Novel ini mengisahkan hubungan antara seorang pria kristen bernama David Emmanuel Erlangga seorang pria yang terlahir dari keluarga yang begitu kental dalam menjalankan agama,anak dari seorang pendeta yang terkenal di negeri ini yang bertemu dan menjalin cinta dengan seorang muslimah yang taat serta merupakan anak salah seorang kyai terkemuka .
bagaimana kisah rumit mereka? dan akankah mereka mempertahankan hubungan yang penuh dengan penentangan dari kedua keluarga dan lingkungan?atau justru memilih berpisah demi bertahan dengan keyakinan masingmasing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Aisyah dan Rain mulai menata apartemen baru mereka. Rain sengaja memilih tempat yang dekat dengan kantornya dan juga dengan cafe Aisyah. Setiap pagi, Rain akan memasak sarapan untuk mereka berdua sebelum pergi kerja, sementara Aisyah akan membersihkan rumah sembari menyiapkan keperluan dirinya dan juga Rain.
" Bagaimana perkembangan cafe mu?" Tanya Rain saat mereka sedang menikmati sarapan pagi roti bakar dan susu hangat.
Aisyah tersenyum bahagia sambil mengangkat cangkir susu, "Alhamdulillah, makin baik dan berkembang,semua ini juga atas campur tangan mu."
" Semua ini berkat kerja keras mu dan Mayang."
Sementara itu, di puluhan jam terbang jauh dari Roma, sebuah pesawat dengan maskapai penerbangan internasional mendarat dengan lancar di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Di dalam kabin, seorang wanita dengan rambut panjang berwarna coklat keemasan sedang memeriksa tasnya, dan di samping duduk seorang pria dengan kacamata hitam membingkai di wajahnya. Jantung nya berdegup kencang seolah ingin terlepas dari tempatnya saat pesawat mendarat .
Ia adalah David Emmanuel Erlangga, Setelah hampir dua tahun meninggal kan Indonesia akhirnya dia kembali lagi namun kali ini ia kembali dengan tujuan yang berbeda. Di sebelahnya, seorang wanita bernama Naina dengan wajah yang tampak sedikit gugup namun penuh harap, perlahan meletakkan tangannya di atas tangan David.
"Tenang saja, Vid." ujar Naina dengan suara lembut sambil memegang tangannya kembali. "Semua akan baik-baik saja."
David mengangguk perlahan, mencopot kacamatanya untuk menyeka keringat yang menetes di dahinya. "Aku tahu, tapi aku masih merasa gugup. Setelah semua yang terjadi dan keputusan kita untuk menetap di sini..."
"Kita sudah melalui begitu banyak hal bersama di Roma, bukan?" ujar Naina dengan tatapan penuh kasih sayang. "Kamu sudah bekerja keras untuk semua ini, dan sekarang saatnya kita wujudkan impian kita bersama di tanah airmu."
David menarik napas dalam-dalam, matanya terpaku pada cincin pertunangan yang melingkar di jari manis Naina. "Ya, aku bahkan belum berani membayangkan bagaimana reaksi Aisyah jika kita bertemu dengan nya."
Setelah turun dari pesawat, David dan Naina melaju menuju luar bandar udara dengan langkah yang tergesa-gesa. Di dalam mobil yang telah menjemput, David terus menatap jalan raya yang semakin akrab di matanya, sementara Naina mengatur dokumen usaha yang akan mereka mulai di Indonesia , sebuah perusahaan konsultasi makanan yang akan bekerja sama dengan beberapa cafe dan restoran lokal.
"Kita sudah menjalin kesepakatan dengan tiga mitra potensial, salah satunya adalah di kawasan yang tidak jauh dari sini," ujar Naina sambil membuka tabletnya. "Nama cafe nya adalah 'Dasyah cafe' , mereka punya konsep yang sangat sesuai dengan visi kita tentang makanan segar dan berkelanjutan."
David merasa dada nya terasa sesak saat mendengar nama tersebut. Dia tahu betul dimana lokasi cafe itu berada, bahkan pernah membayangkan Aisyah akan membuka usaha di tempat yang nyaman dan dekat dengan rumahnya. Tak berani menyampaikan kekhawatirannya pada Naina, dia hanya mengangguk dan mencoba fokus pada jalan.
Di sisi lain, nampak Aisyah...sedang mengecek beberapa laporan di email,di antaranya sebuah email dari beberapa perusahaan yang ingin bekerjasama dengan cafe miliknya yang kini berkembang pesat,bahkan mereka akan membuka cabang baru di beberapa kota ,baik di dalam kota maupun di luar kota.
...perusahaan konsultasi dan supplier bahan makanan yang ingin menjalin kemitraan. Salah satu email yang paling menarik perhatiannya berasal dari PT. Bumi Rasa Konsultan Makanan, dengan subjek "Kerjasama Strategis untuk Pengembangan Konsep & Pembukaan Cabang 'Dasyah cafe'".
Aisyah membaca isi email sambil menggerakkan jari jemari nya di atas meja kerja yang terletak di sudut ruang kerja . "Wah, mereka bahkan menawarkan bantuan untuk perencanaan lokasi cabang dan pelatihan staf lho," ucapnya dengan nada kagum, menarik perhatian Mayang yang tengah mengepakkan menyusun rencana pembukaan cabang Dasyah cafe.
Rain mendekat dan melihat layar laptop yang berada di depan Aisyah. "Konsultan dari luar ya? Dari mana mereka berasal?"
"Ada tulisannya dari Roma, Italia, tapi sekarang mereka akan menetap dan mengembangkan bisnis di Indonesia," jawab Aisyah sambil menggulir layar. "Mereka punya visi tentang makanan segar dari bahan lokal dan praktik berkelanjutan , persis sama dengan konsep kita dari awal. Bahkan mereka sudah punya kesepakatan dengan beberapa mitra lain di Jakarta."
Sementara itu, di dalam mobil yang sedang melaju ke apartemen, Naina menunjukkan peta pada tabletnya kepada David. "Kita sudah menentukan jadwal pertemuan dengan pemilik 'Dasyah cafe' hari minggu depan. Lokasinya tidak jauh dari sini, di kawasan yang ramai namun nyaman ,pas seperti yang kamu bilang dulu tentang tempat yang cocok untuk usaha makanan."
David merasa detak jantungnya bergejolak lagi. Ia mencoba menenangkan diri dengan berpikir bahwa mungkin saja pemilik cafe tersebut bukanlah Aisyah, meskipun nama dan konsepnya sangat sesuai dengan impian yang pernah mereka bicarakan bersama dulu.
"Semoga saja pertemuannya berjalan lancar," ujar David dengan suara yang sedikit terengah. Naina melihatnya dengan perhatian dan memberikan sentuhan lembut pada tangannya.
"Kamu pasti bisa melewati ini, Vid. Kita sudah siap dengan segala persiapan," ujarnya penuh keyakinan.
Di sisi lain, Aisyah sedang mengetik balasan email kepada PT. Bumi Rasa Konsultan Makanan. "Salam hangat, terima kasih atas usulan kerjasamanya. Saya sangat tertarik dengan visi perusahaan Anda dan siap untuk bertemu pada hari Selasa depan pukul 10 pagi di cafe ' Dasyah cafe' utama. Mohon konfirmasi jika jadwal tersebut sesuai..."
Beberapa hari kemudian, hari Selasa telah tiba. David bangun lebih awal dari biasanya, mengulang-ulang presentasi yang akan dia sampaikan bersama Naina. Meski telah berlatih berkali-kali, tangannya masih sedikit gemetar saat menyusun beberapa dokumen tambahan untuk bahan pertemuan nanti.
"Kamu sudah siap, kan?" tanya Naina dengan tatapan penuh dukungan saat mereka sedang dalam perjalanan menuju cafe.
David mengangguk perlahan. "Ya, aku hanya berharap semuanya berjalan sesuai rencana."
Saat mereka tiba di depan "Dasyah cafe", suasana yang hangat dan ramai langsung menyambut mereka. Dekorasi dengan tema alam dan bahan lokal membuat David semakin yakin bahwa ini memang tempat yang pernah dirinya bayangkan bersama Aisyah. Mereka memasuki cafe dan ditunjuk untuk duduk di meja sudut yang telah disiapkan.
Sementara itu, Aisyah sedang memeriksa kondisi cafe bersama Mayang. "Semua sudah siap kan? klien dari PT. Bumi Rasa akan datang sebentar lagi," ujarnya sambil menata rambutnya sebentar.
"Ada dua orang, syah. Sudah konfirmasi via email kemarin malam," jawab Mayang dengan senyum.
Setelah memastikan segala sesuatunya beres, Aisyah berjalan menuju meja yang telah disiapkan. Namun saat dia melihat sosok pria yang sedang membuka laptop di sana, langkahnya tiba-tiba terhenti. Matanya melebar saat mengenali wajah yang sudah lama tidak dilihat ." David."
David juga menyadari kehadiran Aisyah pada saat yang sama. Jantungnya berdebar kencang, dan dia hampir menjatuhkan pena yang ada di tangannya. Naina yang sedang menyiapkan dokumen melihatnya, lalu mengikuti pandangannya hingga menemukan sosok Aisyah yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Aisyah... kamu?" ujar David dengan suara pelan, tidak percaya pada apa yang dilihatnya.
Udara di sekitar mereka terasa begitu tegang. Naina berdiri perlahan, memberikan ruang namun tetap berada di dekat David. Sementara Aisyah, meskipun hati nya berdebar kencang, mencoba tetap tenang.
"Aku... aku adalah salah satu pendiri PT. Bumi Rasa Konsultan Makanan," ujar David dengan hati-hati. "Kita adalah pihak yang ingin bekerja sama dengan cafe ini."
Aisyah menatapnya sebentar, kemudian menoleh ke arah Naina dengan senyum sopan. "Saya Aisyah, pemilik 'Dasyah cafe'. Senang bertemu dengan Anda berdua..."
Meski suasana nya terlihat tenang dan mereka berbicara secara profesional,percayalah baik Aisyah atau pun David mereka sama-sama syok dan tak tahu harus berbuat apa.