NovelToon NovelToon
Little Fairy Tale

Little Fairy Tale

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Karir / PSK
Popularitas:122
Nilai: 5
Nama Author: Baginda Bram

Luka.

Adalah kata yang membuat perasaan carut marut, tak terlukiskan.

Setiap insan pasti pernah merasakannya atau bahkan masih memilikinya. Entah hanya sekadar di kulit, atau bahkan di bagian terdalam dari jiwa.

Layaknya Bagas.Terpendam jauh, tak kasat mata.

Luka adalah bukti.

Bukti kelemahan raga, keruhnya jiwa. Bukti kalau dirinya hanyalah makhluk fana yang sedang dijahili takdir.

Akal dan hati yang tumpang tindih. Tak mudah untuk dipahami. Menenun jejak penuh liku dan terjal. Dalam manis-pahitnya sebuah perjalanan hidup.

Bukan cerita dongeng, namun hanyalah cerita manusia biasa yang terluka.

*Update setiap hari kecuali Senin dan Rabu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baginda Bram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makhluk Misterius

Linda duduk dalam ruang ekskul ditemani suara dari ponselnya. Sibuk Menaik turunkan layar persegi itu sekaligus menunggu teman-temannya datang.

Teman satu ekskulnya mengabari kalau mereka akan terlambat lantaran membeli beberapa barang yang diminta oleh guru.

Di sela mengisi waktu luangnya, Linda mendadak teringat akan amplop yang bersarang dalam tasnya. Ia keluarkan amplop itu dari dalam. Mengeluarkan juga isinya.

Ia dikejutkan oleh kertas yang terlipat rapi yang ia keluarkan. Ketika melihat ke dalam lipatannya, ia terheran dengan tulisan tangan yang tertoreh rapi.

Untuk Linda.

Sebelumnya aku mau minta maaf. Gara-gara aku, kelasmu menjadi kalah dan gaduh.

Apa kamu masih mencariku? Kalau iya, mari kita berbincang-bincang sebentar sepulang sekolah.

Sebenarnya aku pemalu, jadi aku tidak suka keramaian. Gang Kartini sepertinya tempat yang asyik.

Ketika sampai pada akhir kalimat, Linda sontak meremas kertas yang ada di tangannya lalu melemparnya sembarangan sekuat tenaga hingga terpental jauh. Entah kemana.

...----------------...

Gang kartini adalah gang yang berada tak jauh dari sekolah. Letaknya tepat di belakang terhubung langsung dengan gerbang belakang sekolah.

Gang itu terkenal cukup sempit dan jarang dilalui orang jika jam sekolah telah berlalu.

Linda kini telah berada di gang itu. Selain terdorong oleh penasaran, ia juga memiliki kekesalan yang telah tertumpuk selama ini.

Tanpa pikir panjang, ia mengikuti instruksi yang tertulis dalam surat. Tanpa ada satu pun yang menemani.

Ia terlanjur gelap mata. Tujuannya hanya ingin mengonfrontasi tanpa pandang bulu. Ia tidak peduli seperti apa sosok si pengirim. Perasaannya sudah tak terbendung lagi.

Sepulang sekolah ia langsung menuju ke tempat yang dimaksud dengan mengabaikan kegiatan ekskulnya hari ini.

Ia duduk di sebuah bangku panjang. Menatapi manusia yang berlalu lalang hingga tak terlihat satu orang pun.

Sudah hampir satu jam ia menunggu. Batas kesabarannya sudah terlampau sedari tadi. Kekesalannya sudah berada di ujung ubun-ubun.

Ia merasa bodoh sendiri. Sadar kalau sebenarnya ada kemungkinan kalau surat itu hanyalah penipuan belaka.

Jika tujuan orang itu adalah membuat kelasnya kalah, maka tujuan itu seharusnya telah tercapai.

Untuk apa orang yang sudah berhasil menunjukkan dirinya? Tidak mungkin ada orang yang lolos dari singa, kembali menyodorkan kepalanya di depan mulut singa itu lagi.

Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi.

Baru saja melangkah, seseorang terlihat dari kejauhan. Berjalan ke arahnya.

Topi bermotif mawar yang dikenakan berhasil meyakinkannya untuk tetap tinggal. Malah ia melipat tangan, menatap sinis ke arah gadis itu.

Rupanya tak hanya topi yang orang itu pakai, sebuah kacamata berlensa hitam dan masker membuatnya semakin sulit untuk dikenali.

"Kupikir surat itu cuma ulah penipu." ujar Linda menyeringai penuh.

"Tenang saja, pada dasarnya aku memang orang yang suka terlambat."

"Kenapa kamu melakukannya? Apa demi kelas 11-D? Atau demi uang?"

"Menurutmu kenapa?"

Pertanyaan yang orang itu kembalikan, membuat Linda semakin naik pitam. Memang ia tak memiliki niat menang, tapi ketika ia sudah memutuskan untuk ikut dan memang seharusnya ia menang, amarahnya begitu besar. Ia ngin sekali menampar wajah lawan bicaranya itu sekarang juga.

"Jadi siapa yang membayarmu HAH!?" Tanya Linda telah habis kesabaran.

"Kamu pikir aku melakukannya demi uang?"

"Kalau bukan uang lalu apa?"

"Aku melakukannya demi seseorang."

Linda mengerutkan keningnya. Ia merasa aneh dengan jawaban yang ia dengar barusan.

"Apa maksudmu?"

"Kamu pasti ingat lawan mainku waktu itu."

"Bagas?"

"Ya betul. Aku melakukannya karena tahu soal penyakitnya."

"Penyakit? Jangan mengada-ada ya? Dia jelas-jelas baik-baik saja."

"Sebenarnya dia punya fobia dengan perempuan."

"Hah!? Tidak, tidak mungkin! Mana mungkin aku percaya dengan orang yang bahkan asal-usunya saja tidak jelas."

"Kamu teman sekelasnya 'kan? Coba pikirkan baik-baik."

Linda mencoba mengulik sudut ingatannya. Lelaki itu memang tidak pernah terlihat akrab dengan seorang perempuan pun. Namun, itu sebelum ia mendapatinya akrab dengan Renata.

"Kamu tahu apa? Dia itu cuma pemalu. Mana mungkin ada fobia seaneh itu."

"Mungkin akan sangat sulit dipercaya. Kalau pun kamu bertanya padanya, aku yakin dia tidak akan mengakuinya. Tapi, demi kebaikannya, jangan pernah lakukan hal yang bisa memperburuk kondisinya."

Linda belum bisa sepenuhnya percaya kata-katanya. Namun, jika ia benar, seluruh perlakuannya terhadap Bagas menjadi hal yang sangat buruk.

Hal itu juga berarti Bagas tidak mengabaikannya. Juga tidak membencinya. Ia melakukannya karena takut saja dengan perempuan.

Kalau gadis itu benar, dugaan Linda selama ini salah besar. Sontak membuat rasa penyesalan menduduki hatinya. Membuat kakinya melemas di luar kesadarannya.

Gadis bertopi tadi berbalik. Berjalan meninggalkan Linda yang sedang termangu.

"Kenapa kamu tahu sejauh itu?"

"Anggap saja kebetulan."

"Kamu sebenarnya siapa?"

"Siapa aku itu tidak penting. Yang perlu kamu tahu, aku hanyalah orang yang ingin dia bahagia. Tidak lebih."

Gadis dengan topi itu perlahan menghilang dari ufuk matanya, sementara dirinya masih mematung.

Dendamnya tak sempat terpikirkan lagi. Yang ada kini hanyalah rasa terima kasih.

Berkat gadis itu, ia mengerti apa yang harus ia lakukan.

...----------------...

Bel istirahat berdenting. Pertanda jam pelajaran berakhir. Setelah beberes, Linda melangkah ke beberapa meja yang ada di belakangnya. Tempat di mana Bagas menghabiskan waktu belajarnya.

Ia diam memandangi Bagas yang sedang merapikan bukunya dalam tas. Beberapa saat hingga Bagas sadar dengan sendirinya.

Bagas terkejut sejurus. Matanya seketika melayang ke arah kursi di depannya. Kursi kosong itu membuatnya menghela nafas.

Rautnya sontak mengecut. Sudah pasti gadis yang berdiri di dekatnya saat ini adalah Linda. Sudah pasti gadis itu akan melakukan sesuatu terhadapnya.

Ia mengambil nafas dalam. Menyiapkan diri untuk sesuatu yang akan datang padanya.

"Gas, maafkan aku ya?"

Dahi Bagas langsung mengerut. Gadis itu selalu tidak bisa diprediksi.

"U-untuk apa?" tanyanya keheranan.

"Untuk semuanya."

Kemarin tiba-tiba mengajak jadian. Lalu hari ini meminta maaf. Bagas merasa perempuan adalah makhluk yang berbeda dimensi dengannya. Ia benar-benar tidak mengerti cara berpikir mereka sama sekali.

"I-iya, sama-sama ya." sahut Bagas meski kebingungannya belum hilang.

Linda tersenyum cerah. Perasaan yang mengganjalnya sejak kemarin seolah terangkat sepenuhnya. Ia memutar balik, setengah berlari ke arah depan.

Ia menatap balik teman-temannya yang sedang bersiap meninggalkan kelas.

"Teman-teman, mohon perhatiannya!" Pekik Linda menyita perhatian seisi kelas.

"Kalian ada yang suka Bagas?"

Lagi-lagi, entah sudah yang ke berapa kali, gadis itu tiba-tiba menyeret namanya kembali.

"Ada apa nih?" tanya seseorang heran.

"Aku ingin kalian tahu, kalau kalian menyukai Bagas, maka akulah saingan kalian."

"Hah!? Seisi kelas terkejut bersamaan."

"Berarti kamu ..."

"Iya, aku menyukai Bagas." ucapnya dengan kepercayaan diri penuh.

Bagas menepuk keningnya. Ia pernah berhenti heran terhadap gadis itu. Bisa-bisanya ia mengatakan hal sememalukan itu dengan gamblangnya.

Alih-alih malu, malah kini Bagas yang paling merasa malu.

Perempuan memanglah makhluk yang misterius.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!