Destia Ayu Gantari wanita cantik cerdas dan penuh pesona yang hobinya memanah. Tanpa sengaja saat liburan di Jogja dia bertemu pria yang menarik menurutnya yaitu Idrissa Pramudya yang merupakan dosen di kampus yang sama dengan ayahnya.
Idris tak sengaja akan menabrak Tia, saat Tia sedang berjalan di area stasiun. Akhirnya mereka bertemu kembali saat berada di sebuah warung saat sedang sarapan. Mereka semakin dekat seiring waktu sampai akhirnya menikah.
Idris sendiripun merupakan Duda tanpa anak yang sudah bercerai karena dikhianati mantan istirnya tapi Tia belum mengetahui semua itu bahkan sampai mereka menikah.
Saat Idris bertemu wanita masa lalunya Tia mengetahui hal tersebut dari Anggun karyawannya.
Bagaimanakah respon Tia? Apakah akan marah, sedih, kecewa? Atau kepo mungkin? dan ingin cari tahu lebih tentang masa lalu suaminya tersebut dengan hal-hal yang tidak biasa?
Jika ingin tahu terus ikuti kelanjutannya ya guys. Don't forget to keep reading until the end💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wedding preparation
Suara telepon berdering saat Tia hampir tertidur, tak mau berlama-lama dia mengangkat teleponnya.
"Halo sayang besok aku akan ke apartment pada pagi hari, tolong jangan kemana-mana!"
"Baiklah apakah ada hal mendesak?"
"Aku ingin membicarakan tentang perencanaan pernikahan kita jadi lebih baik pagi-pagi karena aku juga ingin memakan masakanmu" jawab Idris.
Tia mengiyakan " ah i forget maaf ya baiklah aku akan membuatkanmu spaghetti besok sampai jumpa besok mas!" Suara Tia terdengar sangat excited ketika mengetahui bahwa Idris akan membicarakan soal pernikahan mereka.
...----------------...
Pagi harinya Idris mandi lebih dulu agar terluhat fresh dan wangi. Sebelum menemui tunangannya memang harus wangi terlebih dahulu.
Dengan mengendarai mobil kesayanganya Idris memecah belah jalanan jakarta. Wajahnya terlihat sumringah bahagia, sebentar lagi dia akan menjadi suami Tia wanita pujaannya.
Tia juga sudah menyiapkan spaghetti yang dia katakan kemarin saat di telephone.
Bau harum masakan tercium begitu nikmat, rasanya sudah bisa merasakan hanya karena mencium bau harum spaghetti tersebut.
"Tok tok" suara ketukan pintu terdengar. Tia tersenyum, dengan senang hati dia membuka pintu apartemen. Dan disanalah Idris berada dengan penampilan sempurna.
"Ayo masuk aku sudah menyiapkan spaghetti untuk kita sarapan didalam!" Tia menarik tangan idris.
Idris mendudukkan bokongnya di kursi yang dekat dengan dapur "Terima kasih sayang"
"Sure mas! Jadi... Bagaimana tentang persiapan pernikah itu?" tanya Tia.
"Aku ingin kita menikah di jogja tepatnya candi prambanan, apalagi eyang kamu adalah orang jawa jadi kurasa prambanan adalah tempat yang cocok untuk kita menikah" Tia berpikir dengan keras "Aku yakin kamu akan menyukainya sayang" lanjut Idris.
Tia menelan lebih dulu spaghetti yang berada di mulutnya "emm hmmm kurasa itu ide yang bagus mas, menurutku pernikahan outdoor di candi prambanan akan terlihat aesthetic".
"Nah sebab itu besok kita akan ke jogja untuk memastikannya okay?"
"Oke boss" Idris tersenyum kemudian dia memakan spaghetti buatan Tia, "emm ehmm ini sangat enak sayang. Semua masakanmu memang juara!" ucap Idris telihat sangat bersemangat memakan spaghetti lagi.
Tia tersenyum menanggapinya "Of course haha".
"Eh mas..." jeda tia "uhmm why?" Idris bertanya saat Tia menjeda ucapannya "Jangan ragu kalau mau bilang sesuatu. Aku akan menghargai pendapatmu! Unar Idris agar Tia memberanikan diri untuk mengungkapkan sesuatu yang berada di kepalanya.
"Besok aku liburin toko Crumbs and Clouds biar Lita dan Anggun bisa ikut juga ke jogja untuk menyiapkan dessert"
"Of course kita bisa meletakkan beberapa menu dari tokomu disana sayang!"
...----------------...
Prambanan sore itu tampak seperti lukisan kuno yang baru saja diberi warna oleh cahaya keemasan matahari. Angin semilir membawa aroma rumput basah dan wangi dupa yang samar, menciptakan atmosfer yang tak hanya sakral, namun juga penuh dengan nuansa agung.
Di pelataran luar kompleks candi yang luas, Tia dan Idris berdiri bersama seorang perancang acara (wedding organizer), memandang ke arah Candi Siwa yang menjulang megah sebagai latar belakang alami pelaminan mereka nanti.
Memilih Prambanan sebagai tempat pernikahan bukan sekadar keputusan estetika. Bagi Tia, ini adalah titik balik; kembali ke tanah Jawa yang memberinya keberanian untuk "terbang". Bagi Idris, sebagai seorang dosen seni rupa, Prambanan adalah mahakarya struktur dan estetika yang melambangkan keabadian—sebuah doa visual untuk pernikahan mereka.
"Kita tidak akan menggunakan banyak dekorasi buatan, Mbak Tia," ujar sang perancang acara sambil membentangkan denah di atas meja kayu portabel. "Kita akan menggunakan elemen transparan dan kayu-kayu lokal agar tidak menutupi kemegahan candi. Kita ingin orang merasa sedang menghadiri pesta di istana kuno yang hidup kembali."
Tia mengangguk setuju. Ia mengenakan kemeja linen santai dan kain lilit batik, sementara Idris sibuk memotret beberapa sudut cahaya dengan kamera profesionalnya.
"Mas, lihat sudut ini," panggil Tia. "Bagaimana kalau meja katering utama diletakkan di sini? Aku ingin barisan kue Crumbs & Clouds terlihat seperti persembahan yang menyatu dengan alam."
Idris menghampiri, menatap sudut yang ditunjuk Tia dengan mata seorang kurator. "Ide bagus. Tapi kita harus perhatikan arah angin. Kita tidak mau aroma browniesmu yang kuat menutupi aroma melati yang akan kita sebar di area pintu masuk. Transisi aromanya harus halus, seperti gradasi warna di lukisan Pak Gunawan."
Sambil menunggu tim teknis mengukur luas pelataran, Tia dan Idris berjalan perlahan menyusuri lorong luar candi. Mereka berhenti di depan relief yang menceritakan kisah Ramayana.
"Tahu tidak, Tia?" Idris memulai, jarinya menunjuk lembut pada pahatan batu yang detail. "Membangun candi ini butuh waktu ratusan tahun dan ribuan tangan yang presisi. Pernikahan kita juga akan seperti ini. Kita tidak membangunnya dalam semalam. Kita memulainya dari tebing Gunung Kidul, mendakinya di Merbabu, dan sekarang kita meletakkan batu pertamanya di sini."
Tia tersenyum, mengapit lengan Idris. "Dulu aku pikir pernikahan itu cuma soal pesta dan baju bagus. Tapi setelah melihat candi ini, aku sadar kalau ini soal ketahanan. Candi ini tetap berdiri meski diguncang gempa dan dimakan zaman. Aku ingin kita juga begitu."
"SUV hitamku mungkin kuat di jalanan, tapi kamu adalah struktur yang membuat hidupku tetap tegak, Tia," balas Idris dengan nada yang tulus, membuat Tia tersipu di tengah semburat jingga langit Yogyakarta.
...----------------...
Di sudut area kerja, Anggun dan Lita yang ikut terbang dari Jakarta tampak sangat bersemangat. Mereka sedang berdiskusi dengan tim katering lokal untuk menyiapkan menu spesial pernikahan: "The Prambanan Legacy".
"Mbak Tia mau ada elemen rempah Jawa yang kuat," jelas Anggun kepada kepala katering. "Jadi, kita akan membuat brownies dengan campuran kayu manis dan sedikit cengkeh, lalu dihias dengan pola batik dari gula halus."
Lita menyambar dengan antusias, "Dan jangan lupa, penyajiannya harus menggunakan piring tanah liat yang dipoles halus. Kita mau memberikan kesan 'kembali ke tanah' tapi tetap mewah."
Tia menghampiri timnya itu. "Anggun, Lita, terima kasih sudah mau repot-repot ke sini. Pernikahan ini tidak akan lengkap tanpa kalian. Kalian adalah bagian dari fondasi Crumbs & Clouds."
"Kami nggak bakal melewatkan ini buat dunia, Mbak!" jawab Lita ceria. "Kami sudah menyiapkan kejutan kecil buat souvenirnya nanti."
Kedatangan Pak Gunawan dan Eyang Ratu
Tak lama kemudian, sebuah mobil jemputan tiba membawa Pak Gunawan dan Eyang Ratu. Meskipun sudah cukup sepuh, Eyang Ratu bersikeras ingin melihat langsung lokasi pernikahan cucu kesayangannya.
Pak Gunawan turun dengan wajah berseri-seri. Ia langsung memeluk Idris. "Idris, pilihan lokasi yang luar biasa! Sebagai dosen seni, saya merasa gagal karena tidak terpikir untuk membuat pameran di sini dulu," candanya.
Eyang Ratu, yang duduk di kursi rodanya, memandang candi dengan tatapan penuh hormat. "Prambanan adalah lambang cinta sejati yang terpatri dalam batu, Tia. Memilih tempat ini berarti kalian siap untuk diuji oleh waktu. Gunakan energi tempat ini untuk memperkuat janji kalian nanti."
Idris berlutut di samping kursi roda Eyang Ratu. "Kami akan menjaga janji itu, Eyang. Seperti candi ini yang menjaga cerita-cerita lama, kami akan menjaga cerita kami agar tetap indah untuk diceritakan ke anak cucu nanti."
Eyang Ratu mengelus ranbut Idris "Tolong jaga cucuku selalu Idris" Idris mengangguk dan tersenyum "Always Eyang".
Persiapan tidak selalu mulus. Tiba-tiba awan hitam berarak mendekat, dan gerimis mulai turun. Tim teknis panik menutup peralatan suara dengan plastik.
Tia mulai merasa cemas. "Mas, bagaimana kalau saat hari H nanti hujan deras? Prambanan kalau hujan bisa sangat licin."
Idris tetap tenang. Ia mengajak Tia berteduh di salah satu selasar candi. "Tia, ingat pendakian kita di Merbabu? Kabut tiba-tiba datang, tapi kita tetap sampai puncak karena kita percaya pada langkah kita dan pada Mas Danu. Sekarang, kita punya tim yang hebat. Hujan itu berkah, ia membersihkan debu agar candi ini terlihat lebih berkilau saat matahari muncul lagi nanti."
Tia menarik napas dalam, merasakan aroma tanah basah yang menenangkan. "Kamu benar. Kadang aku terlalu fokus sama hasil akhir sampai lupa menikmati proses 'transisi'-nya."
Idris meraih tangan Tia lalu menciumnya "Tenanglah everything will be alright!" setelah itu dia mengelus rambut Tia dengan senyum yang menawan.
Saat hujan reda, pelangi tipis muncul di belakang puncak Candi Siwa. Tim dekorasi mulai menyalakan lampu-lampu spotlight yang mengarah ke relief candi, menciptakan bayangan yang dramatis dan sangat artistik.
Tia berdiri di titik di mana ia akan mengucapkan janji sucinya lusa. Ia menatap Idris yang sedang berdiskusi serius dengan Pak Gunawan mengenai tata cahaya panggung. Ia merasa sangat beruntung.
Dari seorang wanita yang ragu dan menyerahkan surat pengunduran diri di sebuah kantor beton yang dingin, kini ia berdiri di pusat peradaban seni yang agung, bersiap memulai hidup baru dengan pria yang memahami jiwanya sedalam lukisan Ayahnya.
"Sudah siap untuk langkah terakhir?" tanya Idris, menghampirinya saat hari mulai gelap.
"Ini bukan langkah terakhir, Mas," jawab Tia sambil menggenggam tangan tunangannya.
"Ini adalah take-off yang sesungguhnya. Dan kali ini, tujuanku bukan lagi puncak gunung, tapi selamanya bersamamu."
Malam itu, di bawah bayangan megah Prambanan, persiapan hampir rampung. Bukan hanya persiapan pesta, tapi persiapan hati untuk sebuah ikatan yang sekuat batu-batu candi yang mengelilingi mereka.
apa nanti ga ada kata akan prettt pada waktunya 🤭
mantan ga ada