Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjodohan
"Pie makan dulu, Mama sudah menyimpan bagianmu di lemari." Pie baru saja selesai mandi setelah sampai ke rumah.
"Iya, Ma. Sebentar lagi."
Mama kembali menutup pintu kamar dan melanjutkan menonton tv acara talk show.
Pie memeriksa ponselnya yang sedang diisi daya.
Sebuah pesan dari nomor baru, Ia tahu itu adalah nomor Kim yang belum sempat ia simpan.
"Aku menunggu di kedai ice cream." 17:30 pm.
"Kau sudah pulang bekerja?" 17:40 pm.
1 panggilan tak terjawab.
"Kau tidak menemuiku?" 17:56pm.
"Aku pulang, Pie." 18:50 pm.
Pie membaca semua pesan dari Kim. Lalu membalasnya singkat.
"Aku baru pulang."
"Saatnya makan~."
Pie menyiapkan makanannya dengan lauk yang sudah disediakan di dalam lemari. Suasana dapur yang sepi membuat Pie melamun.
Di dalam otaknya seperti memutar klip saat ia masih bersama Kim. Di mana mereka sering menghabiskan waktu bersama di kantin sekolah, Kim yang selalu memberikan makanan untuknya.
"Kau kesurupan?" Kakak masuk ke dapur melihat Pie yang sedang tersenyum sendiri sembari menyendokkan nasi ke mulutnya.
"Ah, tidak." Pie tersenyum kecil.
"Jatuh cinta awalnya saja manis, lama-lama pahit juga."
Pie mengernyitkan kening mendengar ucapan Kakaknya.
"Siapa yang jatuh cinta? Sok tahu sekali."
"Apalagi kalau bukan jatuh cinta? Kau menang lotre?"
"Kepo." Pie mencibir, kedua maniknya mengekor Kakak yang mengambil minum dan berlalu ke ruang tengah.
"Merusak suasana saja." gerutu Pie. Ia segera menghabiskan makan malamnya dan menggosok gigi. Ia harus segera ke kamar untuk beristirahat.
"Mama, besok aku libur bekerja." Mama yang sedang menonton tv hanya berdehem menjawab ucapan Pie. Putrinya sedang bergelayut manja duduk di sisinya.
"Kau ingin bangun siang?"
"Anak gadis bangun siang. Mau jadi apa?" Sergah Kakak yang melirik sinis ke arah Pie.
"Memangnya kenapa? Apa hanya anak laki-laki yang boleh bangun siang?"
"Sudah, jangan bertengkar. Kakak, jangan mengganggu adikmu terus."
"Terlalu dimanja." Kakak bergumam dan beranjak pergi keluar.
"Harga diri laki-laki itu bekerja, bukan menganggur!" Pie berbicara sedikit keras.
Kakak berbalik menatap nyalang.
"Kenapa? Tidak suka? Maka jangan menggangguku!" Pie mencibir. Kakak tak menjawab namun tatapan tajam menusuk Pie yang sedang duduk bergelayut pada Mama.
"Sudah! Kalian ini sekali bicara malah bertengkar. Kakak keluar saja." Ayah angkat bicara jika putrinya sudah bicara dengan nada tinggi. Ia tak suka ada pertikaian antara dua bersaudara itu.
"Pie, jaga bicaramu. Tidak sopan seperti itu pada kakak." Ayah menasehati dengan nada rendah.
Pie menunduk.
"Tapi, Kakak yang mulai. Kenapa hanya aku yang ditegur?" Pie menghentakkan kakinya berlalu ke kamar. Mama menghela napas melihat kedua anaknya yang kurang akur.
"Ayah, jangan berat sebelah. Lihat sekarang, mereka jadi kurang akur karena salah satu dibela."
Ayah hanya diam menatap tv yang menyala.
Mama menyusul Pie ke kamarnya.
"Pie? Sudah tidur?"
"Belum, ada apa, Ma? Masuk saja."
Mama masuk dan menutup pintu, lalu ia duduk di tepi ranjang. Pie sedang berbaring menelungkup memainkan ponsel.
"Besok Mama ingin buat nasi pecel, kau mau?"
"Nasi pecel? Aku kurang suka, tapi buat saja. Nanti aku akan memakan sedikit."
"Kau tidak suka?"
"Tidak. Aku pernah dibelikan Bos Mel nasi pecel saat makan siang, dan aku tidak terlalu suka."
"Tapi kau menghabiskannya, kan?"
"Iya, Ma."
"Ya sudah. Kau suka apa? Biar Mama buat untuk besok."
"Aku suka lontong pecel, Ma. Apalagi buatan Mama terakhir kali itu enak."
"Eh, karedok juga enak!" Pie antusias sembari beranjak duduk. Mama tersenyum melihat ekspresi putrinya kembali ceria.
"Ya sudah, Mama buatkan lontong pecel untukmu."
"Asyiik!! Makasih Mama." Pie memeluk erat Mama dan mengecup kedua pipi perempuan yang melahirkannya itu.
"Sudah, kau tidur. Pasti kau lelah."
"Iya, Ma."
Mama mematikan lampu kamar Pie yang langsung berganti lampu tidur.
Pie menyalakan kipas angin dan menarik selimutnya sampai ke perut.
Getaran ponsel di atas nakas membuat Pie kembali membuka mata.
"Sedang apa?" Itu pesan dari Facebook dari akun Fang.
"Ingin tidur."
"Oh, apa kau bertemu Kim hari ini?"
"Ada apa?"
"Aku melihatnya di dekat sekolahmu dulu."
"Oh begitu."
"Kau bertemu dengannya?"
"Tidak."
"Oh syukurlah."
"Ada apa, Fang?"
"Tidak, ada."
"Aneh sekali." Pie mencampakkan ponselnya ke atas nakas usai mengubah profil diam.
Beberapa bulan kemudian..
"Pie, kau sudah menyelesaikan adonannya?" Rum masuk ke ruang masak.
"Ya, adonannya sudah habis."
"Cukup?"
"Kita harus melihat hasilnya dulu, apakah cantik atau rusak."
"Benar. Jemmy sebentar lagi pasti kembali, aku akan mendinginkan kue yang sudah matang agar cepat dipacking."
"Aku akan membantu setelah menyelesaikan ini." Pie sedang membilas loyang bekas membuat bolu.
"Ya."
Rum duduk di lantai dengan kue-kue kecil berjumlah puluhan di atas tiga nampan di depannya, kipas angin yang sedang berputar menerpa kue-kue tersebut agar cepat dingin.
Pie masuk ke ruangan untuk membantu Rum.
"Sebentar lagi akan matang, kau ingatkan aku jika aku lupa."
"Baiklah, ini beberapa yang dingin sudah kupisahkan. Kau bisa mengambilnya di sini." Rum menunjuk nampan besar yang berisi beberapa kue yang sudah dingin. Pie mengangguk, ia mengambil mika dan plastik opp untuk packing kue-kue yang berbeda.
"Bos Mel tidak ke sini?" Pie celingukan mencari keberadaan wanita yang biasa bermakeup tebal.
"Tidak. Bos mengatakan akan pergi ke acara pernikahan anak sepupunya."
Pie manggut-manggut.
"Jadi bagaimana mantanmu yang itu?" Pie menatap Rum dengan wajah yang berpikir.
"Kau sudah lupa ternyata." Rum terkekeh pelan tanpa mengalihkan fokusnya.
"Lupakan saja, Pie." Rum tersenyum kecil.
"Ah, ya. Aku tak ingat."
"Enam bulan lagi sepertinya aku akan menikah, Pie."
"Sepertinya? Kenapa terdengar tidak meyakinkan?"
Rum tersenyum lagi.
"Karena jodoh itu misteri."
"Bahkan, besok atau satu jam ke depan aku tak tahu masih hidup atau tidak."
"Bisakah kau mencari perbandingan yang lebih enak didengar? Itu membuatku ngeri."
Rum terbahak kencang.
"Ya, ya. Intinya seperti itu."
"Kau ternyata punya pacar."
"Apa kau mengira aku tidak normal? Apa itu karena Jemmy? Astaga" Rum terlihat kesal ketika mengingat teman akrabnya yang belum kembali mengantar pesanan.
"Bukan begitu. Kau tidak seperti orang yang punya pacar atau rencana menikah. Kupikir kau belum berminat untuk hal seperti itu."
"Aku dijodohkan, Pie." Rum dan Pie tersenyum miris.
"Benarkah?"
Rum mengangguk.
"Orang tuaku kesal karena aku yang masih ingin sendiri di umur yang akan masuk 30 tahun."
"Kapan?"
"Bulan depan."
"Kau tidak terlihat tua."
"Aku tersanjung mendengarnya." Rum terkikik
"Kau tidak menolaknya? Maksudku kau juga ingin menikah?"
Rum menggeleng.
"Aku sudah menolaknya, ini perjodohan yang ketiga kali. Dan kali ini aku akan mengalah." Rum menerawang.
"Kau sudah siap? Kau menyukai calonmu?"
"Aku harus siap, Pie. Dia tampan, itu masuk kriteriaku." Rum tersenyum geli mengingat calon suaminya yang pernah berpapasan dengannya di jalan.
"Baguslah, setidaknya ada yang membuat kau nyaman."
"Benar. Itu salah satu alasanku akhirnya menerima perjodohan."
"Semoga kau berjodoh dan kalian saling melengkapi dan langgeng."
"Pie, terima kasih. Kau terlihat cuek dan tak peduli tapi ucapanmu manis sekali. Itu menenangkanku."
Rum memeluk Pie dari samping.
"Sepertinya aku bisa merayu laki-laki."
"Hei! Bukan seperti itu maksudku!" Rum memukul lengan Pie yang tertawa.