NovelToon NovelToon
Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Almira

Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Capek Jadi Kuat Sendirian

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Waktu berjalan seperti roda yang tak pernah lelah berputar, sementara hidupku seolah terjebak di titik yang sama. Sejak masih duduk di bangku sekolah hingga akhirnya menamatkan SMA, kegiatanku nyaris tak pernah berubah. Pagi belajar, sore hingga malam berjualan. Esoknya mengulang hal yang sama, tanpa jeda, tanpa pilihan.

Walau kakak-kakak dan abangku satu per satu sudah bekerja, aku tetap berjualan. Tidak pernah ada yang bertanya apakah aku lelah atau ingin berhenti sejenak. Seolah sudah menjadi aturan tak tertulis bahwa akulah yang harus terus berjalan, menyusuri kampung dengan baki gorengan di tangan.

Kini aku kelas tiga SMA. Usia di mana teman-teman sebayaku sibuk membicarakan masa depan—kuliah, pekerjaan, atau sekadar nongkrong sepulang sekolah.

Sedangkan aku masih berkeliling kampung, menjajakan gorengan dengan suara yang makin hari makin lirih.

Bukan karena tak kuat memanggil, melainkan karena malu yang semakin menekan dada.

Ada saat-saat ketika langkah kakiku melambat.

Terutama saat bertemu teman sekolah di jalan. Mereka melintas dengan sepeda motor, beberapa sudah duduk nyaman di dalam mobil. Mereka menoleh sekilas, lalu berpura-pura tak mengenalku. Dan aku? Aku menunduk, berpura-pura sibuk merapikan dagangan, berharap tidak benar-benar terlihat.

Apa aku sejauh ini tertinggal?

Atau sejak awal aku memang tidak pernah berada di garis yang sama dengan mereka?

Hujan atau panas, aku tetap berjualan. Saat hujan turun deras, bajuku basah, rambutku menempel di wajah, dan minyak gorengan terasa lebih dingin dari biasanya. Saat matahari terik, keringat mengalir di punggung, kakiku pegal, tapi aku tak pernah berhenti. Karena berhenti berarti tidak ada uang. Dan tidak ada uang berarti aku tidak punya hak untuk mengeluh.

Kak Rini sudah menikah. Namun hidupnya tak pernah benar-benar meninggalkan rumah ini. Ia tetap tinggal bersama ibu, membawa kebiasaan lama yang tak pernah berubah. Perintah-perintah kecil yang terdengar sepele, tapi terus menumpuk di hatiku.

“Senja, cuci bajuku.”

“Senja, ambilkan air.”

“Senja, kenapa ini belum beres?”

Setiap hari aku mencuci pakaiannya di sungai. Airnya dingin, arusnya deras. Aku berdiri di sana sendirian, tanganku merah dan perih. Tapi yang paling menyakitkan bukan air sungai itu, melainkan pikiranku sendiri.

Kenapa harus aku?

Kenapa rasanya aku bukan anak di rumah ini?

Kadang aku berdiri lama di tepi sungai, menatap bayanganku di air. Wajahku sama. Darahku sama. Tapi perasaanku begitu asing. Di sanalah pertanyaan itu sering muncul, meski selalu kucoba menyingkirkannya.

Apa aku ini hanya anak tiri?

Atau anak yang diambil dari jalanan karena kasihan?

Aku tidak pernah merasakan kasih sayang ayah. Bahkan sebelum aku cukup besar untuk mengingat wajahnya, ia sudah menjadi sosok yang jauh. Terlalu jauh untuk kuraih, terlalu asing untuk kurindukan. Dari ibu, ada kasih… tapi biasa saja. Tidak memeluk, tidak menguatkan. Hanya cukup untuk membuatku bertahan hidup, bukan untuk membuatku merasa dicintai.

Hari itu, hujan turun lebih deras dari biasanya. Gorenganku masih banyak, kakiku gemetar, dan tubuhku terasa berat. Di tikungan jalan, aku melihat mereka—teman-teman sekolahku—berteduh sambil tertawa. Seragam mereka bersih, rambut mereka kering. Salah satu dari mereka menatapku, lalu berbisik pada yang lain. Tawa kecil terdengar. Tidak keras, tapi cukup untuk menusuk.

Dadaku sesak.

Aku melangkah lagi, tapi pandanganku kabur. Air hujan bercampur air mata. Aku berhenti di pinggir jalan, menurunkan baki gorengan, lalu untuk pertama kalinya… aku duduk.

Capek…

Aku capek jadi kuat sendirian.

Capek jadi anak yang selalu mengalah.

Capek berpura-pura baik-baik saja.

Tangisku pecah, tapi tanpa suara. Hujan menelan semuanya—air mata, sesak, dan lelah yang selama ini kusembunyikan. Tidak ada yang memeluk. Tidak ada yang menenangkan. Hanya aku dan kenyataan yang akhirnya membuatku menyerah.

Saat itulah, sebuah mobil hitam berhenti perlahan di depanku.

Aku mengangkat kepala dengan mata sembab dan menatap ke arah kaca mobil yang sedikit terbuka. Dadaku kembali sesak saat melihat siapa yang ada di dalamnya.

Kak Rini.

Di kursi pengemudi, duduk suaminya.

Tatapan Kak Rini turun ke arah baki gorengan di sampingku, lalu ke wajahku yang basah. Tidak ada kepanikan, tidak ada rasa khawatir. Hanya nada datar yang terasa asing—dan menyakitkan.

“Kamu kenapa nangis?” ucapnya singkat.

“Udah habis jualannya? Kalau sudah habis, langsung pulang.”

Aku terdiam. Hujan masih turun. Tanganku masih gemetar. Dan saat itu aku sadar, bahkan di saat aku jatuh serendah ini… aku tetap sendirian.

Aku tidak langsung menjawab. Tanganku yang gemetar hanya menarik baki gorengan lebih dekat ke tubuh, seolah itu satu-satunya hal yang masih bisa kupegang.

Air hujan menetes dari ujung rambutku, jatuh ke tanah tanpa suara. Kak Rini menungguku bicara, tapi aku tahu… apa pun yang kukatakan tidak akan mengubah apa pun.

“Masuk,” ucap suaminya singkat dari balik kemudi.

Aku bangkit pelan, kakiku terasa berat seperti ditahan tanah. Pintu mobil terbuka. Aku duduk di kursi belakang, memeluk baki gorengan yang hampir kosong. Mobil melaju meninggalkan hujan, tapi dingin di dadaku tidak ikut pergi.

Sepanjang jalan, tak ada yang bicara. Suara wiper beradu dengan kaca, berirama pelan, menambah sunyi yang menekan. Kak Rini sibuk dengan ponselnya. Sesekali ia melirik ke belakang, lalu kembali menunduk, seolah memastikan aku masih ada—bukan karena khawatir, tapi karena tanggung jawab.

Aku menatap jendela. Lampu-lampu jalan berpendar buram oleh sisa air mata.

Bahkan saat aku menangis pun, aku tidak penting.

Mobil berhenti di depan rumah. Aku turun lebih dulu, mengangkat baki gorengan yang kini terasa lebih berat dari biasanya. Kak Rini menyusul dari belakang.

“Gorengannya belum habis?” tanyanya tanpa menatap wajahku.

Aku menggeleng pelan.

“Ya sudah, besok jualanya itu yang benar, kalau kek gini trus kamu mau makan apa"

Aku mengangguk. Selalu mengangguk. Karena aku tidak pernah diajari cara membantah.

Di dalam rumah, ibu sedang duduk di ruang tengah. Tatapannya sempat singgah ke wajahku yang pucat, lalu beralih ke arah lain. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada pelukan. Hanya keheningan yang terasa lebih nyaring dari teriakan.

“Kok bajunya basah begitu?” ucap ibu akhirnya, datar.

“Hujan,” jawabku singkat.

Kak Rini meletakkan tasnya. “Dia nangis di jalan,” katanya ringan, seolah itu bukan sesuatu yang perlu dibahas.

Ibu menatapku sekilas. “Nangis kenapa?”

Aku membuka mulut… lalu menutupnya kembali.

Kata-kata yang menumpuk di dada mendadak kehilangan suara. Aku tidak tahu harus menjelaskan dari mana. Dari lelah? Dari malu? Atau dari perasaan menjadi orang asing di rumah sendiri?

“Udah,” sambung ibu. “Masuk kamar, ganti baju. Jangan bikin lantai basah.”

Aku mengangguk lagi.

Saat aku melangkah menuju kamar, suara Kak Rini menyusul dari belakang. “Besok jangan kelamaan jualannya. Baju aku banyak yang kotor. Kamu cuci sekalian, ya.”

Langkahku terhenti.

Tanganku mengepal. Dadaku sesak. Untuk pertama kalinya, sesuatu di dalam diriku memberontak—pelan, tapi nyata.

“Kak…” suaraku nyaris tak terdengar.

Kak Rini menoleh. Alisnya terangkat, tidak sabar. “Kenapa?”

Aku menelan ludah. Jantungku berdegup keras. Sekali ini saja, bisikku pada diri sendiri. Sekali saja jujur.

“Aku capek.”

Ruangan mendadak hening.

Kak Rini tertawa kecil. “Capek? Semua orang juga capek, Senja. Kamu kira aku nggak capek?”

“Aku—” suaraku bergetar. “Aku sekolah, jualan, nyuci… tiap hari.”

Ibu berdiri. “Sudah. Jangan dibesar-besarkan. Kamu itu masih muda, wajar capek.”

Masih muda. Seolah lelah punya batas usia.

“Aku cuma minta…” aku menarik napas dalam-dalam, “sedikit dimengerti.”

Tatapan ibu mengeras. “Kamu kurang bersyukur.”

Kalimat itu jatuh seperti palu.

Kurang bersyukur.

Aku tersenyum tipis. Senyum yang bahkan tidak sampai ke mata. “Iya, Bu.”

Aku berbalik, masuk ke kamar sempitku, dan menutup pintu pelan. Di balik pintu itu, aku bersandar, tubuhku melorot ke lantai. Tangisku pecah lagi—kali ini tanpa hujan yang bisa menyamarkannya.

Kalau aku menghilang, apakah ada yang akan benar-benar mencari?

Di luar, suara televisi menyala. Tawa dari layar terdengar kontras dengan sunyi di kamarku. Aku memeluk lutut, menatap dinding kosong.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak berdoa agar hidupku menjadi lebih ringan.

Aku berdoa… agar suatu hari nanti, aku bisa pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!