Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .
"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .
Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?
ikuti kisahnya hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 21. BCS
Prasasti terkejut langsung bersikap biasa. "Tidak apa-apa, kok,"
"Apa kamu sakit, Sayang?" tanya Khasanah melihat wajah Prasasti nampak kelelahan.
''Albi, kalau olah raga malam jangan sering-sering, kasihan istrimu kelelahan," sahut Abdi sambil mengaduk secangkir teh panas.
Albi tersedak dan terbatuk mendengar perkataan papanya. Prasasti memberikan air putih kepada Albi. Setelah merasa lebih baik melanjutkan makannya.
“Kalau makan itu pelan-pelan, jangan terburu-buru," kata Khasanah memperingatkan.
Albi diam tidak menyahut perkataan mamanya. Setelah makan ia berpamitan kepada kedua orang tua dan juga dengan Prasasti bersiap berangkat bekerja.
“Anak jaman sekarang tidak jauh beda dengan anak jaman dahulu, hanya saja cara bersikap yang berbeda," kata Abdi.
“Pa, Ma. Aku kembali ke kamar hari ini aku akan berangkat bekerja, karena ada klien dari luar negeri untuk mengadakan meeting penting,“ Prasasti pamit pergi ke kamar selesai makan.
“Lihat menantu kita jadi salah paham," kata Abdi tersenyum senang.
"Biarkan itu hak mereka berdua, sebagai orang tua, kita harus bisa mendidik anak-anak kita dengan sebaik mungkin.
Prasasti sudah siap dengan mobil pribadinya menuju perusahaan. Saat berhenti didepan lobi perusahaan ia turun melangkah masuk ke dalam perusahaan dengan tegak dan tegas.
“Prasasti," panggil seseorang.
Prasasti menoleh ke sumber suara. Wajahnya terkejut melihat seorang perempuan berwajah rusak dibagian sebelah. Sekilas Prasasti merasa familiar dengan wajah orang itu.
"Apa ada waktu sebentar, ada yang ingin aku bicarakan," katanya berjalan mendekati Prasasti.
Prasasti melangkah lebih dulu menuju ruangannya diikuti perempuan tersebut.
"Silahkan, duduk," kata Prasasti mempersilahkan perempuan tersebut duduk di sofa dan ia duduk disebelah.
"Apakah kamu tidak mengenaliku, Prasasti?" tanya perempuan itu dengan duduk santai.
Sejenak Prasasti memperhatikan wajah perempuan dengan lekat, jantungnya berdegup cepat menyadari siapa perempuan yang ada dihadapannya saat ini.
Ia adalah Rosmaya teman peselancar yang mengalami kebakaran disebuah rumah kontrakannya untuk menyelamatkan diri. Namun, siapa sangka sebuah pagar kayu jatuh menimpa wajahnya dan akhirnya wajahnya mengalami kelumpuhan.
Prasasti tidak begitu dekat tapi perempuan bernama Rosmaya pernah berbuat jahat padanya. Prasasti tidak tahu masalah apa yang membuat Rosmaya berbuat seperti itu padanya.
"Apa maksud kedatanganmu kemari?" tanya Prasasti.
“Aku tahu kamu sudah menikah dengan Albi, aku cuma ingin kamu mengetahui kalau Albi pernah menjalin hubungan denganku sebelum aku mengalami kecelakaan di wajahku..." Rosmaya menjeda kalimatnya.
Prasasti terkejut dengan perkataan Rosmaya, hatinya menampik dugaan yang terjadi. Ia tidak percaya jika Albi menjalin hubungan dengannya. “Apa buktinya?"
Prasasti menantang Rosmaya memberikan bukti, karena ia tidak mudah percaya apa yang diucapkan perempuan itu.
Rosmaya mengeluarkan sebuah video lama dan beberapa foto yang memperlihatkan kebersamaannya dengan Albi. Prasasti melihat video rekaman dan foto itu bergantian.
Awalnya terlihat biasa saja beberapa detik berikutnya ada sebuah adegan mesum antara perempuan dan laki-laki disebuah hotel mewah. Prasasti melihat kamar hotel sama persis dengan kamar hotel saat ia dikenal oleh teman-teman Albi dan Jesika.
Prasasti menahan gejolak amarah didalam dirinya. Saat sedang serius pintu dibuka oleh seseorang, ada mata yang beradu penuh tanda tanya, ada juga mata yang menahan airmata sedangkan sepasang mata menyimpan perasaan yang sudah lama disimpan.
Albi menghampiri Prasasti dan mencium keningnya kemudian beralih ke bibir sedikit menekan. Albi melirik perempuan yang berwajah rusak sebelah.
"Sayang, kamu ada tamu. Maaf mengganggu," kata Albi duduk disebelah istrinya.
"Ada apa pagi-pagi kemari? Aku baru saja sampai, apa kamu tidak sibuk?" tanya Prasasti bertubi-tubi.
Prasasti dan Albi tidak memberi waktu Rosmaya berbicara, keduanya memperlihatkan kalau mereka sangat romantis. Rosmaya mengepalkan tangannya menahan perasaan didalam dadanya.
“Aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat, kalau kamu masih sibuk aku akan menunggu sampai kalian selesai," kata Albi merangkul pinggang istrinya.
Rosmaya melihat sikap Albi yang sangat intim terhadap Prasasti sudah dipastikan mereka sudah melakukan malam pertama. Setahu dia Albi orangnya susah dekat dengan perempuan, dengannya saja cuek dan tidak peduli.
Rosmaya berdiri hendak beranjak, sebelum pergi Ia berkata. "Hubungan pernikahan yang tidak didasari dengan perasaan saling mencintai tidak akan bertahan lama,"
Albi dan Prasasti menaruh perasaan benci ucapan Rosmaya, menatap tidak suka karena sudah imut campur urusan rumah tangganya.
"Yang penting tidak merebut kekasih orang," sahut Prasasti menekan kalimatnya.
“Siapa kamu beraninya menyumpahi, apa belum cukup dengan wajahmu yang rusak itu telah membuatmu menjadi buruk rupa?" Albi dengan suara keras.
"Kamu tanyakan saja pada istri tersayangmu," jawab Rosmaya melirik rekaman video dan foto ditangan Prasasti kemudian melangkah pergi keluar dari ruangan dengan senyum lebar.
Albi merebut video rekaman dan foto ditangan istrinya. Alangkah terkejut ia melihat semua itu. Albi teringat masa itu dia dijebak oleh rekan bisnisnya tapi ia tidak merasa melakukan perbuatan bejat diluar kendalinya.
Albi tahu ada yang sedang bermain api dengannya saat ini dan perempuan tadi ia ingat sekarang. Rosmaya adalah seorang perempuan panggilan yang sangat disegani pria hidung belang dimasa itu. Tapi ia tidak pernah merasa dekat apalagi sampai melakukan perbuatan seperti yang difoto.
“Sayang, apa kamu percaya dengan semua ini?“ tanya Albi menatap Prasasti lekat sampai napasnya menyapu wajahnya.
Prasasti membalas tatapan Albi, kemudian berkata." Kita hadapi bersama,“
Albi memeluk Prasasti sangat erat. Ehem...
Albi dan Prasasti melepaskan pelukannya. Menoleh ke belakang. Seorang pria tak lain adalah Fabio papa Prasasti sedang menatap keduanya dengan tajam.
Tamparan mendarat diwajah Albi. Albi tahu kenapa papa mertuanya menamparnya, ia tidak menghindar atau melawan. Albi tahu sifat Fabio ketika marah membiarkannya.
“Papa, apa-apaan datang nampar, Mas Albi. Memangnya ada apa?" Prasasti berdiri diantara suami dan papanya sambil mengusap darah disudut bibir Albi.
“Tanya sendiri sama pria brengsek ini. Lebih baik kamu pulang ke rumah, sebelum dia menyelesaikan masalahnya, Papa tidak mengijinkan kalian bertemu," Fabio menarik tangan Prasasti keluar dari ruangannya.
“Pa, Prasasti tanggung jawabku. Papa tidak berhak atas istriku," Albi menarik tangan Prasasti yang sebelah.
“Papa, lepaskan!" bentak Prasasti melepaskan diri dari Fabio setelah berhasil berdiri disamping Albi.
“Prasasti, dia adalah pria brengsek yang pernah Papa temui, Papa tidak mengijinkan kalian bertemu sampai urusan dia dengan perempuan itu selesai," Fabio menarik paksa Prasasti dengan kuat.
Albi menatap istrinya dibawa paksa oleh Papanya hanya memandang sendu sedangkan Prasasti melihat Albi dengan menangis, ia menggelengkan kepala dan memohon sama Albi untuk membuktikan kalau dirinya tidak bersalah.
"Albi, aku akan menunggumu menjemputku," teriak Prasasti menghilang dibalik pintu dengan perasaan sedih.