"Apa? Anak perempuan lagi? Jika begini terus, maka kamu harus kembali hamil dan melahirkan anak laki-laki untuk ku."
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapi. Sebagai seorang istri yang baik, kamu harus menuruti semua perkataan suami mu ini."
"Ya. Baiklah."
Nasib baik tidak berpihak pada seorang wanita yang bernama Seruni. Ia di tuntut untuk terus melahirkan anak oleh suami nya. Di karenakan, ia belum bisa melahirkan anak laki-laki. Suami nya sama sekali tidak pernah membantu nya. Dengan lima anak perempuan yang masih kecil, wanita itu berjuang sendirian. Hingga akhir nya anak ke 6 lahir dan malapetaka itu pun terjadi. Seruni menyerah. Ia pergi dengan anak-anak nya meninggalkan sang suami yang sibuk dengan wanita lain.
Bagaimana kah perjalanan Seruni dan anak-anak nya?
Jangan lupa berikan komentar supaya author nya tambah semangat.
Terima kasih dan selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uul Dheaven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Hari demi hari Seruni lalui dengan senang hati. Semakin hari juga rejeki nya dan juga anak-anak semakin berlimpah. Bukan hanya itu, walaupun tinggal di tempat yang sederhana, tapi Seruni memiliki tetangga yang sangat baik.
Terkadang, Seruni sering meminta bantuan tetangga mereka untuk membantu nya. Karena jika sendiri, ia tidak akan bisa menyelesaikan pesanan orang lain tepat waktu.
Seperti hari itu. Pesanan dari perusahaan keluarga nya Adelia begitu banyak. Mereka bukan hanya memesan kue sebagai cemilan. Tapi juga nasi kotak dengan daging rendang yang menggugah selera.
Seruni memang orang desa. Ia juga tidak mengenyam pendidikan tinggi. Namun, ia jago masak sejak dulu. Karena memang itu adalah hobi nya sejak kecil.
"Sudah siap semua nya, Bu Seruni?" Seorang supir yang bertugas untuk membawa semua makanan dan minuman itu telah tiba. Seruni tidak kesulitan lagi mencari mobil untuk membawa semua itu.
"Sudah, Pak. Semua nya sudah saya letakkan di teras. Mau saya bantu angkat?"
"Tidak perlu, Bu. Saya bawa teman-teman yang lain."
"Oh, bagus lah kalau begitu."
Hampir setiap hari perusahaan itu memesan kue dan juga nasi kotak buatan Seruni. Hasil rengekan Adelia ternyata berhasil meyakinkan keluarga nya untuk bekerja sama dengan Seruni.
Itu pun jika mereka menyukai makanan buatan nya. Dan saat pertama kali mereka mencoba nya, mereka malah suka dan setuju untuk bekerja sama.
Mobil perusahaan milik keluarga nya Adelia pun akhirnya pergi meninggalkan rumah sederhana milik Seruni. Tinggal satu tahun lagi, Seruni sudah bisa melunasi hutang nya pada Adelia.
Seruni sangat bersyukur di pertemukan dengan wanita baik hati itu. Pertemuan mereka sama sekali tidak di sengaja. Berawal dari Seruni yang akan melahirkan anak ketiga nya. Dan Adelia yang saat itu sedang sedih karena memiliki masalah dalam kandungan nya..
Mereka berdua saling bercerita. Dan Seruni memberikan kue buatan nya pada Adelia yang saat itu sedang sedih. Seruni memang sering membawa kue jika bepergian. Anak-anak nya tidak akan rewel jika ada makanan.
Karena Hamdan tidak akan mau mengeluarkan uang untuk anak-anak itu ketika rewel.
"Bu, Rima pulang. Apa ada pekerjaan yang bisa Rima kerjakan?"
"Loh, kok cepat sekali kamu pulang, nak? Ini kan belum jam pulang sekolah."
"Rima memang di suruh pulang cepat. Karena besok, Rima mau mengikuti lomba di sekolah lain. Rima terpilih, Bu."
"Masya Allah anak Ibu. Pintar sekali."
Tidak lama kemudian, anak nya yang kedua pun pulang sambil berteriak. Tari pulang di antar oleh seorang guru perempuan.
"Dengan orang tua nya Mentari?"
"Itu benar. Saya Ibu nya Seruni. Ada apa ya, Bu?"
"Bu Seruni, minggu depan kami akan membawa Mentari untuk ikut lomba. Apa ibu keberatan?"
"Tidak. Saya sama sekali tidak keberatan asal kan anak nya mau dan senang."
"Bagus lah kalau begitu. Mentari mendapatkan nilai tertinggi. Jadi, kami dari pihak sekolah menyarankan nya untuk ikut serta dalam lomba mewarnai."
"Terima kasih Bu guru. Karena sudah mau mengikut sertakan Mentari."
"Sama-sama. Saya permisi dulu."
Senyum penuh keharuan terlukis di wajah Seruni. Ia memeluk dua anak nya yang begitu ia sayangi. Ia sama sekali tidak menyangka di umur anak-anak nya yang masih kecil, mereka sudah bisa ikut lomba yang di adakan oleh sekolah mereka.
"Anak, Ibu bangga pada kalian. Terima kasih karena kalian sudah jadi anak ibu."
"Ibu ini ngomong apa. Kami kan anak-anak ibu. Oh ya Bu, kata nya hadiah yang akan kami dapat besar, loh. Karena, ada pelukis terkenal yang akan menjadi juri nanti nya."
"Wah, Tari sangat hebat. Tapi, ini hanya lah lomba. Kalian jangan sedih kalau nanti tidak memang. Dan, kalian juga tidak boleh menyerah sebelum bertanding. Apa kalian mengerti?"
"Kami mengerti, Bu." Ucap anak-anak itu secara bersamaan.
Seruni pun masuk ke dalam rumah nya. Anak ketiga nya sedang bermain dengan anak ke empat nya. Mereka sudah bisa bermain sendiri. Jadi, Seruni tidak akan repot. Mereka juga jarang sekali bertengkar. Seruni sangat bersyukur dengan memiliki anak-anak yang begitu baik dan penurut.
*****
Seruni terkejut saat melihat nominal uang yang masuk ke dalam rekening milik nya. Sehari setelah ia di usir dari rumah Hamdan, Adel langsung mengajak nya untuk membuat buku rekening.
Seruni juga membeli ponsel baru yang harga nya satu jutaan untuk kelancaran usaha nya. Di jaman sekarang ini, ponsel satu jutaan sudah memiliki fitur yang baik. Jadi, ia tidak perlu membuang banyak uang untuk saat itu.
"Adel, kenapa uang yang di kirim keluarga mu sangat banyak? Apakah mereka salah mengirimkan uang ini? Harga nasi dan kue itu tidak semahal ini. Dan, minuman nya juga kakak gratiskan."
Seruni mengirim kan pesan itu pada Adelia. Ia berharap, Adelia segera membalas pesan nya. Seruni sangat takut jika ia harus memakan yang bukan hak nya.
Setelah menunggu beberapa lama, Adelia malah langsung menghubungi Seruni. Wanita empat anak itu pun langsung menjawab panggilan dari sahabat nya itu.
"Halo, Adel."
"Iya, Kak Runi. Kakak nggak salah. Dan keluarga kami juga nggak salah ngirim uang. Memang segitu harga yang harus di bayarkan."
"Tapi, nol nya kelebihan."
"Betul. Memang Mami ku yang menambah nol nya. Mami dan Papi sangat menyukai makanan buatan Kak Runi. Kata beliau, jadi nostalgia."
"Tapi, kamu nggak bohong kan? Kakak takut."
"Ya ampun kakak ini. Apa yang harus di takutkan. Itu kan uang halal. Mami dan Papi malah setuju untuk merekrut kakak bekerja sebagai koki kami."
"Koki? Jangan mengada-ada. Kakak cuma orang kampung, Adel. Jangan bikin malu."
"Ah, terserah jika kakak tidak percaya padaku. Nanti saja kalau surat perjanjian nya telah selesai, maka Kakak akan percaya pada ku. Sudah ya, kak. Aku tutup dulu."
Panggilan pun berakhir. Seruni masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar dan apa yang ia lihat. Kini ia tidak perlu lagi kesulitan untuk mendapatkan uang.
Rencananya uang itu akan ia pakai untuk menabung demi masa depan anak-anaknya. Iya juga akan menggunakan uang itu untuk menyicil biaya rumah. Dan lebihnya, akan berikan pada tetangganya yang sudah membantunya selama ini.
"Bu, kami tidak bisa tidur. Perlombaan besok membuat jantung kami berbunyi sejak tadi."
"Ah, anak-anak ibu ternyata gugup. Jangan takut sayang, ini hanya perlombaan. Ada menang dan ada kalah juga."
Ya. Rima dan Tari akan ikut lomba bersama an besok. Rima memenangkan juara dua lomba matematika. Dan ia akan ikut kembali lomba dengan sekolah yang lain besok bersama dengan Tari.
"Kalau begitu, kita tidur dan ibu jangan lupa doakan kami."
"Iya syaang. Ibu akan selalu mendoakan anak-anak ibu."
bersinar 😮