NovelToon NovelToon
Satu Malam Yang Merubah Ku

Satu Malam Yang Merubah Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Hamil di luar nikah
Popularitas:986
Nilai: 5
Nama Author: Millea

Satu malam dalam keadaan mabuk berat, Permana merusak hidup seorang wanita yang bahkan tak ia kenal.

Wanita itu—Aaliyah, putri dari orang terpandang di kota London. Ia merasa bersalah sudah menodai wanita itu, sampai kata - kata yang di ucapkan oleh Aaliyah pada malam itu masih terus terngiang di kepala Praman.

“Bertaubatlah !! Kasihani orang tua mu. Aku tahu siapa dirimu sebenarnya.”

Sejak saat kejadian itu, Pramana. Merasa bersalah pada Aaliyah. meretakkan cintanya pada sang kekasih, mengguncang keyakinannya, dan menyeretnya pada pertanyaan terbesar:

mampukah ia menebus dosanya selama ini ia lakukan atau justru tenggelam dalam masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Millea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Pagi hari di Jakarta kembali dibuka dengan langit keperakan dan suara kendaraan yang saling bersahutan. Kota itu seperti tidak pernah tidur. Selalu sibuk, selalu riuh, namun di balik hiruk pikuknya ada ribuan cerita manusia yang berjuang dengan jalannya masing-masing—termasuk Aaliyah.

Pagi hari Susana mansion Opa Rasyid  sudah sangat riuh dengan suara Aaliyah.

" Jangan di lepehin terus dong, nak. Mommy cape tau pagi - pagi udah masak MPSI kamu, malah di lepehin kaya gini terus. " Ucap Aaliyah kesal. Melihat putra kecilnya itu terus menyemburkan makanan yang ia suapi.

" No... No.. no.." ucap El, sambil mengacak - ngacak makanan yang baru saja ia semburkan di atas meja babycare miliknya.

" Kalo, El. Terus nyemburin makanan kaya tadi lagi, Mommy marah loh. Ngga mau masakin makan untuk El lagi. " Rajuk Aaliyah dengan cemberut sambil menaruh mangkuk makan El di atas meja babycare Eldran.

Melihat sang ibu merajuk bocah berusia satu tahun kurang itu malah tertawa. Ia ambil makanan itu dari meja kecilnya lalu memasukan kedalam Mulu kecilnya.

Satu suap dua suap terus El masukan kedalam mulut. Sampai sisa makanan yang sudah tercecer di atas meja mulai habis.

Kenapa tak bicara saja kalo bocah itu maunya makanan miliknya di taruh di atas meja babycare.

Nine Zainab mendengar keributan dari arah meja makan membuat wanita lansia itu berjalan cepat kesana.

" Kenapa sih Aal tiap pagi kamu selalu marah - marah begitu ? " Tanya Anane Zainab pada sang cucu, setelah sampai di dekat Aaliyah.

" Liat itu Cicit Ane. Dari tadi makanan yang aku suapi selalu di sembur oleh bocah gendut itu. " Adu Aaliyah sambil menunjuk ke arah sang putra.

" Orang anak mu lagi makan begitu ko. Coba kamu liat dulu. "

Nine Zainab menunjuk ke arah bocah gembul dengan pipi ke merehan seperti memakai blush on itu. Bocah itu lagi menikmati makanan yang peceran di atas meja babycare, bekas semburannya.

Kedua mata Aaliyah melotot horor melihat putranya memakan makanan bekas semburannya pria kecil itu.

" Yaa!! Itu jorok, El. " Seru Aaliyah dengan sepontan uhuy. Ia memukul tangan Eldran pelan yang akan kembali mengambil makanan bekas di meja babycare nya.

Mendengar suara kencang sang Mommy membuat Eldran kaget. Pria itu langsung menangis kencang sangking kaget dirinya mendengar seruan sang Mommy.

" Ya.. kamu malah buat cicit Anane nangis. " Omel Anane Zainab sambil memukul lengan Aaliyah kesal.

Wanita berparas cantik di usia senjanya itu bergegas mengangkat sang cicit dari atas babycare, lalu menggendongnya.

Aaliyah melihat sikap neneknya yang selalu memanjakan sang anak memuter bola matanya jengah.

Selalu saja begini kalo Eldran menangis kedua kakek dan neneknya langsung menimang Eldran supaya berhenti menangisnya.

Maklum lah Eldar Cicit satu - satunya keluarga besar Mommy Amira dan Keluarga Jhonson. Makannya bocah kecil nan tampan itu bergelimangan kasih sayang dari keluarga grandma dan grandpa nya.

Pas saat kelahirannya saja keluarga Jhonson bela - belain terbang ke Turki untuk menyambut kelahiran Cicit, Cucu dan keponakan pertama mereka lahir kedunia.

Padahal saat itu Grandma Aaliyah dalam kondisi kurang sehat. Tapi ia tetap ingin menemani Cucu perempuannya lahiran.

" Anane selalu saja begitu, kalo El nangis langsung di gendong." Ucap Aaliyah dengan wajah cemberut.

" Terus Ane harus diam saja gitu ? Liat Cicit Ane nangis kejer ? " Ujur Anane Zainab dengan wajah galak, " Lagian kan kamu yang salah pake teriak - teriak segala. Sampai El nangis begini. "

Aaliyah diam dengan wajah cemberut. Kalo sudah berurusan dengan Nenek, pasti kalah dirinya. Apa lagi kalo sudah menyangkut cicit ke sayang nya.

Emang sih salah dirinya pake meninggikan suaranya segala. Jadi kaget kan anak tampan nya itu.

Melihat sang putra sudah berhenti menangis. Aaliyah mengambil Eldar dari gendong sang nenek.

" Sorry ya, sayang. Mommy sudah buat El kaget tadi." Ucap Aaliyah sambil mengelus punggung kecil Eldar dengan lembut. Ia juga melabuhkan satu kecupan di pucuk kepala Eldar dengan sayang.

" El ngga boleh begitu lagi, ya. Makanan yang El makan tadi kan sudah kotor dan jorok , karena makan itu bekas lepehan El. " Nasehat Aaliyah dengan lembut bak ibu peri supaya anaknya itu mengerti dan tidak mengulangnya lagi.

Eldar masih sesenggukan di pelukan sang Mommy. Ia belum begitu mengerti dengan nasehat yang di berikan sang Mommy barusan.

Aaliyah menjauhkan tumbuh Eldar dari dadanya. Supaya ia bisa melihat wajah bulat sang putra dengan lekat.

" Nanti jangan di ulangin kaya gitu lagi, ya. Mommy tak suka, Eldar menyemburkan makanan kaya tadi. " Ucap Aaliyah lembut sambil membelai pipi bulat bak tomat milik Eldar.

Bola mata bulat kehitaman Eldar menatap lekat wajah Mommy nya. Ia belum mengerti denga jelas apa yang di katakan sang Mommy, ia sudah mengerti raut wajah sedih Mommy-nya. Tak suka dirinya berbuat kaya tadi.

" Sekali lagi Mommy minta maaf ya, sudah meninggikan suara sama El. " Ia peluk tubuh gempal Eldar dengan erat dan penuh sayang.

Anane melihat Cucu yang mulai bijak memberikan nasehat pada sang Cicit membuat dirinya terharu di buatnya. Padahal mantan gadis itu dulunya sang manja dan ke kanak - kanakan pada Opa dan Anane nya.

Aaliyah masih memeluk tubuh kecil Eldar ketika suara langkah kaki terdengar dari arah ruang keluarga. Mommy Amira muncul dengan pakaian rumah sederhana, rambutnya disanggul rapi, wajahnya lembut namun menyimpan wibawa yang tak pernah luntur. Sejak kembali ke Indonesia dan menetap di mansion Opa Rasyid, pagi-pagi seperti ini selalu terasa penuh kehidupan.

“Sudah drama pagi- nya?” tanya Mommy Amira sambil mendekat, matanya langsung tertuju pada Eldar yang kini menempel manja di dada Aaliyah.

“Udah, Mom,” jawab Aaliyah pelan. “Aku tadi kebablasan teriak… El kaget.”

Mommy Amira serta anggota keluarga yang lainnya sudah biasa mendengar suara ribut - ribut Aaliyah ketika menyuapin sang anak. Kalo ngga ngomel... Ya paling nangis.

Mommy Amira tersenyum kecil. Ia mengulurkan tangan, menyentuh pipi bulat cucunya dengan penuh kasih. “Namanya juga belajar jadi ibu. Nggak ada yang langsung sempurna.”

Eldar menatap wajah Grandma-nya dengan mata bulatnya, lalu nyengir kecil, menampakkan satu gigi mungil yang baru tumbuh. Mommy Amira terkekeh pelan. “MasyaAllah… ganteng banget sih cucu Grandma.”

" Kamu seneng banget sih buat Mommy kesal, hmm.. rumah Opa buyut jadi rame sekali." lanjut Mommy Amira kembali sambil menguyel - nguyel pipi kenyal milik Eldar.

Anane Zainab yang duduk tak jauh dari mereka ikut tersenyum bangga. “Itu kan cicit kesayangan Ibu. Dari bangun tidur aja sudah bikin rumah rame.”

Aaliyah mendengus kecil. “Rame tapi dirindukan, Oma.”

“Iya lah,” sahut Anane cepat. “Coba sehari aja nggak dengar suara El, rumah ini pasti sepi banget.”

Dari arah teras, suara batuk kecil terdengar, disusul langkah pelan yang khas. Opa Rasyid muncul dengan tongkat kecil di tangannya. Meski usia telah menua, sorot matanya masih tajam dan hangat. Ia menghampiri mereka dengan senyum yang selalu sama sejak dulu.

“Cucu Opa lagi rewel pagi-pagi?” tanyanya sambil duduk di kursi dekat meja makan.

“Bukan rewel, Opa,” jawab Aaliyah. “Lagi pintar… milih cara makan sendiri.”

Opa Rasyid tertawa kecil. “Bagus. Anak laki-laki memang harus punya kemauan sejak kecil.”

Eldar menoleh ke arah suara berat itu. Begitu melihat Opa Rasyid, tangannya langsung terulur, seolah ingin digendong juga. Aaliyah tersenyum kecil, lalu menyerahkan Eldar ke pelukan Opa Rasyid.

“Wah… berat juga kamu sekarang,” gumam Opa sambil menggendong cucu kecilnya. “Tapi sehat. Itu yang paling penting.”

Aaliyah memandang pemandangan itu dengan dada hangat. Kadang ia masih tak percaya—di tengah semua luka, kesedihan, dan perjalanan panjang yang pernah ia lalui, Tuhan tetap menghadiahkannya keluarga yang utuh, yang tidak pernah meninggalkannya sendirian.

Belum sempat suasana menjadi lebih hening, suara klakson mobil terdengar dari arah gerbang mansion. Disusul suara tawa keras yang sangat tidak asing.

“ITU SUARA SIAPA LAGI PAGI-PAGI BERISIK GITU?!” seru Aaliyah spontan.

Mommy Amira menghela napas pendek. “Kalau dengar suara ketawa kayak orang kesurupan, kemungkinan besar… Maura dan Baskara.”

Belum juga kalimat itu selesai, dua sosok sudah masuk dengan gaya khas mereka.

“SELAMAT PAGI KELUARGA TERHORMAT KU!” teriak seorang perempuan berambut pendek sambil membuka tangan lebar-lebar. “Mana keponakan bahenol kesayangan aku?!”

“WOI WOI WOI—jangan teriak, kak Maura!” sahut pria tinggi di belakangnya. “Itu bayi, bukan penonton konser! Pasti kuping nya sakit mendengar suara cempreng kakak”

Aaliyah langsung menutup wajahnya dengan tangan. “Astaga… beneran datang.”

Maura dan Baskara. Dua sepupu yang sejak dulu terkenal paling heboh, paling bar-bar, dan paling nggak bisa diam kelo sudah datang ke mansion sang Opa.

Dua orang bar - bar itu merupakan anak dari uncle Aslan ( Kakak kandung Mommy Amira ) dan Om Aras ( adik Mommy Amira).

Maura melompat kecil mendekati Aaliyah. “YA ALLAH, AaL! KAMU MAKIN CAKEP YA JADI MAMA MUDA!”

“Dan makin galak kelihatannya,” sambung Baskara santai sambil menjatuhkan tubuhnya ke sofa.

“BASKARA!” bentak Aaliyah. " Yang sopan ya kalo ngomong sama aku ! Se-enak udel ngatain orang galak”

Baskara mengangkat kedua tangan. “Iya iya, salah. Tapi Kak… itu bayi apa boneka iklan susu? Kok bisa gitu pipinya?”

" Lucu pingin gigit rasanya. " Lanjut Baskara penuh kegemasan.

Baskara merasa gemas melihat pipi bulat bak mochi daifuku milik Eldar yang kemerahan itu. Bener lucu seperti boneka.

Maura sudah mendekat ke Opa Rasyid. “Opa… boleh aku gendong nggak? Sumpah aku nggak akan ngejatuhin.”

Opa Rasyid mengerling. “Kalimatmu nggak meyakinkan.”

Ada sedikit rasa was - was kalo Maura mau menggendong Eldar. Maklum lah pasti ada perasaan parno, Opa Rasyid. Soalnya cucu ini anaknya bar - bar nya minta ampun. Takut Eldar kenapa - kenapa saat di gendong gadis tersebut.

Mommy Amira menahan senyum. “Kasih aja, Yah. Biyar Mau belajar gendong anak, siapa tau tahun depan dia nikah ”

Maura mendengus kesal mendengar ucapan tantenya itu.

Opa Rasyid memindahkan Eldar ke gendong Maura. Begitu bayi itu berada di pelukannya, Eldar menatap wajah Maura lama… lalu tiba-tiba menyeringai lebar.

“EH DIA SENYUM KE AKU!” teriak Maura heboh. “LIAT! DIA SUKA AKU!”

“Biasa,” kata Baskara datar. “Semua bayi suka orang aneh.”

Maura menatap horor ke arah Baskara. Kalo ia tak menggendong El sudah di pastikan bantal sofa ke melayang ke wajah bocah itu. “MULUTMU!”

Baskara tertawa keras. “Tapi serius, kak… kata orang bayi kaya El suka orang aneh kaya kamu gitu. Makannya El senyum begitu sama kamu, kak. "

" Mana ada begitu, Bas. Yang ada bocah takut di deketin orang aneh. " Saut Aaliyah.

" Lah, kak. Ngga percaya amat sama aku. "

" Tumben Kalian berdua main ke mansion Opa dan Nine ? Ada apa ? " Tanya Nine Zainab merasa aneh saja melihat kedua cucu bar - bar nya itu datang di hari biasa kaya begini. Bisanya juga hari libur panjang saja datang ke mansion.

" Aku sama kak Maura sengaja mampir, Nine. Kita penasaran banget sama Eldar. Dari foto doang nggak puas liatnya. Kalo liat langsung beginikan bisa di uyel - uyel.” jawab Baskara. Memang dua orang itu belum pernah melihat Eldar setelah kepindahan Mommy Amira dan Aaliyah disini.

Maklum lah dua manusia itu tak tinggal di Jakarta melainkan di luar kota. Kalo mau berkunjung ke mansion sang Opa harus di hari libur kerja. Tapi khusus hari ini mereka berdua mengambil cuti demi bisa melihat secara langsung keponakan gembulnya.

Maura mengangguk cepat. “Iya. Aku sampe bela - belain cuti loh biyar bisa liat El dan main samanya..."

Usia berkata seperti itu Maura menjeda sebentar lalu menatap ke arah Aaliyah" Aal, aku dan Bas cuma mau bilang satu hal.”

Ia menunduk sedikit, menatap Eldar yang kini memainkan kerah kemeja yang di pake Maura. “Anak ini… beruntung banget punya ibu sekuat kamu, Aal."

Aaliyah terdiam sesaat.

Baskara menggaruk tengkuknya, lalu ikut bicara, suaranya kali ini lebih tenang. “Kami mungkin suka bercanda, dan bar-bar. Tapi kami tahu… perjalanan kamu nggak gampang, Aal.”

Aaliyah menarik napas pelan. Dadanya terasa hangat, matanya sedikit berair, tapi ia tersenyum.

“Terima kasih,” ucapnya lirih. “atas dukungan Kak Maura dan kamu, Bas… telah mendukung ku selama ini.”

Mommy Amira memandang pemandangan itu dengan mata lembut. Di tengah rumah besar itu, ia melihat satu hal yang paling ia syukuri: Aaliyah tidak sendirian. Eldar tidak kekurangan cinta. Dan keluarga ini—meski suka ribut dengan hal sepele, berisik, dan rame—tetap menjadi tempat pulang yang aman dan penuh kehangatan untuk Eldar.

Pagi di mansion Opa Rasyid pun kembali riuh.

Dengan tawa.

Dengan tangisan bayi.

Dengan cinta yang utuh.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aaliyah merasa… hidupnya benar-benar berjalan ke arah yang ia syukuri.

Bersambung....

1
Uthie
Coba mampir 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!