pria itu dengan nada santai tetapi mengandung ancaman. “Bos tidak suka menunggu.”

Ayahnya mengangguk kaku.

“Kami cuma mengingatkan. Supaya tidak ada salah paham nanti.”

Mereka pergi dengan mobil hitam yang meninggalkan debu di jalan tanah.

Ibunya terlihat pucat. “Mereka siapa?”

“Orang suruhan,” jawab ayahnya pelan.

Arga mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Ini bukan lagi tekanan kecil. Ini peringatan.

Di sisi lain desa, Pak Darsono juga tidak tinggal diam. Ia mulai menawarkan diskon besar pada beberapa warung kecil untuk mengalihkan perhatian warga dari katering keluarga Arga. Ia bahkan mendekati salah satu proyek kecil lain dan menawarkan harga makan siang lebih murah.

Persaingan mulai memanas.

Namun setiap kali Arga merasa lelah atau ragu, ia mengingat kalimat ayahnya.

"Ayah percaya."

Kalimat itu menjadi bahan bakar yang lebih kuat daripada dorongan sistem mana pun.

Sistem memang memberi bonus efektivitas negosiasi, tetapi yang benar-benar menguatkan Arga adalah perasaan bahwa ia tidak lagi berjuang sendirian.

Hari demi hari berlalu.

Jumlah utang yang berhasil mereka kumpulkan untuk dilunasi mulai terlihat nyata. Angkanya memang belum menyentuh lima puluh persen, tetapi sudah bergerak signifikan.

Suatu malam, setelah semua tertidur, Arga berdiri di depan rumah kayu sederhana itu. Dindingnya masih lapuk di beberapa bagian. Catnya sudah memudar. Atapnya kadang bocor saat hujan deras.

Namun bagi Arga, rumah itu lebih berharga dari gedung kantor mewah yang pernah ia miliki dulu.

Ia menatap halaman kecil tempat dua adiknya sering bermain.

Dalam hati ia berkata pelan.

......................

Kalau dulu aku membangun perusahaan untuk diriku sendiri.

Untuk ambisi. Untuk pembuktian. Untuk kesuksesan yang diukur dengan angka dan pengakuan.

Sekarang aku membangun masa depan untuk mereka. Untuk Ayah yang percaya tanpa bertanya terlalu jauh. Untuk Ibu yang tersenyum meski lelah.

Untuk adik-adik yang belum mengerti apa-apa tentang utang dan ancaman.

...----------------...

Hujan kembali turun tipis.

Arga menutup matanya sejenak, merasakan udara malam yang dingin.

Tekanan masih ada. Mafia tanah masih mengincar. Darsono masih menyusun rencana balasan yang mungkin lebih besar.

Namun fondasi yang dulu tidak pernah ia miliki kini sudah terbentuk.

Kepercayaan. Kebersamaan. Dan tekad yang lahir bukan dari ambisi pribadi, melainkan dari keinginan menjaga rumah kecil ini tetap berdiri.

Pertempuran besar mungkin baru akan dimulai. Tetapi saat ini ia sangat bersyukur karena telah diberi kesempatan kedua.

1
Dirman Ha
in
Dirman Ha
ih mantap
fauzi ezi
gas tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!