NovelToon NovelToon
In Your Smile, I Find Warmth

In Your Smile, I Find Warmth

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Anak Genius / CEO Amnesia / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.

Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.

Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 Nama yang Familiar

Sabtu pagi, seminggu setelah Arka berteman dengan Dio dan Farrel, rumah keluarga Mahardika kedatangan tamu istimewa. Untuk pertama kalinya sejak Reyhan pindah ke rumah ini, ada suara anak-anak selain Arka yang memenuhi ruang keluarga.

Dio dan Farrel datang bareng orang tua mereka. Ayah dan ibu yang ramah, dengan senyum yang tulus. Mereka bawa kue, bawa buah, bawa semangat yang bikin suasana langsung hangat.

"Terima kasih udah ngundang anak-anak, Pak Reyhan, Bu Alya," kata Ibu Dio sambil nyodorin kotak kue. Matanya berbinar. "Dio nggak berhenti cerita tentang Arka sejak mereka berteman. Setiap pulang sekolah, Dio pasti cerita 'Arka ngajarin aku coding', 'Arka punya buku keren', 'Arka bilang...' Pokoknya Arka terus yang dibahas."

Alya nerima kotak kue dengan senyum lebarnya. "Sama-sama, Bu. Arka juga seneng banget punya temen baru. Biasanya dia diem aja di rumah, sekarang udah minta main ke luar terus."

Reyhan jabat tangan sama Ayah Farrel. "Ayo masuk, Pak. Anak-anak udah nggak sabar."

Di ruang keluarga, pemandangan yang bikin orang tua mana pun akan tersenyum. Arka, Dio, dan Farrel udah berkumpul di lantai. Komponen robot berserakan. Laptop tiga buah nyala. Buku-buku coding tebel dibuka di halaman tertentu. Mereka duduk melingkar, kepala nunduk, jari-jari sibuk.

"Ayo kita bikin robot yang bisa deteksi halangan!" usul Arka, matanya berbinar.

"Gimana caranya?" tanya Dio, tangannya udah siap megang komponen.

"Pakai sensor ultrasonic! Aku udah pernah bikin sama Ayah!" Arka nunjuk-nunjuk diagram di bukunya. "Ini, liat. Sensor ini bakal ngirim sinyal, terus kalo ada halangan, sinyalnya balik. Nah, dari waktu baliknya, kita bisa ngitung jarak."

Farrel manggut-manggut serius. "Terus kita program dia buat belok kalo ada halangan?"

"Tepat!" Arka tepuk tangan. "Nah, bagian codingnya nanti aku ajarin. Gampang kok!"

Para orang tua di teras ngeliatin mereka dari jendela. Senyum nggak berhenti.

"Anak Bapak luar biasa," kata Ayah Farrel pada Reyhan. "Farrel cerita, Arka ngajarin coding dengan cara yang gampang dimengerti. Padahal kami udah coba ajarin di rumah, pake tutor segala, Farrel nggak ngerti-ngerti."

Reyhan tersenyum, dadanya hangat. "Arka emang punya cara sendiri dalam ngejelasin. Dia... istimewa, Pak."

"Istimewa banget," tambah Ibu Dio. "Anak se-genius dia, biasanya susah bergaul. Sombong, nggak sabaran, atau nggak peduli sama anak lain. Tapi Arka... dia sabar. Dia baik hati. Dio cerita, kalo Dio salah, Arka nggak pernah ngejek. Malah ngebenerin pelan-pelan."

Alya yang lagi nata kue di dapur, berhenti sebentar. Tangannya berhenti. Air mata hangat menggenang.

Terima kasih, Tuhan. Terima kasih Arka nggak tumbuh jadi anak yang kesepian. Terima kasih dia baik hati.

Pukul Sebelas Siang- Teras Depan

Anak-anak udah lari ke taman belakang. Suara tawa mereka kedengeran sampe ke teras. Dio ketawa keras, Farrel teriak-teriak, Arka suaranya paling dominan ngasih instruksi.

Para orang tua duduk santai di teras. Kopi, teh, kue teman. Angin siang sepoi-sepoi.

"Bu Alya, boleh nanya sesuatu?" Ibu Dio mulai dengan hati-hati, nada suaranya sopan.

"Tentu, Bu. Tanya apa?"

"Arka itu... udah pernah tes IQ? Maaf kalo lancang, tapi Dio juga baru kami tes bulan lalu. Hasilnya 128. Psikolog bilang itu termasuk gifted." Ibu Dio jeda, milih kata. "Tapi dari cerita Dio, sepertinya Arka... lebih tinggi?"

Alya lirik Reyhan sekilas. Suaminya itu cuma angguk pelan. Kasih izin.

"Udah, Bu. Beberapa minggu lalu. Hasilnya... 152."

Hening.

Ibu Dio dan Ayah Farrel saling pandang. Mulut mereka setengah terbuka.

"152?" ulang Ayah Farrel, suaranya pelan kayak nggak percaya. "Itu... itu highly gifted. Satu dari sepuluh ribu anak."

"Kami tahu," jawab Reyhan tenang. "Makanya kami masukin dia ke enrichment program. Dia butuh tantangan yang lebih tinggi."

"Bapak sendiri... maaf lagi, tapi Bapak juga punya IQ tinggi kan? Biasanya anak gifted itu warisan dari orang tua." Ibu Dio penasaran, tapi caranya sopan.

Reyhan ngangguk. "Iya. IQ saya 156. Jadi... Arka memang warisan dari saya."

"Wah, pantas!" Ayah Farrel senyum lebar. "Ayah dan anak cocok frekuensinya. Bapak dan Bu Alya pasti pasangan yang cocok. Bu Alya juga pinter, soalnya genetik dari dua sisi."

Alya tersenyum tipis. "Saya biasa aja kok, Pak. Cuma lulusan S1 Teknik Informatika."

"Wah, Teknik Informatika!" Ayah Farrel matanya langsung cerah. "Sama kayak saya dulu! Ibu angkatan berapa?"

"2020, Pak."

"Wah, jauh lebih muda. Saya 2010. Ibu kuliah di mana?"

"UI, Pak."

"SAMA! Saya juga UI! Berarti kita se almamater!" Ayah Farrel makin semangat. "Ibu pernah magang di mana waktu kuliah?"

Jantung Alya berdegup kencang.

Dia lirik Reyhan. Suaminya itu tatap dia dengan hangat. Tatapan yang bilang nggak apa-apa. Cerita aja.

"Saya... pernah magang di perusahaan suami saya. Mahardika Tech. Tahun 2019."

"OH!"

Ibu Dio dan Ayah Farrel kompak nganga. Mata mereka berbinar-binar kayak liat sinetron.

"Jadi Bapak dan Ibu ketemu waktu magang?! Wah, romantis banget!"

Reyhan tertawa pelan. Tangannya meraih tangan Alya, genggam lembut. "Iya, bisa dibilang gitu. Tapi... ceritanya panjang dan berliku."

"Panjang dan berliku gimana?" Ibu Dio udah jelas kepo banget. Tangannya megang dagu, siap dengerin.

Alya dan Reyhan saling pandang lagi.

Ada percakapan diam di antara mereka. Haruskah? Apa mereka siap?

Reyhan akhirnya buka suara. "Kami... dulu sempat terpisah beberapa tahun. Karena kesalahan saya. Saya ninggalin Alya waktu dia paling butuh saya."

Suasana berubah. Hening. Ibu Dio dan Ayah Farrel diem, ekspresi mereka berubah jadi simpati.

"Tapi sekarang," Reyhan lanjut, suaranya mantap. "Saya kembali. Dan saya nggak akan ninggalin mereka lagi. Selamanya."

Alya nahan napas. Tangannya digenggam Reyhan makin erat.

"Wah... itu pasti nggak gampang ya, Bu." Ibu Dio bersuara lembut. "Tapi saya liat sekarang... Bapak dan Ibu harmonis banget. Dan Arka bahagia."

Alya tersenyum, matanya berkaca. "Iya, Bu. Kami... lagi belajar jadi keluarga yang sesungguhnya."

Pukul Dua Siang- Setelah Tamu Pulang

Dio dan Farrel pulang. Mereka pamit dengan senyum lebar, janji mau main lagi minggu depan. Arka melambai dari pintu sampe mobil temennya hilang dari pandangan, baru dia naik ke kamar. Capai. Tidur siang.

Reyhan dan Alya beres-beres ruang keluarga. Komponen robot dimasukin kotak. Buku-buku ditumpuk rapi. Laptop ditutup satu-satu.

"Rey," panggil Alya sambil ngumpulin kabel-kabel kecil.

"Ya?"

"Tadi... kenapa kamu cerita tentang masa lalu kita?"

Reyhan berhenti. Dia liat Alya, serius. "Karena itu bagian dari kita. Bagian dari cerita keluarga kita. Dan aku nggak mau sembunyi-sembunyi lagi."

"Tapi mereka bisa judge kita. Bisa bilang kita..."

"Biar." Reyhan jalan mendekat. Tangannya pegang bahu Alya. "Biar mereka bilang apa aja. Yang penting kita tahu... kita udah lewatin yang terburuk. Dan kita masih bersama."

Alya nangis. Pelan, tapi air matanya netes.

"Rey... kamu nggak malu sama masa lalu kita?"

Reyhan pegang kedua bahu Alya, tatap matanya dalam-dalam. "Alya, dengerin aku. Aku malu sama diriku yang dulu. Yang bodoh. Yang pengecut. Yang ninggalin kamu. Tapi aku nggak malu sama kita sekarang. Aku bangga. Bangga sama kamu yang kuat. Bangga sama Arka yang luar biasa. Bangga sama keluarga yang kita bangun bareng."

Alya nangis makin keras. Tapi ini tangisan lega. Tangisan yang ngelepasin semua beban.

Reyhan tarik dia ke pelukan. "Dan mulai sekarang, aku nggak akan sembunyi. Aku akan bangga ngenalin kamu dan Arka ke dunia sebagai keluargaku. Keluarga yang aku cintai."

"Makasih, Rey. Makasih udah... nerima kami."

"Makasih juga udah kasih aku kesempatan kedua."

Mereka berpelukan lama. Hangat. Sembuh.

Minggu Sore- Kafe Kecil

Minggu sorenya, Reyhan dan Alya pergi ke kafe kecil dekat rumah. Ini kencan pertama mereka beneran. Sejak nikah, belum pernah mereka keluar berduaan aja. Selalu sama Arka.

Arka dititipin ke pengasuh baru. Ibu paruh baya yang udah Reyhan selidiki latar belakangnya. Amanah. Baik. Arka cocok.

Kafe kecil itu cozy. Lampu remang, musik jazz pelan, aroma kopi di mana-mana. Mereka duduk di sudut, dua cangkir kopi dan sepotong cake red velvet buat berdua.

"Ini... kencan pertama kita ya?" tanya Alya malu-malu.

Reyhan tertawa. "Secara teknis, iya. Kita langsung nikah tanpa kencan dulu."

"Nggak romantis banget ya pernikahan kita."

"Tapi sekarang... kita bisa bikin romantis." Reyhan raih tangan Alya di atas meja. "Alya... aku mau tanya sesuatu."

"Apa?"

"Kamu... bahagia nggak sama aku?"

Alya diem. Tatap mata Reyhan yang penuh keraguan. Dan harapan.

"Rey... kenapa tiba-tiba nanya gitu?"

"Karena aku... masih ngerasa bersalah." Suaranya serak. "Bersalah udah ninggalin kamu enam tahun. Bersalah bikin kamu berjuang sendirian. Bersalah nggak ada buat Arka waktu dia lahir. Dan aku takut... kamu cuma bertahan sama aku karena kasihan. Atau karena Arka butuh ayah."

Air mata Alya menggenang. "Rey... kamu pikir aku cuma bertahan?"

"Aku nggak tahu. Makanya aku tanya."

Alya genggam tangan Reyhan erat. "Rey, dengerin aku baik-baik."

Reyhan fokus.

"Enam tahun lalu, waktu kamu ninggalin aku, hatiku hancur. Aku ngerasa nggak layak dicintai. Aku ngerasa salah karena hamil di luar nikah. Aku ngerasa dunia runtuh."

Reyhan napasnya sesak.

"Tapi Arka lahir. Dia kasih aku alasan buat hidup. Dia kasih aku kekuatan buat bangun pagi. Aku janji... aku akan jadi ibu terbaik buat dia, meski sendirian."

"Alya..."

"Terus kamu datang lagi." Alya tersenyum tipis. "Kamu datang dengan pernikahan kontrak. Awalnya aku cuma terima karena butuh keamanan finansial buat Arka. Tapi sekarang..." air matanya jatuh. "Sekarang aku bertahan bukan karena kasihan atau kontrak. Aku bertahan karena aku jatuh cinta sama kamu. Lagi."

Reyhan nahan napas. Dada sesak.

"Aku jatuh cinta sama Reyhan yang sekarang." Alya nangis sambil senyum. "Reyhan yang berusaha jadi ayah baik. Reyhan yang pulang cepet demi makan malam keluarga. Reyhan yang begadang belajar coding cuma buat ngajarin Arka. Reyhan yang... mencintai kami dengan tulus."

Reyhan berdiri. Jalan ke sisi Alya. Lalu berlutut di sampingnya. Nggak peduli orang-orang di kafe natang.

"Alya... aku juga jatuh cinta sama kamu." Suaranya bergetar. "Bukan karena kamu ibu dari anakku. Bukan karena kontrak. Tapi karena kamu... kamu yang kuat, yang sabar, yang ngajarin aku arti cinta yang sebenarnya."

Alya nangis keras, peluk Reyhan erat.

Dan di kafe kecil itu, dengan orang-orang tersenyum haru, mereka berdua ngerasain sesuatu yang berharga.

Cinta yang tulus.

Penerimaan yang utuh.

Masa depan yang cerah.

Malam Hari- Kamar Reyhan

Malam itu, untuk pertama kalinya, Reyhan masuk ke kamar Alya dan Arka. Bukan buat ngecek Arka. Tapi buat tidur bareng mereka.

Alya lagi baca buku di ranjang. Dia kaget pas liat Reyhan masuk bawa bantal.

"Rey... kamu kenapa?"

"Aku... aku nggak mau tidur terpisah lagi." Reyhan jujur. "Aku mau tidur sama keluargaku. Boleh?"

Hati Alya lumer.

Dia nepuk sisi ranjang di sebelahnya. Sisi yang kosong. Yang selama ini emang dikosongin buat siapa pun yang berani mengisi.

"Boleh. Sini."

Reyhan berbaring di samping Alya. Arka tidur di sisi lain. Mereka bertiga di satu ranjang. Ayah, ibu, anak.

"Rey," bisik Alya di gelap.

"Ya?"

"Aku sayang kamu."

Reyhan raih tangan Alya. Genggam erat. "Aku juga sayang kamu. Sangat sayang."

Malam itu, mereka tidur sebagai keluarga yang utuh. Nggak ada jarak. Nggak ada sekat. Cuma kehangatan dan cinta.

Selasa Pagi- Kantor Reyhan

Reyhan duduk di ruang kerjanya. Laptop nyala. Tapi pikirannya kemana-mana. Senyum nempel terus dari tadi pagi.

Asistennya ngetuk pintu. "Pak Reyhan, ada tamu."

"Siapa?"

"Bu Ratna, kepala sekolah Arka."

"Suruh masuk."

Bu Ratna masuk, bawa folder tebal. Senyumnya ramah.

"Maaf ganggu, Pak. Saya ke sini mau bahas sesuatu yang penting tentang Arka."

Reyhan tegak. "Ada masalah, Bu?"

"Bukan masalah, Pak. Justru kesempatan." Bu Ratna buka folder, tunjukin brosur. "Arka diundang ikut kompetisi coding tingkat nasional. Ini kompetisi khusus anak gifted. Bergengsi, Pak. Sekolah rekomendasiin Arka buat ikut."

Reyhan baca brosur itu. Matanya berbinar.

"Wah, ini bagus banget. Kapan kompetisinya, Bu?"

"Bulan depan. Di Jakarta. Akan ada puluhan anak gifted dari seluruh Indonesia." Bu Ratna tersenyum. "Ini kesempatan bagus buat Arka ketemu anak-anak seumurannya yang sepintar dia."

"Tentu. Arka pasti seneng." Reyhan udah ngebayangin ekspresi Arka. "Saya diskusi sama istri dulu, tapi kemungkinan besar kami setuju."

"Makasih, Pak. Oh iya, satu lagi." Bu Ratna agak ragu. "Panitia minta saya konfirmasi... apakah Arka benar anak Bapak? Karena Bapak terkenal di industri teknologi. Mereka mau pastikan nggak ada nepotisme dalam penilaian."

Reyhan tersenyum lebar. "Ya, Arka anak kandung saya. Dan saya bangga banget sama dia. Bukan karena dia anak saya, tapi karena dia memang luar biasa."

Bu Ratna ikut senyum. "Saya bisa liat itu, Pak. Bapak ayah yang baik buat Arka. Dia beruntung punya Bapak."

"Saya yang beruntung punya dia."

Setelah Bu Ratna pergi, Reyhan duduk dengan perasaan membuncah.

Arka... anakku. Anak yang genius. Yang baik hati. Yang bikin hidupku bermakna.

Dan Alya... istriku. Wanita yang kuat. Yang aku cintai. Yang bikin aku jadi pria lebih baik.

Kami keluarga. Keluarga yang sesungguhnya.

Dia ambil ponsel. Ketik pesan buat Alya.

[Reyhan]: Arka diundang kompetisi coding tingkat nasional. Aku bangga banget. Nanti malem kita obrolin ya. Oh, dan... aku sayang kamu.

Tiga titik. Alya ngetik.

[Alya]: SERIUS?! Aku juga bangga! Kita obrolin nanti malem. Dan Rey... aku juga sayang kamu. Sangat.

Reyhan senyum lebar liat layar ponsel.

Ini hidup yang aku mau. Hidup penuh cinta, keluarga, dan kebahagiaan.

Dan aku nggak akan sia-siain lagi.

Nggak akan pernah.

1
tia
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!