Syra Aliyah Farhana, seorang gadis kota yang hidup bebas dengan deru mesin motor, mendapati dunianya jungkir balik saat dipaksa "mondok" dan dijodohkan dengan putra mahkota Pesantren Al-Fathan. Ia datang dengan jaket denim robek dan knalpot bising, siap untuk memberontak.
Namun, ia harus berhadapan dengan Arkanza Farras Zavian, Gus muda yang berwibawa, dingin, dan tak mudah goyah oleh gertakan. Di tengah aroma kopi dan lantunan kitab kuning, Syra terjebak dalam perjanjian yang merampas fasilitas mewahnya. Di balik tembok pesantren, ia tidak hanya harus berhadapan dengan aturan yang mencekik, tapi juga rahasia hati, kecemburuan, dan masa lalu yang mengejarnya dari Jakarta.
Ini bukan sekadar tentang perjodohan, tapi tentang perjalanan mencari arah pulang di tempat yang Syra sebut sebagai "Neraka Suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran di atas paddock dan sumpah oli
Malam itu, Pesantren Al-Fathan terasa lebih sunyi dari biasanya, namun bagi Syra, kesunyian itu justru terasa mengintimidasi. Setelah drama fitnah dan konfrontasi massa yang melelahkan, ia hanya ingin mengurung diri di bengkel rahasia—satu-satunya tempat di mana aroma bensin dan pelumas bisa menenangkan sarafnya yang tegang.
Saat ia membuka pintu gudang tua yang berfungsi sebagai bengkel itu, Syra terpaku. Ruangan yang biasanya berantakan dengan tumpukan ban bekas dan peralatan mesin kini telah berubah. Cahaya remang-remang dari lampu gantung warm white berpijar syahdu, memantul pada permukaan logam motor-motor yang terparkir rapi. Tidak ada bunga mawar atau karpet merah, namun di atas meja kerja kayu yang sudah dibersihkan, Arkanza telah menata beberapa komponen mesin yang disusun sedemikian rupa hingga membentuk pola yang artistik.
Arkanza berdiri di samping motor BMW R25 klasiknya. Ia tidak mengenakan sarung, melainkan celana jeans hitam dan kemeja koko abu-abu yang lengannya digulung hingga siku, menonjolkan urat tangannya yang kuat.
"Gue kira lo mau nyuruh gue nyetel klep malam-malam begini," gurau Syra, meski suaranya sedikit bergetar. Ia melangkah masuk, membiarkan pintu tertutup di belakangnya.
Arkanza tidak tertawa. Ia mengambil sebuah benda dari atas sebuah piston motor yang sudah dipoles hingga mengkilap seperti perak. Piston itu berfungsi sebagai bantalan sebuah kotak kecil dari kulit berwarna hitam.
"Syra," suara Arkanza rendah, bergema di antara dinding bata ekspos. "Hidup di pesantren ini bukan lintasan balap yang selalu mulus. Akan ada banyak tikungan tajam yang tidak terduga, tanjakan yang menguras tenaga, dan mungkin mesin kita akan sering panas karena tekanan dunia. Tapi, setelah melihat caramu bertarung untukku di depan gerbang kemarin, aku sadar satu hal."
Arkanza melangkah mendekat, berhenti tepat di depan Syra hingga gadis itu bisa mencium aroma kayu cendana yang bercampur sedikit dengan bau pelumas mesin.
"Aku tidak butuh makmum yang hanya bisa diam bersimpuh. Aku butuh partner yang berani memegang stang kehidupan bersamaku. Aku butuh mekanik hati yang tahu kapan harus memacu gas dan kapan harus mengerem ego."
Arkanza membuka kotak itu. Di dalamnya tidak ada cincin emas berlian yang feminin dan berkilau manja. Sebaliknya, sebuah cincin titanium perak dengan ukiran grafir menyerupai ulir ban motor sport melingkar di sana. Di tengahnya, terdapat sebuah batu safir biru kecil yang tajam—warna yang identik dengan jaket balap Syra yang paling ia cintai.
"Syra Aliyah Farhana... maukah kamu menjadi makmum di belakang sarungku, dan menjadi boncenger di belakang jaket kulitku selamanya? Maukah kamu membangun sirkuit masa depan bersamaku hingga garis finis di Jannah-Nya?"
Syra terpaku. Air mata yang selama ini ia tahan sejak kedatangannya ke pesantren ini akhirnya luruh juga. Ia menatap cincin itu, lalu menatap Arkanza. Pria ini tidak mencoba mengubahnya menjadi "Ning" yang sempurna; pria ini justru merangkul sisi "barbar"-nya.
"Gue nggak suka yang menye-menye, Arkan... tapi cincin ini beneran gila," bisik Syra sambil menyeka air matanya dengan punggung tangan yang masih ada sedikit noda oli. Ia mengulurkan tangan kanannya. "Asalkan lo janji, kalau nanti mesin hidup kita mogok di tengah jalan, lo jangan pernah ninggalin gue sendirian di pinggir jalan."
"Janji," bisik Arkanza sambil menyematkan cincin itu. Ia mengecup punggung tangan Syra dengan lembut. Di antara deru angin malam dan aroma bensin, sebuah sumpah setia telah terucap—jauh lebih kuat dari mesin paling tangguh di dunia.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...