Seorang wanita bernama Eun Chae hampir memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang membosankan setelah mendapatkan diagnosa mengidap penyakit linglung atau amnesia di usianya yang baru 30 tahun. Terlebih parahnya, Eun Chae tidak ingat bagaimana dirinya telah kehilangan kedua orang tuanya setahun yang lalu, dalam sebuah kecelakaan saat berlibur ke luar negeri. Siapa sangka pria yang menolongnya ternyata seorang chef terkenal di media sosial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon originalbychani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 9 : Nasi yang Lezat
Tak terasa, sudah seminggu Eun Chae belajar memasak bersama Chef Do di rumah pria itu. Karena kebanyakan menyantap mi buatannya sendiri, kini Eun Chae merindukan nasi hangat.
"Kenapa berhenti makan? Apa kamu sedang tidak berselera?" tanya Chef Do, sembari mengamati gerak-gerik Eun Chae.
Kini, keduanya telah menghabiskan sarapan ringan berupa omelet, roti panggang keju, dan sayuran. Seperti biasa, Chef Do segera merapikan kursi dan meja makan.
"Bukan begitu.. Aku hanya ingin makan sesuatu yang lain. Tapi juga bukan sesuatu yang sulit, karena aku masih belajar," kata Eun Chae jujur, sambil mencucikan peralatan makan.
"Oh begitu. Kurasa, memang sudah waktunya mengajarimu cara membuat masakan sederhana lainnya," kata Chef Do, sepaham dengannya.
"Benar, Chef. Jadi, makanan apa yang akan kita buat hari ini? Besok? Besok lusa?" sebut Eun Chae antusias, sambil berhati-hati meletakkan peralatan makan yang sudah bersih.
"Hidangan nasi," jawab Chef Do singkat.
"Nasi? Oh.. Jangan-jangan, nasi goreng? Kimchi-bokeumbap?" tebak Eun Chae, seraya berpaling kepada pria itu.
"Tidak hanya yang semacam itu. Aku takkan menyarankan makanan berminyak, karena kau akan cepat bosan," ralat Chef Do.
"Lalu apa?" tanya Eun Chae bingung.
"Nasi hangat terlezat yang akan kau makan untuk pertama kali dan seterusnya."
Entah mengapa, kalimat Chef Do menggelitik hati Eun Chae, hingga membuat wanita itu tersipu sendiri.
"Wah, aku jadi terharu," ucapnya polos.
"Belum saatnya untuk merasa senang. Kau perlu mempelajari teknik memasaknya dan memberiku pendapat," sela Chef Do, sambil menyuruh Eun Chae mendekat dengan isyarat tangan.
"Yes, Chef," respon Eun Chae patuh.
"Pertama, bilas biji beras pilihan ini hingga bersih. Lalu, buang airnya. Berikutnya, lakukan hal yang sama untuk ubi jalar yang akan kita gunakan," ucap Chef Do, sementara kedua tangannya dengan gesit mengeluarkan dan menunjuk bahan-bahan.
"Nasi ubi jalar?" tebak Eun Chae, sambil menjalankan peran asisten di sisi pria itu.
"Benar. Akhirnya, kau mulai memahami pikiranku," ujar Chef Do, nyaris terdengar memuji.
"Hehe, sepertinya lezat sekali. Nasi gurih dengan sedikit rasa manis," gumam Eun Chae ceria.
"Dan juga amat sehat," tambah Chef Do.
Eun Chae mengacungkan kedua jempol tangannya, lalu kembali berkonsentrasi.
"Selanjutnya, kupas kulit ubi jalar dan cincang kasar. Ketebalan dan ukurannya bebas, namun harus sesuai dengan porsi. Untuk membumbui dan menambah nutrisi beras sebelum dimasak bersama ubi jalar, kita gunakan kecap asin, arak masak, dan kaldu daging," jelas Chef Do, seraya memperagakan setiap langkah yang dikuasainya.
"Wow, lezatnya. Aku jadi lapar," pekik Eun Chae.
"Agar lebih mantap, kita buat saus cocol umami. Bahan-bahannya; kuning telur, kecap asin, parutan bawang putih, daun bawang cincang halus, bubuk merica, dan minyak wijen yang dicampur dengan air. Jika kamu suka pedas, boleh ditambahkan minyak cabai atau bubuk cabai," ulas Chef Do.
Eun Chae menjawab dengan anggukan kepala.
"Sekarang, sebagai bahan pelengkap nasi, pilih salah satu daging yang kau suka," tawar Chef Do.
"Uhm.. Bagaimana dengan daging sapi?" usul Eun Chae.
"Boleh. Kita gunakan daging perut sapi yang paling rendah lemaknya," kata pria itu, lalu mengeluarkan daging segar dari lemari pendingin.
"Oh ya? Kukira daging perut sapi itu paling gemuk dan berminyak," tawa Eun Chae.
"Salah. Bagian berlemaknya justru dekat dengan tulang besar, seperti daging rusuk," jelas Chef Do.
"Tunggu sebentar, Chef," sanggah Eun Chae, kemudian bergegas merangkum setiap poin penting yang diajarkan Chef Do pada buku catatan kecilnya.
Pria itu memberinya waktu sekitar 4 menit, sebelum melanjutkan.
"Sudah siap?" tanya Chef Do memastikan.
"Yes, Chef!"
"Berikutnya adalah cara memasak daging perut sapi. Karena bagian ini rendah lemak dan cepat alot saat dimasak, cukup iris tipis untuk hidangan 2 orang," ujar Chef Do.
"Seperti bulgogi ?" simak Eun Chae.
"Tepat sekali. Karena itulah, banyak orang menggunakan bagian daging ini untuk bulgogi yang dimasak cukup matang, ataupun yukhoe yang disajikan mentah," jelas Chef Do.
Jika daging adalah topiknya, memang benar bahwa penggunaannya dalam masakan sangat beragam. Chef Do belum melupakan menu gamjatang yang sedang direncanakan olehnya.
Lalu, nasi adalah inti dari santapan orang Asia. Sebagai sumber karbohidrat dan serat, nasi bisa digantikan dengan mi, kentang atau umbi-umbian, bahkan protein nabati dan hewani.
"Apa kamu punya alergi terhadap makanan, auto-immune, atau sedang menjalani diet tertentu?" tanya Chef Do.
"Uhm.. Selama ini aku belum pernah mengalami gejala seperti itu, dan tentunya aku tidak pernah menolak makanan enak," ujar Eun Chae, dengan senyuman manisnya.
"Baguslah, aku jadi lebih bebas memasak untukmu," balas Chef Do.
Chef Do memang hebat. Ternyata, dia sangat mengutamakan pola memasak yang benar, kondisi tubuh seseorang, hingga bahan-bahan yang paling sesuai digunakan untuk para penikmat masakannya, benak Eun Chae.
Setelah menumis irisan daging di atas wajan yang sedikit diminyaki, ia menuangkan saus cocol dan membiarkan bumbunya meresap dalam daging.
"Ingatlah, aku selalu menggunakan api kecil untuk memasak sesuatu secara perlahan," peringat Chef Do.
"Yes, Chef!" sahut Eun Chae bak prajurit tempur, tidak peka bahwa reaksinya sedikit konyol bagi Chef Do.
Sambil menunggu, Chef Do mengeluarkan alat memanggang dengan pemanas arang, lalu menyalakan ventilasi dan penjernih udara di dapur.
"Wah, daging ini akan dipanggang juga?" tanya Eun Chae takjub.
"Tentu saja, agar dagingnya sedikit beraroma asap. Cara memasak seperti ini juga membuat hasil akhir masakan lebih kaya rasa," jelas Chef Do.
Eun Chae mengiakan ucapan sang guru, lalu dengan sabar menunggu kesempatan mencicipi masakan menggiurkan itu.
Tak lama kemudian, Chef Do memanggang daging itu di atas pemanas, sambil menyerahkan kipas kepada Eun Chae.
Dengan tanggap, Eun Chae langsung mengipasi daging itu.
"Pelan-pelan saja, supaya merata," ajar Chef Do, lalu mencontohkannya sejenak.
"Ok, Chef," respon Eun Chae, mengambil alih tugasnya dengan baik.
Beberapa saat kemudian, menu lengkap itu matang dan disajikan di atas meja dapur. Keduanya mengambil bagian masing-masing, lalu memakan sesuap.
"Wah...!" desah Eun Chae dengan mata berbinar, lalu menjejalkan sesuap lagi ke dalam mulutnya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Chef Do.
"Seperti yang kuduga, masakan Chef Do memang yang terbaik. Aku belum pernah memakan nasi dan daging selezat ini!" puji Eun Chae, yang selalu gagal menutupi perasaan aslinya.
"Terima kasih, itu berkat bantuanmu," balas Chef Do, sembari tersenyum kepada asisten barunya.
Entah mengapa, senyuman pria itu terkesan lebih terbuka dan hangat dibandingkan sebelumnya.
"Tampan sekali," gumam Eun Chae seperti berbisik, seketika terpana.
"Hmm?" respon Chef Do, dengan pembawaan acuh tak acuhnya.
"Bu-- Bukan apa-apa, Chef. Aku juga berterima kasih untuk se--!"
Baru menjawab dengan gugup dan hendak melangkah, kaki Eun Chae tersandung sudut meja dapur hingga tubuhnya oleng. Secara rifleks, Chef Do menangkup sisi pundak Eun Chae dengan kedua tangannya yang kekar.
Keduanya saling bertatapan pada jarak yang amat dekat. Tanpa sadar, wajah Eun Chae merona bagaikan tomat dan jantungnya melompat-lompat.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Chef Do perhatian.
Saking malunya, Eun Chae tidak menjawab dan hanya menundukan wajah, lalu mendadak berlari memasuki kamar dan mengunci pintu.
Tercengang melihat tingkah Eun Chae, sedetik kemudian Chef Do menahan tawa yang penuh arti.
- Bersambung -